“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Tuesday, 18 April 2017

Kau.



Coba kau lihat lekat-lekat, Tuan, kemari, mendekatlah. 

Makhluk ini tak pernah bermaksud menikammu, makhluk ini tulus. 

Ajak sanubarimu menjelajahi lebih lama,

Lihat bahwa makhluk ini terkadang ketakutan,

Ketakutan

yang ada saat kamu berjalan mengelilinginya

Ia tak pernah paham

Maka ia melangkah pergi

Namun tampaknya kautak rela

Maka sekeping  yang kau genggam

Buatnya berdarah karena ketidaklengkapan fragmen

Mozaik yang kau bawa,

Selalu yang dirindunya.



Kau boleh mencacinya dengan lantang

selantang naskah yang dibacanya

Kau boleh marah, murka

semurka tokoh yang diperagakannya 

Kau bahkan sangat boleh membalasnya

seperti yang selalu dinantinya di jeda antardialog

Tapi kau dilarang untuk mendekat

Sekali pun inginmu hanya mengembalikan keping.



Paradoks memang

Mafhumlah.

Nepenthes dan Coccinelida

Nepenthes terperangkap di bawah naungan racunnya, dan ia sadar. Coccinelida tak pernah tau predator itu ada didekatnya.

Suatu hari, mereka dipertemukan dalam suasana malam yang syahdu. Tatapan mata selalu menjadi awal yang baik. Hening, nikmat. Pukul satu malam mereka berpisah, dan malam berikutnya mereka bertemu lagi. Selalu seperti itu.

Coccinelida sudah terikat, membebaskan diri pun rasanya berat. Nepenthes memang keparat, ia menarik Coccinelida sampai tak berjarak.

Di luar kemampuan berfikirnya, di ambang batas akal sehatnya, Nepenthes menjadikan Coccinelida santapan nikmat. Tiga hari berikutnya ia tersadar betapa jalangnya ia malam itu. Betapa racun yang dimilikinya terkadang berkuasa di luar kendali.

Hari-hari berikutnya terasa begitu menyakitkan. Dalam penyesalan ia mati. Terlalu lama meringkuk menyalahkan diri.