Aku rindu, namun aku bisa apa?
Aku menemukanmu sekilas, berjarak 10 sentimeter saja. Kau virtual, dan tetap anggun. Masih seperti beberapa tahun silam, kau jauh dari jangkauan. Aku ingin mengutarakan ini, namun kepada siapa lantas aku bisa mengadu? Aku merindumu, aku jujur.
Kau ingat, saat aku pertama kali menyentuhmu? Ah iya, manis sekali. Aku kira kau akan meleleh tatkala kita bersentuhan, ternyata kau berbeda dari anggapanku, namun kau tetap jelita.
Kau ingat, saat kau mengenalkanku mengenai sudut sudutmu yang sebagian tampak rapuh, dan sebagian lagi teramat memesona? Kau iring aku untuk bersama terjun dalam suasana itu. Semua.... semua aku rasakan. Kau selimuti aku dengan suara, atmosfer itu masih segar terasa. Sayang, kau memang memesona.
Kau ingat, saat aku mengenalkanmu pada aksara? Sayu matamu melihat bibirku yang bergerak mengeja saban kata. Kau berkata, aku pintar merangkai kata. Sejak saat itu, sajak hanyalah kamu... dan kamu, inti dari setiap prosaku.
Kau ingat, saat kau ajak aku melancong ke sebelah barat? Kau perlihatkan bahwa dengan bising kita tetap bisa merasa damai; bahwa walau di tengah berjuta kerlip kita tetap bisa melihat bintang. Kau bilang, senyum sepertiku hanya ada satu, milikku. Sejak saat itu, walau tak lagi kita bertemu, aku tersenyum hanya dengan mengingat bagaimana intonasimu kala memuji. Merdu, Sayang.
Kau ingat, saat kau membawaku mengelilingi ketinggian? Aku diselimuti pelukanmu. Kau samar, namun elokmu tetap tampak. Kau perlihatkan aku bahwa dengan ketinggian aku bisa merasa tenang. Kau berpesan, agar aku tetap menenangkan jiwaku saat di luar begitu riuh, gaduh. Kau ajarkan aku untuk berteman dengan angin yang saat itu menekik paru-paruku, kau bilang mereka memiliki hal yang bisa aku pelajari.
Kau ingat, saat kau memegang tanganku di pantai kala senja? Aku jatuh cinta, aku jatuh cinta dengan matahari di barat yang tenggelam di bawah garis cakrawala. Aku jatuh cinta dengan ombak kecil yang mecium kaki mungilku, aku jatuh cinta dengan ketenteraman saat jemariku menyentuh pasir. Kau bilang, kau tak bisa mengalihkan pandangan dariku kala aku memejamkan mata. Kini, dengan memejamkan mata, aku bisa melihatmu.
Aku rindu. Aku rindu sekali.
Teruntuk tiga wilayah di Bumi yang aku rindukan. Rumah adalah kalian. Aku akan kembali menjengukmu esok hari. Esok hari, aku akan menyentuhmu kembali, mengenang lagi, dan mengukir--tentu saja.
“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown
Thursday, 29 December 2016
Thursday, 14 July 2016
Daksina
Ekor mataku menyapu keliling. Sejajar saja. Sampai pada dia.
"Hei!"
"Ah! Ternyata kau! Mengagetkan saja." tanganku mengelus dada. Meredam.
"Sedang apa kau? Matamu sepertinya tertuju pada satu titik?"
"Tidak, hanya kebetulan saja pandangku berhenti pada dia."
"Kau tahu namanya?"
Aku menggeleng pelan. Tidak.. aku tidak tahu namanya, namun yang aku tahu aku adalah utara dan ia selatan.
Kami kembali berjalan menyusuri lorong menuju kantin. Istirahat kali ini tidak begitu ramai. Mi instan tadi cukuplah untuk mengisi perut, membantu berfikir sampai sore nanti.
"Dia adalah wanita..."
"Ya semua orang juga tahu dia adalah wanita, To." jawabku bercanda.
"Hen, aku ini hendak menjelaskan lho, kamu ini malah memotong."
"Memangnya kamu tahu dia siapa?"
"Mana ada cewek yang tidak aku ketahui pribadinya? Jangan kau kira aku ini playboy cap pasar yang biasa dikelilingi lalat Hen." percaya diri, sok membenarkan kerah seragamnya. Aku tertawa mencibir.
"Yasudah.. jelaskanlah." tantangku.
"Dia adalah satu dari sekian banyak wanita yang aku dekati yang paling tidak aku pahami," lima detik keheningan, "Eh, tapi jangan kau pikir aku tidak jago Hen, dia hanyalah satu... maksudnya, aku berhasil memahami wanita lainnya." gigi kuningnya tampak mencolok saat Tito menyeringai. Aku? Aku tertawa kecil saja menunggu ia lanjut bercerita.
"Dia itu.... magis, aneh, elok, tetapi.. tidak terlalu elok, dahsyat, ummm... tapi biasa saja. Ia itu turun, namun naik. Lurus, namun berkelok. Dia... gelombang yang pecah di karang, seperti ini," tangannya mulai menggambarkan bagaimana ledakan yang diciptakan ombak kala menghantam, "ia adalah simpang lima, ia adalah teka teki yang berbunyi--"
"Sebentar To, bagaimana bisa kau tahu sejauh itu, padahal katamu kau gagal memahaminya?"
"Hehe, aku hanya melebih-lebihkan saja sih Hen. Hehehe."
Langsung kutonjok dibagian bahunya. Kami berlalu sambil tertawa terbahak, melupakan gadis di kantin yang kini tengah menoleh ke arahku. Benar, ia adalah selatan.
***
"To, kau belum menyebutkan nama gadis itu." ujarku setengah berbisik.
"Lho, gadis yang mana?"
"Yang 2 hari kemarin kau jelaskan itu, saat kita kembali ke kelas sehabis makan dari kantin."
"Ohhh, Da(^&%&)na?"
"Uhhhhh! Kalau ngomong jangan sambil kentut, dong, To! Siapa nama gadis itu? Dana?"
"Hehehe. Daksina, Hen, Daksina."
"Ohhh..."
Hening.
"Mengapa kau baru bertanya saat kita ada di WC Hen? Tidakkah ada tempat lain yang lebih sopan dalam menanyakan nama Daksina? Uhhhhh (^%&&%)"
"To! Sudah bel masuk! Buang airmu lama sekali sih!"
"Berkacalah dulu Hen! Kamu juga sewindu! Uhhhh (*&^%^&)"
***
Sejak kutahu namanya, aku mulai lebih sering mencuri pandang. Jika kalian sering melihat cerita cinta klasik anak SMA di film Indonesia era 2000an, hal itu tetap terjadi di tahun 2016. Aku pemeran utamanya. Tapi... tidak tidak, sutradara yang memilihku sebagai pemeran utama justru seakan-akan bunuh diri. Satu orang (dan hanya satu) yang akan menonton film yang aku bintangi, tidak lain, tidak bukan, hanyalah Tito.
Kami jadi sering bertemu, di kantin, di koridor, di depan kelas. Sebenarnya sudah sejak dulu aku mengetahui keberadaan gadis itu, namun baru akhir akhir ini agaknya aku tertarik. Pernah sekali aku hendak menyelipkan puisi ke tasnya, namun nyaliku terlalu kecil. Begini puisinya:
Daksina,
wajahmu elok mempesona
harum tubuhmu tercium dari jarak kilometer nol koma lima
halo, perkenalkan namaku Hendra
Daksina,
aku hanya ingin menyapa
walau dengan serangkaian kata saja
aku harap kau memakluminya
aku Hendra, teman kelas IPA dua
Cerita dramatis saat aku hendak ke kelasnya khatam saat Tito merebut suratnya. Jadilah aku bahan bualan satu kelas selama sebulan. Beruntung Daksina tidak tahu Hendra anak IPA 2 yang saat itu ingin berkenalan. Dasar Tito!!!
"Hei!"
"Ah! Ternyata kau! Mengagetkan saja." tanganku mengelus dada. Meredam.
"Sedang apa kau? Matamu sepertinya tertuju pada satu titik?"
"Tidak, hanya kebetulan saja pandangku berhenti pada dia."
"Kau tahu namanya?"
Aku menggeleng pelan. Tidak.. aku tidak tahu namanya, namun yang aku tahu aku adalah utara dan ia selatan.
Kami kembali berjalan menyusuri lorong menuju kantin. Istirahat kali ini tidak begitu ramai. Mi instan tadi cukuplah untuk mengisi perut, membantu berfikir sampai sore nanti.
"Dia adalah wanita..."
"Ya semua orang juga tahu dia adalah wanita, To." jawabku bercanda.
"Hen, aku ini hendak menjelaskan lho, kamu ini malah memotong."
"Memangnya kamu tahu dia siapa?"
"Mana ada cewek yang tidak aku ketahui pribadinya? Jangan kau kira aku ini playboy cap pasar yang biasa dikelilingi lalat Hen." percaya diri, sok membenarkan kerah seragamnya. Aku tertawa mencibir.
"Yasudah.. jelaskanlah." tantangku.
"Dia adalah satu dari sekian banyak wanita yang aku dekati yang paling tidak aku pahami," lima detik keheningan, "Eh, tapi jangan kau pikir aku tidak jago Hen, dia hanyalah satu... maksudnya, aku berhasil memahami wanita lainnya." gigi kuningnya tampak mencolok saat Tito menyeringai. Aku? Aku tertawa kecil saja menunggu ia lanjut bercerita.
"Dia itu.... magis, aneh, elok, tetapi.. tidak terlalu elok, dahsyat, ummm... tapi biasa saja. Ia itu turun, namun naik. Lurus, namun berkelok. Dia... gelombang yang pecah di karang, seperti ini," tangannya mulai menggambarkan bagaimana ledakan yang diciptakan ombak kala menghantam, "ia adalah simpang lima, ia adalah teka teki yang berbunyi--"
"Sebentar To, bagaimana bisa kau tahu sejauh itu, padahal katamu kau gagal memahaminya?"
"Hehe, aku hanya melebih-lebihkan saja sih Hen. Hehehe."
Langsung kutonjok dibagian bahunya. Kami berlalu sambil tertawa terbahak, melupakan gadis di kantin yang kini tengah menoleh ke arahku. Benar, ia adalah selatan.
***
"To, kau belum menyebutkan nama gadis itu." ujarku setengah berbisik.
"Lho, gadis yang mana?"
"Yang 2 hari kemarin kau jelaskan itu, saat kita kembali ke kelas sehabis makan dari kantin."
"Ohhh, Da(^&%&)na?"
"Uhhhhh! Kalau ngomong jangan sambil kentut, dong, To! Siapa nama gadis itu? Dana?"
"Hehehe. Daksina, Hen, Daksina."
"Ohhh..."
Hening.
"Mengapa kau baru bertanya saat kita ada di WC Hen? Tidakkah ada tempat lain yang lebih sopan dalam menanyakan nama Daksina? Uhhhhh (^%&&%)"
"To! Sudah bel masuk! Buang airmu lama sekali sih!"
"Berkacalah dulu Hen! Kamu juga sewindu! Uhhhh (*&^%^&)"
***
Sejak kutahu namanya, aku mulai lebih sering mencuri pandang. Jika kalian sering melihat cerita cinta klasik anak SMA di film Indonesia era 2000an, hal itu tetap terjadi di tahun 2016. Aku pemeran utamanya. Tapi... tidak tidak, sutradara yang memilihku sebagai pemeran utama justru seakan-akan bunuh diri. Satu orang (dan hanya satu) yang akan menonton film yang aku bintangi, tidak lain, tidak bukan, hanyalah Tito.
Kami jadi sering bertemu, di kantin, di koridor, di depan kelas. Sebenarnya sudah sejak dulu aku mengetahui keberadaan gadis itu, namun baru akhir akhir ini agaknya aku tertarik. Pernah sekali aku hendak menyelipkan puisi ke tasnya, namun nyaliku terlalu kecil. Begini puisinya:
Daksina,
wajahmu elok mempesona
harum tubuhmu tercium dari jarak kilometer nol koma lima
halo, perkenalkan namaku Hendra
Daksina,
aku hanya ingin menyapa
walau dengan serangkaian kata saja
aku harap kau memakluminya
aku Hendra, teman kelas IPA dua
Cerita dramatis saat aku hendak ke kelasnya khatam saat Tito merebut suratnya. Jadilah aku bahan bualan satu kelas selama sebulan. Beruntung Daksina tidak tahu Hendra anak IPA 2 yang saat itu ingin berkenalan. Dasar Tito!!!
Thursday, 24 March 2016
Rindu
Salahkah jikalau aku merindu
tiap jengkal tepimu?
karena malam ini, aku
tak mampu menahan
detak dan dentum
jantung.
tiap jengkal tepimu?
karena malam ini, aku
tak mampu menahan
detak dan dentum
jantung.
Kristalku pecah
terluluh...lantahkan
oleh kehadiranmu
yang menampar
hati.
terluluh...lantahkan
oleh kehadiranmu
yang menampar
hati.
Dahulu kau diujung
yang tak terjangkau
kini kau sejauh jengkal
makin mendekat
sedekat kelingking,
sayang,
kau tetap sejauh mata memandang.
yang tak terjangkau
kini kau sejauh jengkal
makin mendekat
sedekat kelingking,
sayang,
kau tetap sejauh mata memandang.
Datangmu mengisi
datangmu...kutangisi
datangmu,
kubuat rangkaian puisi,yang
sebagian kuisolasi.
datangmu...kutangisi
datangmu,
kubuat rangkaian puisi,yang
sebagian kuisolasi.
Tidak lagi kubisa
muntahkan kata
tidak lagi terbuka
kecuali nanar mata
yang bisa kau tatap
sejauh dua hidung.
muntahkan kata
tidak lagi terbuka
kecuali nanar mata
yang bisa kau tatap
sejauh dua hidung.
Rinduku bisu
rinduku biru
rinduku satu, kamu
rinduku berlagu
rinduku malu
rinduku....
tidak tertangkap
tidak tenggelam,
melayang,
melanglang,
tapi tak menghilang.
rinduku biru
rinduku satu, kamu
rinduku berlagu
rinduku malu
rinduku....
tidak tertangkap
tidak tenggelam,
melayang,
melanglang,
tapi tak menghilang.
Coba kau lihat teropong
siapa tahu,
aku tengah menatap
bengong,
siapa tahu,
aku tengah menatap
bengong,
coba kau berjalan di lorong
siapa tahu,
aku tengah menatap
kosong.
siapa tahu,
aku tengah menatap
kosong.
Detak ini
terasa lengang
partikel tubuhku
terasa merenggang,
terasa lengang
partikel tubuhku
terasa merenggang,
aku berkata "Ya."
aku berkata "Na."
aku berkata "Na."
aku berkata "Na."
aku berkata "Ya."
aku berkata "Ya."
Di sini,
kau?
maukah?
kau?
maukah?
aku lelah
menantimu
di bayang
yang tak nyata
di ujung
yang tak ada
di depan
yang maya.
menantimu
di bayang
yang tak nyata
di ujung
yang tak ada
di depan
yang maya.
Tak kuharap kau merasa
baik-baik saja di sana
tak kuminta kau menjangkau
kelingking
yang menjadi jengkal
dua hidung
yang menjadi kilometer
baik-baik saja di sana
tak kuminta kau menjangkau
kelingking
yang menjadi jengkal
dua hidung
yang menjadi kilometer
rinduku masih hidup
jangan kau pupuki
pula kau sirami
sudah....
cukup.
jangan kau pupuki
pula kau sirami
sudah....
cukup.
Subscribe to:
Comments (Atom)