“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Thursday, 25 December 2014

Subhanallah

"Makasih, ya, udah mau dateng", sapanya tepat ketika mataku melihat kejernihan di dalam matanya. Entah hanya aku, ataukah serombongan manusia di sini juga melihat apa yang tengah kupandangi, namun pancaran kesucian dari bola matanya terlampau indah. Betah sekali aku menatapnya, sejuk dan kedamaianlah yang kurasa.
"Oh, iya, sama sama. Tetap tabah, ya, percayakan semua kepada Yang Di Atas", jawabku singkat mengakhiri pertemuan yang singkat pula di hari itu. Seakan kata 'tabah' yang kuucapkan tadi tidak sepatutnya kuungkapkan sebagai bentuk harapanku, karena kenyataannya ketabahan dan keikhlasan batinnya tak lagi diragukan, walau sebentar, namun aku yakin apabila kalian melihat langsung pada kejernihan matanya dan kecerian yang selalu dipancarkan, kalian akan melihat begitu suci hatinya, begitu bersih tak ternoda.
Memang benar sang Ayah telah meninggalkan raganya dari dunia, namun sepertinya hati terdalam itu tak pernah diisi oleh seorang makhluk ciptaan Tuhan yang lain selain ayah dan ibunya. Sekiranya ia tak masalah apabila ia tak lagi bisa melihat pahlawannya itu, dan justru menganggap bahwa Kuasa Sang Pencipta memang benar tiada duanya.
Jika kau, melihat tulisanku yang tak jelas kutujukan pada siapa--karena tak kutulis--ingatlah, bahwa detik itu juga--yang semoga tak hanya aku--terinspirasi karena senyumu yang sama sekali tak terasa hambar, yang terasa hangat, dan sungguh, senyumu menyejukkan bagi siapa pun yang melihat! Subhanallah.
Tenang ya, kawan, aku percaya Allah punya rencana lain dibalik duka-tak-kentaramu itu.

Friday, 12 December 2014

Sunyi kah?

Kawan...
Ada kalanya ketika titik hitam di kertas putih membesar, melebar, dan menodai kesucian putihnya kertas secara keseluruhan, hingga mungkin tak dapat lagi terbendung dan tertampung, kemudian meluap dan tercecer di mana mana. Ada kalanya ketika tekanan di hati sudah tak bisa lagi dipenat untuk memberi ruangan bagi tekanan selanjutnya, sewaktu waktu pun bisa saja lepas kendali, dan apa yang terjadi? Air mata tiba tiba meleleh tanpa kendali, mencair menjalar turun dipaksa gravitasi dan mencium segala hal yang berada tepat di bawahnya. Ada kalanya pula, ketika tangisan itu tak bersuara, teredam oleh kain yang menyekap wajah, memaksa agar tenggorok tak mengeluarkan segala macam petunjuk, yang bisa memungkinkan beberapa orang mengetahui dan membuat mereka mulai memperhatikan.
Ada kalanya ketika hati ini terasa penuh sekaligus kosong, ada kalanya ketika hati memaksa untuk tetap menyendiri di tengah keramaian, ada kalanya pula hati harus menyembuhkan sayatannya sendiri, tanpa bantuan apa pun, sekalipun itu obat penawar yang manjur.
Ketika mulut tak mampu berucap sepatah kata lagi untuk segala hal yang tengah terjadi dalam pikiran dan tercampur dengan perasaan, ketika dada mulai sesak dan memaksa jantung untuk berdegup lebih cepat untuk memberi peringatan agar tak ada air mata yang tertetes, ketika keramaian yang semula mengacuhkan keberadaan mulai melihat kejanggalan dalam tingkah laku, itu adalah saatnya agar mulut dikunci, menutup mata, dan biarkan yang tak terkendali mengalir jatuh, menghiraukan yang tengah mengetuk dengan tujuan mengetahui alasan mengapa mengurung diri, sehingga tak ada suara kepedihan, kesakitan, teriakan dari sayatan yang bisa terdengar.
Kawan...
Terkadang ada beberapa alasan yang terlalu rumit untuk bisa diulas dan diselesaikan satu persatu, dan tak selamanya pula manusia bisa dipercaya, tak selamanya mereka bisa menjaga janji dan omongannya. Ada seseorang yang hanya butuh dimengerti, tanpa harus berucap sekata pun, karena kau tahu kawan? Matanya telah menggambarkan semua hal yang terjadi di dalam pikirannya. Tak mudah bagi seorang tersebut untuk membagi masalahnya kepada yang lain, tak semudah orang lain yang menganggap masalahnya adalah musibah juga untuk semuanya. Seorang itu lebih menyukai untuk mengamati yang terjadi dalam hidup, tak seperti yang lain yang selalu mengomentari dan mengeluhkan segala yang telah ada, menyalahkan mengapa takdir memilih untuk menyakitinya dan bukan menjadikannya yang teratas. Seorang itu lebih memilih bungkam, agar sesaat membiar keramaian dalam pikirannya saja yang mengisi kesunyian.
Kawan...
Biarkan yang tak mampu dijelaskan, dibuktikan dengan yang tak mampu terkendali. Biarkan mengalir dan jatuh terjembab di atas bumi, agar segala perasaan yang tersakiti setidaknya mampu ditarik kembali oleh gravitasi.

Wednesday, 15 October 2014

Pejuang

Terkadang dalam hidup ada saat dimana kita berjalan tertatih. Mencoba memenuhi target, berusaha agar tidak dilewati yang lain, tetap mempertahankan posisi bahkan menuntut diri untuk terus menuju yang teratas. Terkadang memang hidup memberi tekanan tak kentara namun terasa, memberi goresan dikit demi sedikit yang mengikis hati, memberikan efek haru dalam beberapa situasi tak terduga, dan efek duka yang datang semena mena. Seperti yang sering kita dengar, bahwa hidup adalah perjalanan yang penuh dengan perjuangan dan pengorbanan, diwarnai penantian, kesakitan, keceriaan, dan hal hal yang sebenarnya apabila disyukuri akan melimpahkan banyak kebahagiaan batin. Setiap orang adalah seorang pejuang. Berjuang demi tercapai cita cita yang sedari kecil diimpikan, berjuang agar tetap hidup selagi badai menerpa dan memporak porandakan segala suasana hati bahkan berpengaruh pada keadaan yang nyata, dan berjuang agar tidak mati karena kelaparan, karena terseret zaman, karena tuntutan. Situasi buruk mengajarkan aku bagaimana mengatasi setiap detik, aku belajar banyak dari kesalahan yang aku lakukan, yang kuperbuat, dan pelajaran yang aku terima dalam mengendalikan hidup lebih luas dan lebih banyak. Banyak proses yang aku lewati, semuanya begitu berwarna dan berharga apabila satu detik saja kulewatkan. Hidupku indah, dan keindahan itu membuatku makin hidup.

Sunday, 28 September 2014

Sang Perangkai Kata

Selamat datang, kawan.
Sungguh aku merindukan kertas elektronikku ini yang berperan ganda sebagai sahabat yang selalu mewadahi setiap kegelisahan hati, hasrat menulis, dan segala yang tengah berkecimpung di dalam otakku. Maaf aku lancang. Mungkin sebagian dari kalian hanya melihat bagian yang akan kutulis di bawah ini saja. Tapi, jujur, aku tak mampu membendung rasa rinduku ini!
Jadi, begini.. Kali ini aku akan menuliskan mengenai kekagumanku pada kakak nan cantik, dan pandai mengolah kata menjadi hal yang mampu mengubah mood, pola pikir, bahkan hidup seseorang. Kakak yang takkan kusebutkan namanya merupakan seorang motivator untukku secara pribadi, dan mungkin pelanggan pembaca postingannya yang tak pernah lepas memberi jempol sebagai bentuk penghargaan. Kakak sang pemilik segudang diksi ini tak pernah lepas dari pemantauanku disetiap kubuka akun sosial media. Aku tak peduli kalian penasaran atau tidak dengan apa yang akan kutulis, tapi, apabila ada satu harapan ditiap post-ku, aku akan berharap agar Kakak membaca serangkaian kalimat yang kuketikkan hanya untuknya.

Teruntuk Kakak,

Dengan penuh kagum,
Halo Kak, bagaimana kabarmu sekarang? Aku harap Kakak baik baik saja, ya, seperti penjelasan status facebook-mu yang kau tulis secara rutin. Aku percaya kini Kakak tengah disibukkan dengan tugas kuliah yang menumpuk dan merengek meminta secepatnya dikerjakan. Tapi seburuk apa pun itu, sepertinya Kakak tak pernah lalai mengundang penghuni gudang diksi untuk keluar, menyerbu dinding facebook, dan mendorong ibu jari untuk menjadi penghubung antara pikiran dan kenyataan yang tertumpahkan. Aku harap, suatu saat nanti Kakak membaca post ku ini, yang sengaja kutulis hanya untukmu.
Aku adalah seorang pelajar yang sangat ketagihan dengan berbagai ragam dan macam diksi Bahasa Indonesia, aku tahu aku belum sepenuhnya menguasai setiap tulisanku, Kak. Yang aku tahu kata kata memiliki kekuatan dan terlebih apa bila menulis dengan kata yang jarang didengar, diraba, dan dirasa. Seakan semua tampak berbeda dalam hal penyampaian dan perasaan. Aku menyukai rangkaian kata karena banyak hal, dan yang membuatku kagum terhadap Kakak adalah caramu menuliskan suatu keadaan sederhana menjadi hal yang begitu pantas untuk dikagumi, begitu unik walau hanya dengan membaca, begitu terasa seretan ceritanya yang terkadang menusuk. Aku tak peduli Kakak mengenalku atau tidak, tapi sungguh, setiap tulisanmu menginspirasiku, Kak. Aku pengagummu, termasuk pengagum kata kata magismu.
Aku tak bisa untuk tidak memuja dan kemudian memuji tujuan tulisan tulisan Kakak. Aku tahu aku terlalu berlebihan, tapi ini sebuah kenyataan. Aku sampai tak habis pikir apa yang membuatmu memiliki banyak diksi yang seakan tergabung dalam otak dan tak sabar untuk menjadi nyata, diketik, dan dipamerkan pada para pembaca. Dengan mantra apa, sih, Kakak melakukannya? Jika ada resep, boleh kah aku mengintip sedikit? Mencicip keindahan segudang diksi, berkhayal mengenai mimpi mimpi, tenggelam dalam retorika mengenai kehidupan, dan pencapaian dalam meraih kesuksesan. Ahh.. Begitu indah.
Jika boleh kutekankan lagi, Kak. Aku mengagumimu walau sebatas membaca hasil mantra keajaibanmu, aku mengagumimu dalam hal penyampaian perasaan melalui tulisan, aku pengagummu.
Sekiranya cukup sekian yang bisa kuketikkan untuk Kakak. Sukses selalu.

                                                                                                                                      Tertanda,
                                                                                                                                         Saya.

Wednesday, 27 August 2014

Ibu Pertiwi

Ibu Pertiwi, begitu biasanya beliau disapa. Banyak buku sastra dan penjelasan puitis tentang seluk beluk kelahir dan perjalanan hidupnya hingga kini mengenai dirinya, memanggil dengan sebutan Ibu Pertiwi. Semua orang pasti tahu siapa itu beliau, seperti apa sejarahnya dan bagaimana kondisinya saat ini. Mungkin kali ini aku akan mengulas dan memaparkan pendapatku mengenai Sang Ibu.

Ibu Pertiwi, sang induk dari anak anaknya kini. Bertubuh tegak, masih bernapas walau kadang tersengal sengal mencoba mengejar kawan kawannya yang terlihat maju mendahului, dan masih hidup. Beliau merdeka dalam ucapan. Jajahan, tumpah darah, dan gencatan senjata, memang sudah tak lagi berada dalam ruang geraknya, namun kelihatannya beliau terkadang masih terisak perlahan dalam keheningan. Berusaha tetap tegar, dan mencoba membangun pertahanan dalam yang lebih kuat agar tak semaunya kawan lain menyakiti dan mencuri yang dimiliki. Namun tegar pun ada batasannya. Banyak alasan yang membuat Sang Ibu menitihkan air mata, menjatuhkan yang ia pendam, dan membuka perasaan. Menyebarluaskannya. Malu, dan prihatin, mungkin itu yang tengah bergejolak dalam hati dan pikirannya tiap kali memandang sekeliling. Berita di televisi seakan tak pernah sedetik pun lalai untuk melaporkan peristiwa yang sedang, akan, atau sudah terjadi. Dan yang lebih mengenaskan adalah hampir semua berita memaparkan tentang permasalahan politik, ekonomi, dan segala mengenai kedua hal itu.

Masalah...masalah. Mengapa tak kau kunjung selesai dan sudahi tikaman yang terus kau tusukkan pada Ibu Pertiwi? Lihat.. anak cucunya mengemis, memulung, merampok, memakan sampah, berkeliaran tak tentu arah, mengucapkan kata pahit yang ditujukan padanya, mencaci keadannya, mengkritik setiap yang ada, menghujat kegiatannya, menghakimi segala tentangnya. Beliau sedih, beliau menangis, beliau sakit hati. Ibu.. Bertahanlah.

Lalu siapa kini beliau bergantung? Siapa kini yang beliau percayai untuk dapat membantu menyudahi masalah? Seakan semua orang mengkhianatinya. Banyak anaknya yang berkata bahwa mereka mencintai Ibu mereka. Munafik. Mungkin pengkhianatan yang selalu dirasa Sang Ibu, atau pilihan kesendirian dan keterpurukan juga ada dalam paketnya? Ibu.. Tetaplah berdoa.

Ibu, jika ragamu berupa manusia, mungkin kau lah yang selalu kami puja tanpa kami berani menginjak area kekuasaanmu, mungkin kau lah satu satunya manusia yang akan kami penuhi segala perintah dan kemauan, karena atas jasamu yang selalu setia berada di mana pun kami berada, menjaga kami. Kami akan sungkan membicarakan segala hal mengenai Ibu, terlebih menghujat dan menghakimi.

Teruslah berjuang, Ibu. Anak anakmu akan mencoba memperbaiki keadaan, agar kau tersenyum melihat kami, menitihkan air mata kebahagiaan, dan akan selalu merdeka dalam hal segala, tak hanya ucapan tanpa bukti nyata. Terimakasih, Ibu.

Tuesday, 12 August 2014

Derita.

Aku melihat derita di matanya. Seakan tatapan yang ia tujukan padaku adalah tanda kesdihan, kepedihan, dan duka. Tusukan pancaran matanya menyentakku untuk ikut merasakan kesakitan yang dirasa. Sentuhan tajam pupilnya menyeretku pada kehancuran, dan emosi yang tak karuan. Hantaman tatapannya merasuki jiwa, refleksi pikirannya terpancar. Pisaunya menyentuh lubuk hati, menusuk dan menyilet, mencabik, dan mengoyak. Perih.
Ia menatap hanya dalam hitungan detik, lirikan terakhirnya menyadarkanku, seakan hipnotis yang ia lakukan padaku sudah tak berlaku. Detik itu aku terhenyak, menata pikiran, dan mengatur napas. Ia, yang merupakan anak kecil, berkulit hitam, kelihatan tak berisi, berbaju ala kadarnya, dan pemilik tatapan tajam berjalan berlalu... menjauh... acuh.
Langkah demi langkahnya kuamati, kuteliti. Kuawali dari kakinya yang tak beralas, kotor, ditempeli semua macam debu termasuk benda-benda yang diinjak. Menjijikan! Celananya pendek- di bawah lutut, kulitnya yang legam membalut tulang kering, dan betisnya... gosong terpanggang matahari. Kaosnya berwarna merah, terlihat luntur, dan sobek di pundaknya, sepertinya ia tak pernah mengganti pakaian, tapi ia tak peduli, jalannya santai dengan hiasan kibasan tangannya yang berkipas kecil dan pelan mengikuti irama kaki. Rambutnya merah karena paparan matahari, teracak, dan panjang. Kuamati orang orang yang berjalan di sampingnya, melirik dengan penuh arti. Muak.

Bak sampah? Itu kah tujuannya?
Ia mengambil karung, kemudian mengais sampah, mengambil plastik dan bekas wadah makanan lainnya. Ia berjalan menunduk, berharap menemukan yang ia cari, agar usaha menahan panas, haus, lapar, dan juga malu bisa terbayarkan dengan uang yang digunakannya untuk mengisi perut. Mungkin sesekali ia menangisi keadaan yang begitu kejam berbuat hal ini padanya; mungkin sesekali ia terisak karena lelah menahan kepedihan, kekejaman, dan penuh dengan ketidakadilan hidup yang ia jalani; mungkin sesekali ia hanya membisu... diam seribu bahasa, membiarkan semua permasalahan ada pada pikirannya, membiarkan emosi bercampur aduk, membiarkan harapannya tak terucap, membiarkan matanya yang menggambarkan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Tak heran ia bertatapan tajam, yang ia harapkan hanyalah waktu untuk membinasakan derita hidupnya, tapi ia tak tahu kapan harapannya akan terwujud, ia tak tahu kapan harapannya akan terwujud. Ia tidak tahu.
Kini pekerjaannya telah usai, saatnya untuk mengambil upah. Raut wajahnya datar, tak ada kesan senang setelah berhasil bekerja di bawah panasnya sinar matahari. Raut wajahnya datar, tak ada syukur yang setidaknya terlihat dari binar mata setelah pekerjaannya sudah selesai. Raut wajahnya datar.
Ia kemudian berjalan sama seperti sebelum ia masuk dalam kandang lalat, perlahan dan mengibaskan tangannya yang mengikuti irama kaki. Rupanya ia tak melihatku yang tengah mengamati sedari tadi. Kuteliti kembali disela lengkah yang diambil. Kakinya masih sama: tak beralas; celananya masih sama: pendek di bawah lutut, menutupi tulang paha, kering, dan betis yang dibatul kulit hitam yang semakin mengkitam; kaosnya masih sama: berwarna merah, dan sobek dipundaknya; rambutnya pun masih sama: merah, teracak, panjang. Namun seiring dengan tatapanku yang tengah menghakimi penampilannya, tangannya mengepal, menggenggam uang hasil jerih payah, mengepal lebih kuat hingga otot dan pembuluhnya terlihat, mengepal hingga kelihatannya kuku tajamnya melukai telapak tangan, mengepal seakan ia akan menghantam sesuatu yang ia benci, dan ia terus memperkuat kepalannya detik demi detik. Ia berlari, sangat cepat, menjauh, melawan setiap orang yang menghalangi hentakan kaki tak beralasnya, menabrak siapa pun yang menghambatnya untuk berlari.
Mungkin ia sudah sadar apa yang perlu dilakukan agar waktu mampu membunuh derita, dan kepedihan yang dialaminya. Agar ia tak lagi segan untuk bermimpi tinggi, dan melulu dikecewakan oleh keadaan. Mungkin ia sudah tak sabar mengubah nasib dan berusaha memperbaikinya. Langkahnya cepat, lebar, dan hentakannya tegas. Ia berlari mengejar apa yang ia impikan. menjemput waktu yang akan datang, yang ia harap akan berperilaku baik terhadapnya. Ia berlari mengejar masa depan.

Tuesday, 8 July 2014

Kara.

Aku mencoba menghibur diri, berjalan menjauh dari masalah yang tengah menimpaku akhir akhir ini, melangkah dan meninggalkan sementara segala rasa gundah gelisahku yang tengah ku rasa, karena kini yang ingin ku rasa hanyalah ketenangan dan kedamaian dalam diri. Aku bukanlah manusia dewasa yang merasa terbebani dengan pekerjaan dan segala tekanan dari pimpinan, aku bukan pula seorang remaja yang sedang galau akibat kisah asmara yang kandas di tengah jalan, aku hanyalah seorang remaja yang sedang merasakan kepedihan dari permasalahan hidup dan mencoba untuk memperbaikinya.

Pernahkah kamu merasakan sesak saat semua yang berkecimpung di dalam pikiranmu bersatu padu membentuk bola besar, seakan terdapat magnet dalam pusatnya yang menarik segala bentuk pemikiran dan permasalahan menjadi satu? Pernahkah kamu merasakan seakan badai besar tengah terjadi dalam otakmu, yang menarik segala di sekitarnya dan dengan sengaja melemparkan ke berbagai tempat dan ujung di ruang otakmu? Pernahkah kamu merasa bahwa tsunami tidak melulu terjadi di dunia, bahkan di pikiranmu pun itu terjadi dan seakan-akan dengan gelombang mahadahsyatnya meluluhkan segala daya pikirmu dalam waktu sekejab? Apa bila masalah adalah secarik kertas, yang akan kulakukan adalah meremasnya menjadi bola kecil lalu kuinjak sampai tapak sepatuku membekas pada tiap bagian bola kertas, lalu kulemparkan pada lubang yang mengarah pada pusat bumi dengan sepenuh tenagaku, ya, akan kulakukan itu semua.
Aku tahu ini terlalu panjang, dan tentu membosankan, aku minta maaf, kawan, aku hanya ingin mendiskripsikan apa yang terjadi pada diriku dan tak ingin melibatkan perasaanmu, aku tak ingin dikasihani, aku tak menginginkan itu.

Tapi kali ini, seperti yang kukatakan tadi, aku ingin melepas bebanku, akan ku ajak kamu untuk menjelajahi belakang rumahku yang lapang, aku tak tahu pasti di sana terdapat apa dan berujung ke mana, aku inginkan kamu untuk menemaniku.

Oh iya kawan, aku lupa untuk memperkenalkan diri. Namaku Kara, orang tuaku memanggilku Ara. Namaku berartikan sinar cahaya, sesuai kamus Sansekerta, dan aku bersyukur kedua orang tuaku memberi nama indah dan bermakna.
Aku tahu betul, penjelasan mengenai bencana alam di otakku tidaklah begitu penting, tapi setidaknya kamu mengetahui mengapa perlu kuajak kamu untuk melihat belakang rumahku. Ya, aku hanya ingin melepas masalah walau berdurasi sementara.

Sore ini aku berjalan manjauhi rumah, berpetualang dan membuka  mata akan indahnya keajaiban dunia, mengambil langkah langkah kecil seraya menghirup udara segar, ini sungguh tiada duanya! Beruntung rumahku jauh dari hiruk pikuk kota, beruntung aku kini berada di sisi alam. Ilalang yang berbadan tegak dan berkepala merunduk menyambut kedatanganku dengan berayun kecil seiring irama angin, bernyiur bergesekan satu dengan yang lain. Jalan kecil yang kulewati menandakan bahwa daerah ini adalah daerah kekuasaan alam, mereka yang mempimpin dan mengatur setiap ujung tanpa saling berkomunikasi, semua berpikiran seragam, sedangkan dalam ragam, warna, dan keluarga, mereka berbeda. Aku tak mengerti tujuan langkahku, aku hanya yakin bahwa makhluk hijau disekelilingku akan menuntunku menuju tempat yang sebenarnya ingin kutuju. Sekelompok burung terbang mengudara, mengepakkan sayapnya sesekali, kemudian merentangkannya sehingga angin menyangga kedua sayap agar tetap stabil, mereka bergerombol berkeliling seakan menari dihamparan lautan langit, berformasi, teratur, berirama, mereka berlenggak lenggok di udara dengan bebas, tanpa paksaan untuk bergerak sesuai aturan, mereka menikmati tiap detik yang diisinya dengan tarian, indah bukan main! Aku terus berjalan menjauhi pertunjukkan tarian sekelompok burung, dan tetap memandang dengan takjub sekitarku, betapa berkali kali kuucapkan kata syukur pada Sang Kuasa, aku benar benar bersyukur merasakan kehangatan pelukan alam. Selanjutnya aku melewati dan melompati beberapa retakan tanah, dan hal itu tentu bukan suatu masalah, serangga serangga kecil lewat tanpa permisi di depanku, beberapa dari mereka terus melangkah maju, dan beberapa lainnya terbang, mereka kecil dan mereka hidup, mereka indah. Alam ini tidak pernah habis habisnya menunjukan dan memamerkan apa yang ia punya, seakan segala isinya akan bermetamorfosis menjadi hal yang mampu membuat mulut tak hentinya berterimakasih pada Tuhan, dan mata yang tak hentinya memandangi keindahan tanpa berkedip. Kini langkahku dihadang beberapa tumpukan batu, tak segan aku naik walau kadang lumut menyeretku turun dan aku terpeleset, aku penasaran, kejutan apa yang akan kulihat lagi? Aku menjejaki berbatuan, perlahan tapi pasti aku sampai di puncaknya. Coba tebak apa yang kulihat? Hamparan alang-alang? Bukan. Hutan? Bukan. Aku di atas bukit, kawan, dan kini adalah detik detik di mana bulan akan menggantikan tugas matahari untuk menerangi sekaligus mengawasi bumi, dimana langit biru akan digantikan dengan gelapnya malam yang bertabur bintang, peralihan ini sungguh menakjubkan! Coba lihat langitnya, kawan, berwarna jingga tanpa ada awan yang melayang. aku tercengang. Lihatlah saat matahari menenggelamkan dirinya, mempersilahkan bulan menempati tahtanya, bintang bak berlian yang menolong para pelayar yang tersesat untuk dapat kembali pulang, atau menemani anak kecil yang belum bisa tertidur, bermimpi mengambil satu dari berribu. Rasakan udaranya kawan, seakan mengikuti sang tuan, kini suhu mulai turun, bertugas menyelimuti hati yang sakit, menjelajahi sebagian bumi, setia mengisi paru paru. Kini lihat raja langit, ia bersinggasana pada posisi yang tepat, seakan mengumumkan bahwa malam telah datang. Cahaya putihnya bersinar cerah, Raja Langit terlihat sempurna. Tuhan, Mahakuasa Engkau.
Aku beranjak pulang, setelah bertepuk tangan dan melelehkan air mata atas pertunjukan alam yang mahaindah, jalanku diterangi oleh banyak kunang kunang, mereka seakan tengah memamerkan cahayanya untuk memanggil lawan jenis, dan tentu memamerkannya padaku dan kamu, kawan.
Aku tiba di rumah dan mulai mengambil air wudhu. Aku bersyukur aku berada dalam pelukan alam.