—untuk Mira di seberang Selasar Sirna
hendak kau bernapas lega sebab di tikungan tak lagi ada
remah duka yang kau tebar dalam singgasana gembira
selagi berjalan, teliti lagi berapa mata merekah
saat bisu dan gagu tunggang langgang menuju aksa
tetaplah rancak dan cacak, seorang akan menoleh
dan memberikan sentosa, jangan percacaya karena
yang dilayangkan bukanlah sepatah kata ceria
melainkan kabar temaram, kau tak akan suka
Mira
aku masih terngiang tatkala kau betolak,
katamu lantang
"jika kepergianku adalah dosa,
maka pulangkan aku pada sengsara!"
pergimu membawa padma
disematkanmu pada kiri dada
"kepulanganku hanya bisa jika
dikembalikannya ruh pada kalbu!"
kelanamu tak ada yang duga
raib ragamu melahirkan tanya
untuk Mira di seberang Selasar Sirna
dalam sendirimu kau tumbuh nyaris terbunuh
bahkan songketmu dahulu bercahaya kini lusuh
jarak pandangmu tak lagi prima, kini lamur
seliramu dahulu kukuh, kini pedih dan uzur
dengar, Mira
kembalilah,
kembailah karena ruh sudah terpatri
pada atma yang kau rindu dan kasihi
apabila tanyamu jatuh pada siapa
maka kenanglah aku karena yang
tersisa hanyalah cerita
dan raga.
pulanglah.
untuk mirashantika
ReplyDelete