“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Saturday, 19 September 2015

Meraih Impian (Resti Hartika)



Langkah demi langkah kuambil, menyusuri jalan setapak yang terletak di tengah keramaian. Taman kotalah tujuanku. Aku hobi membaca buku, konsenterasiku pun tak mudah terganggu sekalipun itu di tengah kerumunan orang. Aku selalu larut dalam cerita, selalu termakan bulat-bulat oleh lika-liku alur. Namun kali ini berbeda. Fokusku tak lagi tertuju pada bagaimana sang penulis menggambarkan kemegahan istana, atau terjun bersama kisah romansa putri dan pangeran. Pikiranku melanglang ke suatu tempat, dan menemukan dengung yang selalu membuat rongga dadaku bergetar, menghantamku dengan gemanya. Ialah gema suara ayah yang selalu berkata, “Nanda, kamu pasti bisa nak!”
Aku Resti Hartika, seorang sulung dari lima bersaudara.
***
Ayahku adalah seorang Pegawai Negeri Sipil, dia juga aktif beorganisasi dan menekuni dunia jurnalistik. Aku berasal dari keluarga sederhana, sehingga tak mengherankan apabila bunda juga ikut membantu ayah menopang finansial keluarga dengan membuka warung kecil-kecilan.
Dari analisis dan pengamatanku setiap harinya, aku mendapatkan kesimpulan sederhana, yaitu, ayah dan bundaku adalah seorang pekerja keras. Gambaran dari kegiatan yang mereka lakukan telah membuahkan suatu pandangan dalam diriku, bahwa untuk bisa bertahan hidup, bekerja keras, tak pantang menyerah, dan selalu menyertakan Tuhan dalam setiap hal yang dilakukan adalah kunci utamanya.
Pernah suatu hari, ketika langit malam begitu cerah, dan hembusan angin terasa begitu syahdu. Aku bertanya kepada ayah mengenai bagaimana kehidupan ayah sewaktu kecil. Sambil bersender pada kursi di halaman depan rumah, dan menyeruput teh yang kubawakan, ayah menjawab sembari menatap bulan, “dulu untuk makan saja susah, nak,” sejenak ayah berbalik arah, menatap mataku lekat, dan kembali menyusuri langit,”kamu tahu, kan, ayah adalah seorang sulung, dan ayah adalah seorang lelaki. Ayah selalu bekerja keras membantu kakek dan nenek. Ayah juga menanamkan jiwa juang pada adik-adik ayah. Paling tidak agar mereka tidak mati kelaparan karena kehilangan harapan, juga agar mereka mengerti bahwa untuk hidup itu tidak hanya sekedar menghirup oksigen dan berkedip. Bahwa hidup itu adalah suatu kompetisi. Ayah selalu memotivasi mereka untuk jangan merasa kecil karena status mereka sebagai anak seorang petani. Ayah juga kerap berpesan untuk menggapai angan sampai dapat dan tergenggam, karena masa depan adalah tanggung jawab masing-masing dari kita.
“Mungkin sekarang ini kamu tengah bertanya, mengapa kini ayah hanya menjadi seorang PNS. Kau akan mengetahuinya segera nak, namun tidak sekarang. Yang terpenting adalah, kamu harus yakinkan pada dirimu bahwa kamu dilahirkan untuk sukses. Kau tahu nak? Ayahmu ini yakin sekali bahwa kamu pasti bisa menerjang segala rintangan dan badai esok hari,” lalu ayah perlahan beranjak dari kursinya,berjalan menujuku yang berada di sisi sebelah, memegang kedua bahuku dengan sedikit mengguncangkannya, “Nanda, kamu pasti bisa nak!” senyum ayah mengembang perlahan. Aku melihat binar matanya yang seakan menaruh penuh harap kepadaku. Aku menatap kosong ke depan ketika ayah memelukku. Sejak saat itu, setiap kali pikiranku memutar ulang gema suara ayah, rongga dadaku meletup-letup, berdetak kencang, seakan akan beban yang kurasakan semakin berat. Pikiranku hanya mampu berkata, “Hendak jadi apa aku nantinya untuk bisa, paling tidak, membanggakan kedua orang tuaku?”
***
            “Maafkan kami, Nanda, kami harap kamu mengerti. Ayah dan bunda masih harus membiayai sekolah adik-adikmu, dan memenuhi kebutuhan lainnya. Kami harap kamu maklum, nak. Kami tau kamu sangat tersayat akan pernyataan kami barusan, bahwa kendala finansial keluarga kita saat ini mengancammu untuk tidak bisa melanjutkan ke fakultas kedokteran. Sabar ya nak, maafkan kami,” Begitu ucap ayah ketika aku meminta persetujuan ingin masuk fakultas kedokteran. Aku hanya bisa terguguk dan tersedu di kamar. Beruntungnya aku tidak sampai menyalahkan kedua orang tuaku atau bahkan takdir.
            Hari-hari selanjutnya aku mencoba untuk melangkah maju, berfikir positif bahwa Tuhan memiliki rencana yang jauh lebih baik dari ini. Hingga suatu ketika, aku memutuskan untuk mendaftar Sekolah Tinggi Pemerintah Dalam Negeri. Namun untuk kedua kalinya aku gagal, dan yang lebih menyakitkan adalah aku gagal karena tinggi badanku tidak memenuhi persyaratan.
            “Tidak mengapa nak, mungkin ini bukan jalan yang terbaik untukmu. Bunda yakin masih ada banyak hal di depan yang lebih baik,  jangan patah harapan. Berdoalah kepada Tuhan, dekatkanlah jiwamu kepadaNya.”
***
            Aku masih terluka pada minggu-minggu setelah itu, bahkan berbulan-bulan. Aku sempat tumbang, karena dua cita-citaku gagal kuraih. Maka aku siasati waktu senggangku dengan membantu bunda di warung.
            Tak jarang saat aku terbangun di tengah malam, aku mendengar deru mesin jahit yang digunakan bunda untuk menggabungkan kain perca untuk menjadi bed cover. Bed cover tersebut nantinya dititipkan di toko swalayan.
            Pernah suatu malam, setelah kudengar ibu menyelesaikan jahitan terakhirnya, air mataku mengucur deras. Sampai pagi aku mempersilahkan emosiku meluap setelah kupendam sorang diri. Aku berjalan keluar kamar untuk mengambil air suci, kemudian aku berlutut mencurahkan segalanya kepada Yang Mahaesa.
Aku selalu meminta Tuhan untuk menguatkanku. Aku senantiasa mendoakan kedua orang tuaku.
***
            Suatu hari, ayah mengumpulkan aku dan adik-adik di ruang keluarga. “Ayah mau menyampaikan keputusan yang sangat penting dan ayah ingin kalian untuk menanggapi,” sesaat ruangan begitu sunyi. Aku menatap ayah, menunggu apa yang hendak disampaikan selanjutnya, “ayah memutuskan untuk berhenti menjadi PNS dan keluar dari organisasi yang ayah ikuti. Ayah akan mulai menggeluti dunia usaha,” ayah menatap satu-persatu dari kami, “apakah di antara kalian ada yang ingin berkomentar?”Adik-adikku hanya menunduk. Mungkin bingung dengan pernyataan ayah barusan. Entah harus merasa senang atau malah sebaliknya. Namun saat itu juga aku memeluk ayah dengan erat. Aku merasakan kehangatan air yang tumpah dari kelopak mata dan menyusuri pipi hingga jatuh ditarik gravitasi. Doaku terkabul! Doaku terkabul!
            Sebagai langkah awal dalam membuka usaha, ayah selalu membaca buku-buku sederet profil pengusaha sukses, seperti Bob Sadino, Bill Gates, Steve Jobs, dan Elang Gumilang. Aku pun ikut tertarik untuk membaca. Setelah kuanalisis, kunci kesuksesan mereka adalah bekerja keras, tak pantang menyerah, dan selalu menyertakan Tuhan dalam setiap hal yang dilakukan. Sejak saat itu, kuniatkan pada diriku bahwa kegagalan kemarin bukan menjadi suatu penghalang bagiku untuk bisa terus maju dan sukses. Bukankah mereka yang bisa menggapai impian yang begitu tinggi sudah berkali-kali terjungkir, terbalik, terjatuh, terseok-seok, atau bahkan hampir tenggelam? Namun mereka tak pantang menyerah! Tak patah semangat! Aku bermimpi menjadi seorang pengusaha, dan aku yakin, aku pasti bisa.
***
            Berfikir positif teramat penting dalam menjalani kehidupan. Perlahan-lahan aku tidak menghiraukan pikiranku yang terus menggemakan mengenai dua kegagalanku. Akhirnya, aku diterima di jurusan bahasa Inggris! Aku sangat bersyukur. Kegagalan mengajariku betapa berharganya sesuatu yang telah kudapatkan saat itu. Tak kusia-siakan kesempatan tersebut, walau pun ada sedikit kendala finansial, tidak berarti aku bisa mengeluhkan apa yang terjadi padaku. Justru hal tersebut membuat semangatku berkobar. Aku merambah dunia kerja di samping kuliah, aku belajar dan mendapat pengalaman.
            Suatu ketika, Kak Ica, saudara sepupuku datang kepadaku dan mengajak untuk berpatungan membeli kios yang ada di sebelah toko Bunda, “Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu, lalu kita jual pakaian di sana?” Setelah kupertimbangkan, aku mengiyakan ajakan Kak Ica. Kami mulai berbisnis pakaian. Hasil yang kami dapatkan di luar ekspektasi. Usaha itu memuai hasil yang gemilang!
            Aku semakin giat menekuni usahaku dan Kak ica. Namun hal tersebut tidak menurunkan prestasiku di ranah akademis.  Aku berhasil mempertahankan semuanya dengan hasil yang memukau.
***
            Kini ayah tengah berkutat dengan profesi barunya, yaitu menjadi seorang motivator. Ayah selalu sibuk karena banyak panggilan yang menginginkan ayah untuk hadir dalam acara yang mereka adakan. Hal ini menginspirasiku untuk menjajal dunia event organizer. Dari kedua pengalamanku tersebut, aku makin tertarik dengan dunia usaha. Aku mulai menekuni bidang-bidang yang lain. Aku mulai mencicipi hal-hal yang bisa mendatangkan aku pengalaman. Usaha penjualan tiket pesawat pun kulakoni hingga membuahkan beberapa kantor cabang di berbagai kota di negeri ini. Aku mencintai apa yang kulakukan sekarang, dan aku sangat bersyukur kepada Tuhan, karena tanpa kegagalan yang Ia beri, aku takkan mampu menjadi diriku yang sekarang.
***
            Kehidupan memang selalu menguji diri kita terlebih dahulu sebelum kita mendapatkan hikmah atau pun pelajaran. Hidup mengajariku bahwa usaha dan doa yang dilakukan akan sebanding dengan hasil yang akan diterima. Hidup mengajariku bahwa tidak ada hal yang dengan mudah akan diterima, tidak akan ada hal berharga yang cepat digapai. Semua butuh diperjuangkan. Sekali pun kita dihadang oleh terjangan hujan dan badai, atau bahkan terseret ombak, jangan menyerah. Semua yang kuraih saat ini bukan lain karena kerja kerasku, doa orang tuaku, dan Tuhan yang selalu menguatkan dan membimbingku.
            Aku Resti Hartika seorang sulung dari lima bersaudara, yang kini sukses meraih impian.

No comments:

Post a Comment