“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Saturday, 27 December 2014

Cinta

"Cinta itu ibarat angin. Tak bisa dilihat, namun bisa dirasakan", ucapnya seraya menatap gemerlapnya bintang- memecah kesunyian.
"Pernah kah kau sesekali jatuh cinta?", tanyaku menanggapinya.
"Selain dengan Tuhan dan keluargaku, maksudmu? Tentu."
"Bagaimana rasanya?"
"Rasanya seperti 'jatuh' dari ketinggian namun kau akan tetap tenang, dan percaya nyawa dan ragamu masih akan tetap bersatu karena 'parasut' itu yang akan menolong dan membantumu terus melayang- menelusuri keindahan yang terdapat di bawah." jelasnya.
Aku sejenak terdiam, mulai menghayati dari perkataannya. Dia yang sekarang ini tengah memejamkan mata, seakan keindahan jatuh cinta memang wajib dipercaya walau hanya dengan membayangkannya.
"Lalu kapan kau mendarat?", tanyaku polos.
"Ketika tak lagi ada angin yang menopang, dan kepercayaan terhadap 'parasut' itu telah perlahan hilang. Mungkin yang kau pikirkan hanyalah kejatuhan, sehingga mendarat pun memang sudah selayaknya dilaksanakan."
Ekspresi wajahnya berubah, yang semula menikmati semilirnya angin malam,  menatap kelip bintang, memuji dan memuja terang bulan, sesekali memejamkan mata dan menikmati indahnya alam, kini terbelalak seakan mencari kata yang tepat untuk menjelaskan sesuatu sehingga aku--yang buta akan rasa--tak menangkap 'cinta' dalam arti yang melenceng dari yang ia maksud.
"Itu kah alasannya mengapa hal yang banyak orang rasakan manis dan pahitnya selama ini disebut 'jatuh cinta'? Karena kita terjatuh pada awal dan akhirnya, bukan?", tanyaku lagi, memaksanya untuk sedikit berfikir lebih lama.
"Mungkin", jawabnya. Memilih satu kata saja untuk menjawab pertanyaanku setelah waktu yang kuberikan untuknya untuk berfikir.
Kini pandangannya menatap mataku lebih dalam. Sejuk sekali rasanya. Seakan tatapan itu, jatuh di lubuk hati, di dalam sanubari, mengisi batin.
"Tapi... Kita jatuh, kan? Akan kah hati itu tersakiti? Lalu, kepada siapa kita harus menyalahkan, ketika hati kita merintih meminta pertolongan, padahal raganya telah tercabik dan tersayat?", tantangku.
"Ya, kita jatuh. Namun terkadang kita membiarkan diri kita tersakiti, karena kita pula yang membiarkan rasa itu tumbuh. Kita terjatuh dalam perangkap yang dahulu dianggap tempat perlindungan, dan yang membuat kita sakit adalah apabila kita jatuh terlalu dalam dan ketika kita hendak keluar dari tempat itu, kita terikat dengan diri sendiri- sekali pun kita mencoba memanjat dan merangkak naik.
"Berdoa saja lah apabila hati sudah memucat dan terasa kebas- terjembab terlalu dalam. Bukan kah pemilik cinta yang sesungguhnya adalah Tuhan? Dan bukan kah Tuhan pula yang memberi kesakitan?", jelasnya.
Pandangannya kembali tertuju padaku, sekarang dengan senyuman yang tersungging indah.
"Lalu, kepada siapa kah kini kau pasrahkan hatimu?"
"Kepada seseorang yang kuyakini mati rasa dan belum pernah merasakan cinta- yang kini kutatap dalam hatinya, dan bertanya masihkah ada ruang untukku untuk bersinggah. Dia yang agaknya kucari selama ini, yang ternyata sudah menemani tahun tahunku dengan keceriaan. Dia yang sekiranya bertanya akan apa sebenarnya cinta, dan tengah mencari siapa cintanya. Dia yang kini berada di dekatku, yang takkan kubiarkan hatinya tersakiti."
Aku diam.
Lama sekali terdiam. Suara yang kudengar hanyalah hembusan angin, dan suara jangkrik. Kami diam seribu bahasa, tak berucap sepatah kata.
"Maksudmu?", tanyaku meminta kejelasan.
"Aku menyayangimu. Aku menyayangimu", ucapnya.

Thursday, 25 December 2014

Sungguh...!

Sungguh kawan! Tulisannya sangat berbekas, ya di hati, ya juga di otak! Terus saja rangkaiannya tak pernah berhenti berbisik dan berdengung. Aaaah, sungguh makhluk ciptaan Tuhan yang indah! Diberinya gudang diksi yang sempurna! Hingga dengan kata pun ia bisa mengungkapkan semua yang notabene hanya ilusi dan khayalan semata! Indah bukan main, kawan! Menakjubkan bukan buatan!

Subhanallah

"Makasih, ya, udah mau dateng", sapanya tepat ketika mataku melihat kejernihan di dalam matanya. Entah hanya aku, ataukah serombongan manusia di sini juga melihat apa yang tengah kupandangi, namun pancaran kesucian dari bola matanya terlampau indah. Betah sekali aku menatapnya, sejuk dan kedamaianlah yang kurasa.
"Oh, iya, sama sama. Tetap tabah, ya, percayakan semua kepada Yang Di Atas", jawabku singkat mengakhiri pertemuan yang singkat pula di hari itu. Seakan kata 'tabah' yang kuucapkan tadi tidak sepatutnya kuungkapkan sebagai bentuk harapanku, karena kenyataannya ketabahan dan keikhlasan batinnya tak lagi diragukan, walau sebentar, namun aku yakin apabila kalian melihat langsung pada kejernihan matanya dan kecerian yang selalu dipancarkan, kalian akan melihat begitu suci hatinya, begitu bersih tak ternoda.
Memang benar sang Ayah telah meninggalkan raganya dari dunia, namun sepertinya hati terdalam itu tak pernah diisi oleh seorang makhluk ciptaan Tuhan yang lain selain ayah dan ibunya. Sekiranya ia tak masalah apabila ia tak lagi bisa melihat pahlawannya itu, dan justru menganggap bahwa Kuasa Sang Pencipta memang benar tiada duanya.
Jika kau, melihat tulisanku yang tak jelas kutujukan pada siapa--karena tak kutulis--ingatlah, bahwa detik itu juga--yang semoga tak hanya aku--terinspirasi karena senyumu yang sama sekali tak terasa hambar, yang terasa hangat, dan sungguh, senyumu menyejukkan bagi siapa pun yang melihat! Subhanallah.
Tenang ya, kawan, aku percaya Allah punya rencana lain dibalik duka-tak-kentaramu itu.

Friday, 12 December 2014

Sunyi kah?

Kawan...
Ada kalanya ketika titik hitam di kertas putih membesar, melebar, dan menodai kesucian putihnya kertas secara keseluruhan, hingga mungkin tak dapat lagi terbendung dan tertampung, kemudian meluap dan tercecer di mana mana. Ada kalanya ketika tekanan di hati sudah tak bisa lagi dipenat untuk memberi ruangan bagi tekanan selanjutnya, sewaktu waktu pun bisa saja lepas kendali, dan apa yang terjadi? Air mata tiba tiba meleleh tanpa kendali, mencair menjalar turun dipaksa gravitasi dan mencium segala hal yang berada tepat di bawahnya. Ada kalanya pula, ketika tangisan itu tak bersuara, teredam oleh kain yang menyekap wajah, memaksa agar tenggorok tak mengeluarkan segala macam petunjuk, yang bisa memungkinkan beberapa orang mengetahui dan membuat mereka mulai memperhatikan.
Ada kalanya ketika hati ini terasa penuh sekaligus kosong, ada kalanya ketika hati memaksa untuk tetap menyendiri di tengah keramaian, ada kalanya pula hati harus menyembuhkan sayatannya sendiri, tanpa bantuan apa pun, sekalipun itu obat penawar yang manjur.
Ketika mulut tak mampu berucap sepatah kata lagi untuk segala hal yang tengah terjadi dalam pikiran dan tercampur dengan perasaan, ketika dada mulai sesak dan memaksa jantung untuk berdegup lebih cepat untuk memberi peringatan agar tak ada air mata yang tertetes, ketika keramaian yang semula mengacuhkan keberadaan mulai melihat kejanggalan dalam tingkah laku, itu adalah saatnya agar mulut dikunci, menutup mata, dan biarkan yang tak terkendali mengalir jatuh, menghiraukan yang tengah mengetuk dengan tujuan mengetahui alasan mengapa mengurung diri, sehingga tak ada suara kepedihan, kesakitan, teriakan dari sayatan yang bisa terdengar.
Kawan...
Terkadang ada beberapa alasan yang terlalu rumit untuk bisa diulas dan diselesaikan satu persatu, dan tak selamanya pula manusia bisa dipercaya, tak selamanya mereka bisa menjaga janji dan omongannya. Ada seseorang yang hanya butuh dimengerti, tanpa harus berucap sekata pun, karena kau tahu kawan? Matanya telah menggambarkan semua hal yang terjadi di dalam pikirannya. Tak mudah bagi seorang tersebut untuk membagi masalahnya kepada yang lain, tak semudah orang lain yang menganggap masalahnya adalah musibah juga untuk semuanya. Seorang itu lebih menyukai untuk mengamati yang terjadi dalam hidup, tak seperti yang lain yang selalu mengomentari dan mengeluhkan segala yang telah ada, menyalahkan mengapa takdir memilih untuk menyakitinya dan bukan menjadikannya yang teratas. Seorang itu lebih memilih bungkam, agar sesaat membiar keramaian dalam pikirannya saja yang mengisi kesunyian.
Kawan...
Biarkan yang tak mampu dijelaskan, dibuktikan dengan yang tak mampu terkendali. Biarkan mengalir dan jatuh terjembab di atas bumi, agar segala perasaan yang tersakiti setidaknya mampu ditarik kembali oleh gravitasi.