“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Monday, 16 October 2017

Apa Kabar?

Untukmu yang kusentuh jemarinya,
untukmu yang kutatap lekat matanya.

Halo, selamat malam,
Apa kabar?

Kudengar setahun ini kau banyak berubah
Tidak lagi ada berita mengenai kaca pecah
Atau lonceng malam yang berdenting lantang
Selamat ya, aku turut bahagia.

Bagaimana dengan rasamu? Melunakkah?
Atau masih butuhkah mereka dirantai sesekali,
agar tidak liar, mencari mangsa dan mencabiknya?
Yang kutakutkan justru kalau kalau mereka berbalik
menyakiti, menggerogoti jiwamu.

Sayang, beberapa kali pikirku dikabutkan
dengan kabar burung tentangmu.
Sebagian berkata kau gila,
Lainnya tidak ada yang kontra.
Cahaya sukaku pun takkan mampu meredam
segala khawatir dan gelisah yang
terbangun dalam bawah sadarku.

Setiap hari ke dua puluh lima
Jika gelap sedang merindumu,
mereka menggambar senyum
dalam temaram sinar candra.
Dan tak sekali pun kulewatkan
walau sekali-dua senyummu lenyap
digantikan butir tangis sendu angkasa.

Aku menemukan estetik dalam merindu
terlebih merindumu, yang kujadikan ritual.
Aku menggambar sosokmu, semakin indah
semakin manis.

Kotak tanyaku akan keberadaanmu sudah penuh
dan entah harus kubuang ke mana segala keindahan
yang muncul tiba-tiba.
Lamunanku selalu menjadi imaji dan khayal,
tergambar betapa inginku adalah bertemu.
Karena candu yang kucipta,
terus menyalak dari hari ke hari.
Dan dayaku hanya mengirim mantra
dengan Ia sebagai jembatannya.

Sudah 20 puisi kutulis dan hampir kukirim untukmu.
Namun aku selalu mengira
bahwa sosokmu butuh diksi yang lebih sederhana
sedangkan sukaku adalah pada kerumitan
dan teka-teki.

Untukmu yang kusentuh jemarinya,
untukmu yang kutatap lekat matanya.

Kemari,
Kuberi 20 puisi dan kotak tanyaku.
Agar kau tahu,
betapa kemarin aku teragak benar
akan hadirmu.

No comments:

Post a Comment