“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Sunday, 26 August 2018

Ratu #1

Kepada Barat kepulanganmu kunantikan
setelah lembayung merekah bersemayam
dalam Suci kukembalikan empunya atma
yang cabul dan lata dalam rangkai perkara

Sudah sepanjang batas hingga buntu
coba kucekal derumu, kukejar larimu
kini kikis asaku, tak berujung bertemu
kembalilah pada peraduan, wahai Ratu
Batara menunggu merengkuh jabangmu

Tenggelammu sekali waktu menyulut gempar
desus mengabarkan di seberang kau terlantar
untai jiwa mana yang tak akan meranggas?
mendapati nurani kini binasa tak pantas?

Maka pulanglah, menepilah kemari
kuberi penawar sesal, duhai Bestari
letih piraumu, payah kalapmu terobati
di dalam Jubah kau akan bersembunyi
dari bujuk rayu derita dan susah hati


hint: Ratu raib membawa jabang, 
         mundur selangkah lari kepalang

bersambung...

Sunday, 12 August 2018

Dansa

Dua tahun yang lalu, aku memberitahumu bahwa aku mengagumi langit dan laut. Bukan karena warnanya yang biru, namun karena aku selalu menemukan cinta dan bahagia tatkala aku berada di antaranya.  

Pernah suatu waktu, dalam kalapnya pikiran dan keadaan, aku pergi jauh untuk menemui keduanya. Masih ingat kah kau, aku pernah bercerita bahwa ibuku adalah penari yang hebat? Sepertinya keindahan itu mengalir pada darahku. Aku datang untuk berdansa. 

Jangan tertawa! Aku tahu ini terdengar konyol, namun melakukannya membuatku kembali hidup.

Pantainya begitu indah. Ia menjadikan aku pemilik satu satunya dengan tiada seorang pengunjung lain menapakkan kaki sebagai tanda kedatangan. Sempat aku melukis wajahmu di atas kanvas pasir putih, jariku sebagai kuas membentuk dagu dan bibir, mata dan hidungmu. Aku mengingat cahaya matamu begitu jelas kala itu, sama seperti yang kulihat saat ini.

Tidak, aku tidak menggodamu, aku benar benar menyukai sinar matamu.

Mau kau mendengarkan ceritaku? Hmmm baiklah. Berkenan untuk menutup mata sembari kubisikkan kata? 

Jangan lupa untuk membayangkan keindahan pantainya terlebih dahulu. 

Tidak, aku tidak memiliki fotonya, aku tidak memotret apa pun saat aku di sana. Kan kau tahu, aku selalu menikmati yang aku cintai dengan membiar keabadian itu kupupuk sendiri saja dalam hati. 

Aku ingat bagaimana aroma pantai yang telah menyelumuti tiap inci tubuhku, mungkin mereka hendak memelukku. Aku menjadikan pasir sebagai panggung, dan matahari terbenam sebagai lampu spot temaram yang sinarnya hanya tertuju padaku. Aku menjadikan angin sebagai teman dansa, dan laut sebagai pengiring disertai dengan suara gemerisik samudera menjangkau darat. Kau tau yang kumaksud kan? Ketika air saling melapisi satu dengan yang lainnya saat mencium pasir? Suaranya sangat lembut dan... tenang.

Aku mulai merentangkan tanganku dan melompat kecil ke selatan, berputar. Angin menyambutku dan menopang tubuhku. Aku menguasai panggung dengan meregangkan tangan dan kakiku, merajai arena dengan membawa tubuhku dalam jarak yang tak terhitung.

Aku merasakan jiwaku yang menari. Dalam pejaman mataku aku terus merasakan dadaku membucah bahagia.

Aku menjulurkan telunjukku menghadap langit ke arah barat daya, aku menatap tajam, rasa rasanya aku melepaskan sebagian energiku untuk alam. Aku kembali berputar beberapa kali, menyerap harmoni dan kebebasan, menghirup damai dan ketenangan. Aku sangat menikmati setiap detikku menumpu pada ibu jari kakiku, seakan akan melepas sakit dan derita tepat ke dasar bumi.

Kini mulai kumendekat dengan lautan, membiarkan percik air yang dibuat entak kakiku tercipta. Aku melompat di atas sisa debur ombak yang kecil, ia menciumku kemudian malu malu kembali ke peraduannya. Aku melanjutkan dansaku.

Sampai pada ketika matahari telah padam, aku mengakhirinya. Sekiranya pertunjukkanku sudah selesai. Untuk bagian ini, aku tak mampu memilah kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan yang tumbuh dalam dadaku. Aku sangat senang. 

Aku meninggalkan keduanya dengan janji untuk suatu saat bisa kembali bertamu untuk bertemu

Aku rindu.