"Sudahi sajalah, biar kukembalikan lagi yang menjadi seharusnya milikmu. Aku tidak perlu mendengar sanggahanmu untuk tidak menerima yang selalu kau minta," tuntasku dalam suatu waktu padanya.
"Taruhlah di atas koperku, bertolak saja segera jika itu yang kau mau," pandangannya hampa, yang tersisa hanya hening, sudah kubuat mati kuasanya untuk bertanya. Kita sepakat untuk hengkang dan memilih menyerah. Sekali pun aku yakin teriak dalam pikirnya terus membangkang, sudah tidak lagi ada jalan. Buntu.
Tidak kurasakan ada tangan yang selalu mencegahku kali ini, "mengapa kau baru memberi tahu kali ini?" aku tetap bungkam, "aku bertanya," ucapnya.
"Sudah ketiga kalinya kau bertanya, kau butuh jawaban yang seperti apa lagi?" aku tidak pernah menjawab sedari pertanyaannya yang pertama, aku belum siap untuk bisa mengungkapkan yang sejujurnya. Ketulusannya membuatku sengap, "tidak ada lagi yang perlu diperinci, kau juga sudah menerima untuk tidak bertahan kan? Pilihanmu tepat."
"Aku bertanya sungguh sungguh. Tidak satu pun kata darimu menekankan di mana letak kesalahan episode ini," ia melik jawaban, memaksaku berterus terang. Aku enggan, khawatir akan membuncah dalam isak, aku belum siap.
"Karena pikirku, bagian ini masih dapat dipertahankan dalam kondisi tawar, tapi sudah tidak lagi ada daya dalam rasaku untuk terus mengiyakan. Aku lelah bersikukuh melawan ego," sekuat tenaga aku meredam tangis, "yang seharusnya aku lakukan adalah meminta maaf pada diriku sendiri lebih dulu."
Aku bergegas melangkahkan kaki ke luar, tanpa berpamitan terakhir kalinya. Ekor mataku menangkap pandangnya menjauhi kepergianku. Perannya berujung lara.
No comments:
Post a Comment