Teruntuk Sahabatku, Ayahku,
Sedari tangisku membuncah, sedari tubuhku ditimang,
Sedari tanganku digenggam, sedari badanku didekap,
Sedari pintaku diijabah, sedari peganganku diperkuat
Sedari kegelisahanku ditepis, sedari isakku diusap
Aku rindu,
Malam-malam ketika cengkrama kita disaksikan tawang
Segala pikir dan harap menguap bersama udara senja,
Malam-malam ketika doa kita, kita panjatkan
Segala kesanggupan kita pasrahkan bersama lentera di angkasa
Malam-malam ketika kita memilih tenang
Segala pikir yang terlempar, memantul
Segala rasa yang terkubur, muncul
Malam-malam ketika kita memilih diam
Aku rindu,
Dekapmu saat seluruh dariku tumbang
Genggammu ketika fragmenku cacat
Frasamu saat mozaikku pecah
Tatapmu saat keutuhanku lumpuh
Aku rindu,
Setiap cerita dalam perjalanan
Setiap canda dalam percakapan
Setiap bahagia dalam celah kata
Setiap masa dalam kala
Aku rindu,
Hadirmu,
Aku rindu,
Waktumu,
Waktuku,
Aku rindu,
Bersama,
Aku rindu,
Aku rindu,
Ayah,
Happy birthday.
PS: I love you to infinity and beyond.
“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown
Friday, 27 October 2017
Monday, 16 October 2017
Apa Kabar?
Untukmu yang kusentuh jemarinya,
untukmu yang kutatap lekat matanya.
Halo, selamat malam,
Apa kabar?
Kudengar setahun ini kau banyak berubah
Tidak lagi ada berita mengenai kaca pecah
Atau lonceng malam yang berdenting lantang
Selamat ya, aku turut bahagia.
Bagaimana dengan rasamu? Melunakkah?
Atau masih butuhkah mereka dirantai sesekali,
agar tidak liar, mencari mangsa dan mencabiknya?
Yang kutakutkan justru kalau kalau mereka berbalik
menyakiti, menggerogoti jiwamu.
Sayang, beberapa kali pikirku dikabutkan
dengan kabar burung tentangmu.
Sebagian berkata kau gila,
Lainnya tidak ada yang kontra.
Cahaya sukaku pun takkan mampu meredam
segala khawatir dan gelisah yang
terbangun dalam bawah sadarku.
Setiap hari ke dua puluh lima
Jika gelap sedang merindumu,
mereka menggambar senyum
dalam temaram sinar candra.
Dan tak sekali pun kulewatkan
walau sekali-dua senyummu lenyap
digantikan butir tangis sendu angkasa.
Aku menemukan estetik dalam merindu
terlebih merindumu, yang kujadikan ritual.
Aku menggambar sosokmu, semakin indah
semakin manis.
Kotak tanyaku akan keberadaanmu sudah penuh
dan entah harus kubuang ke mana segala keindahan
yang muncul tiba-tiba.
Lamunanku selalu menjadi imaji dan khayal,
tergambar betapa inginku adalah bertemu.
Karena candu yang kucipta,
terus menyalak dari hari ke hari.
Dan dayaku hanya mengirim mantra
dengan Ia sebagai jembatannya.
Sudah 20 puisi kutulis dan hampir kukirim untukmu.
Namun aku selalu mengira
bahwa sosokmu butuh diksi yang lebih sederhana
sedangkan sukaku adalah pada kerumitan
dan teka-teki.
Untukmu yang kusentuh jemarinya,
untukmu yang kutatap lekat matanya.
Kemari,
Kuberi 20 puisi dan kotak tanyaku.
Agar kau tahu,
betapa kemarin aku teragak benar
akan hadirmu.
untukmu yang kutatap lekat matanya.
Halo, selamat malam,
Apa kabar?
Kudengar setahun ini kau banyak berubah
Tidak lagi ada berita mengenai kaca pecah
Atau lonceng malam yang berdenting lantang
Selamat ya, aku turut bahagia.
Bagaimana dengan rasamu? Melunakkah?
Atau masih butuhkah mereka dirantai sesekali,
agar tidak liar, mencari mangsa dan mencabiknya?
Yang kutakutkan justru kalau kalau mereka berbalik
menyakiti, menggerogoti jiwamu.
Sayang, beberapa kali pikirku dikabutkan
dengan kabar burung tentangmu.
Sebagian berkata kau gila,
Lainnya tidak ada yang kontra.
Cahaya sukaku pun takkan mampu meredam
segala khawatir dan gelisah yang
terbangun dalam bawah sadarku.
Setiap hari ke dua puluh lima
Jika gelap sedang merindumu,
mereka menggambar senyum
dalam temaram sinar candra.
Dan tak sekali pun kulewatkan
walau sekali-dua senyummu lenyap
digantikan butir tangis sendu angkasa.
Aku menemukan estetik dalam merindu
terlebih merindumu, yang kujadikan ritual.
Aku menggambar sosokmu, semakin indah
semakin manis.
Kotak tanyaku akan keberadaanmu sudah penuh
dan entah harus kubuang ke mana segala keindahan
yang muncul tiba-tiba.
Lamunanku selalu menjadi imaji dan khayal,
tergambar betapa inginku adalah bertemu.
Karena candu yang kucipta,
terus menyalak dari hari ke hari.
Dan dayaku hanya mengirim mantra
dengan Ia sebagai jembatannya.
Sudah 20 puisi kutulis dan hampir kukirim untukmu.
Namun aku selalu mengira
bahwa sosokmu butuh diksi yang lebih sederhana
sedangkan sukaku adalah pada kerumitan
dan teka-teki.
Untukmu yang kusentuh jemarinya,
untukmu yang kutatap lekat matanya.
Kemari,
Kuberi 20 puisi dan kotak tanyaku.
Agar kau tahu,
betapa kemarin aku teragak benar
akan hadirmu.
Saturday, 23 September 2017
71
hendak aku menggapai satu di ujung jari telunjukku
mengulur, menyentuh barang sedikit lalu menepi
sayang, bayangmu begitu rapuh
dikiranya aku musuh
padahal inginku hanya merengkuh
setitik darimu yang lumpuh, layuh
***
pukul sembilan pagi tadi
daya upayaku kububuh dalam secarik plano
kucatat pesanku dalam lima kata
tinjaulah ulang siapa tahu kau dapat cerita
karena jika kau pirsa
setiap tekanan kuberi rasa
setiap titik kuberi makna
jarak antarkata kuatur sedemikian rupa
sehingga harapku kau mengenal jiwa
dalam kerangka yang tak nyata
selang sehari kudapati dirimu berdiri
dalam gaun hijaumu kau menyusuri
titik sudut ruangan, melihat dengan detail dan rinci
lalu pandangmu berhenti
padaku
satu
dua
lima belas
tuju puluh satu detik
keheningan
aku paham betul
kau ingin pecahkan dan muntahkan
kesederhanaan yang kaumiliki
namun kau memilih sunyi
rasamu kau kebiri
jiwamu kau kunci
***
ajak sukmamu menerima
tujuh puluh detik yang kedua
untuk bisa mengenal dengan berkelana
bahwa isi yang kaubawa
tidak semata mata gudang duka
yang terus kau tempa
dengan segala rasa berang
jatuh bangunmu adalah lumrah.
mengulur, menyentuh barang sedikit lalu menepi
sayang, bayangmu begitu rapuh
dikiranya aku musuh
padahal inginku hanya merengkuh
setitik darimu yang lumpuh, layuh
***
pukul sembilan pagi tadi
daya upayaku kububuh dalam secarik plano
kucatat pesanku dalam lima kata
tinjaulah ulang siapa tahu kau dapat cerita
karena jika kau pirsa
setiap tekanan kuberi rasa
setiap titik kuberi makna
jarak antarkata kuatur sedemikian rupa
sehingga harapku kau mengenal jiwa
dalam kerangka yang tak nyata
selang sehari kudapati dirimu berdiri
dalam gaun hijaumu kau menyusuri
titik sudut ruangan, melihat dengan detail dan rinci
lalu pandangmu berhenti
padaku
satu
dua
lima belas
tuju puluh satu detik
keheningan
aku paham betul
kau ingin pecahkan dan muntahkan
kesederhanaan yang kaumiliki
namun kau memilih sunyi
rasamu kau kebiri
jiwamu kau kunci
***
ajak sukmamu menerima
tujuh puluh detik yang kedua
untuk bisa mengenal dengan berkelana
bahwa isi yang kaubawa
tidak semata mata gudang duka
yang terus kau tempa
dengan segala rasa berang
jatuh bangunmu adalah lumrah.
Tuesday, 30 May 2017
Pemintal Kata dalam Nada
Saat kau tutup matamu dan menerima setiap denting piano sebagai sengatan
listrik untuk membangkitkan detakmu, kau utuh. Kau biarkan tangga nada bernari
liar membawamu terbang menyusuri cakrawala, bak daun yang patuh pada angin,
pasrah. Kau biarkan alunan harpa menarikmu ke atas panggung dan berdansa
bersamamu, berputar dan menguasai panggung, kau biarkan buaian suara saksofon
menangkap kelemahgemulaianmu tatkala jatuh pada tala minor terakhir sebelum kau
beranjak dan berpuisi.
Tarikan napas pertamamu mengubah atmosfer ruangan menjadi tempat magis yang
hanya diisi keajaiban rasa. Piano mulai beraksi dengan tuts yang satu persatu
berseru mengiringi kedatangan emosimu, dengan entak kakimu kau mulai berkata
bersama nada, menyatukan perasaan dengan lantunan.
Saban pelintuh yang kau ucapkan adalah mantra yang melemahkan, kau ajak
harpa dengan petikan nada tingginya menemani kesepianmu, menemani
kesenyap-sunyianmu. Kau mulai bercerita bagaimana kau bertemu dengannya,
sekejap memejamkan mata membuat seisi merasakan kerinduan yang kau tahan, kau
berkata lirih, mencoba menyampaikan kisah yang kau coba gali kembali, memungut
fragmen yang kau kubur dalam kalbu.
Dengan bunyi piano dan harpa yang sedari tadi berdiri bersamamu, kau
mencoba tegar, walau sempat kau hampir roboh bersama memori dan harapan. Kau
bercerita bagaimana bahagianya dirimu saat melihat senja hanya dengan mengingat
cahaya matanya, bagaimana tenangnya dirimu saat mendengar kedamaian hanya
dengan membayangkan ia berbicara. Saksofon membangunkanmu di tengah
imajimu yang terlempar ke belakang, kau hanya melanjutkan beberapa bait
dan mempersilakan denting minor merajai ruangan.
Kau paham saat setiap suara instrumen hanya berjarak satu nada, peranmu
berubah. Entak kakimu kau percepat, mengumpulkan seluruh luka yang mengambang
di udara untuk kau curahkan dengan bulat, genap. Kau memutuskan kata
"kami" sebagai kunci gerbang sentimenmu, hingga pada detik kelima kau
terperengah dengan mata tetap tertutup, memilah kata yang tepat.
Kau perlahan mendeskripsikan emosi, membiarkan kegaduhan yang diciptakan
perkusi bersama piano yang dengan liar berekspresi; kau tidak peduli saat bas
mencabik perasaanmu; tak acuh dengan segala bising dalam pikiranmu; kau terlena
dengan duniamu; intonasi suaramu yang tinggi menggambarkan isak, kau memekik
saat kau tahu kemarahanmu ada pada puncaknya; kepalan tanganmu menggambarkan keinginanmu menghantam setiap
keterpurukan yang pernah didewakan; kata yang kau pilih menohok,
menikam; mimik wajahmu menggambarkan betapa dengan susah
payah kau meronta hanya dengan rangkaian lugut yang kau muntahkan dengan segala
kesanggupanmu.
Kau terengah-engah.
Mengatur napas dibantu dengan bunyi piano yang melembut.
Semua rasa yang kau kubur, menguap sudah. Tidak terlihat muara yang keluar
dari bingkai matamu kala kau perlahan membukanya, melihat seisi ruangan dan
segala kehancuran yang kau buat.
Kau menenang. Kembali memejamkan mata sembari membungkukkan badan hingga
koda mengalun.
Sunday, 28 May 2017
Izinkan aku, sebentar saja, mengingat kita.
Izinkan aku, sebentar saja, mengingat kita.
Tiga tahun lalu aku bersalaman denganmu, aku memperkenalkan diri.
Sejak hari ke dua puluh empat bulan lima, kesanku padamu tak lagi sama.
Kau tahu, selama aku mengukir cerita, kau adalah saksi bisunya.
Selama kami mengukir cerita, kau adalah saksi bisunya.
Betapa terkadang canda tawa kami memekikkan telingamu, namun aku yakin dibeberapa saat kau bahkan terbahak-bahak karena ikut bersenda gurau bersama kami. Ingat saat kami berjoget di tengah relungmu? Dengan detak dan dentum musik, tubuh kami bersama menyelaraskan irama? Mungkin ingin rasanya kau berkata agar kami menurunkan suara, namun kau biarkan kami hingga terengah dan akhirnya bersandar di bahumu yang rapuh. Ingat saat kami memerankan tokoh fiksi? Berpakaian bajak laut dan bidadari? Kami jadikan ruanganmu hutan belantara, samudera, bahkan rumah kurcaci, kami bernyanyi, menghentak, berlarian, dan kau diam, menilai, merekam. Ingat saat kami pulang larut malam? Mendandanimu agar tampak elok esok harinya? Mungkin jika tidak berpasrah, kau akan kesal beberapa kali karena gagal dibuat ayu. Ingat saat kami berformasi lingkaran, melepaskan beban, saling berkata jujur, dan beberapa dari kami terisak? Kau mungkin sudah menduga apa yang kami bicarakan, setelah berjuta kisah kami ceritakan melalui dialog dan gestur tubuh, setelah berjuta rasa kami perlihatkan melalui mimik wajah dan binar mata. Ingat saat satu persatu dari kami mulai terduduk, menatap kosong? Kau mungkin tertawa, setelah ribuan kali kau melihat hal yang sama, namun kau tetap menyediakan ruang bagi kami yang sedang susah payah merangkak dan kembali berjalan. Diam-diam kau menopang kami, agar kembali tegak. Ingat saat kami membisikkan mimpi kami dalam doa yang samar-samar kau dengar? Ingat saat kami memohon kepada-Nya di tengah kesunyian ruanganmu kala itu? Aku yakin kau ikut mengamini. Sepertinya aku terlalu banyak menyebutkan, kau pasti ingat setiap detail yang kami lakukan selama tiga tahun terakhir bukan?
Terimakasih kau sudah mengizinkan kami untuk menjadikanmu rumah. Rumah yang tak sekedar wujud, namun juga rasa. Kau perlihatkan bahwa tak selamanya repih berarti roboh. Jika saja dapat kukirimkan, aku ingin melihat kau membaca dan kelak...mengenang.
Tiga tahun lalu aku bersalaman denganmu, aku memperkenalkan diri.
Sejak hari ke dua puluh empat bulan lima, kesanku padamu tak lagi sama.
Kau tahu, selama aku mengukir cerita, kau adalah saksi bisunya.
Selama kami mengukir cerita, kau adalah saksi bisunya.
Betapa terkadang canda tawa kami memekikkan telingamu, namun aku yakin dibeberapa saat kau bahkan terbahak-bahak karena ikut bersenda gurau bersama kami. Ingat saat kami berjoget di tengah relungmu? Dengan detak dan dentum musik, tubuh kami bersama menyelaraskan irama? Mungkin ingin rasanya kau berkata agar kami menurunkan suara, namun kau biarkan kami hingga terengah dan akhirnya bersandar di bahumu yang rapuh. Ingat saat kami memerankan tokoh fiksi? Berpakaian bajak laut dan bidadari? Kami jadikan ruanganmu hutan belantara, samudera, bahkan rumah kurcaci, kami bernyanyi, menghentak, berlarian, dan kau diam, menilai, merekam. Ingat saat kami pulang larut malam? Mendandanimu agar tampak elok esok harinya? Mungkin jika tidak berpasrah, kau akan kesal beberapa kali karena gagal dibuat ayu. Ingat saat kami berformasi lingkaran, melepaskan beban, saling berkata jujur, dan beberapa dari kami terisak? Kau mungkin sudah menduga apa yang kami bicarakan, setelah berjuta kisah kami ceritakan melalui dialog dan gestur tubuh, setelah berjuta rasa kami perlihatkan melalui mimik wajah dan binar mata. Ingat saat satu persatu dari kami mulai terduduk, menatap kosong? Kau mungkin tertawa, setelah ribuan kali kau melihat hal yang sama, namun kau tetap menyediakan ruang bagi kami yang sedang susah payah merangkak dan kembali berjalan. Diam-diam kau menopang kami, agar kembali tegak. Ingat saat kami membisikkan mimpi kami dalam doa yang samar-samar kau dengar? Ingat saat kami memohon kepada-Nya di tengah kesunyian ruanganmu kala itu? Aku yakin kau ikut mengamini. Sepertinya aku terlalu banyak menyebutkan, kau pasti ingat setiap detail yang kami lakukan selama tiga tahun terakhir bukan?
Terimakasih kau sudah mengizinkan kami untuk menjadikanmu rumah. Rumah yang tak sekedar wujud, namun juga rasa. Kau perlihatkan bahwa tak selamanya repih berarti roboh. Jika saja dapat kukirimkan, aku ingin melihat kau membaca dan kelak...mengenang.
Tuesday, 18 April 2017
Kau.
Coba kau lihat lekat-lekat, Tuan, kemari, mendekatlah.
Makhluk ini tak pernah bermaksud menikammu, makhluk ini
tulus.
Ajak sanubarimu menjelajahi lebih lama,
Lihat bahwa makhluk ini terkadang ketakutan,
Ketakutan
yang ada saat kamu berjalan mengelilinginya
Ia tak pernah paham
Maka ia melangkah pergi
Namun tampaknya kautak rela
Maka sekeping yang
kau genggam
Buatnya berdarah karena ketidaklengkapan fragmen
Mozaik yang kau bawa,
Selalu yang
dirindunya.
Kau boleh mencacinya dengan lantang
selantang naskah yang dibacanya
Kau boleh marah, murka
semurka tokoh yang diperagakannya
Kau bahkan sangat boleh membalasnya
seperti yang selalu dinantinya di jeda antardialog
Tapi kau dilarang untuk mendekat
Sekali pun inginmu hanya mengembalikan keping.
Paradoks memang
Mafhumlah.
Nepenthes dan Coccinelida
Nepenthes terperangkap di bawah naungan racunnya, dan ia sadar. Coccinelida tak pernah tau predator itu ada didekatnya.
Suatu hari, mereka dipertemukan dalam suasana malam yang syahdu. Tatapan mata selalu menjadi awal yang baik. Hening, nikmat. Pukul satu malam mereka berpisah, dan malam berikutnya mereka bertemu lagi. Selalu seperti itu.
Coccinelida sudah terikat, membebaskan diri pun rasanya berat. Nepenthes memang keparat, ia menarik Coccinelida sampai tak berjarak.
Di luar kemampuan berfikirnya, di ambang batas akal sehatnya, Nepenthes menjadikan Coccinelida santapan nikmat. Tiga hari berikutnya ia tersadar betapa jalangnya ia malam itu. Betapa racun yang dimilikinya terkadang berkuasa di luar kendali.
Hari-hari berikutnya terasa begitu menyakitkan. Dalam penyesalan ia mati. Terlalu lama meringkuk menyalahkan diri.
Suatu hari, mereka dipertemukan dalam suasana malam yang syahdu. Tatapan mata selalu menjadi awal yang baik. Hening, nikmat. Pukul satu malam mereka berpisah, dan malam berikutnya mereka bertemu lagi. Selalu seperti itu.
Coccinelida sudah terikat, membebaskan diri pun rasanya berat. Nepenthes memang keparat, ia menarik Coccinelida sampai tak berjarak.
Di luar kemampuan berfikirnya, di ambang batas akal sehatnya, Nepenthes menjadikan Coccinelida santapan nikmat. Tiga hari berikutnya ia tersadar betapa jalangnya ia malam itu. Betapa racun yang dimilikinya terkadang berkuasa di luar kendali.
Hari-hari berikutnya terasa begitu menyakitkan. Dalam penyesalan ia mati. Terlalu lama meringkuk menyalahkan diri.
Subscribe to:
Comments (Atom)