Langkah demi
langkah kuambil, menyusuri jalan setapak yang terletak di tengah keramaian.
Taman kotalah tujuanku. Aku hobi membaca buku, konsenterasiku pun tak mudah
terganggu sekalipun itu di tengah kerumunan orang. Aku selalu larut dalam
cerita, selalu termakan bulat-bulat oleh lika-liku alur. Namun kali ini
berbeda. Fokusku tak lagi tertuju pada bagaimana sang penulis menggambarkan
kemegahan istana, atau terjun bersama kisah romansa putri dan pangeran.
Pikiranku melanglang ke suatu tempat, dan menemukan dengung yang selalu membuat
rongga dadaku bergetar, menghantamku dengan gemanya. Ialah gema suara ayah yang
selalu berkata, “Nanda, kamu pasti bisa nak!”
Aku Resti
Hartika, seorang sulung dari lima bersaudara.
***
Ayahku adalah
seorang Pegawai Negeri Sipil, dia juga aktif beorganisasi dan menekuni dunia
jurnalistik. Aku berasal dari keluarga sederhana, sehingga tak mengherankan
apabila bunda juga ikut membantu ayah menopang finansial keluarga dengan
membuka warung kecil-kecilan.
Dari analisis
dan pengamatanku setiap harinya, aku mendapatkan kesimpulan sederhana, yaitu,
ayah dan bundaku adalah seorang pekerja keras. Gambaran dari kegiatan yang
mereka lakukan telah membuahkan suatu pandangan dalam diriku, bahwa untuk bisa
bertahan hidup, bekerja keras, tak pantang menyerah, dan selalu menyertakan Tuhan
dalam setiap hal yang dilakukan adalah kunci utamanya.
Pernah suatu
hari, ketika langit malam begitu cerah, dan hembusan angin terasa begitu
syahdu. Aku bertanya kepada ayah mengenai bagaimana kehidupan ayah sewaktu
kecil. Sambil bersender pada kursi di halaman depan rumah, dan menyeruput teh
yang kubawakan, ayah menjawab sembari menatap bulan, “dulu untuk makan saja
susah, nak,” sejenak ayah berbalik arah, menatap mataku lekat, dan kembali menyusuri
langit,”kamu tahu, kan, ayah adalah seorang sulung, dan ayah adalah seorang
lelaki. Ayah selalu bekerja keras membantu kakek dan nenek. Ayah juga
menanamkan jiwa juang pada adik-adik ayah. Paling tidak agar mereka tidak mati
kelaparan karena kehilangan harapan, juga agar mereka mengerti bahwa untuk
hidup itu tidak hanya sekedar menghirup oksigen dan berkedip. Bahwa hidup itu
adalah suatu kompetisi. Ayah selalu memotivasi mereka untuk jangan merasa kecil
karena status mereka sebagai anak seorang petani. Ayah juga kerap berpesan untuk
menggapai angan sampai dapat dan tergenggam, karena masa depan adalah tanggung
jawab masing-masing dari kita.
“Mungkin
sekarang ini kamu tengah bertanya, mengapa kini ayah hanya menjadi seorang PNS.
Kau akan mengetahuinya segera nak, namun tidak sekarang. Yang terpenting
adalah, kamu harus yakinkan pada dirimu bahwa kamu dilahirkan untuk sukses. Kau
tahu nak? Ayahmu ini yakin sekali bahwa kamu pasti bisa menerjang segala
rintangan dan badai esok hari,” lalu ayah perlahan beranjak dari kursinya,berjalan
menujuku yang berada di sisi sebelah, memegang kedua bahuku dengan sedikit
mengguncangkannya, “Nanda, kamu pasti bisa nak!” senyum ayah mengembang
perlahan. Aku melihat binar matanya yang seakan menaruh penuh harap kepadaku.
Aku menatap kosong ke depan ketika ayah memelukku. Sejak saat itu, setiap kali
pikiranku memutar ulang gema suara ayah, rongga dadaku meletup-letup, berdetak
kencang, seakan akan beban yang kurasakan semakin berat. Pikiranku hanya mampu
berkata, “Hendak jadi apa aku nantinya untuk bisa, paling tidak, membanggakan
kedua orang tuaku?”
***
“Maafkan
kami, Nanda, kami harap kamu mengerti. Ayah dan bunda masih harus membiayai
sekolah adik-adikmu, dan memenuhi kebutuhan lainnya. Kami harap kamu maklum,
nak. Kami tau kamu sangat tersayat akan pernyataan kami barusan, bahwa kendala
finansial keluarga kita saat ini mengancammu untuk tidak bisa melanjutkan ke
fakultas kedokteran. Sabar ya nak, maafkan kami,” Begitu ucap ayah ketika aku
meminta persetujuan ingin masuk fakultas kedokteran. Aku hanya bisa terguguk
dan tersedu di kamar. Beruntungnya aku tidak sampai menyalahkan kedua orang
tuaku atau bahkan takdir.
Hari-hari
selanjutnya aku mencoba untuk melangkah maju, berfikir positif bahwa Tuhan
memiliki rencana yang jauh lebih baik dari ini. Hingga suatu ketika, aku
memutuskan untuk mendaftar Sekolah Tinggi Pemerintah Dalam Negeri. Namun untuk
kedua kalinya aku gagal, dan yang lebih menyakitkan adalah aku gagal karena
tinggi badanku tidak memenuhi persyaratan.
“Tidak
mengapa nak, mungkin ini bukan jalan yang terbaik untukmu. Bunda yakin masih
ada banyak hal di depan yang lebih baik,
jangan patah harapan. Berdoalah kepada Tuhan, dekatkanlah jiwamu
kepadaNya.”
***
Aku
masih terluka pada minggu-minggu setelah itu, bahkan berbulan-bulan. Aku sempat
tumbang, karena dua cita-citaku gagal kuraih. Maka aku siasati waktu senggangku
dengan membantu bunda di warung.
Tak
jarang saat aku terbangun di tengah malam, aku mendengar deru mesin jahit yang
digunakan bunda untuk menggabungkan kain perca untuk menjadi bed cover. Bed cover
tersebut nantinya dititipkan di toko swalayan.
Pernah
suatu malam, setelah kudengar ibu menyelesaikan jahitan terakhirnya, air mataku
mengucur deras. Sampai pagi aku mempersilahkan emosiku meluap setelah kupendam
sorang diri. Aku berjalan keluar kamar untuk mengambil air suci, kemudian aku
berlutut mencurahkan segalanya kepada Yang Mahaesa.
Aku selalu meminta
Tuhan untuk menguatkanku. Aku senantiasa mendoakan kedua orang tuaku.
***
Suatu
hari, ayah mengumpulkan aku dan adik-adik di ruang keluarga. “Ayah mau
menyampaikan keputusan yang sangat penting dan ayah ingin kalian untuk
menanggapi,” sesaat ruangan begitu sunyi. Aku menatap ayah, menunggu apa yang
hendak disampaikan selanjutnya, “ayah memutuskan untuk berhenti menjadi PNS dan
keluar dari organisasi yang ayah ikuti. Ayah akan mulai menggeluti dunia
usaha,” ayah menatap satu-persatu dari kami, “apakah di antara kalian ada yang
ingin berkomentar?”Adik-adikku hanya menunduk. Mungkin bingung dengan
pernyataan ayah barusan. Entah harus merasa senang atau malah sebaliknya. Namun
saat itu juga aku memeluk ayah dengan erat. Aku merasakan kehangatan air yang
tumpah dari kelopak mata dan menyusuri pipi hingga jatuh ditarik gravitasi.
Doaku terkabul! Doaku terkabul!
Sebagai
langkah awal dalam membuka usaha, ayah selalu membaca buku-buku sederet profil
pengusaha sukses, seperti Bob Sadino, Bill Gates, Steve Jobs, dan Elang
Gumilang. Aku pun ikut tertarik untuk membaca. Setelah kuanalisis, kunci kesuksesan mereka adalah bekerja keras, tak pantang menyerah, dan selalu
menyertakan Tuhan dalam setiap hal yang dilakukan. Sejak saat itu, kuniatkan
pada diriku bahwa kegagalan kemarin bukan menjadi suatu penghalang bagiku untuk
bisa terus maju dan sukses. Bukankah mereka yang bisa menggapai impian yang
begitu tinggi sudah berkali-kali terjungkir, terbalik, terjatuh, terseok-seok,
atau bahkan hampir tenggelam? Namun mereka tak pantang menyerah! Tak patah semangat! Aku bermimpi menjadi seorang pengusaha, dan aku yakin, aku
pasti bisa.
***
Berfikir
positif teramat penting dalam menjalani kehidupan. Perlahan-lahan aku tidak
menghiraukan pikiranku yang terus menggemakan mengenai dua kegagalanku.
Akhirnya, aku diterima di jurusan bahasa Inggris! Aku sangat bersyukur.
Kegagalan mengajariku betapa berharganya sesuatu yang telah kudapatkan saat
itu. Tak kusia-siakan kesempatan tersebut, walau pun ada sedikit kendala
finansial, tidak berarti aku bisa mengeluhkan apa yang terjadi padaku. Justru
hal tersebut membuat semangatku berkobar. Aku merambah dunia kerja di samping
kuliah, aku belajar dan mendapat pengalaman.
Suatu
ketika, Kak Ica, saudara sepupuku datang kepadaku dan mengajak untuk
berpatungan membeli kios yang ada di sebelah toko Bunda, “Nanda, di sebelah
toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli
kios itu, lalu kita jual pakaian di sana?” Setelah kupertimbangkan, aku
mengiyakan ajakan Kak Ica. Kami mulai berbisnis pakaian. Hasil yang kami
dapatkan di luar ekspektasi. Usaha itu memuai hasil yang gemilang!
Aku
semakin giat menekuni usahaku dan Kak ica. Namun hal tersebut tidak menurunkan
prestasiku di ranah akademis. Aku
berhasil mempertahankan semuanya dengan hasil yang memukau.
***
Kini
ayah tengah berkutat dengan profesi barunya, yaitu menjadi seorang motivator.
Ayah selalu sibuk karena banyak panggilan yang menginginkan ayah untuk hadir
dalam acara yang mereka adakan. Hal ini menginspirasiku untuk menjajal dunia event organizer. Dari kedua pengalamanku
tersebut, aku makin tertarik dengan dunia usaha. Aku mulai menekuni
bidang-bidang yang lain. Aku mulai mencicipi hal-hal yang bisa mendatangkan aku
pengalaman. Usaha penjualan tiket pesawat pun kulakoni hingga membuahkan
beberapa kantor cabang di berbagai kota di negeri ini. Aku mencintai apa yang
kulakukan sekarang, dan aku sangat bersyukur kepada Tuhan, karena tanpa
kegagalan yang Ia beri, aku takkan mampu menjadi diriku yang sekarang.
***
Kehidupan
memang selalu menguji diri kita terlebih dahulu sebelum kita mendapatkan hikmah
atau pun pelajaran. Hidup mengajariku bahwa usaha dan doa yang dilakukan akan
sebanding dengan hasil yang akan diterima. Hidup mengajariku bahwa tidak ada
hal yang dengan mudah akan diterima, tidak akan ada hal berharga yang cepat
digapai. Semua butuh diperjuangkan. Sekali pun kita dihadang oleh terjangan
hujan dan badai, atau bahkan terseret ombak, jangan menyerah. Semua yang kuraih
saat ini bukan lain karena kerja kerasku, doa orang tuaku, dan Tuhan yang
selalu menguatkan dan membimbingku.
Aku
Resti Hartika seorang sulung dari lima bersaudara, yang kini sukses meraih
impian.