Izinkan aku, sebentar saja, mengingat kita.
Tiga tahun lalu aku bersalaman denganmu, aku memperkenalkan diri.
Sejak hari ke dua puluh empat bulan lima, kesanku padamu tak lagi sama.
Kau tahu, selama aku mengukir cerita, kau adalah saksi bisunya.
Selama kami mengukir cerita, kau adalah saksi bisunya.
Betapa terkadang canda tawa kami memekikkan telingamu, namun aku yakin dibeberapa saat kau bahkan terbahak-bahak karena ikut bersenda gurau bersama kami. Ingat saat kami berjoget di tengah relungmu? Dengan detak dan dentum musik, tubuh kami bersama menyelaraskan irama? Mungkin ingin rasanya kau berkata agar kami menurunkan suara, namun kau biarkan kami hingga terengah dan akhirnya bersandar di bahumu yang rapuh. Ingat saat kami memerankan tokoh fiksi? Berpakaian bajak laut dan bidadari? Kami jadikan ruanganmu hutan belantara, samudera, bahkan rumah kurcaci, kami bernyanyi, menghentak, berlarian, dan kau diam, menilai, merekam. Ingat saat kami pulang larut malam? Mendandanimu agar tampak elok esok harinya? Mungkin jika tidak berpasrah, kau akan kesal beberapa kali karena gagal dibuat ayu. Ingat saat kami berformasi lingkaran, melepaskan beban, saling berkata jujur, dan beberapa dari kami terisak? Kau mungkin sudah menduga apa yang kami bicarakan, setelah berjuta kisah kami ceritakan melalui dialog dan gestur tubuh, setelah berjuta rasa kami perlihatkan melalui mimik wajah dan binar mata. Ingat saat satu persatu dari kami mulai terduduk, menatap kosong? Kau mungkin tertawa, setelah ribuan kali kau melihat hal yang sama, namun kau tetap menyediakan ruang bagi kami yang sedang susah payah merangkak dan kembali berjalan. Diam-diam kau menopang kami, agar kembali tegak. Ingat saat kami membisikkan mimpi kami dalam doa yang samar-samar kau dengar? Ingat saat kami memohon kepada-Nya di tengah kesunyian ruanganmu kala itu? Aku yakin kau ikut mengamini. Sepertinya aku terlalu banyak menyebutkan, kau pasti ingat setiap detail yang kami lakukan selama tiga tahun terakhir bukan?
Terimakasih kau sudah mengizinkan kami untuk menjadikanmu rumah. Rumah yang tak sekedar wujud, namun juga rasa. Kau perlihatkan bahwa tak selamanya repih berarti roboh. Jika saja dapat kukirimkan, aku ingin melihat kau membaca dan kelak...mengenang.
No comments:
Post a Comment