Tatapku tajam hanya tertuju pada genangan air yang dikecup titik titik hujan, saling bergantian, semakin lama semakin beradu. Sudah sewindu yang kedua sejak pertama kali kau berkunjung, saat kehadiranmu ada hanya pada hujan tertentu. Aku yang meringkuk sembari menenun doa ini tengah menanti, di mana gerangan payung ragamu, selesai setengah hari aku dijaga waktu, sudah jemu aku melulu mengunyah sedu. Tolong, lekaslah berlabuh.
Dalam sekali waktu, saban kelabu yang terpusat pada sungkawa di atas sana dimusnahkanmu menjadikannya kepingan berwujud titian, agar dapat dengan mudah kutapaki dan kujadikan pijak saat kumelompat sembari merangkai satu per satu sajak.
Di atas kanvasmu kau lukiskan bait-bait alam tatkala aku menyentuh lapang langit suka cita yang dirasa tak cukup luas, atau berlari di antara belantara tawa hingga terengah letih menarik napas, atau terpelanting tersandung gelisah dan terjerembap di tengah semak belukar, atau mematung syahdu di atas genangan biru selagi melafalkan senandung angin yang bertamu di sela rongga tubuhku setelah ditelanjangi rindu.
Atau-ku takkan pernah habis dalam menghitung mundur sketsa cerita. Memandang tiap gores cat yang kaububuh setelah mereka meresap lelap adalah wajib; betapa setiap warna bercerita rasa, setiap lengkung dan garis menyampaikan asa.
Kini jika kau sejenak menatap, dilihatmu matahari terbenam di mataku. Beribu sayang kehadiranmu di hujan kali ini nihil. Inginku menyampaikan baiat di atas panggung telaga sebelah timur, menghadiahkanmu beberapa puisi yang kususun, walau dengan penuh kesadaran aku paham tidak seutuhnya akan kau nikmati saban bait yang kuucapkan.
Kembalilah jika sempat. Meski perjalanan sewindu berikutnya bukanlah waktu yang singkat, tetapi kunjunganmu akan tetap kuharap.