hendak aku menggapai satu di ujung jari telunjukku
mengulur, menyentuh barang sedikit lalu menepi
sayang, bayangmu begitu rapuh
dikiranya aku musuh
padahal inginku hanya merengkuh
setitik darimu yang lumpuh, layuh
***
pukul sembilan pagi tadi
daya upayaku kububuh dalam secarik plano
kucatat pesanku dalam lima kata
tinjaulah ulang siapa tahu kau dapat cerita
karena jika kau pirsa
setiap tekanan kuberi rasa
setiap titik kuberi makna
jarak antarkata kuatur sedemikian rupa
sehingga harapku kau mengenal jiwa
dalam kerangka yang tak nyata
selang sehari kudapati dirimu berdiri
dalam gaun hijaumu kau menyusuri
titik sudut ruangan, melihat dengan detail dan rinci
lalu pandangmu berhenti
padaku
satu
dua
lima belas
tuju puluh satu detik
keheningan
aku paham betul
kau ingin pecahkan dan muntahkan
kesederhanaan yang kaumiliki
namun kau memilih sunyi
rasamu kau kebiri
jiwamu kau kunci
***
ajak sukmamu menerima
tujuh puluh detik yang kedua
untuk bisa mengenal dengan berkelana
bahwa isi yang kaubawa
tidak semata mata gudang duka
yang terus kau tempa
dengan segala rasa berang
jatuh bangunmu adalah lumrah.
“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown
Saturday, 23 September 2017
Tuesday, 30 May 2017
Pemintal Kata dalam Nada
Saat kau tutup matamu dan menerima setiap denting piano sebagai sengatan
listrik untuk membangkitkan detakmu, kau utuh. Kau biarkan tangga nada bernari
liar membawamu terbang menyusuri cakrawala, bak daun yang patuh pada angin,
pasrah. Kau biarkan alunan harpa menarikmu ke atas panggung dan berdansa
bersamamu, berputar dan menguasai panggung, kau biarkan buaian suara saksofon
menangkap kelemahgemulaianmu tatkala jatuh pada tala minor terakhir sebelum kau
beranjak dan berpuisi.
Tarikan napas pertamamu mengubah atmosfer ruangan menjadi tempat magis yang
hanya diisi keajaiban rasa. Piano mulai beraksi dengan tuts yang satu persatu
berseru mengiringi kedatangan emosimu, dengan entak kakimu kau mulai berkata
bersama nada, menyatukan perasaan dengan lantunan.
Saban pelintuh yang kau ucapkan adalah mantra yang melemahkan, kau ajak
harpa dengan petikan nada tingginya menemani kesepianmu, menemani
kesenyap-sunyianmu. Kau mulai bercerita bagaimana kau bertemu dengannya,
sekejap memejamkan mata membuat seisi merasakan kerinduan yang kau tahan, kau
berkata lirih, mencoba menyampaikan kisah yang kau coba gali kembali, memungut
fragmen yang kau kubur dalam kalbu.
Dengan bunyi piano dan harpa yang sedari tadi berdiri bersamamu, kau
mencoba tegar, walau sempat kau hampir roboh bersama memori dan harapan. Kau
bercerita bagaimana bahagianya dirimu saat melihat senja hanya dengan mengingat
cahaya matanya, bagaimana tenangnya dirimu saat mendengar kedamaian hanya
dengan membayangkan ia berbicara. Saksofon membangunkanmu di tengah
imajimu yang terlempar ke belakang, kau hanya melanjutkan beberapa bait
dan mempersilakan denting minor merajai ruangan.
Kau paham saat setiap suara instrumen hanya berjarak satu nada, peranmu
berubah. Entak kakimu kau percepat, mengumpulkan seluruh luka yang mengambang
di udara untuk kau curahkan dengan bulat, genap. Kau memutuskan kata
"kami" sebagai kunci gerbang sentimenmu, hingga pada detik kelima kau
terperengah dengan mata tetap tertutup, memilah kata yang tepat.
Kau perlahan mendeskripsikan emosi, membiarkan kegaduhan yang diciptakan
perkusi bersama piano yang dengan liar berekspresi; kau tidak peduli saat bas
mencabik perasaanmu; tak acuh dengan segala bising dalam pikiranmu; kau terlena
dengan duniamu; intonasi suaramu yang tinggi menggambarkan isak, kau memekik
saat kau tahu kemarahanmu ada pada puncaknya; kepalan tanganmu menggambarkan keinginanmu menghantam setiap
keterpurukan yang pernah didewakan; kata yang kau pilih menohok,
menikam; mimik wajahmu menggambarkan betapa dengan susah
payah kau meronta hanya dengan rangkaian lugut yang kau muntahkan dengan segala
kesanggupanmu.
Kau terengah-engah.
Mengatur napas dibantu dengan bunyi piano yang melembut.
Semua rasa yang kau kubur, menguap sudah. Tidak terlihat muara yang keluar
dari bingkai matamu kala kau perlahan membukanya, melihat seisi ruangan dan
segala kehancuran yang kau buat.
Kau menenang. Kembali memejamkan mata sembari membungkukkan badan hingga
koda mengalun.
Sunday, 28 May 2017
Izinkan aku, sebentar saja, mengingat kita.
Izinkan aku, sebentar saja, mengingat kita.
Tiga tahun lalu aku bersalaman denganmu, aku memperkenalkan diri.
Sejak hari ke dua puluh empat bulan lima, kesanku padamu tak lagi sama.
Kau tahu, selama aku mengukir cerita, kau adalah saksi bisunya.
Selama kami mengukir cerita, kau adalah saksi bisunya.
Betapa terkadang canda tawa kami memekikkan telingamu, namun aku yakin dibeberapa saat kau bahkan terbahak-bahak karena ikut bersenda gurau bersama kami. Ingat saat kami berjoget di tengah relungmu? Dengan detak dan dentum musik, tubuh kami bersama menyelaraskan irama? Mungkin ingin rasanya kau berkata agar kami menurunkan suara, namun kau biarkan kami hingga terengah dan akhirnya bersandar di bahumu yang rapuh. Ingat saat kami memerankan tokoh fiksi? Berpakaian bajak laut dan bidadari? Kami jadikan ruanganmu hutan belantara, samudera, bahkan rumah kurcaci, kami bernyanyi, menghentak, berlarian, dan kau diam, menilai, merekam. Ingat saat kami pulang larut malam? Mendandanimu agar tampak elok esok harinya? Mungkin jika tidak berpasrah, kau akan kesal beberapa kali karena gagal dibuat ayu. Ingat saat kami berformasi lingkaran, melepaskan beban, saling berkata jujur, dan beberapa dari kami terisak? Kau mungkin sudah menduga apa yang kami bicarakan, setelah berjuta kisah kami ceritakan melalui dialog dan gestur tubuh, setelah berjuta rasa kami perlihatkan melalui mimik wajah dan binar mata. Ingat saat satu persatu dari kami mulai terduduk, menatap kosong? Kau mungkin tertawa, setelah ribuan kali kau melihat hal yang sama, namun kau tetap menyediakan ruang bagi kami yang sedang susah payah merangkak dan kembali berjalan. Diam-diam kau menopang kami, agar kembali tegak. Ingat saat kami membisikkan mimpi kami dalam doa yang samar-samar kau dengar? Ingat saat kami memohon kepada-Nya di tengah kesunyian ruanganmu kala itu? Aku yakin kau ikut mengamini. Sepertinya aku terlalu banyak menyebutkan, kau pasti ingat setiap detail yang kami lakukan selama tiga tahun terakhir bukan?
Terimakasih kau sudah mengizinkan kami untuk menjadikanmu rumah. Rumah yang tak sekedar wujud, namun juga rasa. Kau perlihatkan bahwa tak selamanya repih berarti roboh. Jika saja dapat kukirimkan, aku ingin melihat kau membaca dan kelak...mengenang.
Tiga tahun lalu aku bersalaman denganmu, aku memperkenalkan diri.
Sejak hari ke dua puluh empat bulan lima, kesanku padamu tak lagi sama.
Kau tahu, selama aku mengukir cerita, kau adalah saksi bisunya.
Selama kami mengukir cerita, kau adalah saksi bisunya.
Betapa terkadang canda tawa kami memekikkan telingamu, namun aku yakin dibeberapa saat kau bahkan terbahak-bahak karena ikut bersenda gurau bersama kami. Ingat saat kami berjoget di tengah relungmu? Dengan detak dan dentum musik, tubuh kami bersama menyelaraskan irama? Mungkin ingin rasanya kau berkata agar kami menurunkan suara, namun kau biarkan kami hingga terengah dan akhirnya bersandar di bahumu yang rapuh. Ingat saat kami memerankan tokoh fiksi? Berpakaian bajak laut dan bidadari? Kami jadikan ruanganmu hutan belantara, samudera, bahkan rumah kurcaci, kami bernyanyi, menghentak, berlarian, dan kau diam, menilai, merekam. Ingat saat kami pulang larut malam? Mendandanimu agar tampak elok esok harinya? Mungkin jika tidak berpasrah, kau akan kesal beberapa kali karena gagal dibuat ayu. Ingat saat kami berformasi lingkaran, melepaskan beban, saling berkata jujur, dan beberapa dari kami terisak? Kau mungkin sudah menduga apa yang kami bicarakan, setelah berjuta kisah kami ceritakan melalui dialog dan gestur tubuh, setelah berjuta rasa kami perlihatkan melalui mimik wajah dan binar mata. Ingat saat satu persatu dari kami mulai terduduk, menatap kosong? Kau mungkin tertawa, setelah ribuan kali kau melihat hal yang sama, namun kau tetap menyediakan ruang bagi kami yang sedang susah payah merangkak dan kembali berjalan. Diam-diam kau menopang kami, agar kembali tegak. Ingat saat kami membisikkan mimpi kami dalam doa yang samar-samar kau dengar? Ingat saat kami memohon kepada-Nya di tengah kesunyian ruanganmu kala itu? Aku yakin kau ikut mengamini. Sepertinya aku terlalu banyak menyebutkan, kau pasti ingat setiap detail yang kami lakukan selama tiga tahun terakhir bukan?
Terimakasih kau sudah mengizinkan kami untuk menjadikanmu rumah. Rumah yang tak sekedar wujud, namun juga rasa. Kau perlihatkan bahwa tak selamanya repih berarti roboh. Jika saja dapat kukirimkan, aku ingin melihat kau membaca dan kelak...mengenang.
Tuesday, 18 April 2017
Kau.
Coba kau lihat lekat-lekat, Tuan, kemari, mendekatlah.
Makhluk ini tak pernah bermaksud menikammu, makhluk ini
tulus.
Ajak sanubarimu menjelajahi lebih lama,
Lihat bahwa makhluk ini terkadang ketakutan,
Ketakutan
yang ada saat kamu berjalan mengelilinginya
Ia tak pernah paham
Maka ia melangkah pergi
Namun tampaknya kautak rela
Maka sekeping yang
kau genggam
Buatnya berdarah karena ketidaklengkapan fragmen
Mozaik yang kau bawa,
Selalu yang
dirindunya.
Kau boleh mencacinya dengan lantang
selantang naskah yang dibacanya
Kau boleh marah, murka
semurka tokoh yang diperagakannya
Kau bahkan sangat boleh membalasnya
seperti yang selalu dinantinya di jeda antardialog
Tapi kau dilarang untuk mendekat
Sekali pun inginmu hanya mengembalikan keping.
Paradoks memang
Mafhumlah.
Nepenthes dan Coccinelida
Nepenthes terperangkap di bawah naungan racunnya, dan ia sadar. Coccinelida tak pernah tau predator itu ada didekatnya.
Suatu hari, mereka dipertemukan dalam suasana malam yang syahdu. Tatapan mata selalu menjadi awal yang baik. Hening, nikmat. Pukul satu malam mereka berpisah, dan malam berikutnya mereka bertemu lagi. Selalu seperti itu.
Coccinelida sudah terikat, membebaskan diri pun rasanya berat. Nepenthes memang keparat, ia menarik Coccinelida sampai tak berjarak.
Di luar kemampuan berfikirnya, di ambang batas akal sehatnya, Nepenthes menjadikan Coccinelida santapan nikmat. Tiga hari berikutnya ia tersadar betapa jalangnya ia malam itu. Betapa racun yang dimilikinya terkadang berkuasa di luar kendali.
Hari-hari berikutnya terasa begitu menyakitkan. Dalam penyesalan ia mati. Terlalu lama meringkuk menyalahkan diri.
Suatu hari, mereka dipertemukan dalam suasana malam yang syahdu. Tatapan mata selalu menjadi awal yang baik. Hening, nikmat. Pukul satu malam mereka berpisah, dan malam berikutnya mereka bertemu lagi. Selalu seperti itu.
Coccinelida sudah terikat, membebaskan diri pun rasanya berat. Nepenthes memang keparat, ia menarik Coccinelida sampai tak berjarak.
Di luar kemampuan berfikirnya, di ambang batas akal sehatnya, Nepenthes menjadikan Coccinelida santapan nikmat. Tiga hari berikutnya ia tersadar betapa jalangnya ia malam itu. Betapa racun yang dimilikinya terkadang berkuasa di luar kendali.
Hari-hari berikutnya terasa begitu menyakitkan. Dalam penyesalan ia mati. Terlalu lama meringkuk menyalahkan diri.
Thursday, 29 December 2016
aku rindu, namun aku bisa apa?
Aku rindu, namun aku bisa apa?
Aku menemukanmu sekilas, berjarak 10 sentimeter saja. Kau virtual, dan tetap anggun. Masih seperti beberapa tahun silam, kau jauh dari jangkauan. Aku ingin mengutarakan ini, namun kepada siapa lantas aku bisa mengadu? Aku merindumu, aku jujur.
Kau ingat, saat aku pertama kali menyentuhmu? Ah iya, manis sekali. Aku kira kau akan meleleh tatkala kita bersentuhan, ternyata kau berbeda dari anggapanku, namun kau tetap jelita.
Kau ingat, saat kau mengenalkanku mengenai sudut sudutmu yang sebagian tampak rapuh, dan sebagian lagi teramat memesona? Kau iring aku untuk bersama terjun dalam suasana itu. Semua.... semua aku rasakan. Kau selimuti aku dengan suara, atmosfer itu masih segar terasa. Sayang, kau memang memesona.
Kau ingat, saat aku mengenalkanmu pada aksara? Sayu matamu melihat bibirku yang bergerak mengeja saban kata. Kau berkata, aku pintar merangkai kata. Sejak saat itu, sajak hanyalah kamu... dan kamu, inti dari setiap prosaku.
Kau ingat, saat kau ajak aku melancong ke sebelah barat? Kau perlihatkan bahwa dengan bising kita tetap bisa merasa damai; bahwa walau di tengah berjuta kerlip kita tetap bisa melihat bintang. Kau bilang, senyum sepertiku hanya ada satu, milikku. Sejak saat itu, walau tak lagi kita bertemu, aku tersenyum hanya dengan mengingat bagaimana intonasimu kala memuji. Merdu, Sayang.
Kau ingat, saat kau membawaku mengelilingi ketinggian? Aku diselimuti pelukanmu. Kau samar, namun elokmu tetap tampak. Kau perlihatkan aku bahwa dengan ketinggian aku bisa merasa tenang. Kau berpesan, agar aku tetap menenangkan jiwaku saat di luar begitu riuh, gaduh. Kau ajarkan aku untuk berteman dengan angin yang saat itu menekik paru-paruku, kau bilang mereka memiliki hal yang bisa aku pelajari.
Kau ingat, saat kau memegang tanganku di pantai kala senja? Aku jatuh cinta, aku jatuh cinta dengan matahari di barat yang tenggelam di bawah garis cakrawala. Aku jatuh cinta dengan ombak kecil yang mecium kaki mungilku, aku jatuh cinta dengan ketenteraman saat jemariku menyentuh pasir. Kau bilang, kau tak bisa mengalihkan pandangan dariku kala aku memejamkan mata. Kini, dengan memejamkan mata, aku bisa melihatmu.
Aku rindu. Aku rindu sekali.
Teruntuk tiga wilayah di Bumi yang aku rindukan. Rumah adalah kalian. Aku akan kembali menjengukmu esok hari. Esok hari, aku akan menyentuhmu kembali, mengenang lagi, dan mengukir--tentu saja.
Aku menemukanmu sekilas, berjarak 10 sentimeter saja. Kau virtual, dan tetap anggun. Masih seperti beberapa tahun silam, kau jauh dari jangkauan. Aku ingin mengutarakan ini, namun kepada siapa lantas aku bisa mengadu? Aku merindumu, aku jujur.
Kau ingat, saat aku pertama kali menyentuhmu? Ah iya, manis sekali. Aku kira kau akan meleleh tatkala kita bersentuhan, ternyata kau berbeda dari anggapanku, namun kau tetap jelita.
Kau ingat, saat kau mengenalkanku mengenai sudut sudutmu yang sebagian tampak rapuh, dan sebagian lagi teramat memesona? Kau iring aku untuk bersama terjun dalam suasana itu. Semua.... semua aku rasakan. Kau selimuti aku dengan suara, atmosfer itu masih segar terasa. Sayang, kau memang memesona.
Kau ingat, saat aku mengenalkanmu pada aksara? Sayu matamu melihat bibirku yang bergerak mengeja saban kata. Kau berkata, aku pintar merangkai kata. Sejak saat itu, sajak hanyalah kamu... dan kamu, inti dari setiap prosaku.
Kau ingat, saat kau ajak aku melancong ke sebelah barat? Kau perlihatkan bahwa dengan bising kita tetap bisa merasa damai; bahwa walau di tengah berjuta kerlip kita tetap bisa melihat bintang. Kau bilang, senyum sepertiku hanya ada satu, milikku. Sejak saat itu, walau tak lagi kita bertemu, aku tersenyum hanya dengan mengingat bagaimana intonasimu kala memuji. Merdu, Sayang.
Kau ingat, saat kau membawaku mengelilingi ketinggian? Aku diselimuti pelukanmu. Kau samar, namun elokmu tetap tampak. Kau perlihatkan aku bahwa dengan ketinggian aku bisa merasa tenang. Kau berpesan, agar aku tetap menenangkan jiwaku saat di luar begitu riuh, gaduh. Kau ajarkan aku untuk berteman dengan angin yang saat itu menekik paru-paruku, kau bilang mereka memiliki hal yang bisa aku pelajari.
Kau ingat, saat kau memegang tanganku di pantai kala senja? Aku jatuh cinta, aku jatuh cinta dengan matahari di barat yang tenggelam di bawah garis cakrawala. Aku jatuh cinta dengan ombak kecil yang mecium kaki mungilku, aku jatuh cinta dengan ketenteraman saat jemariku menyentuh pasir. Kau bilang, kau tak bisa mengalihkan pandangan dariku kala aku memejamkan mata. Kini, dengan memejamkan mata, aku bisa melihatmu.
Aku rindu. Aku rindu sekali.
Teruntuk tiga wilayah di Bumi yang aku rindukan. Rumah adalah kalian. Aku akan kembali menjengukmu esok hari. Esok hari, aku akan menyentuhmu kembali, mengenang lagi, dan mengukir--tentu saja.
Thursday, 14 July 2016
Daksina
Ekor mataku menyapu keliling. Sejajar saja. Sampai pada dia.
"Hei!"
"Ah! Ternyata kau! Mengagetkan saja." tanganku mengelus dada. Meredam.
"Sedang apa kau? Matamu sepertinya tertuju pada satu titik?"
"Tidak, hanya kebetulan saja pandangku berhenti pada dia."
"Kau tahu namanya?"
Aku menggeleng pelan. Tidak.. aku tidak tahu namanya, namun yang aku tahu aku adalah utara dan ia selatan.
Kami kembali berjalan menyusuri lorong menuju kantin. Istirahat kali ini tidak begitu ramai. Mi instan tadi cukuplah untuk mengisi perut, membantu berfikir sampai sore nanti.
"Dia adalah wanita..."
"Ya semua orang juga tahu dia adalah wanita, To." jawabku bercanda.
"Hen, aku ini hendak menjelaskan lho, kamu ini malah memotong."
"Memangnya kamu tahu dia siapa?"
"Mana ada cewek yang tidak aku ketahui pribadinya? Jangan kau kira aku ini playboy cap pasar yang biasa dikelilingi lalat Hen." percaya diri, sok membenarkan kerah seragamnya. Aku tertawa mencibir.
"Yasudah.. jelaskanlah." tantangku.
"Dia adalah satu dari sekian banyak wanita yang aku dekati yang paling tidak aku pahami," lima detik keheningan, "Eh, tapi jangan kau pikir aku tidak jago Hen, dia hanyalah satu... maksudnya, aku berhasil memahami wanita lainnya." gigi kuningnya tampak mencolok saat Tito menyeringai. Aku? Aku tertawa kecil saja menunggu ia lanjut bercerita.
"Dia itu.... magis, aneh, elok, tetapi.. tidak terlalu elok, dahsyat, ummm... tapi biasa saja. Ia itu turun, namun naik. Lurus, namun berkelok. Dia... gelombang yang pecah di karang, seperti ini," tangannya mulai menggambarkan bagaimana ledakan yang diciptakan ombak kala menghantam, "ia adalah simpang lima, ia adalah teka teki yang berbunyi--"
"Sebentar To, bagaimana bisa kau tahu sejauh itu, padahal katamu kau gagal memahaminya?"
"Hehe, aku hanya melebih-lebihkan saja sih Hen. Hehehe."
Langsung kutonjok dibagian bahunya. Kami berlalu sambil tertawa terbahak, melupakan gadis di kantin yang kini tengah menoleh ke arahku. Benar, ia adalah selatan.
***
"To, kau belum menyebutkan nama gadis itu." ujarku setengah berbisik.
"Lho, gadis yang mana?"
"Yang 2 hari kemarin kau jelaskan itu, saat kita kembali ke kelas sehabis makan dari kantin."
"Ohhh, Da(^&%&)na?"
"Uhhhhh! Kalau ngomong jangan sambil kentut, dong, To! Siapa nama gadis itu? Dana?"
"Hehehe. Daksina, Hen, Daksina."
"Ohhh..."
Hening.
"Mengapa kau baru bertanya saat kita ada di WC Hen? Tidakkah ada tempat lain yang lebih sopan dalam menanyakan nama Daksina? Uhhhhh (^%&&%)"
"To! Sudah bel masuk! Buang airmu lama sekali sih!"
"Berkacalah dulu Hen! Kamu juga sewindu! Uhhhh (*&^%^&)"
***
Sejak kutahu namanya, aku mulai lebih sering mencuri pandang. Jika kalian sering melihat cerita cinta klasik anak SMA di film Indonesia era 2000an, hal itu tetap terjadi di tahun 2016. Aku pemeran utamanya. Tapi... tidak tidak, sutradara yang memilihku sebagai pemeran utama justru seakan-akan bunuh diri. Satu orang (dan hanya satu) yang akan menonton film yang aku bintangi, tidak lain, tidak bukan, hanyalah Tito.
Kami jadi sering bertemu, di kantin, di koridor, di depan kelas. Sebenarnya sudah sejak dulu aku mengetahui keberadaan gadis itu, namun baru akhir akhir ini agaknya aku tertarik. Pernah sekali aku hendak menyelipkan puisi ke tasnya, namun nyaliku terlalu kecil. Begini puisinya:
Daksina,
wajahmu elok mempesona
harum tubuhmu tercium dari jarak kilometer nol koma lima
halo, perkenalkan namaku Hendra
Daksina,
aku hanya ingin menyapa
walau dengan serangkaian kata saja
aku harap kau memakluminya
aku Hendra, teman kelas IPA dua
Cerita dramatis saat aku hendak ke kelasnya khatam saat Tito merebut suratnya. Jadilah aku bahan bualan satu kelas selama sebulan. Beruntung Daksina tidak tahu Hendra anak IPA 2 yang saat itu ingin berkenalan. Dasar Tito!!!
"Hei!"
"Ah! Ternyata kau! Mengagetkan saja." tanganku mengelus dada. Meredam.
"Sedang apa kau? Matamu sepertinya tertuju pada satu titik?"
"Tidak, hanya kebetulan saja pandangku berhenti pada dia."
"Kau tahu namanya?"
Aku menggeleng pelan. Tidak.. aku tidak tahu namanya, namun yang aku tahu aku adalah utara dan ia selatan.
Kami kembali berjalan menyusuri lorong menuju kantin. Istirahat kali ini tidak begitu ramai. Mi instan tadi cukuplah untuk mengisi perut, membantu berfikir sampai sore nanti.
"Dia adalah wanita..."
"Ya semua orang juga tahu dia adalah wanita, To." jawabku bercanda.
"Hen, aku ini hendak menjelaskan lho, kamu ini malah memotong."
"Memangnya kamu tahu dia siapa?"
"Mana ada cewek yang tidak aku ketahui pribadinya? Jangan kau kira aku ini playboy cap pasar yang biasa dikelilingi lalat Hen." percaya diri, sok membenarkan kerah seragamnya. Aku tertawa mencibir.
"Yasudah.. jelaskanlah." tantangku.
"Dia adalah satu dari sekian banyak wanita yang aku dekati yang paling tidak aku pahami," lima detik keheningan, "Eh, tapi jangan kau pikir aku tidak jago Hen, dia hanyalah satu... maksudnya, aku berhasil memahami wanita lainnya." gigi kuningnya tampak mencolok saat Tito menyeringai. Aku? Aku tertawa kecil saja menunggu ia lanjut bercerita.
"Dia itu.... magis, aneh, elok, tetapi.. tidak terlalu elok, dahsyat, ummm... tapi biasa saja. Ia itu turun, namun naik. Lurus, namun berkelok. Dia... gelombang yang pecah di karang, seperti ini," tangannya mulai menggambarkan bagaimana ledakan yang diciptakan ombak kala menghantam, "ia adalah simpang lima, ia adalah teka teki yang berbunyi--"
"Sebentar To, bagaimana bisa kau tahu sejauh itu, padahal katamu kau gagal memahaminya?"
"Hehe, aku hanya melebih-lebihkan saja sih Hen. Hehehe."
Langsung kutonjok dibagian bahunya. Kami berlalu sambil tertawa terbahak, melupakan gadis di kantin yang kini tengah menoleh ke arahku. Benar, ia adalah selatan.
***
"To, kau belum menyebutkan nama gadis itu." ujarku setengah berbisik.
"Lho, gadis yang mana?"
"Yang 2 hari kemarin kau jelaskan itu, saat kita kembali ke kelas sehabis makan dari kantin."
"Ohhh, Da(^&%&)na?"
"Uhhhhh! Kalau ngomong jangan sambil kentut, dong, To! Siapa nama gadis itu? Dana?"
"Hehehe. Daksina, Hen, Daksina."
"Ohhh..."
Hening.
"Mengapa kau baru bertanya saat kita ada di WC Hen? Tidakkah ada tempat lain yang lebih sopan dalam menanyakan nama Daksina? Uhhhhh (^%&&%)"
"To! Sudah bel masuk! Buang airmu lama sekali sih!"
"Berkacalah dulu Hen! Kamu juga sewindu! Uhhhh (*&^%^&)"
***
Sejak kutahu namanya, aku mulai lebih sering mencuri pandang. Jika kalian sering melihat cerita cinta klasik anak SMA di film Indonesia era 2000an, hal itu tetap terjadi di tahun 2016. Aku pemeran utamanya. Tapi... tidak tidak, sutradara yang memilihku sebagai pemeran utama justru seakan-akan bunuh diri. Satu orang (dan hanya satu) yang akan menonton film yang aku bintangi, tidak lain, tidak bukan, hanyalah Tito.
Kami jadi sering bertemu, di kantin, di koridor, di depan kelas. Sebenarnya sudah sejak dulu aku mengetahui keberadaan gadis itu, namun baru akhir akhir ini agaknya aku tertarik. Pernah sekali aku hendak menyelipkan puisi ke tasnya, namun nyaliku terlalu kecil. Begini puisinya:
Daksina,
wajahmu elok mempesona
harum tubuhmu tercium dari jarak kilometer nol koma lima
halo, perkenalkan namaku Hendra
Daksina,
aku hanya ingin menyapa
walau dengan serangkaian kata saja
aku harap kau memakluminya
aku Hendra, teman kelas IPA dua
Cerita dramatis saat aku hendak ke kelasnya khatam saat Tito merebut suratnya. Jadilah aku bahan bualan satu kelas selama sebulan. Beruntung Daksina tidak tahu Hendra anak IPA 2 yang saat itu ingin berkenalan. Dasar Tito!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)