Ekor mataku menyapu keliling. Sejajar saja. Sampai pada dia.
"Hei!"
"Ah! Ternyata kau! Mengagetkan saja." tanganku mengelus dada. Meredam.
"Sedang apa kau? Matamu sepertinya tertuju pada satu titik?"
"Tidak, hanya kebetulan saja pandangku berhenti pada dia."
"Kau tahu namanya?"
Aku menggeleng pelan. Tidak.. aku tidak tahu namanya, namun yang aku tahu aku adalah utara dan ia selatan.
Kami kembali berjalan menyusuri lorong menuju kantin. Istirahat kali ini tidak begitu ramai. Mi instan tadi cukuplah untuk mengisi perut, membantu berfikir sampai sore nanti.
"Dia adalah wanita..."
"Ya semua orang juga tahu dia adalah wanita, To." jawabku bercanda.
"Hen, aku ini hendak menjelaskan lho, kamu ini malah memotong."
"Memangnya kamu tahu dia siapa?"
"Mana ada cewek yang tidak aku ketahui pribadinya? Jangan kau kira aku ini playboy cap pasar yang biasa dikelilingi lalat Hen." percaya diri, sok membenarkan kerah seragamnya. Aku tertawa mencibir.
"Yasudah.. jelaskanlah." tantangku.
"Dia adalah satu dari sekian banyak wanita yang aku dekati yang paling tidak aku pahami," lima detik keheningan, "Eh, tapi jangan kau pikir aku tidak jago Hen, dia hanyalah satu... maksudnya, aku berhasil memahami wanita lainnya." gigi kuningnya tampak mencolok saat Tito menyeringai. Aku? Aku tertawa kecil saja menunggu ia lanjut bercerita.
"Dia itu.... magis, aneh, elok, tetapi.. tidak terlalu elok, dahsyat, ummm... tapi biasa saja. Ia itu turun, namun naik. Lurus, namun berkelok. Dia... gelombang yang pecah di karang, seperti ini," tangannya mulai menggambarkan bagaimana ledakan yang diciptakan ombak kala menghantam, "ia adalah simpang lima, ia adalah teka teki yang berbunyi--"
"Sebentar To, bagaimana bisa kau tahu sejauh itu, padahal katamu kau gagal memahaminya?"
"Hehe, aku hanya melebih-lebihkan saja sih Hen. Hehehe."
Langsung kutonjok dibagian bahunya. Kami berlalu sambil tertawa terbahak, melupakan gadis di kantin yang kini tengah menoleh ke arahku. Benar, ia adalah selatan.
***
"To, kau belum menyebutkan nama gadis itu." ujarku setengah berbisik.
"Lho, gadis yang mana?"
"Yang 2 hari kemarin kau jelaskan itu, saat kita kembali ke kelas sehabis makan dari kantin."
"Ohhh, Da(^&%&)na?"
"Uhhhhh! Kalau ngomong jangan sambil kentut, dong, To! Siapa nama gadis itu? Dana?"
"Hehehe. Daksina, Hen, Daksina."
"Ohhh..."
Hening.
"Mengapa kau baru bertanya saat kita ada di WC Hen? Tidakkah ada tempat lain yang lebih sopan dalam menanyakan nama Daksina? Uhhhhh (^%&&%)"
"To! Sudah bel masuk! Buang airmu lama sekali sih!"
"Berkacalah dulu Hen! Kamu juga sewindu! Uhhhh (*&^%^&)"
***
Sejak kutahu namanya, aku mulai lebih sering mencuri pandang. Jika kalian sering melihat cerita cinta klasik anak SMA di film Indonesia era 2000an, hal itu tetap terjadi di tahun 2016. Aku pemeran utamanya. Tapi... tidak tidak, sutradara yang memilihku sebagai pemeran utama justru seakan-akan bunuh diri. Satu orang (dan hanya satu) yang akan menonton film yang aku bintangi, tidak lain, tidak bukan, hanyalah Tito.
Kami jadi sering bertemu, di kantin, di koridor, di depan kelas. Sebenarnya sudah sejak dulu aku mengetahui keberadaan gadis itu, namun baru akhir akhir ini agaknya aku tertarik. Pernah sekali aku hendak menyelipkan puisi ke tasnya, namun nyaliku terlalu kecil. Begini puisinya:
Daksina,
wajahmu elok mempesona
harum tubuhmu tercium dari jarak kilometer nol koma lima
halo, perkenalkan namaku Hendra
Daksina,
aku hanya ingin menyapa
walau dengan serangkaian kata saja
aku harap kau memakluminya
aku Hendra, teman kelas IPA dua
Cerita dramatis saat aku hendak ke kelasnya khatam saat Tito merebut suratnya. Jadilah aku bahan bualan satu kelas selama sebulan. Beruntung Daksina tidak tahu Hendra anak IPA 2 yang saat itu ingin berkenalan. Dasar Tito!!!