aku melihat gerimis sepanjang getir
bibirmu yang getar,
muara dari genangan payau yang kini
perlahan memudar.
tampaknya hatimu sedang ingin
membisu, terpahat dalam
wajahmu di bawah remang rembulan
sendu. tetaplah tegar,
Tuan, sebentar lagi fajar akan
kembali bangkit, maka kuha-
rap isakmu yang kau endap dalam dalam
segera berakhir baik.
selang sebentar, tolehmu padaku berperan
sebagai refleksi,
aku diberimu tatap lekat yang jatuh
tepat pada nurani. iba. te-
ngadah tanganmu tak kurasa lagi ada
doa, kukira yang tersisa
kini hanya kumpulan nestapa. ingin
kutanya mengapa namun
sungkan, ingin kutanya alasan namun
segan.
kembali kau telusuri sanubari, dalam
netramu kutemukan ba-
yang sungkawa berlutut memohon lapang
sembari teriakmu
hening dan gamang. terukir di wajahmu
kepalan rahang, se-
kiranya murka dan dukamu
tidaklah lekang. aku bersedih,
bahkan tanpa tutur, kau dapat gambarkan
bahwa kau berang.
persilakanlah aku untuk berterus terang,
Tuan, gundahku satu:
ada apa gerangan? jangan jadikan
pundakmu tumpu ribuan be-
ban! maukah kau bersedu-sedan di dalam
dekap tatkala kuulur-
kan tangan?
kepala kau gelengkan lunglai.
bibirmu berucap: enggan.
pukul dini hari, lirih bisikmu berkata kau
jera dalam perangkap,
berlari ke utara jeritnya: tangkap!
berlari ke timur pekiknya: ser-
gap! tanpa tahu tak lagi ada pintu
untuk bisa kau buka, tanpa
peduli tak lagi ada mandala yang dapat
kau tegakkan kuasa.
deru tambur hanya sejengkal dari massa,
tak hanya bersuara
bising, dari berbagai penjuru mata angin
kau disuguhinya dering.
adalah gema dalam otakmu berkata: acak!
susah - payah - lengah;
acak! sakit - terbirit -
sengit; acak! hilang - malang - buang; acak!
amuk - cambuk - carut marut;
kau mengerang lara,
acak! acak! rancak! gercak! acak!;
acak! cakak! acak! acak! rancak!;
meraung merana.
tidak! acak! rancak! acak! rancak!;
tidak acak! rancak! tidak acak!
ditutupmu kupingmu ketika pekikmu
berdenging nyaring, di te-
ngah sunyi kau melolong muring,
menjerit kering, kalang - kabut,
kocar - kacir,
pontang - panting.
di hadapanku adalah peristiwa duka.
lututku tak mampu menyangga sedih dan
sesakku. aku dilumat
emosi kecewa, dilahap raksasa gagap,
gelisah. runtuh kesang-
gupanku menyaksikan pilu begitu
nyata, begitu dekat, begitu....
fajar telah tiba, Tuan, pendar baskara
mulai merekah, kokok ayam
bersahutan membangunkan jiwa yang resah.
aku paham, bangkitmu pagi ini dari dekap
lututmu memberiku tanda
agar kembali menemuimu. sampai jumpa di
pukul yang sama, aku
harap akan ada lain cerita, terlepas
teriakmu yang tak dapat diredam,
dan lamunanmu yang sama saban malam.
No comments:
Post a Comment