Aku mencoba menghibur diri, berjalan menjauh dari masalah yang tengah menimpaku akhir akhir ini, melangkah dan meninggalkan sementara segala rasa gundah gelisahku yang tengah ku rasa, karena kini yang ingin ku rasa hanyalah ketenangan dan kedamaian dalam diri. Aku bukanlah manusia dewasa yang merasa terbebani dengan pekerjaan dan segala tekanan dari pimpinan, aku bukan pula seorang remaja yang sedang galau akibat kisah asmara yang kandas di tengah jalan, aku hanyalah seorang remaja yang sedang merasakan kepedihan dari permasalahan hidup dan mencoba untuk memperbaikinya.
Pernahkah kamu merasakan sesak saat semua yang berkecimpung di dalam pikiranmu bersatu padu membentuk bola besar, seakan terdapat magnet dalam pusatnya yang menarik segala bentuk pemikiran dan permasalahan menjadi satu? Pernahkah kamu merasakan seakan badai besar tengah terjadi dalam otakmu, yang menarik segala di sekitarnya dan dengan sengaja melemparkan ke berbagai tempat dan ujung di ruang otakmu? Pernahkah kamu merasa bahwa tsunami tidak melulu terjadi di dunia, bahkan di pikiranmu pun itu terjadi dan seakan-akan dengan gelombang mahadahsyatnya meluluhkan segala daya pikirmu dalam waktu sekejab? Apa bila masalah adalah secarik kertas, yang akan kulakukan adalah meremasnya menjadi bola kecil lalu kuinjak sampai tapak sepatuku membekas pada tiap bagian bola kertas, lalu kulemparkan pada lubang yang mengarah pada pusat bumi dengan sepenuh tenagaku, ya, akan kulakukan itu semua.
Aku tahu ini terlalu panjang, dan tentu membosankan, aku minta maaf, kawan, aku hanya ingin mendiskripsikan apa yang terjadi pada diriku dan tak ingin melibatkan perasaanmu, aku tak ingin dikasihani, aku tak menginginkan itu.
Tapi kali ini, seperti yang kukatakan tadi, aku ingin melepas bebanku, akan ku ajak kamu untuk menjelajahi belakang rumahku yang lapang, aku tak tahu pasti di sana terdapat apa dan berujung ke mana, aku inginkan kamu untuk menemaniku.
Oh iya kawan, aku lupa untuk memperkenalkan diri. Namaku Kara, orang tuaku memanggilku Ara. Namaku berartikan sinar cahaya, sesuai kamus Sansekerta, dan aku bersyukur kedua orang tuaku memberi nama indah dan bermakna.
Aku tahu betul, penjelasan mengenai bencana alam di otakku tidaklah begitu penting, tapi setidaknya kamu mengetahui mengapa perlu kuajak kamu untuk melihat belakang rumahku. Ya, aku hanya ingin melepas masalah walau berdurasi sementara.
Sore ini aku berjalan manjauhi rumah, berpetualang dan membuka mata akan indahnya keajaiban dunia, mengambil langkah langkah kecil seraya menghirup udara segar, ini sungguh tiada duanya! Beruntung rumahku jauh dari hiruk pikuk kota, beruntung aku kini berada di sisi alam. Ilalang yang berbadan tegak dan berkepala merunduk menyambut kedatanganku dengan berayun kecil seiring irama angin, bernyiur bergesekan satu dengan yang lain. Jalan kecil yang kulewati menandakan bahwa daerah ini adalah daerah kekuasaan alam, mereka yang mempimpin dan mengatur setiap ujung tanpa saling berkomunikasi, semua berpikiran seragam, sedangkan dalam ragam, warna, dan keluarga, mereka berbeda. Aku tak mengerti tujuan langkahku, aku hanya yakin bahwa makhluk hijau disekelilingku akan menuntunku menuju tempat yang sebenarnya ingin kutuju. Sekelompok burung terbang mengudara, mengepakkan sayapnya sesekali, kemudian merentangkannya sehingga angin menyangga kedua sayap agar tetap stabil, mereka bergerombol berkeliling seakan menari dihamparan lautan langit, berformasi, teratur, berirama, mereka berlenggak lenggok di udara dengan bebas, tanpa paksaan untuk bergerak sesuai aturan, mereka menikmati tiap detik yang diisinya dengan tarian, indah bukan main! Aku terus berjalan menjauhi pertunjukkan tarian sekelompok burung, dan tetap memandang dengan takjub sekitarku, betapa berkali kali kuucapkan kata syukur pada Sang Kuasa, aku benar benar bersyukur merasakan kehangatan pelukan alam. Selanjutnya aku melewati dan melompati beberapa retakan tanah, dan hal itu tentu bukan suatu masalah, serangga serangga kecil lewat tanpa permisi di depanku, beberapa dari mereka terus melangkah maju, dan beberapa lainnya terbang, mereka kecil dan mereka hidup, mereka indah. Alam ini tidak pernah habis habisnya menunjukan dan memamerkan apa yang ia punya, seakan segala isinya akan bermetamorfosis menjadi hal yang mampu membuat mulut tak hentinya berterimakasih pada Tuhan, dan mata yang tak hentinya memandangi keindahan tanpa berkedip. Kini langkahku dihadang beberapa tumpukan batu, tak segan aku naik walau kadang lumut menyeretku turun dan aku terpeleset, aku penasaran, kejutan apa yang akan kulihat lagi? Aku menjejaki berbatuan, perlahan tapi pasti aku sampai di puncaknya. Coba tebak apa yang kulihat? Hamparan alang-alang? Bukan. Hutan? Bukan. Aku di atas bukit, kawan, dan kini adalah detik detik di mana bulan akan menggantikan tugas matahari untuk menerangi sekaligus mengawasi bumi, dimana langit biru akan digantikan dengan gelapnya malam yang bertabur bintang, peralihan ini sungguh menakjubkan! Coba lihat langitnya, kawan, berwarna jingga tanpa ada awan yang melayang. aku tercengang. Lihatlah saat matahari menenggelamkan dirinya, mempersilahkan bulan menempati tahtanya, bintang bak berlian yang menolong para pelayar yang tersesat untuk dapat kembali pulang, atau menemani anak kecil yang belum bisa tertidur, bermimpi mengambil satu dari berribu. Rasakan udaranya kawan, seakan mengikuti sang tuan, kini suhu mulai turun, bertugas menyelimuti hati yang sakit, menjelajahi sebagian bumi, setia mengisi paru paru. Kini lihat raja langit, ia bersinggasana pada posisi yang tepat, seakan mengumumkan bahwa malam telah datang. Cahaya putihnya bersinar cerah, Raja Langit terlihat sempurna. Tuhan, Mahakuasa Engkau.
Aku beranjak pulang, setelah bertepuk tangan dan melelehkan air mata atas pertunjukan alam yang mahaindah, jalanku diterangi oleh banyak kunang kunang, mereka seakan tengah memamerkan cahayanya untuk memanggil lawan jenis, dan tentu memamerkannya padaku dan kamu, kawan.
Aku tiba di rumah dan mulai mengambil air wudhu. Aku bersyukur aku berada dalam pelukan alam.
No comments:
Post a Comment