“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Sunday, 28 September 2014

Sang Perangkai Kata

Selamat datang, kawan.
Sungguh aku merindukan kertas elektronikku ini yang berperan ganda sebagai sahabat yang selalu mewadahi setiap kegelisahan hati, hasrat menulis, dan segala yang tengah berkecimpung di dalam otakku. Maaf aku lancang. Mungkin sebagian dari kalian hanya melihat bagian yang akan kutulis di bawah ini saja. Tapi, jujur, aku tak mampu membendung rasa rinduku ini!
Jadi, begini.. Kali ini aku akan menuliskan mengenai kekagumanku pada kakak nan cantik, dan pandai mengolah kata menjadi hal yang mampu mengubah mood, pola pikir, bahkan hidup seseorang. Kakak yang takkan kusebutkan namanya merupakan seorang motivator untukku secara pribadi, dan mungkin pelanggan pembaca postingannya yang tak pernah lepas memberi jempol sebagai bentuk penghargaan. Kakak sang pemilik segudang diksi ini tak pernah lepas dari pemantauanku disetiap kubuka akun sosial media. Aku tak peduli kalian penasaran atau tidak dengan apa yang akan kutulis, tapi, apabila ada satu harapan ditiap post-ku, aku akan berharap agar Kakak membaca serangkaian kalimat yang kuketikkan hanya untuknya.

Teruntuk Kakak,

Dengan penuh kagum,
Halo Kak, bagaimana kabarmu sekarang? Aku harap Kakak baik baik saja, ya, seperti penjelasan status facebook-mu yang kau tulis secara rutin. Aku percaya kini Kakak tengah disibukkan dengan tugas kuliah yang menumpuk dan merengek meminta secepatnya dikerjakan. Tapi seburuk apa pun itu, sepertinya Kakak tak pernah lalai mengundang penghuni gudang diksi untuk keluar, menyerbu dinding facebook, dan mendorong ibu jari untuk menjadi penghubung antara pikiran dan kenyataan yang tertumpahkan. Aku harap, suatu saat nanti Kakak membaca post ku ini, yang sengaja kutulis hanya untukmu.
Aku adalah seorang pelajar yang sangat ketagihan dengan berbagai ragam dan macam diksi Bahasa Indonesia, aku tahu aku belum sepenuhnya menguasai setiap tulisanku, Kak. Yang aku tahu kata kata memiliki kekuatan dan terlebih apa bila menulis dengan kata yang jarang didengar, diraba, dan dirasa. Seakan semua tampak berbeda dalam hal penyampaian dan perasaan. Aku menyukai rangkaian kata karena banyak hal, dan yang membuatku kagum terhadap Kakak adalah caramu menuliskan suatu keadaan sederhana menjadi hal yang begitu pantas untuk dikagumi, begitu unik walau hanya dengan membaca, begitu terasa seretan ceritanya yang terkadang menusuk. Aku tak peduli Kakak mengenalku atau tidak, tapi sungguh, setiap tulisanmu menginspirasiku, Kak. Aku pengagummu, termasuk pengagum kata kata magismu.
Aku tak bisa untuk tidak memuja dan kemudian memuji tujuan tulisan tulisan Kakak. Aku tahu aku terlalu berlebihan, tapi ini sebuah kenyataan. Aku sampai tak habis pikir apa yang membuatmu memiliki banyak diksi yang seakan tergabung dalam otak dan tak sabar untuk menjadi nyata, diketik, dan dipamerkan pada para pembaca. Dengan mantra apa, sih, Kakak melakukannya? Jika ada resep, boleh kah aku mengintip sedikit? Mencicip keindahan segudang diksi, berkhayal mengenai mimpi mimpi, tenggelam dalam retorika mengenai kehidupan, dan pencapaian dalam meraih kesuksesan. Ahh.. Begitu indah.
Jika boleh kutekankan lagi, Kak. Aku mengagumimu walau sebatas membaca hasil mantra keajaibanmu, aku mengagumimu dalam hal penyampaian perasaan melalui tulisan, aku pengagummu.
Sekiranya cukup sekian yang bisa kuketikkan untuk Kakak. Sukses selalu.

                                                                                                                                      Tertanda,
                                                                                                                                         Saya.

No comments:

Post a Comment