"Cinta itu ibarat angin. Tak bisa dilihat, namun bisa dirasakan", ucapnya seraya menatap gemerlapnya bintang- memecah kesunyian.
"Pernah kah kau sesekali jatuh cinta?", tanyaku menanggapinya.
"Selain dengan Tuhan dan keluargaku, maksudmu? Tentu."
"Bagaimana rasanya?"
"Rasanya seperti 'jatuh' dari ketinggian namun kau akan tetap tenang, dan percaya nyawa dan ragamu masih akan tetap bersatu karena 'parasut' itu yang akan menolong dan membantumu terus melayang- menelusuri keindahan yang terdapat di bawah." jelasnya.
Aku sejenak terdiam, mulai menghayati dari perkataannya. Dia yang sekarang ini tengah memejamkan mata, seakan keindahan jatuh cinta memang wajib dipercaya walau hanya dengan membayangkannya.
"Lalu kapan kau mendarat?", tanyaku polos.
"Ketika tak lagi ada angin yang menopang, dan kepercayaan terhadap 'parasut' itu telah perlahan hilang. Mungkin yang kau pikirkan hanyalah kejatuhan, sehingga mendarat pun memang sudah selayaknya dilaksanakan."
Ekspresi wajahnya berubah, yang semula menikmati semilirnya angin malam, menatap kelip bintang, memuji dan memuja terang bulan, sesekali memejamkan mata dan menikmati indahnya alam, kini terbelalak seakan mencari kata yang tepat untuk menjelaskan sesuatu sehingga aku--yang buta akan rasa--tak menangkap 'cinta' dalam arti yang melenceng dari yang ia maksud.
"Itu kah alasannya mengapa hal yang banyak orang rasakan manis dan pahitnya selama ini disebut 'jatuh cinta'? Karena kita terjatuh pada awal dan akhirnya, bukan?", tanyaku lagi, memaksanya untuk sedikit berfikir lebih lama.
"Mungkin", jawabnya. Memilih satu kata saja untuk menjawab pertanyaanku setelah waktu yang kuberikan untuknya untuk berfikir.
Kini pandangannya menatap mataku lebih dalam. Sejuk sekali rasanya. Seakan tatapan itu, jatuh di lubuk hati, di dalam sanubari, mengisi batin.
"Tapi... Kita jatuh, kan? Akan kah hati itu tersakiti? Lalu, kepada siapa kita harus menyalahkan, ketika hati kita merintih meminta pertolongan, padahal raganya telah tercabik dan tersayat?", tantangku.
"Ya, kita jatuh. Namun terkadang kita membiarkan diri kita tersakiti, karena kita pula yang membiarkan rasa itu tumbuh. Kita terjatuh dalam perangkap yang dahulu dianggap tempat perlindungan, dan yang membuat kita sakit adalah apabila kita jatuh terlalu dalam dan ketika kita hendak keluar dari tempat itu, kita terikat dengan diri sendiri- sekali pun kita mencoba memanjat dan merangkak naik.
"Berdoa saja lah apabila hati sudah memucat dan terasa kebas- terjembab terlalu dalam. Bukan kah pemilik cinta yang sesungguhnya adalah Tuhan? Dan bukan kah Tuhan pula yang memberi kesakitan?", jelasnya.
Pandangannya kembali tertuju padaku, sekarang dengan senyuman yang tersungging indah.
"Lalu, kepada siapa kah kini kau pasrahkan hatimu?"
"Kepada seseorang yang kuyakini mati rasa dan belum pernah merasakan cinta- yang kini kutatap dalam hatinya, dan bertanya masihkah ada ruang untukku untuk bersinggah. Dia yang agaknya kucari selama ini, yang ternyata sudah menemani tahun tahunku dengan keceriaan. Dia yang sekiranya bertanya akan apa sebenarnya cinta, dan tengah mencari siapa cintanya. Dia yang kini berada di dekatku, yang takkan kubiarkan hatinya tersakiti."
Aku diam.
Lama sekali terdiam. Suara yang kudengar hanyalah hembusan angin, dan suara jangkrik. Kami diam seribu bahasa, tak berucap sepatah kata.
"Maksudmu?", tanyaku meminta kejelasan.
"Aku menyayangimu. Aku menyayangimu", ucapnya.