Thursday, 25 December 2014
Sungguh...!
Subhanallah
"Oh, iya, sama sama. Tetap tabah, ya, percayakan semua kepada Yang Di Atas", jawabku singkat mengakhiri pertemuan yang singkat pula di hari itu. Seakan kata 'tabah' yang kuucapkan tadi tidak sepatutnya kuungkapkan sebagai bentuk harapanku, karena kenyataannya ketabahan dan keikhlasan batinnya tak lagi diragukan, walau sebentar, namun aku yakin apabila kalian melihat langsung pada kejernihan matanya dan kecerian yang selalu dipancarkan, kalian akan melihat begitu suci hatinya, begitu bersih tak ternoda.
Memang benar sang Ayah telah meninggalkan raganya dari dunia, namun sepertinya hati terdalam itu tak pernah diisi oleh seorang makhluk ciptaan Tuhan yang lain selain ayah dan ibunya. Sekiranya ia tak masalah apabila ia tak lagi bisa melihat pahlawannya itu, dan justru menganggap bahwa Kuasa Sang Pencipta memang benar tiada duanya.
Jika kau, melihat tulisanku yang tak jelas kutujukan pada siapa--karena tak kutulis--ingatlah, bahwa detik itu juga--yang semoga tak hanya aku--terinspirasi karena senyumu yang sama sekali tak terasa hambar, yang terasa hangat, dan sungguh, senyumu menyejukkan bagi siapa pun yang melihat! Subhanallah.
Tenang ya, kawan, aku percaya Allah punya rencana lain dibalik duka-tak-kentaramu itu.
Friday, 12 December 2014
Sunyi kah?
Ada kalanya ketika titik hitam di kertas putih membesar, melebar, dan menodai kesucian putihnya kertas secara keseluruhan, hingga mungkin tak dapat lagi terbendung dan tertampung, kemudian meluap dan tercecer di mana mana. Ada kalanya ketika tekanan di hati sudah tak bisa lagi dipenat untuk memberi ruangan bagi tekanan selanjutnya, sewaktu waktu pun bisa saja lepas kendali, dan apa yang terjadi? Air mata tiba tiba meleleh tanpa kendali, mencair menjalar turun dipaksa gravitasi dan mencium segala hal yang berada tepat di bawahnya. Ada kalanya pula, ketika tangisan itu tak bersuara, teredam oleh kain yang menyekap wajah, memaksa agar tenggorok tak mengeluarkan segala macam petunjuk, yang bisa memungkinkan beberapa orang mengetahui dan membuat mereka mulai memperhatikan.
Ada kalanya ketika hati ini terasa penuh sekaligus kosong, ada kalanya ketika hati memaksa untuk tetap menyendiri di tengah keramaian, ada kalanya pula hati harus menyembuhkan sayatannya sendiri, tanpa bantuan apa pun, sekalipun itu obat penawar yang manjur.
Ketika mulut tak mampu berucap sepatah kata lagi untuk segala hal yang tengah terjadi dalam pikiran dan tercampur dengan perasaan, ketika dada mulai sesak dan memaksa jantung untuk berdegup lebih cepat untuk memberi peringatan agar tak ada air mata yang tertetes, ketika keramaian yang semula mengacuhkan keberadaan mulai melihat kejanggalan dalam tingkah laku, itu adalah saatnya agar mulut dikunci, menutup mata, dan biarkan yang tak terkendali mengalir jatuh, menghiraukan yang tengah mengetuk dengan tujuan mengetahui alasan mengapa mengurung diri, sehingga tak ada suara kepedihan, kesakitan, teriakan dari sayatan yang bisa terdengar.
Kawan...
Terkadang ada beberapa alasan yang terlalu rumit untuk bisa diulas dan diselesaikan satu persatu, dan tak selamanya pula manusia bisa dipercaya, tak selamanya mereka bisa menjaga janji dan omongannya. Ada seseorang yang hanya butuh dimengerti, tanpa harus berucap sekata pun, karena kau tahu kawan? Matanya telah menggambarkan semua hal yang terjadi di dalam pikirannya. Tak mudah bagi seorang tersebut untuk membagi masalahnya kepada yang lain, tak semudah orang lain yang menganggap masalahnya adalah musibah juga untuk semuanya. Seorang itu lebih menyukai untuk mengamati yang terjadi dalam hidup, tak seperti yang lain yang selalu mengomentari dan mengeluhkan segala yang telah ada, menyalahkan mengapa takdir memilih untuk menyakitinya dan bukan menjadikannya yang teratas. Seorang itu lebih memilih bungkam, agar sesaat membiar keramaian dalam pikirannya saja yang mengisi kesunyian.
Kawan...
Biarkan yang tak mampu dijelaskan, dibuktikan dengan yang tak mampu terkendali. Biarkan mengalir dan jatuh terjembab di atas bumi, agar segala perasaan yang tersakiti setidaknya mampu ditarik kembali oleh gravitasi.
Wednesday, 15 October 2014
Pejuang
Sunday, 28 September 2014
Sang Perangkai Kata
Sungguh aku merindukan kertas elektronikku ini yang berperan ganda sebagai sahabat yang selalu mewadahi setiap kegelisahan hati, hasrat menulis, dan segala yang tengah berkecimpung di dalam otakku. Maaf aku lancang. Mungkin sebagian dari kalian hanya melihat bagian yang akan kutulis di bawah ini saja. Tapi, jujur, aku tak mampu membendung rasa rinduku ini!
Jadi, begini.. Kali ini aku akan menuliskan mengenai kekagumanku pada kakak nan cantik, dan pandai mengolah kata menjadi hal yang mampu mengubah mood, pola pikir, bahkan hidup seseorang. Kakak yang takkan kusebutkan namanya merupakan seorang motivator untukku secara pribadi, dan mungkin pelanggan pembaca postingannya yang tak pernah lepas memberi jempol sebagai bentuk penghargaan. Kakak sang pemilik segudang diksi ini tak pernah lepas dari pemantauanku disetiap kubuka akun sosial media. Aku tak peduli kalian penasaran atau tidak dengan apa yang akan kutulis, tapi, apabila ada satu harapan ditiap post-ku, aku akan berharap agar Kakak membaca serangkaian kalimat yang kuketikkan hanya untuknya.
Teruntuk Kakak,
Dengan penuh kagum,
Halo Kak, bagaimana kabarmu sekarang? Aku harap Kakak baik baik saja, ya, seperti penjelasan status facebook-mu yang kau tulis secara rutin. Aku percaya kini Kakak tengah disibukkan dengan tugas kuliah yang menumpuk dan merengek meminta secepatnya dikerjakan. Tapi seburuk apa pun itu, sepertinya Kakak tak pernah lalai mengundang penghuni gudang diksi untuk keluar, menyerbu dinding facebook, dan mendorong ibu jari untuk menjadi penghubung antara pikiran dan kenyataan yang tertumpahkan. Aku harap, suatu saat nanti Kakak membaca post ku ini, yang sengaja kutulis hanya untukmu.
Aku adalah seorang pelajar yang sangat ketagihan dengan berbagai ragam dan macam diksi Bahasa Indonesia, aku tahu aku belum sepenuhnya menguasai setiap tulisanku, Kak. Yang aku tahu kata kata memiliki kekuatan dan terlebih apa bila menulis dengan kata yang jarang didengar, diraba, dan dirasa. Seakan semua tampak berbeda dalam hal penyampaian dan perasaan. Aku menyukai rangkaian kata karena banyak hal, dan yang membuatku kagum terhadap Kakak adalah caramu menuliskan suatu keadaan sederhana menjadi hal yang begitu pantas untuk dikagumi, begitu unik walau hanya dengan membaca, begitu terasa seretan ceritanya yang terkadang menusuk. Aku tak peduli Kakak mengenalku atau tidak, tapi sungguh, setiap tulisanmu menginspirasiku, Kak. Aku pengagummu, termasuk pengagum kata kata magismu.
Aku tak bisa untuk tidak memuja dan kemudian memuji tujuan tulisan tulisan Kakak. Aku tahu aku terlalu berlebihan, tapi ini sebuah kenyataan. Aku sampai tak habis pikir apa yang membuatmu memiliki banyak diksi yang seakan tergabung dalam otak dan tak sabar untuk menjadi nyata, diketik, dan dipamerkan pada para pembaca. Dengan mantra apa, sih, Kakak melakukannya? Jika ada resep, boleh kah aku mengintip sedikit? Mencicip keindahan segudang diksi, berkhayal mengenai mimpi mimpi, tenggelam dalam retorika mengenai kehidupan, dan pencapaian dalam meraih kesuksesan. Ahh.. Begitu indah.
Jika boleh kutekankan lagi, Kak. Aku mengagumimu walau sebatas membaca hasil mantra keajaibanmu, aku mengagumimu dalam hal penyampaian perasaan melalui tulisan, aku pengagummu.
Sekiranya cukup sekian yang bisa kuketikkan untuk Kakak. Sukses selalu.
Tertanda,
Saya.
Wednesday, 27 August 2014
Ibu Pertiwi
Ibu Pertiwi, sang induk dari anak anaknya kini. Bertubuh tegak, masih bernapas walau kadang tersengal sengal mencoba mengejar kawan kawannya yang terlihat maju mendahului, dan masih hidup. Beliau merdeka dalam ucapan. Jajahan, tumpah darah, dan gencatan senjata, memang sudah tak lagi berada dalam ruang geraknya, namun kelihatannya beliau terkadang masih terisak perlahan dalam keheningan. Berusaha tetap tegar, dan mencoba membangun pertahanan dalam yang lebih kuat agar tak semaunya kawan lain menyakiti dan mencuri yang dimiliki. Namun tegar pun ada batasannya. Banyak alasan yang membuat Sang Ibu menitihkan air mata, menjatuhkan yang ia pendam, dan membuka perasaan. Menyebarluaskannya. Malu, dan prihatin, mungkin itu yang tengah bergejolak dalam hati dan pikirannya tiap kali memandang sekeliling. Berita di televisi seakan tak pernah sedetik pun lalai untuk melaporkan peristiwa yang sedang, akan, atau sudah terjadi. Dan yang lebih mengenaskan adalah hampir semua berita memaparkan tentang permasalahan politik, ekonomi, dan segala mengenai kedua hal itu.
Masalah...masalah. Mengapa tak kau kunjung selesai dan sudahi tikaman yang terus kau tusukkan pada Ibu Pertiwi? Lihat.. anak cucunya mengemis, memulung, merampok, memakan sampah, berkeliaran tak tentu arah, mengucapkan kata pahit yang ditujukan padanya, mencaci keadannya, mengkritik setiap yang ada, menghujat kegiatannya, menghakimi segala tentangnya. Beliau sedih, beliau menangis, beliau sakit hati. Ibu.. Bertahanlah.
Lalu siapa kini beliau bergantung? Siapa kini yang beliau percayai untuk dapat membantu menyudahi masalah? Seakan semua orang mengkhianatinya. Banyak anaknya yang berkata bahwa mereka mencintai Ibu mereka. Munafik. Mungkin pengkhianatan yang selalu dirasa Sang Ibu, atau pilihan kesendirian dan keterpurukan juga ada dalam paketnya? Ibu.. Tetaplah berdoa.
Ibu, jika ragamu berupa manusia, mungkin kau lah yang selalu kami puja tanpa kami berani menginjak area kekuasaanmu, mungkin kau lah satu satunya manusia yang akan kami penuhi segala perintah dan kemauan, karena atas jasamu yang selalu setia berada di mana pun kami berada, menjaga kami. Kami akan sungkan membicarakan segala hal mengenai Ibu, terlebih menghujat dan menghakimi.
Teruslah berjuang, Ibu. Anak anakmu akan mencoba memperbaiki keadaan, agar kau tersenyum melihat kami, menitihkan air mata kebahagiaan, dan akan selalu merdeka dalam hal segala, tak hanya ucapan tanpa bukti nyata. Terimakasih, Ibu.
Tuesday, 12 August 2014
Derita.
Aku melihat derita di matanya. Seakan tatapan yang ia tujukan padaku adalah tanda kesdihan, kepedihan, dan duka. Tusukan pancaran matanya menyentakku untuk ikut merasakan kesakitan yang dirasa. Sentuhan tajam pupilnya menyeretku pada kehancuran, dan emosi yang tak karuan. Hantaman tatapannya merasuki jiwa, refleksi pikirannya terpancar. Pisaunya menyentuh lubuk hati, menusuk dan menyilet, mencabik, dan mengoyak. Perih.
Ia menatap hanya dalam hitungan detik, lirikan terakhirnya menyadarkanku, seakan hipnotis yang ia lakukan padaku sudah tak berlaku. Detik itu aku terhenyak, menata pikiran, dan mengatur napas. Ia, yang merupakan anak kecil, berkulit hitam, kelihatan tak berisi, berbaju ala kadarnya, dan pemilik tatapan tajam berjalan berlalu... menjauh... acuh.
Langkah demi langkahnya kuamati, kuteliti. Kuawali dari kakinya yang tak beralas, kotor, ditempeli semua macam debu termasuk benda-benda yang diinjak. Menjijikan! Celananya pendek- di bawah lutut, kulitnya yang legam membalut tulang kering, dan betisnya... gosong terpanggang matahari. Kaosnya berwarna merah, terlihat luntur, dan sobek di pundaknya, sepertinya ia tak pernah mengganti pakaian, tapi ia tak peduli, jalannya santai dengan hiasan kibasan tangannya yang berkipas kecil dan pelan mengikuti irama kaki. Rambutnya merah karena paparan matahari, teracak, dan panjang. Kuamati orang orang yang berjalan di sampingnya, melirik dengan penuh arti. Muak.
Bak sampah? Itu kah tujuannya?
Ia mengambil karung, kemudian mengais sampah, mengambil plastik dan bekas wadah makanan lainnya. Ia berjalan menunduk, berharap menemukan yang ia cari, agar usaha menahan panas, haus, lapar, dan juga malu bisa terbayarkan dengan uang yang digunakannya untuk mengisi perut. Mungkin sesekali ia menangisi keadaan yang begitu kejam berbuat hal ini padanya; mungkin sesekali ia terisak karena lelah menahan kepedihan, kekejaman, dan penuh dengan ketidakadilan hidup yang ia jalani; mungkin sesekali ia hanya membisu... diam seribu bahasa, membiarkan semua permasalahan ada pada pikirannya, membiarkan emosi bercampur aduk, membiarkan harapannya tak terucap, membiarkan matanya yang menggambarkan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Tak heran ia bertatapan tajam, yang ia harapkan hanyalah waktu untuk membinasakan derita hidupnya, tapi ia tak tahu kapan harapannya akan terwujud, ia tak tahu kapan harapannya akan terwujud. Ia tidak tahu.
Kini pekerjaannya telah usai, saatnya untuk mengambil upah. Raut wajahnya datar, tak ada kesan senang setelah berhasil bekerja di bawah panasnya sinar matahari. Raut wajahnya datar, tak ada syukur yang setidaknya terlihat dari binar mata setelah pekerjaannya sudah selesai. Raut wajahnya datar.
Ia kemudian berjalan sama seperti sebelum ia masuk dalam kandang lalat, perlahan dan mengibaskan tangannya yang mengikuti irama kaki. Rupanya ia tak melihatku yang tengah mengamati sedari tadi. Kuteliti kembali disela lengkah yang diambil. Kakinya masih sama: tak beralas; celananya masih sama: pendek di bawah lutut, menutupi tulang paha, kering, dan betis yang dibatul kulit hitam yang semakin mengkitam; kaosnya masih sama: berwarna merah, dan sobek dipundaknya; rambutnya pun masih sama: merah, teracak, panjang. Namun seiring dengan tatapanku yang tengah menghakimi penampilannya, tangannya mengepal, menggenggam uang hasil jerih payah, mengepal lebih kuat hingga otot dan pembuluhnya terlihat, mengepal hingga kelihatannya kuku tajamnya melukai telapak tangan, mengepal seakan ia akan menghantam sesuatu yang ia benci, dan ia terus memperkuat kepalannya detik demi detik. Ia berlari, sangat cepat, menjauh, melawan setiap orang yang menghalangi hentakan kaki tak beralasnya, menabrak siapa pun yang menghambatnya untuk berlari.
Mungkin ia sudah sadar apa yang perlu dilakukan agar waktu mampu membunuh derita, dan kepedihan yang dialaminya. Agar ia tak lagi segan untuk bermimpi tinggi, dan melulu dikecewakan oleh keadaan. Mungkin ia sudah tak sabar mengubah nasib dan berusaha memperbaikinya. Langkahnya cepat, lebar, dan hentakannya tegas. Ia berlari mengejar apa yang ia impikan. menjemput waktu yang akan datang, yang ia harap akan berperilaku baik terhadapnya. Ia berlari mengejar masa depan.