Coba kau lihat lekat-lekat, Tuan, kemari, mendekatlah.
Makhluk ini tak pernah bermaksud menikammu, makhluk ini
tulus.
Ajak sanubarimu menjelajahi lebih lama,
Lihat bahwa makhluk ini terkadang ketakutan,
Ketakutan
yang ada saat kamu berjalan mengelilinginya
Ia tak pernah paham
Maka ia melangkah pergi
Namun tampaknya kautak rela
Maka sekeping yang
kau genggam
Buatnya berdarah karena ketidaklengkapan fragmen
Mozaik yang kau bawa,
Selalu yang
dirindunya.
Kau boleh mencacinya dengan lantang
selantang naskah yang dibacanya
Kau boleh marah, murka
semurka tokoh yang diperagakannya
Kau bahkan sangat boleh membalasnya
seperti yang selalu dinantinya di jeda antardialog
Tapi kau dilarang untuk mendekat
Sekali pun inginmu hanya mengembalikan keping.
Paradoks memang
Mafhumlah.
No comments:
Post a Comment