Tuan, di batas fana bayangmu mengabur; melebur partikelmu bersama haru yang dicipta supernova dalam pecahan debur; mereka membaur dalam hancur.
Nyatanya kau tak berbatas waktu, Tuan, entah itu pukul bahagia, pukul sendu; tatapmu tetap menyeru kelu; lantangmu yang bisu masih menyuarakan pilu; gemulai senjamu menyerap partikel biru, kau bilang sama seperti rasa rindumu, yang melulu menancap dan hinggap, melekat, tanpa pernah mau berlalu.
Sayangnya mereka bahagia dalam kebinasaanmu, gemar sekali memujamu megah dan rupawan; melaju dalam ribaan kesan, dalam tepuk kasih kenangan, dalam timang ingatan. Di penjuru langit utara pada purnama ke delapan saat pertama kali kau ungkapkan; tidak sekali pun mereka berkedip walau dalam temaram terasa mencekam. Sedari petang itu, wajahmu yang tampak pendak bulan, dinantikan, diharapkan.
Tidak, tidak, aku tidak memberi tahu mereka kepinganmu merupakan mozaik sedan dan isak, namun bukankah itu yang kau hendak?
Tuan, sudah kusampaikan duka cita mendalam atas ajalmu. Pun begitu, aku harap kau tetap tegar dan mampu kembali melaju, mederu.
Ketahuilah, sedari cahayamu utuh hingga kau pecah mengotori langit, adalah aku yang menyediakan tempat dalam tundukmu, pundak dalam kelammu; adalah aku yang membantu tegap ragamu, dukung detak degubmu.
Bertahanlah, aku mohon.
—#selaras.
No comments:
Post a Comment