Saat kau tutup matamu dan menerima setiap denting piano sebagai sengatan
listrik untuk membangkitkan detakmu, kau utuh. Kau biarkan tangga nada bernari
liar membawamu terbang menyusuri cakrawala, bak daun yang patuh pada angin,
pasrah. Kau biarkan alunan harpa menarikmu ke atas panggung dan berdansa
bersamamu, berputar dan menguasai panggung, kau biarkan buaian suara saksofon
menangkap kelemahgemulaianmu tatkala jatuh pada tala minor terakhir sebelum kau
beranjak dan berpuisi.
Tarikan napas pertamamu mengubah atmosfer ruangan menjadi tempat magis yang
hanya diisi keajaiban rasa. Piano mulai beraksi dengan tuts yang satu persatu
berseru mengiringi kedatangan emosimu, dengan entak kakimu kau mulai berkata
bersama nada, menyatukan perasaan dengan lantunan.
Saban pelintuh yang kau ucapkan adalah mantra yang melemahkan, kau ajak
harpa dengan petikan nada tingginya menemani kesepianmu, menemani
kesenyap-sunyianmu. Kau mulai bercerita bagaimana kau bertemu dengannya,
sekejap memejamkan mata membuat seisi merasakan kerinduan yang kau tahan, kau
berkata lirih, mencoba menyampaikan kisah yang kau coba gali kembali, memungut
fragmen yang kau kubur dalam kalbu.
Dengan bunyi piano dan harpa yang sedari tadi berdiri bersamamu, kau
mencoba tegar, walau sempat kau hampir roboh bersama memori dan harapan. Kau
bercerita bagaimana bahagianya dirimu saat melihat senja hanya dengan mengingat
cahaya matanya, bagaimana tenangnya dirimu saat mendengar kedamaian hanya
dengan membayangkan ia berbicara. Saksofon membangunkanmu di tengah
imajimu yang terlempar ke belakang, kau hanya melanjutkan beberapa bait
dan mempersilakan denting minor merajai ruangan.
Kau paham saat setiap suara instrumen hanya berjarak satu nada, peranmu
berubah. Entak kakimu kau percepat, mengumpulkan seluruh luka yang mengambang
di udara untuk kau curahkan dengan bulat, genap. Kau memutuskan kata
"kami" sebagai kunci gerbang sentimenmu, hingga pada detik kelima kau
terperengah dengan mata tetap tertutup, memilah kata yang tepat.
Kau perlahan mendeskripsikan emosi, membiarkan kegaduhan yang diciptakan
perkusi bersama piano yang dengan liar berekspresi; kau tidak peduli saat bas
mencabik perasaanmu; tak acuh dengan segala bising dalam pikiranmu; kau terlena
dengan duniamu; intonasi suaramu yang tinggi menggambarkan isak, kau memekik
saat kau tahu kemarahanmu ada pada puncaknya; kepalan tanganmu menggambarkan keinginanmu menghantam setiap
keterpurukan yang pernah didewakan; kata yang kau pilih menohok,
menikam; mimik wajahmu menggambarkan betapa dengan susah
payah kau meronta hanya dengan rangkaian lugut yang kau muntahkan dengan segala
kesanggupanmu.
Kau terengah-engah.
Mengatur napas dibantu dengan bunyi piano yang melembut.
Semua rasa yang kau kubur, menguap sudah. Tidak terlihat muara yang keluar
dari bingkai matamu kala kau perlahan membukanya, melihat seisi ruangan dan
segala kehancuran yang kau buat.
Kau menenang. Kembali memejamkan mata sembari membungkukkan badan hingga
koda mengalun.