“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Tuesday, 30 May 2017

Pemintal Kata dalam Nada



Saat kau tutup matamu dan menerima setiap denting piano sebagai sengatan listrik untuk membangkitkan detakmu, kau utuh. Kau biarkan tangga nada bernari liar membawamu terbang menyusuri cakrawala, bak daun yang patuh pada angin, pasrah. Kau biarkan alunan harpa menarikmu ke atas panggung dan berdansa bersamamu, berputar dan menguasai panggung, kau biarkan buaian suara saksofon menangkap kelemahgemulaianmu tatkala jatuh pada tala minor terakhir sebelum kau beranjak dan berpuisi.

Tarikan napas pertamamu mengubah atmosfer ruangan menjadi tempat magis yang hanya diisi keajaiban rasa. Piano mulai beraksi dengan tuts yang satu persatu berseru mengiringi kedatangan emosimu, dengan entak kakimu kau mulai berkata bersama nada, menyatukan perasaan dengan lantunan. 

Saban pelintuh yang kau ucapkan adalah mantra yang melemahkan, kau ajak harpa dengan petikan nada tingginya menemani kesepianmu, menemani kesenyap-sunyianmu. Kau mulai bercerita bagaimana kau bertemu dengannya, sekejap memejamkan mata membuat seisi merasakan kerinduan yang kau tahan, kau berkata lirih, mencoba menyampaikan kisah yang kau coba gali kembali, memungut fragmen yang kau kubur dalam kalbu. 

Dengan bunyi piano dan harpa yang sedari tadi berdiri bersamamu, kau mencoba tegar, walau sempat kau hampir roboh bersama memori dan harapan. Kau bercerita bagaimana bahagianya dirimu saat melihat senja hanya dengan mengingat cahaya matanya, bagaimana tenangnya dirimu saat mendengar kedamaian hanya dengan membayangkan ia berbicara. Saksofon membangunkanmu di tengah imajimu yang terlempar ke belakang, kau hanya melanjutkan beberapa bait dan mempersilakan denting minor merajai ruangan.

Kau paham saat setiap suara instrumen hanya berjarak satu nada, peranmu berubah. Entak kakimu kau percepat, mengumpulkan seluruh luka yang mengambang di udara untuk kau curahkan dengan bulat, genap. Kau memutuskan kata "kami" sebagai kunci gerbang sentimenmu, hingga pada detik kelima kau terperengah dengan mata tetap tertutup, memilah kata yang tepat. 

Kau perlahan mendeskripsikan emosi, membiarkan kegaduhan yang diciptakan perkusi bersama piano yang dengan liar berekspresi; kau tidak peduli saat bas mencabik perasaanmu; tak acuh dengan segala bising dalam pikiranmu; kau terlena dengan duniamu; intonasi suaramu yang tinggi menggambarkan isak, kau memekik saat kau tahu kemarahanmu ada pada puncaknya; kepalan tanganmu  menggambarkan keinginanmu menghantam setiap keterpurukan yang pernah didewakan; kata yang kau pilih menohok, menikam; mimik wajahmu menggambarkan betapa dengan susah payah kau meronta hanya dengan rangkaian lugut yang kau muntahkan dengan segala kesanggupanmu.  

Kau terengah-engah.

Mengatur napas dibantu dengan bunyi piano yang melembut.

Semua rasa yang kau kubur, menguap sudah. Tidak terlihat muara yang keluar dari bingkai matamu kala kau perlahan membukanya, melihat seisi ruangan dan segala kehancuran yang kau buat.

Kau menenang. Kembali memejamkan mata sembari membungkukkan badan hingga koda mengalun.

Sunday, 28 May 2017

Izinkan aku, sebentar saja, mengingat kita.

Izinkan aku, sebentar saja, mengingat kita.

Tiga tahun lalu aku bersalaman denganmu, aku memperkenalkan diri.

Sejak hari ke dua puluh empat bulan lima, kesanku padamu tak lagi sama.
Kau tahu, selama aku mengukir cerita, kau adalah saksi bisunya.
Selama kami mengukir cerita, kau adalah saksi bisunya.

Betapa terkadang canda tawa kami memekikkan telingamu, namun aku yakin dibeberapa saat kau bahkan terbahak-bahak karena ikut bersenda gurau bersama kami. Ingat saat kami berjoget di tengah relungmu? Dengan detak dan dentum musik, tubuh kami bersama menyelaraskan irama? Mungkin ingin rasanya kau berkata agar kami menurunkan suara, namun kau biarkan kami hingga terengah dan akhirnya bersandar di bahumu yang rapuh. Ingat saat kami memerankan tokoh fiksi? Berpakaian bajak laut dan bidadari? Kami jadikan ruanganmu hutan belantara, samudera, bahkan rumah kurcaci, kami bernyanyi, menghentak, berlarian, dan kau diam, menilai, merekam. Ingat saat kami pulang larut malam? Mendandanimu agar tampak elok esok harinya? Mungkin jika tidak berpasrah, kau akan kesal beberapa kali karena gagal dibuat ayu. Ingat saat kami berformasi lingkaran, melepaskan beban, saling berkata jujur, dan beberapa dari kami terisak? Kau mungkin sudah menduga apa yang kami bicarakan, setelah berjuta kisah kami ceritakan melalui dialog dan gestur tubuh, setelah berjuta rasa kami perlihatkan melalui mimik wajah dan binar mata. Ingat saat satu persatu dari kami mulai terduduk, menatap kosong? Kau mungkin tertawa, setelah ribuan kali kau melihat hal yang sama, namun kau tetap menyediakan ruang bagi kami yang sedang susah payah merangkak dan kembali berjalan. Diam-diam kau menopang kami, agar kembali tegak. Ingat saat kami membisikkan mimpi kami dalam doa yang samar-samar kau dengar? Ingat saat kami memohon kepada-Nya di tengah kesunyian ruanganmu kala itu? Aku yakin kau ikut mengamini. Sepertinya aku terlalu banyak menyebutkan, kau pasti ingat setiap detail yang kami lakukan selama tiga tahun terakhir bukan?

Terimakasih kau sudah mengizinkan kami untuk menjadikanmu rumah. Rumah yang tak sekedar wujud, namun juga rasa. Kau perlihatkan bahwa tak selamanya repih berarti roboh. Jika saja dapat kukirimkan, aku ingin melihat kau membaca dan kelak...mengenang.