“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Thursday, 24 September 2015

Luna... Oh, Luna.



“Namun Luna, Tuan menjahatiku. Aku tak tahan. Sakit sekali.” - 12 Desember 1987 pukul 22:05

“Ia berlari menujuku sore itu, Luna. Tetapi aku tak kuasa membendung kristalku. Mereka menetes deras sehingga aku harus bersembunyi. Di bawah Angkasa, tentunya. Tuan gagal menemukanku.” – 13 Desember 1987 pukul 21:57

“Semuanya palsu, Luna. Semuanya bohong.” – 14 Desember 1987 pukul 21:23

“Awal yang baru, Luna. Aku berharap banyak.” – 23 Desember 1987 pukul 23:00

Ia memelukku tadi pagi, Luna. Berkata sayang, berucap cinta. Ia mengecup keningku lama sekali. Menghangatkan.” – 26 Desember 1987 pukul 20:13

“Jantungku berdebar amat kencang, Luna! Ia baru saja mengatakan sesuatu yang mebuat otakku lepas kendali dalam meredam gema yang kini kian keras!” –  27 Januari 1988 23:48

“Luna! Tolong aku cegah rasa euforia ini!” – 30 Januari 1988 pukul 22:54

"Aku bahagia, Luna. Aku ceritakan rentetan ceritanya nanti, ya?" - 13 Februari 1988 21:34

“Luna, bisakah kita bertemu lebih sering? Aku kerap merasa kehilangan akhir-akhir ini.” –  24 Februari 1988 pukul 21:32

“Aku meringkuk di sudut kamar sedari tadi. Menanti Surya pulang setelah selama 13 jam bermain riang, sehingga pada jam ke 20-nya, aku bisa kembali bersamamu.” – 26 Februari 1988 pukul 20:01

Ia melambaikan tangan ketika ia hendak pulang. Ia berucap rindu.” – 1 Maret 1988 pukul 21:51

“Kepalan kedua tanganku sedikit memudar, Luna. Mereka juga perlahan terkikis. Aku khawatir.” – 7 Maret 1988 pukul 23:45

“Aku nyaris terjatuh, Luna.” – 10 Maret 1988 22:53

“Aku merampungkan goresan tangan yang ke 60, Luna! Tanpa cacat! Kuhubungkan ceritaku. Mereka menjelma menjadi kata yang berantai. Kau suka bukan?” – 11 Maret 1988 pukul 22:05

“Pisaunya nyaris mengenai kuku jari telunjuk kananku, Luna. Aku berhasil lolos!” – 15 Maret 1988 pukul 23:32

“Semuanya penuh fluktuasi. Kepalan kedua tanganku tertekan. Mereka makin terkikis. Hampir habis.” – 19 Maret 1988 pukul 17:31

Ia datang kepadaku lagi setelah satu purnama lamanya. Menyapa. Berbasa-basi.” – 16 April 1988 pukul 21:51

“Pukul 13.07 tadi Merah terjatuh. Dan, oh, mirisnya, Kepalan  kurang beruntung. Pecah. Mati.” – 21 April 1988 pukul 23:17

“Terapung, Luna. Ia tak lagi kuasa, katanya. Kapalnya terombang-ambing. Begitu juga kapalku. Kukira sang Nahkoda mampu menyetir. Namun aku salah, Luna. Kami berjauhan, menuju dermaga yang berbeda.” – 28 April 1988 pukul 22:22

“Luna, andai kau tahu apa yang terjadi pada tanggal 23 Desember tahun lalu.” – 30 April 1988 pukul 23:59

No comments:

Post a Comment