“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Saturday, 9 February 2019

Pulang

Aku mengetahui kabarmu dari setiap jejak yang kau tinggalkan di atas kertas, bertinta hitam; sebagian berbait, sebagian lainnya beralinea. Selalu kubaca kisahmu dalam tikaman sunyi, Tuan, cukup detak dan detik saja yang menemani, lebih sering kuremangkan lampu dan kubiarkan udara menyusup relung; bisikanmu kala membacakannya selalu menjadi penawar kesendirian, dan hangatnya genggammu selalu berhasil menyisik nestapa. Sayang, kau hanya sebatas fana, sedang khitahku adalah baka.

Sekali waktu pernah kau kirimkan partitur. Tulismu dengan indah: mainkan jemarimu, rinduku kububuh di setiap nada. Di atas tuts jemariku menari, mereka menyuguhkan ketenangan dan merebak keharmonisan. Makin lama gelombang senandungku bersimpai dengan milikmu, perlahan kurasakan selaras. Andai kubisa menebus dan membunuh jantung penyesalan, tidak mungkin kurasakan perih dan duka mengingatmu begini dalam.

Suratmu kunanti saban bulan, di beranda ia akan datang, pak pos akan mengetuk jendela sebelum memberiku salam dan sapa; lalu kutunggu agar malam menjemput, menemaniku yang sedang memangku duga. Lima tahun sudah berjalan, akan kah kau terus bertahan?

Di akhir suratmu selalu kau goreskan kecup kasihmu yang berupa kalimat, berbunyi: sehari-hari aku menjadi tawanan rindu, tampaknya keadaan selalu berseberangan dengan keinginan, keberpihakan rasa dan waktu tidak pernah sejalan; tidak tahan lagi aku dicekik ribang, biarkanlah aku pulang.