kau memangku hening, melanting
gulita beradu maya
menerkam singgasana lentera
derit pintu diembus
sila pawana menusuk atma
mematung beralas geta
tenggelam di dalam
hujan, sepintas deras
gemercik tidak mampu membangunkan
sunyi yang masih abadi
teriakmu pada rindu
bisu terdengar lantang
di dalam bola matamu
tenggelammu mutlak bersama haru
malam menua
memalu duga pada kias
mengemas cemas, menyeka gulana