“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Wednesday, 28 August 2019

Lekaslah Berlabuh

Tatapku tajam hanya tertuju pada genangan air yang dikecup titik titik hujan, saling bergantian, semakin lama semakin beradu. Sudah sewindu yang kedua sejak pertama kali kau berkunjung, saat kehadiranmu ada hanya pada hujan tertentu. Aku yang meringkuk sembari menenun doa ini tengah menanti, di mana gerangan payung ragamu, selesai setengah hari aku dijaga waktu, sudah jemu aku melulu mengunyah sedu. Tolong, lekaslah berlabuh.

Dalam sekali waktu, saban kelabu yang terpusat pada sungkawa di atas sana dimusnahkanmu menjadikannya kepingan berwujud titian, agar dapat dengan mudah kutapaki dan kujadikan pijak saat kumelompat sembari merangkai satu per satu sajak. 

Di atas kanvasmu kau lukiskan bait-bait alam tatkala aku menyentuh lapang langit suka cita yang dirasa tak cukup luas, atau berlari di antara belantara tawa hingga terengah letih menarik napas, atau terpelanting tersandung gelisah dan terjerembap di tengah semak belukar, atau mematung syahdu di atas genangan biru selagi melafalkan senandung angin yang bertamu di sela rongga tubuhku setelah ditelanjangi rindu. 

Atau-ku takkan pernah habis dalam menghitung mundur sketsa cerita. Memandang tiap gores cat yang kaububuh setelah mereka meresap lelap adalah wajib; betapa setiap warna bercerita rasa, setiap lengkung dan garis menyampaikan asa. 

Kini jika kau sejenak menatap, dilihatmu matahari terbenam di mataku. Beribu sayang kehadiranmu di hujan kali ini nihil. Inginku menyampaikan baiat di atas panggung telaga sebelah timur, menghadiahkanmu beberapa puisi yang kususun, walau dengan penuh kesadaran aku paham tidak seutuhnya akan kau nikmati saban bait yang kuucapkan. 

Kembalilah jika sempat. Meski perjalanan sewindu berikutnya bukanlah waktu yang singkat, tetapi kunjunganmu akan tetap kuharap.

Saturday, 20 April 2019

Pukul Tengah Malam



aku melihat gerimis sepanjang getir bibirmu yang getar,
muara dari genangan payau yang kini perlahan memudar.
tampaknya hatimu sedang ingin membisu, terpahat dalam
wajahmu di bawah  remang rembulan sendu. tetaplah tegar,
Tuan, sebentar lagi fajar akan kembali bangkit, maka kuha-
rap isakmu yang kau endap dalam dalam segera berakhir baik.

selang sebentar, tolehmu padaku berperan sebagai refleksi,
aku diberimu tatap lekat yang jatuh tepat pada nurani. iba. te-
ngadah tanganmu tak kurasa lagi ada doa, kukira yang tersisa
kini hanya kumpulan nestapa. ingin kutanya mengapa namun
sungkan, ingin kutanya alasan namun segan.

kembali kau telusuri sanubari, dalam netramu kutemukan ba-
yang sungkawa berlutut memohon lapang sembari teriakmu
hening dan gamang. terukir di wajahmu kepalan rahang, se-
kiranya murka dan dukamu  tidaklah lekang. aku bersedih,
bahkan tanpa tutur, kau dapat gambarkan bahwa kau berang.

persilakanlah aku untuk berterus terang, Tuan, gundahku satu:
ada apa gerangan? jangan jadikan pundakmu tumpu ribuan be-
ban! maukah kau bersedu-sedan di dalam dekap tatkala kuulur-
kan tangan?

kepala kau gelengkan lunglai.

bibirmu berucap: enggan.

pukul dini hari, lirih bisikmu berkata kau jera dalam perangkap,
berlari ke utara jeritnya: tangkap! berlari ke timur pekiknya: ser-
gap! tanpa tahu tak lagi ada pintu untuk bisa kau buka, tanpa 
peduli tak lagi ada mandala yang dapat kau tegakkan kuasa.
deru tambur hanya sejengkal dari massa, tak hanya bersuara
bising, dari berbagai penjuru mata angin kau disuguhinya dering.

adalah gema dalam otakmu berkata: acak! susah - payah - lengah;
acak! sakit - terbirit -  sengit; acak! hilang - malang - buang; acak!
amuk - cambuk - carut marut;

kau mengerang lara,

acak! acak! rancak! gercak! acak!;

acak! cakak! acak! acak! rancak!;

meraung merana.

tidak! acak! rancak! acak! rancak!;

tidak acak! rancak! tidak acak!

ditutupmu kupingmu ketika pekikmu berdenging nyaring, di te-
ngah sunyi kau melolong muring, menjerit kering, kalang - kabut, 
kocar - kacir, 
pontang - panting.

di hadapanku adalah peristiwa duka.

lututku tak mampu menyangga sedih dan sesakku. aku dilumat
emosi kecewa, dilahap raksasa gagap, gelisah. runtuh kesang-
gupanku menyaksikan pilu begitu nyata, begitu dekat, begitu....

fajar telah tiba, Tuan, pendar baskara mulai merekah, kokok ayam 
bersahutan membangunkan jiwa yang resah.

aku paham, bangkitmu pagi ini dari dekap lututmu memberiku tanda 
agar kembali menemuimu. sampai jumpa di pukul yang sama, aku
harap akan ada lain cerita, terlepas teriakmu yang tak dapat diredam,
dan lamunanmu yang sama saban malam.

Saturday, 9 February 2019

Pulang

Aku mengetahui kabarmu dari setiap jejak yang kau tinggalkan di atas kertas, bertinta hitam; sebagian berbait, sebagian lainnya beralinea. Selalu kubaca kisahmu dalam tikaman sunyi, Tuan, cukup detak dan detik saja yang menemani, lebih sering kuremangkan lampu dan kubiarkan udara menyusup relung; bisikanmu kala membacakannya selalu menjadi penawar kesendirian, dan hangatnya genggammu selalu berhasil menyisik nestapa. Sayang, kau hanya sebatas fana, sedang khitahku adalah baka.

Sekali waktu pernah kau kirimkan partitur. Tulismu dengan indah: mainkan jemarimu, rinduku kububuh di setiap nada. Di atas tuts jemariku menari, mereka menyuguhkan ketenangan dan merebak keharmonisan. Makin lama gelombang senandungku bersimpai dengan milikmu, perlahan kurasakan selaras. Andai kubisa menebus dan membunuh jantung penyesalan, tidak mungkin kurasakan perih dan duka mengingatmu begini dalam.

Suratmu kunanti saban bulan, di beranda ia akan datang, pak pos akan mengetuk jendela sebelum memberiku salam dan sapa; lalu kutunggu agar malam menjemput, menemaniku yang sedang memangku duga. Lima tahun sudah berjalan, akan kah kau terus bertahan?

Di akhir suratmu selalu kau goreskan kecup kasihmu yang berupa kalimat, berbunyi: sehari-hari aku menjadi tawanan rindu, tampaknya keadaan selalu berseberangan dengan keinginan, keberpihakan rasa dan waktu tidak pernah sejalan; tidak tahan lagi aku dicekik ribang, biarkanlah aku pulang.