“Namun Luna, Tuan menjahatiku. Aku tak tahan. Sakit sekali.”
- 12 Desember 1987 pukul 22:05
“Ia berlari menujuku sore itu, Luna. Tetapi aku tak kuasa
membendung kristalku. Mereka menetes deras sehingga aku harus bersembunyi. Di
bawah Angkasa, tentunya. Tuan gagal menemukanku.” – 13 Desember 1987 pukul 21:57
“Semuanya palsu, Luna. Semuanya bohong.” – 14 Desember 1987
pukul 21:23
“Awal yang baru, Luna. Aku berharap banyak.” – 23 Desember
1987 pukul 23:00
“Ia memelukku tadi
pagi, Luna. Berkata sayang, berucap cinta.
Ia mengecup keningku lama sekali. Menghangatkan.” – 26 Desember 1987 pukul
20:13
“Jantungku berdebar amat kencang, Luna! Ia baru saja mengatakan sesuatu yang mebuat otakku lepas kendali
dalam meredam gema yang kini kian keras!” – 27 Januari 1988 23:48
“Luna! Tolong aku cegah rasa euforia ini!” – 30 Januari 1988 pukul 22:54
"Aku bahagia, Luna. Aku ceritakan rentetan ceritanya nanti, ya?" - 13 Februari 1988 21:34
"Aku bahagia, Luna. Aku ceritakan rentetan ceritanya nanti, ya?" - 13 Februari 1988 21:34
“Luna, bisakah kita bertemu lebih sering? Aku kerap merasa
kehilangan akhir-akhir ini.” – 24 Februari 1988 pukul 21:32
“Aku meringkuk di sudut kamar sedari tadi. Menanti Surya
pulang setelah selama 13 jam bermain riang, sehingga pada jam ke 20-nya, aku
bisa kembali bersamamu.” – 26 Februari 1988 pukul 20:01
“Ia melambaikan
tangan ketika ia hendak pulang. Ia
berucap rindu.” – 1 Maret 1988 pukul 21:51
“Kepalan
kedua tanganku sedikit memudar, Luna. Mereka juga perlahan terkikis. Aku
khawatir.” – 7 Maret 1988 pukul 23:45
“Aku nyaris terjatuh, Luna.” – 10 Maret 1988 22:53
“Aku merampungkan goresan tangan yang ke 60, Luna! Tanpa
cacat! Kuhubungkan ceritaku. Mereka menjelma menjadi kata yang berantai. Kau
suka bukan?” – 11 Maret 1988 pukul 22:05
“Pisaunya nyaris
mengenai kuku jari telunjuk kananku, Luna. Aku berhasil lolos!” – 15 Maret 1988 pukul 23:32
“Semuanya penuh fluktuasi. Kepalan kedua tanganku tertekan. Mereka makin terkikis. Hampir habis.”
– 19 Maret 1988 pukul 17:31
“Ia datang
kepadaku lagi setelah satu purnama lamanya. Menyapa. Berbasa-basi.” – 16 April 1988 pukul 21:51
“Pukul 13.07 tadi Merah terjatuh. Dan, oh,
mirisnya, Kepalan kurang beruntung. Pecah. Mati.” – 21 April 1988 pukul 23:17
“Terapung, Luna. Ia tak
lagi kuasa, katanya. Kapalnya
terombang-ambing. Begitu juga kapalku. Kukira sang Nahkoda mampu
menyetir. Namun aku salah, Luna. Kami berjauhan, menuju dermaga yang berbeda.” – 28 April 1988 pukul 22:22
“Luna, andai kau tahu apa yang terjadi pada tanggal 23
Desember tahun lalu.” – 30 April 1988 pukul 23:59
No comments:
Post a Comment