“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Saturday, 30 June 2018

Ketidakberdayaan

"Aku hendak meminta satu hal, Tuhan. Satu saja," terduduk dan berlutut. Air matanya sudah hendak menetes, sekuat tenaga ia tahan.

"Tuhan, pagi ini aku melihat adikku menangis, sesenggukan dengan tangan menutupi mulutnya. Mencegah raungan kesakitannya terdengar. Aku hanya melihatnya dalam bingkai pintu. Tidak kuasa aku mendengar lara dalam tiap teriakannya. Begitu mengiris hati, begitu menikam. Ia berucap rindu pada Ibu," ia beranjak sebentar, memastikan pintu tertutup dan terkunci rapat. Diambilnya bingkai foto, tatapannya semakin menyakitkan.

Pecah.

"Tidak kuat, Tuhan."

Air matanya berlinang deras. Memejamkan mata, berbisik sendu.

"Berat sekali."

Terbatuk kecil, tersedu-sedan.

"Kiranya Kau tahu, aku berjalan dalam ambang ketidaktahuan dan ketidaktentuan. Telah Kau rangkul kedua orang tuaku bersamaMu. Kau beri aku waktu satu tahun untuk merenungi hidup, kemudian Kau dekap Nenek dalam ribaanMu. Sekali waktu, hambaMu ini memertanyakan yang sedang terjadi," kedua tangannya kembali menutupi wajah, erangan tangisnya tiada mereda. Bahkan bisa kau rasakan pisau tajam menusuk kalbu dalam jeritan kecilnya di sela isak.

"Cepat sekali waktu berlalu bersama mereka."

Ia usap rembah-rembih di pipi dan di dagu. Hening. Jika kau berada dalam satu ruangan dengannya, dadamu akan sesak karena menghirup duka dan menyesap nestapa; akan kau dengar pekik sungkawa dan laung pilu yang sebabkan jiwamu meranggas.

"Tidaklah mungkin tampak lemah di hadapan adik adikku selelah apa pun, tidaklah mungkin berkesah gundah pada jiwa jiwa berempati," terdengar embusan napas, "sekali waktu ingin rasanya berganti badan, mencicip manja dan gurau gembira dalam balutan kasih ayah bunda," air mata kembali merembah, "yang tersisa pada diriku kini nyawa, karsa, dan sayangku pada adikku. Aku akan membangun bahagiaku sendiri dengan ini, Tuhan."

Diam. Hanya embus napas saja yang terdengar tipis. Matanya tetap terpejam.

"Pun sekali waktu hamba menjadi ringkih dan rendah dalam ketidakberdayaan, pun terkadang hamba tertangkap termangu dalam lamun. Sudah hamba kerahkan sesanggup mungkin untuk tetap tegap dan tegar."

Ia hapus derai sedihnya yang sedari tadi tidak hanya membasahi tangan, namun juga sanubari.

"Tuhan, hamba ikhlas. Tolong...

beri hamba

kekuatan."

Senja sudah menjadi malam. Ia tidak beranjak dari tempatnya. Semakin malam tiup angin makin merasuk pada relung hati, mendekap seorang wanita dalam kesendiriannya. Semakin malam ia baringkan tubuhnya dan ia selimuti dirinya seorang, dengan ucapan hangat.

"Suatu hari nanti..."

Terlelap.

Pagi akan segera menjemput.