“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Wednesday, 28 May 2014

Kenapa?

"Kenapa ya, rambut mereka lebih indah? Bisa terurai begitu saja hanya dengan sisiran jemari panjangnya. Kenapa ya, badan mereka bisa ideal walau mereka memakan apa saja yang mereka mau? Badan bisa terjaga walau ia tidak terlalu tertarik dalam hal olah raga? Dan tetap tetap walau sepertinya ia tak mempedulikan berapa berat badannya? Kenapa ya mata mereka bisa sempurna? Bisa memancarkan sesuatu yang kuat, dan mampu menyorot tajam seakan apa yang ia gambarkan dalam pikirannya mampu menghasut banyak orang. Kenapa seakan akan tubuhku adalah tubuh yang paling tidak ideal? Seakan mataku tak bisa memancarkan hal menakjubkan? Seakan rambutku adalah rambut yang tidak terrawat tak seperti kawan kawanku lainnya? Kenapa aku?", aku mengeluhkan seraya aku memandangi diriku di depan cermin, aku mengomentari setiap inci tubuhku. "Kenapa mereka bisa cantik? Kenapa mereka begitu sempurna secara fisik?", aku masih terus mencela tubuhku. "Kenapa aku?", keluhku untuk yang kesekian kalinya.


"Ayah, kenapa teman temanku terlihat cantik, sedangkan aku biasa biasa saja?"
"Cantikmu dan cantiknya mereka berbeda, nak"
"Bagaimana bisa?"
"Kamu tahu sendiri, kan, mereka merawat dirinya dengan mendatangi salon dan memoles wajah mereka dengan make-up?"
"Iya sih, Yah."
"Coba, mulai sekarang jangan bandingkan kamu dengan teman temanmu. Banyak orang di dunia ini yang tak seberuntung kamu. Yang terserang kanker, rambutnya rontok karena panasnya saat dikemoterapi, tapi kamu masih punya rambut yang merupakan mahkota indahmu. Di bagian dunia lain, masih banyak anak anak tak beruntung karena tak bisa makan. Jangankan bagian dunia lain, di Indonesia pun masih banyak sekali, tapi kamu masih bisa makan tiga kali sehari, bahkan lebih. Dan banyak orang di dunia ini yang menderita penyakit mata, seperti katarak, kebutaan, atau buta warna dan banyak lagi, tetapi kamu masih bisa melihat dengan jelas, bahkan tanpa bantuan kaca mata atau soft lens sekalipun. Bersyukur karena kamu masih diberi nafas. Bersyukur lah nak, jangan selalu melihat apa yang tak kamu miliki, coba hitung apa yang sudah kamu miliki yang telah Tuhan berikan padamu? Ayah yakin, pasti tak terhitung jumlahnya. Tuhan telah memberimu apa yang kamu butuhkan. Terapkan padamu, bahwa Tuhan sangat menyayangimu, dan apa yang Dia beri adalah yang terbaik."

Gambar gambar orang tak seberuntung diriku terlukiskan dalam imajiku. Ya, aku sungguh beruntung. Mereka tak memperdulikan bagaimana fisik dan seberapa cantik mereka, yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana mereka tetap hidup di hari esok.

"Iya, Yah, aku mengerti sekarang. Mungkin saja teman temanku yang cantik secara fisik itu tidak memiliki ayah yang seperti Ayah. Perhatian, sabar, dan merupakan pahlawan yang tangguh dan kuat, selain itu Ayah juga ayah yang tabah dan sangat bijaksana."

Ayah langsung memelukku. Kurasakan kehangatan yang seketika menyelimuti, kurasakan bibirnya menyentuh pipiku, kurasakan sayangnya menjulur dan merekat pada pembuluh darahku. Ya, aku sangat beruntung.

"Be thankful for what you have, you'll end up having more. If you concentrate on what you don't have, you will never, ever have enough." -Oprah Winfrey




Monday, 26 May 2014

Mimpi

Aku ingin menjadi dokter! aaaah, tidak, terlalu banyak yang menginginkan untuk menjadi dokter. Hmmm, aku ingin menjadi seorang astronaut saja, sepertinya menantang! aaah, tapi apa bisa aku keluar angkasa dan melihat betapa besar dan indahnya ciptaan Tuhan? Kurasa, aku masih harus mengendalikan ketakutanku. Aku ingin menjadi photographer! Sepertinya itu merupakan profesi yang bisa mendapatkan gambaran jiwa yang murni dari setiap pancaran mata. Aaah tidak, aku tidak berbakat dalam hal itu. Atau, menjadi penulis? Penulis profesional yang dihargai karena kalimat yang terdiri atas kata kata penggetar jiwa, gambaran imaji yang indah dan menakjubkan, dan bisa menyampaikan pesan tersirat maupun tersurat. Hanya bermodalkan kertas, tinta, dan pikiran, kemudian semua bisa berkembang begitu saja menjadikan kertas kertas tipis bergabung menjadi satu: buku. Penulis menjadikan mozaik mozaik kecil bersatu, dari tiap bab dalam buku yang terdiri atas bermacam peristiwa, dari tiap paragraf yang menggambarkan pikiran dan segala tindakan tokoh. Penulis... tidak buruk, siapapun juga bisa menjadi penulis, hanya dengan kata kata saja ia bisa melukiskan gambaran magis.

" Yah, ayah dulu mau jadi apa pas sebesar aku?"
"Dari kecil, ayah tetep maunya jadi dokter, gak ada yang lain."
"Kok bisa sekarang ayah jadi geologist?"
"Semuanya sudah diatur, tapi dulu, ayah sudah berjuang keras untuk menggapai cita cita ayah itu. Tapi kamu tau? Yang terpenting dalam prosesmu untuk emnggapai cita cita adalah tetap menjadi pribadimu sendiri, dan tetap memegang teguh kejujuran, bertanggungjawab, pantang menyerah, berfikir positif, dan yang terpenting adalah selalu bersyukur kepada Tuhan, Yang Maha Esa."

Ayahku selalu mengingatkanku dan berpesan, bahwa semua di dunia ini tidaklah mudah, semua pasti melewati hari hari yang buruk untuk menuju hari hari yang indah, sama seperti perumpamaan seekor burung kecil yang masih rentan. Ia terlebih dahulu melihat contoh induknya cara terbang, kemudian belajar mengembangkan sayapnya seraya belajar mengepakkannya, kemudian ia kumpulkan keberanian untuk terbang, ia terjatuh, ia ketakutan, tapi ia tepiskan semua hal negatif di pikirannya untuk bisa terbang, hingga akhirnya, ia bisa menjelajahi langit, tapi terbang bukanlah tujuan akhir hidupnya, ia masih harus melewati badai yang sewaktu waktu bisa menerjang, ia berimigrasi bila  harus, ia masih harus mencari makan untuk mempertahankan hidup, tapi burung akan selalu mengikuti naluri alamiahnya untuk sekedar mempertahankan hidupnya, dan akallah yang membedakan burung dengan manusia. Semua manusia pasti mempunyai ambisi untuk sukses dikemudian hari, maka itu semua orang pasti punya mimpi, dan mimpi tidak pernah pandang bulu. But what make a person a winner is his action. Tidak hanya berangan angan. Resep sukses ayahku sederhana, walau butuh waktu untuk membangun: jujur, bertanggungjawab, pantang menyerah, stay positive, terus bersyukur.

(just like a bird) In order to succeed, your desire for success should be greater then you fear of failure -Bill Cosby

Kenangan Kita, Kawan.

Kawan, tiga tahun ternya terasa begitu cepat, dengan segala suka duka yang telah kita lewati, dan sekarang kita yang tengah mengenang segala kenangan. Mungkin memang kata kataku terlalu monoton, tapi itulah adanya, kita solid dengan dukungan berbagai peristiwa. Kawan, jika saja tiap tingkah kita terrekam, dan terrangkum menjadi sebuah video, akan kuputar dan ingat kembali tiap detail dari putaran yang terus bergulir tiap detiknya. Kalian memberi warna dalam hidup, memberikan memori indah, memberi makna perteman dan pelajaran hidup. Aura kebahagiaan itu selalu terpancarkan dengan seulas senyummu kawan, dengan pancaran mata yang berbinar binar, dan teriakkan.

Kita yang semula ber-30 hingga akhirnya menjadi ber-29 melewati tiap harinya dalam satu ruangan, yang tanpa kita sadari pula, kita menghirup dan menghembuskan udara bersama. Ingat saat lomba yang mengharuskan anggota kelas mengikuti tanpa ada yang terlewatkan? Ingat saat kita berdiskusi, hingga petang datang dan kebingungan mencari transportasi untuk pulang? Ingat saat berdebatan berlangsung, dan beberapa dari kita mencoba menetralkan suasana? Ingat saat kita saling berbagi keluh kesah hati tentang asmara, dan bagaimana kita saling menguatkan dan membuat kepingan hati yang pecah menjadi satu kembali? Ingat tetesan air mata kita saat kita saling meminta maaf dan saling mendoakan? Ingat saat kita mengucap ikrar untuk saling melindungi, dan tak menyakiti? Ingat saat minggu demi minggu kita isi dengan perjuangan, dengan keringat? ingat saat waktu ujian telah usai dan kita berbahagia bersama? Ingatkah kalian? Semua begitu berharga, begitu sayang bila dibuang, walau sebutannya hanya kenangan.

Kita, yang bermula malu malu dan berhujung memalukan (terkadang), akan tetap menjadi saudara Bryffindor, yang nano nano yang penuh dengan bermacam rasa, menjadi rexona yang selalu setia setiap saat pada sesama anggotanya. Kini, masih masing dari kita akan melanjutkan sekolah yang tingkatnya lebih tinggi, dan mulai menambah angan dan gambaran akan kesuksesan yang akan kita capai dewasa nanti, kita akan menempuh perjalanan yang semakin berat. Karena apa gunanya hidup jika kita tak bisa bermimpi? Aku bersyukur bertemu dengan kalian, sahabatku, aku bersyukur dengan kejadian kejadian yang telah kita lewati, aku bersyukur Tuhan telah mempersatukan kita. Sobat, teruslah rangkai mimpimu, tapi jangan sekedar bermimpi, berusahalah menggapainya dengan semangatmu. Sobat, kenanglah tiap hari hari kita, karena semua yang telah berlalu tak bisa kita putar kembali. Sungguh, aku akan merindukan kalian. Bryffindor.

God's dream is that you and I and all of us will realize that we are family, that we are made for togetherness, for goodness, and for compassion. -Desmond Tutu