“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown
Showing posts with label Mutiara. Show all posts
Showing posts with label Mutiara. Show all posts

Sunday, 12 August 2018

Dansa

Dua tahun yang lalu, aku memberitahumu bahwa aku mengagumi langit dan laut. Bukan karena warnanya yang biru, namun karena aku selalu menemukan cinta dan bahagia tatkala aku berada di antaranya.  

Pernah suatu waktu, dalam kalapnya pikiran dan keadaan, aku pergi jauh untuk menemui keduanya. Masih ingat kah kau, aku pernah bercerita bahwa ibuku adalah penari yang hebat? Sepertinya keindahan itu mengalir pada darahku. Aku datang untuk berdansa. 

Jangan tertawa! Aku tahu ini terdengar konyol, namun melakukannya membuatku kembali hidup.

Pantainya begitu indah. Ia menjadikan aku pemilik satu satunya dengan tiada seorang pengunjung lain menapakkan kaki sebagai tanda kedatangan. Sempat aku melukis wajahmu di atas kanvas pasir putih, jariku sebagai kuas membentuk dagu dan bibir, mata dan hidungmu. Aku mengingat cahaya matamu begitu jelas kala itu, sama seperti yang kulihat saat ini.

Tidak, aku tidak menggodamu, aku benar benar menyukai sinar matamu.

Mau kau mendengarkan ceritaku? Hmmm baiklah. Berkenan untuk menutup mata sembari kubisikkan kata? 

Jangan lupa untuk membayangkan keindahan pantainya terlebih dahulu. 

Tidak, aku tidak memiliki fotonya, aku tidak memotret apa pun saat aku di sana. Kan kau tahu, aku selalu menikmati yang aku cintai dengan membiar keabadian itu kupupuk sendiri saja dalam hati. 

Aku ingat bagaimana aroma pantai yang telah menyelumuti tiap inci tubuhku, mungkin mereka hendak memelukku. Aku menjadikan pasir sebagai panggung, dan matahari terbenam sebagai lampu spot temaram yang sinarnya hanya tertuju padaku. Aku menjadikan angin sebagai teman dansa, dan laut sebagai pengiring disertai dengan suara gemerisik samudera menjangkau darat. Kau tau yang kumaksud kan? Ketika air saling melapisi satu dengan yang lainnya saat mencium pasir? Suaranya sangat lembut dan... tenang.

Aku mulai merentangkan tanganku dan melompat kecil ke selatan, berputar. Angin menyambutku dan menopang tubuhku. Aku menguasai panggung dengan meregangkan tangan dan kakiku, merajai arena dengan membawa tubuhku dalam jarak yang tak terhitung.

Aku merasakan jiwaku yang menari. Dalam pejaman mataku aku terus merasakan dadaku membucah bahagia.

Aku menjulurkan telunjukku menghadap langit ke arah barat daya, aku menatap tajam, rasa rasanya aku melepaskan sebagian energiku untuk alam. Aku kembali berputar beberapa kali, menyerap harmoni dan kebebasan, menghirup damai dan ketenangan. Aku sangat menikmati setiap detikku menumpu pada ibu jari kakiku, seakan akan melepas sakit dan derita tepat ke dasar bumi.

Kini mulai kumendekat dengan lautan, membiarkan percik air yang dibuat entak kakiku tercipta. Aku melompat di atas sisa debur ombak yang kecil, ia menciumku kemudian malu malu kembali ke peraduannya. Aku melanjutkan dansaku.

Sampai pada ketika matahari telah padam, aku mengakhirinya. Sekiranya pertunjukkanku sudah selesai. Untuk bagian ini, aku tak mampu memilah kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan yang tumbuh dalam dadaku. Aku sangat senang. 

Aku meninggalkan keduanya dengan janji untuk suatu saat bisa kembali bertamu untuk bertemu

Aku rindu.

Sunday, 1 November 2015

"Mutiara? Apakah itu kau?"

Hari ini ia turun dari pulau kapasnya yang hitam setelah sekian lama dinanti. Perlahan-lahan melompat pasrah. Tak berparasut, tak berpengaman, hanya hanyut mengikuti irama detik. Mutiara namanya, wujudnya sama, namun beribu jumlahnya.
Ia selalu berbicara dengan Takdir, kapan dan di mana ia hendak ditempatkan nantinya. Mutiara akan selalu bereinkarnasi, Kawan. Bergulir mengikuti pola, berputar dalam siklusnya. Bergumul dengan udara, mendekap sinar Sang Surya, kemudian ditidurkan di atas kapas yang putih warnanya, yang lembut sifatnya, tinggal menunggu waktu yang tepat yaitu ketika nyawanya pecah di hadapan semesta.
Mutiara itu suci, Kawan. Adalah berkah sejuta umat. Apa lagi, akhir-akhir ini ia jarang ditemui.
Menghilang.
Raib.

Ada seorang gadis berambut panjang, bermata sipit, berkulit kuning langsat. Pada hari itu ia bergaun anggun, dihiasi manik-manik kecil. Ia seusia remaja pada umumnya.
"Mutiara? Apakah itu kau?" Gadis yang sedari tadi hilang dalam lamunan terpenjat setelah setetes air jatuh dari langit. Beranjak dari tempatnya, berlari memandang Sang Lazuardi.
"Mutiara? Kau datang!" Gembira. Bungah.
"Aku rindu, sungguh, aku merindumu! Ke mana saja kau ini, Mutiara? Berjuta orang mengharapkanmu untuk tumpah ke bumi, namun kau tak kunjung datang, kau tak kunjung mengguyur habis seperti waktu dulu ketika secara berkala kau membasahi kami," ia berujar penuh haru.
"Banyak sekali yang hendak kuceritakan padamu, Wahai. Banyak hal yang perlu kuberi tahu." Suaranya muali tak bernada. Sedikit pecah dan bervibra. Seperti hendak memuntahkan serangkaian kata, namun... agak tertahan di ujung kerongkongannya.
Ia mencoba mengatur nafas.
"Kau tahu? Di Pulau Suwarnadwipa sana beribu orang tengah berkabung. Tanaman-tanaman habis tak bersisa dilalap jago merah, mereka musnah, lenyap diterkam api. Kau tahu siapa yang membuat ulah? Adalah mereka yang bertampang manusia tak berdosa, tapi berperilaku bengis, berhati jalang. Beribu hektar ruang terbakar. Kini yang semula hijau berubah menjadi pemandangan abu. Kelabu."
"Makhluk keji itu tak hanya berulah di satu tempat, Sayang, tidak. Di Nusa Kencana pun ia juga bertindak serupa. Sungguh, Mutiara, malang nasib kami. Korban mulai berjatuhan. Oksigen yang biasanya tersedia gratis, kini sudah mulai menipis. Kami mengharapkan kau datang, agar, paling tidak, menenangkan jiwa kami yang gelisah dengan membantu sedikit para mulia yang tengah bekerja menjinakkan api. Memadamkannya."
"Kami membutuhkanmu Mutiara, kami.. sungguh membutuhkanmu."
Air matanya menitih beriringan dengan kristal langit yang pecah ketika bersentuhan dengan tanah. Tersedu.
"Jangan tinggalkan kami lama-lama, Wahai. Kumohon."
"Berikan kami aroma khasmu itu. Kami rindu. Aku rindu."
"Seringlah berkunjung. Akan kuceritakan kau dongeng-dongeng yang dilontarkan orang berdasi, dan cerita non-fiksi yang terjadi."
"Mutiara, sungguh, kau teramat berharga."

Kemudian Mutiara berpamitan. Berjanji akan menengoknya kembali... secara berkala. Untuk meredam kegelisahan jiwa yang merintih.