Wednesday, 27 August 2014
Ibu Pertiwi
Ibu Pertiwi, sang induk dari anak anaknya kini. Bertubuh tegak, masih bernapas walau kadang tersengal sengal mencoba mengejar kawan kawannya yang terlihat maju mendahului, dan masih hidup. Beliau merdeka dalam ucapan. Jajahan, tumpah darah, dan gencatan senjata, memang sudah tak lagi berada dalam ruang geraknya, namun kelihatannya beliau terkadang masih terisak perlahan dalam keheningan. Berusaha tetap tegar, dan mencoba membangun pertahanan dalam yang lebih kuat agar tak semaunya kawan lain menyakiti dan mencuri yang dimiliki. Namun tegar pun ada batasannya. Banyak alasan yang membuat Sang Ibu menitihkan air mata, menjatuhkan yang ia pendam, dan membuka perasaan. Menyebarluaskannya. Malu, dan prihatin, mungkin itu yang tengah bergejolak dalam hati dan pikirannya tiap kali memandang sekeliling. Berita di televisi seakan tak pernah sedetik pun lalai untuk melaporkan peristiwa yang sedang, akan, atau sudah terjadi. Dan yang lebih mengenaskan adalah hampir semua berita memaparkan tentang permasalahan politik, ekonomi, dan segala mengenai kedua hal itu.
Masalah...masalah. Mengapa tak kau kunjung selesai dan sudahi tikaman yang terus kau tusukkan pada Ibu Pertiwi? Lihat.. anak cucunya mengemis, memulung, merampok, memakan sampah, berkeliaran tak tentu arah, mengucapkan kata pahit yang ditujukan padanya, mencaci keadannya, mengkritik setiap yang ada, menghujat kegiatannya, menghakimi segala tentangnya. Beliau sedih, beliau menangis, beliau sakit hati. Ibu.. Bertahanlah.
Lalu siapa kini beliau bergantung? Siapa kini yang beliau percayai untuk dapat membantu menyudahi masalah? Seakan semua orang mengkhianatinya. Banyak anaknya yang berkata bahwa mereka mencintai Ibu mereka. Munafik. Mungkin pengkhianatan yang selalu dirasa Sang Ibu, atau pilihan kesendirian dan keterpurukan juga ada dalam paketnya? Ibu.. Tetaplah berdoa.
Ibu, jika ragamu berupa manusia, mungkin kau lah yang selalu kami puja tanpa kami berani menginjak area kekuasaanmu, mungkin kau lah satu satunya manusia yang akan kami penuhi segala perintah dan kemauan, karena atas jasamu yang selalu setia berada di mana pun kami berada, menjaga kami. Kami akan sungkan membicarakan segala hal mengenai Ibu, terlebih menghujat dan menghakimi.
Teruslah berjuang, Ibu. Anak anakmu akan mencoba memperbaiki keadaan, agar kau tersenyum melihat kami, menitihkan air mata kebahagiaan, dan akan selalu merdeka dalam hal segala, tak hanya ucapan tanpa bukti nyata. Terimakasih, Ibu.
Tuesday, 12 August 2014
Derita.
Aku melihat derita di matanya. Seakan tatapan yang ia tujukan padaku adalah tanda kesdihan, kepedihan, dan duka. Tusukan pancaran matanya menyentakku untuk ikut merasakan kesakitan yang dirasa. Sentuhan tajam pupilnya menyeretku pada kehancuran, dan emosi yang tak karuan. Hantaman tatapannya merasuki jiwa, refleksi pikirannya terpancar. Pisaunya menyentuh lubuk hati, menusuk dan menyilet, mencabik, dan mengoyak. Perih.
Ia menatap hanya dalam hitungan detik, lirikan terakhirnya menyadarkanku, seakan hipnotis yang ia lakukan padaku sudah tak berlaku. Detik itu aku terhenyak, menata pikiran, dan mengatur napas. Ia, yang merupakan anak kecil, berkulit hitam, kelihatan tak berisi, berbaju ala kadarnya, dan pemilik tatapan tajam berjalan berlalu... menjauh... acuh.
Langkah demi langkahnya kuamati, kuteliti. Kuawali dari kakinya yang tak beralas, kotor, ditempeli semua macam debu termasuk benda-benda yang diinjak. Menjijikan! Celananya pendek- di bawah lutut, kulitnya yang legam membalut tulang kering, dan betisnya... gosong terpanggang matahari. Kaosnya berwarna merah, terlihat luntur, dan sobek di pundaknya, sepertinya ia tak pernah mengganti pakaian, tapi ia tak peduli, jalannya santai dengan hiasan kibasan tangannya yang berkipas kecil dan pelan mengikuti irama kaki. Rambutnya merah karena paparan matahari, teracak, dan panjang. Kuamati orang orang yang berjalan di sampingnya, melirik dengan penuh arti. Muak.
Bak sampah? Itu kah tujuannya?
Ia mengambil karung, kemudian mengais sampah, mengambil plastik dan bekas wadah makanan lainnya. Ia berjalan menunduk, berharap menemukan yang ia cari, agar usaha menahan panas, haus, lapar, dan juga malu bisa terbayarkan dengan uang yang digunakannya untuk mengisi perut. Mungkin sesekali ia menangisi keadaan yang begitu kejam berbuat hal ini padanya; mungkin sesekali ia terisak karena lelah menahan kepedihan, kekejaman, dan penuh dengan ketidakadilan hidup yang ia jalani; mungkin sesekali ia hanya membisu... diam seribu bahasa, membiarkan semua permasalahan ada pada pikirannya, membiarkan emosi bercampur aduk, membiarkan harapannya tak terucap, membiarkan matanya yang menggambarkan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Tak heran ia bertatapan tajam, yang ia harapkan hanyalah waktu untuk membinasakan derita hidupnya, tapi ia tak tahu kapan harapannya akan terwujud, ia tak tahu kapan harapannya akan terwujud. Ia tidak tahu.
Kini pekerjaannya telah usai, saatnya untuk mengambil upah. Raut wajahnya datar, tak ada kesan senang setelah berhasil bekerja di bawah panasnya sinar matahari. Raut wajahnya datar, tak ada syukur yang setidaknya terlihat dari binar mata setelah pekerjaannya sudah selesai. Raut wajahnya datar.
Ia kemudian berjalan sama seperti sebelum ia masuk dalam kandang lalat, perlahan dan mengibaskan tangannya yang mengikuti irama kaki. Rupanya ia tak melihatku yang tengah mengamati sedari tadi. Kuteliti kembali disela lengkah yang diambil. Kakinya masih sama: tak beralas; celananya masih sama: pendek di bawah lutut, menutupi tulang paha, kering, dan betis yang dibatul kulit hitam yang semakin mengkitam; kaosnya masih sama: berwarna merah, dan sobek dipundaknya; rambutnya pun masih sama: merah, teracak, panjang. Namun seiring dengan tatapanku yang tengah menghakimi penampilannya, tangannya mengepal, menggenggam uang hasil jerih payah, mengepal lebih kuat hingga otot dan pembuluhnya terlihat, mengepal hingga kelihatannya kuku tajamnya melukai telapak tangan, mengepal seakan ia akan menghantam sesuatu yang ia benci, dan ia terus memperkuat kepalannya detik demi detik. Ia berlari, sangat cepat, menjauh, melawan setiap orang yang menghalangi hentakan kaki tak beralasnya, menabrak siapa pun yang menghambatnya untuk berlari.
Mungkin ia sudah sadar apa yang perlu dilakukan agar waktu mampu membunuh derita, dan kepedihan yang dialaminya. Agar ia tak lagi segan untuk bermimpi tinggi, dan melulu dikecewakan oleh keadaan. Mungkin ia sudah tak sabar mengubah nasib dan berusaha memperbaikinya. Langkahnya cepat, lebar, dan hentakannya tegas. Ia berlari mengejar apa yang ia impikan. menjemput waktu yang akan datang, yang ia harap akan berperilaku baik terhadapnya. Ia berlari mengejar masa depan.