hendak aku menggapai satu di ujung jari telunjukku
mengulur, menyentuh barang sedikit lalu menepi
sayang, bayangmu begitu rapuh
dikiranya aku musuh
padahal inginku hanya merengkuh
setitik darimu yang lumpuh, layuh
***
pukul sembilan pagi tadi
daya upayaku kububuh dalam secarik plano
kucatat pesanku dalam lima kata
tinjaulah ulang siapa tahu kau dapat cerita
karena jika kau pirsa
setiap tekanan kuberi rasa
setiap titik kuberi makna
jarak antarkata kuatur sedemikian rupa
sehingga harapku kau mengenal jiwa
dalam kerangka yang tak nyata
selang sehari kudapati dirimu berdiri
dalam gaun hijaumu kau menyusuri
titik sudut ruangan, melihat dengan detail dan rinci
lalu pandangmu berhenti
padaku
satu
dua
lima belas
tuju puluh satu detik
keheningan
aku paham betul
kau ingin pecahkan dan muntahkan
kesederhanaan yang kaumiliki
namun kau memilih sunyi
rasamu kau kebiri
jiwamu kau kunci
***
ajak sukmamu menerima
tujuh puluh detik yang kedua
untuk bisa mengenal dengan berkelana
bahwa isi yang kaubawa
tidak semata mata gudang duka
yang terus kau tempa
dengan segala rasa berang
jatuh bangunmu adalah lumrah.