“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Friday, 23 January 2015

Abad ke-19

setiap kata terketik begitu indah, begitu mengagumkan!

Kata tak berpemilik, kata tak bertuan, yang sedari awal ditaksir hendak terlunta, justeru meroket menampakkan indahnya.

Damai bukan buatan!

Semua tulisannya tersaji penuh rasa.
Inspirasi tak terkira- tak terduga, yang dirangkul hanya dengan mengamati yang ada datang begitu saja membangun pondasi kokoh bin kuat! Ajaib penuh magis! Hebat bukan kepalang! Jarang jarang kubaca tulisan yang terkecap madu, yang dibubuhi kecup penuh syahdu.

Wahai penulis- pemeluk kata- pemilik rima- penyaji rasa tak beraroma- pengijabah permintaan frasa-frasa, sungguh--jujur dan teramat jujur--tulisanmu tak ada dua, tak ada pula tandingannya. Ciut sudah mental pesaingmu, tak tahan untuk tak melontarkan kalimat pujian terhadap buah-manis karyamu.

Harga dirimu tampak teramat tinggi hanya dengan kelaziman dan kemahiranmu merangkai kata- merantainya sehingga memiliki makna- menjadikannya nyata.

Subhannallah! 

Wahai Raja,
Tulisanmu suci tak sedikit pun ternodai dosa, bermakna seribu-kali-indah. Tubuhnya tak bergelimang megah, namun tabiatnya bukan main mulia, dipenuhi pula dengan diksi yang terperah!
Dirimu telah memikat hati sejuta manusia yang kini tengah memelototi sembari merasakan deguban jatung yang kian terasa menyalip detik, merasakan hati terus memuji Gusti. Mereka jatuh hati. Memuja yang dibaca- berandai andai siapa yang menciptakan- ada pula yang tengah terpercik kelicikan, bermisal-misal jika saja mereka yang menciptakan karya sastra yang mulia tempo itu.

Kata-katamu indah- seindah jiwamu, sesuci rohanimu, sedahsyat gudang diksimu, sekuat tekadmu, sesempurna perangaimu.

Kata tak berpemilik, kata tak bertuan, yang sedari awal ditaksir hendak terlunta, justeru meroket menampakkan indahnya.

NB: terinspirasi dari Serat Wedhatama pupuh Sinom.

Monday, 19 January 2015

Kami

Adalah binar matanya yang selalu membuatku diselimuti kenyamanan. Seakan waktu pun ikut terhenti, mempersilakan aku dan dia bertatapan untuk beberapa detik- saling jatuh cinta dengan kesempurnaan ciptaanNya- saling berkomunikasi tanpa suara, kami terhipnotis hanya dengan sorot mata.

Kurasakan panah amor yang terluncur dari busur Cupid mulai menghunjam. Membuat suasana sunyi yang menentramkan dipenuhi bulir-bulir roman. Teramat indah... indah bukan buatan!

Senyumnya perlahan mengembang- terlukis manis di wajahnya. Melelehkan segenap jiwa, memberikan sentuhan kebahagiaan. Tanpa ada mantra yang terucap, setruman aura magisnya menyengat sukma. Jantungku berdegub tak karuan! Wajahku merah padam!

Kami terbangun dari lamunan-enam-detik. Mencoba tetap tenang sembari menata irama jantung. Ia berpamitan hendak pulang, berjalan sambil berucap salam.

Ternyata Cupid tengah tersenyum di ujung koridor. Terbang berlalu, mencari pasangan yang tengah kasmaran.



[#FiksiLaguku - @KampusFiksi - 123 words - Temanggung, 19 Januari 2015] 
Ditemani iringan lagu Love Me Like You Do - Ellie Goulding

Saturday, 17 January 2015

Malam.

Dalam keheningan malam aku bersenandung
Memejamkan mata sembari menata nada
Membiarkan udara menjalar- menyetrum tubuh,
mempersilakan mereka mengambil dengunganku
Aku yang menyuruh.

Hening...
Hanya aku, rembulan yang bisu, dan angin yang tergugu-gugu
Malam ini bak malam sakral
Malam yang teramat mahal
Tak dihiasi sepatah kata pun
Hanya hmmm berirama santun
Semua bungkam
Terpejam dalam tenteram
Hanya aku, rembulan yang bisu, dan angin yang tergugu-gugu.

Dengunganku masih berlangsung
Separuh darinya dibawa angin
Dikirm ke negeri antah-berantah
Yang penting ikut sajalah
Dewi malam masih bersinar terang
Menemani penyendiri yang terduduk di atas karang,
atau mungkin menyelimuti malam sang bujang?

Dengan bermandi cahaya
Aku mengiyakan air mataku terjatuh
Sekira-kiranya hanya terleleh 3 kali
Kanan- kiri- kanan
Bibirku bergetar
Aku mengamini kemauan hatiku untuk terisak
Tanpa membiarkan kristal bening mengalir lebih deras
Sendu sedan- menangis tertahan
Merintih dalam diam
Hanya aku, rembulan yang bisu, dan angin yang tergugu-gugu,
yang tahu.

Sudahlah.

Aku ingin sudahi pendewaan pada luka.

Malam ini sakral
Malam ini teramat mahal
Tak patut kuhabiskan dengan tersedu
Biar kusuruh desir angin mengembalikan dengungku
Biar kutemani rembulan berjaga
Agar setidaknya bisa kukembalikan seperti semula-
seperti sedia kala.
Hanya aku, rembulan yang bisu, dan angin yang tergugu-gugu.

Friday, 9 January 2015

Jiwa, di Mana Gerangan?

Jiwa...
Di mana kini kau berada? Ke mana pula ragamu yang dulu setia berdiam di dalam relung sukmaku? Akankah kau pergi dan meninggalkanku seorang diri? Tegakah kau, wahai Jiwa?

Jiwa...
Akhir akhir ini kulihat tawamu palsu, wajahmu ceria namun aku tahu perasaanmu kelabu, senyummu tak lagi hangat- mereka membeku, pancaran matamu tampak tengah menangis tersedu, kau terlihat tengah menanggung segudang pilu. Sebenarnya apakah yang sedang terjadi padamu?

Ada apa gerangan? Adakah sesuatu yang mengusikmu?

Jangan hanya terdiam di ujung sana, coba sekali saja jawab pertanyaan saya, wahai sang mulia Jiwa.

Andai saja kau tahu,
Tanpamu, darah yang mengalir ini  hanya cairan berwarna merah yang sigap menjalankan tugasnya setelah didorong oleh jantung; dan tulang ini hanya akan berperan sebagai penopang tubuh seseorang yang mati rasa- tak berjiwa- sudah menjadi bangkai jauh di lubuk hati yang sebenarnya.

Tengah dirundung masalah macam apa kau ini, wahai Jiwa? Tidakkah kau teringat perbincangan yang selalu kita lakukan saat tengah berdiam- hanya saya dan kamu, menutup telinga dari hiruk pikuk perbincangan orang yang tengah berlalu lalang- menjauh dari berbagai macam bising, untuk berdiskusi tentang suatu misi- misi teramat penting.

Jiwa... yang suci... yang agung...
Cepat cepatlah kembali sebelum saya lenyap di antara mereka, segeralah masuk ke dalam raga ini agar saya bisa kembali kentara. Asalkan kau tahu, saya termangu, bergeming, mematung menunggumu untuk kembali menggetarkan sanubari.

Saya tidak tahu harus lari ke mana lagi. Bukankah sudah paten, sedari saya dilahirkan di dunia- di-adzankan dan di-ikomahkan di kedua telingaku kaulah yang akan setia menemani keseharianku? Sungguh, Jiwa... Kau adalah ciptaanNya yang paling mulia!

Saya mohon, Jiwa... Di sini saya kesakitan, namun sakit itu tidak saya perlihatkan, di sini saya linglung, namun tidak satu pun dari mereka yang mampu sadar. Jiwa dalam tubuh ini tengah merantau ke kota antah-berantah- entah tengah mencari suatu apa, namun kumohon... kembalilah.

Sunday, 4 January 2015

#KabarDariJauh


                                                      Ibu Pertiwi Menangis Lagi

Aku bergeming.. terpaku.. mematung.

Aku diam.. bungkam.. tak berucap sepatah kata.. aku diam seribu bahasa.

Terlampau sakit, teramat pedih, teramat sangat menyiksa cobaan ini. Aku tak tahan mendengar jeritan hasil kesakitan Ibu, tak tahan menangkap rengekan yang meminta agar semua malapetaka yang menimpanya segera berakhir, tak kuasa pula ku mencium aroma pilu yang terus menderu terengah engah keluar dari hidungnya. Kesedihan telah mengambil alih semua kebahagiaan, hidupnya redup, tak bercahaya. Mengenaskan.

"Seharusnya mereka menjaga, tak merusak! Seharusnya mereka melindungi, tak mengoyak! Seharusnya mereka mengerti dan menyadari, betapa alam ini butuh dipelihara. Sungguh keji perbuatannya, jahat hatinya, rendah harga dirinya!", tutur Ibu setengah berteriak ditengah serak suaranya- parau.

"Kau lihat, nak? Seakan alam menghunjamku dengan tombak, membunuhku bergantian- berarak-arak, aku mati nak, aku mati! Bagian-bagianku telah diserang! Sudah menjadi hal yang biasa ketika Ibu Kota Jakarta- Ibu Kota negaramu nak, diserang banjir yang tak henti hentinya. Dikala hujan telah perlahan menghilang, luapan sungai lah yang menggantikan. Lalu tanah longsor yang terjadi di Banjarnegara, menewaskan saudara saudara kita, menghempaskan segala yang ada di bawahnya, tak peduli bila mana mereka berteriak meminta tolong, tak peduli bila mereka berteriak memanggil nama Tuhan Yang Maha Esa, tanah itu jatuh! Menimpa yang tak berdosa! Tanah itu merenggut nyawa mereka! Kau kira Ibumu ini tak ikut bersedih? Sudah kubilang, nak, Ibumu mati! Ibumu mati!

Lagi lagi, musibah menggemparkan terjadi, kini kendaraan yang melayang di atas daratan terjatuh, terjebak di tengah awan cumulonimbus, kemudian terbenam dan terjembab ke daratan. Mayatnya terobang ambing di atas lautan luas bersama kepingan bagian pesawat! Itu belum seberapa, nak! Berjuta tikaman yang Ibumu ini rasakan, dan hampir semua sebegitu mengenaskan hingga tak mampu lagi kudeskripsikan, nak! Ibumu mati!

Duh Gusti, begitu banyak cobaan yang Kau beri pada kami, maafkah dosa dosa kami Ya Tuhan..", doanya dilantunkan setelah seisi hatinya dikeluarkan, tangisnya terus menerus mengalir, tak berhenti. Seakan semua sengatan tombak dari alam yang tengah mencabiknya, dirasa kembali. Seakan segala mimpi buruk itu menikamnya habis.

"Ibu sakit, nak! Ibumu ini mati!", ucapannya penuh tekanan, diperjelas lagi dengan perubahan wajah yang kian memerah, kepalan tangannya kian menggumpal, uarat lehernya terlihat jelas. Sakit keluhnya, mati jiwanya.

Perlahan nafasnya mulai diatur, kemudian teratur. Perlahan beliau turunkan emosinya, kemudian menatapku--menatap hatiku lebih tepatnya--dalam sekali, lama sekali.

"Andai kan saja kau dilahirkan di kala itu, nak. Kau pasti bahagia melihat sekelilingmu yang damai tanpa gaduh, yang tenteram tanpa bising. Alam tetap hijau, nak, mereka lestari. Makhluk lain pun tetap terjaga keberadaannya, belum di rusak dan dimusnahkan seperti yang sekarang terjadi. Namun kini semua itu hanya kenangan samar, semuanya telah berlalu.. dan pertumbuhan manusia yang makin tak terkendali ini makin mendesak alam agar tak lagi bisa hidup di bumi. Sayang, seribu kali sayang, nak..", ujarnya seraya menghadap ke atas, menghela napas, membasuk air mata yang tanpa sadar kembali mengalir- memastikan agar kristal bening itu tak terjatuh ditarik gravitasi.

"Sabar, Bu. Semoga Tuhan mengijabahkan doa doa ibu.", ucapku menenangkannya.

"Ibu berharap dengan kejadian ini mereka semua bisa tersadar dari lamunan, dan terbangun dari mimpi indahnya. Semoga alam tak mengamuk lagi, meminta haknya terpenuhi untuk tidak disakiti, dan dimusnahkan dari muka bumi. Semoga kenangan terdahulu yang selalu Ibu inginkan untuk kembali, bisa terwujud kembali. Dan semoga yang keji perbuatannya diampuni Tuhan, yang jahat hatinya disadarkan, dan tak ada lagi manusia yang rendah harga dirinya, karena Tuhan menciptakan mereka sebagai makhluk dengan derajat yang paling tinggi diantara ciptaan-Nya yang lain."

Beliau berlalu, mengambil air suci, kemudian bersujud di hadapan-Nya.

[Tantangan #KabarDariJauh @KampusFiksi - 586 kata (tanpa subjudul) - Temanggung, 04 Januari 2014 - 16:21 WIB]

Friday, 2 January 2015

Bintang [Namaku Bintang]

"Tataaaaaaaaaang! Cepat mandi!"

"Gawat! Jika lantangnya teriakan ibuku sudah terdengar sampai sejauh ini, sudah pasti aku akan dihajarnya habis habisan! mengapa perlu, sih, jarum penunjuk waktu itu rusak? Ah sudahlah, yang penting aku pulang dan segera mandi", ucapku seraya membelokkan kapal ke tepian. 

"Sudah kuperingatkan berapa kali kau? Kalau sudah petang begini langsung mandi dan tunaikan shalat! Bukannya nongkrong saja di kapal. Pemalas! Pelasuh!", teriak ibu. ditekankannya lagi dengan menghentakkan kedua kakinya ke tanah- memukuli bumi searah dengan gravitasi.

Sebenarnya aku sudah biasa mendengar ini, namun kawan ini adalah salah satu yang terburuk! Biar kuceritakan sedikit yang paling buruk, yaitu dulu ketika aku kecil, saat aku mengajak adikku main dengan perahu gagahku--tepatnya almarhum Ayah--dan ketika aku berbaring menghadap langit, adikku hampir saja tercebur ke dalam sungai! Sialnya, ketika itu terjadi ibuku melihat. Tau kah kalian bagaimana reaksinya? Caci dari mulut terlontar- memarahiku habis habisan- memaki kelakuanku yang keterlaluan- mengomeliku tampa henti, dipukulinya pula sekujur tubuhku dengan segala benda yang ada di sebelahnya. Begitu malang naaibku kala itu, kawan. Seminggu aku tak masuk sekolah!

Aaah! Begitu cerobohnya aku! 
Maaf, kawan, jika aku terlalu lancang menceritakan kejadian kejadian dalam hidup, tanpa menyebutkan dan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Energi ini tak mau surut. Namaku Bintang, namun semua orang di kampung memanggilku dengan sebutan Tatang, lebih mudah jelasnya. Aku lahir 12 tahun silam, dan adalah seorang bocah penggila lautan, pemuja bintang, penyuka alam, pecinta malam.

Kau tahu mengapa begitu terobsesinya aku pada hal yang berbau lepas dan bebas? Karena sedari kecil aku sudah diperkenalkan dengan ini semua oleh Ayahku, ketika beliau masih hidup. Rinduku ini tak semata mata menginginkan raganya untuk kembali menemaniku seperti dahulu, namun kenangan itu kawan! Ingin rasanya kembali kecil lagi, agar dehaman nina bobonya bisa kudengar dan kuhayati lagi, agar nasihatnya bisa kulaksanakan kembali, dan yang paling kurindukan darinya adalah tatapan matanya kawan, terlampau menyejukkan! Bisa saja bulu romaku berdiri dibuatnya. Mungkin itu alasan mengapa ibu tertarik dengan Ayah, ya?

Menurut penjelasan ibuku, nama 'Bintang' ini berarti benda di langit yang berkilauan. Sekiranya itu adalah harapan pertama orang tuaku sejak aku dilahirkan di bumi pertiwi. Tau kah kau siapa yang mengusulkan nama ini? Pak San, kawan! Pak San! Nelayan senior yang kupuja sepanjang masa. Walau sudah setengah baya, namun kemampuannya memancing selalu saja bertambah, seakan tua bukanlah halangan untuk tidak melakukan yang dicintainya, bahkan akhir akhir ini beliau sering pergi berlaut denganku. 

Secara postur dan dandanan tubuh, aku tak jauh beda dengan teman temanku lainnya--sama sama beringus, berbadan kurus, berkulit kering- hitam kelam. Namun aku tak pernah sekali pun bergaul dengan mereka, aku tak pernah bermain bola- memegang pun tak pernah! Aku juga tak suka berlari, mengejar satu sama lain- berteriak hingga bisingnya sampai menyetrum telinga tetangga, atau bermain layang layang- mengikuti angin- kesana kemari. Semuanya terlampau membosankan! 

Aku adalah anak yang dilahirkan untuk menikmati buana, kawan. Aku yakin alasan Tuhan memberi nyawa ini adalah agar aku bisa menghirup kebebasan dan belajar dari alam. Sungguh aku mencintai semesta ini!
Tau kah kau kawan, apa yang kulakukan disunyi senyapnya malam? Dikala hanya makhluk nokturnal yang bersenandung bernyanyi- terbelalak ketika hendak memakan mangsa; dikala manusia tak lagi terjaga- terlarut dalam angan malam- tenggelam dalam mimpi yang seakan nyata dan benar terjadi; dikala hanya aku dan perahu saja yang memaksa sungai untuk membawaku ke lautan- menyogoknya agar mau memantulkan cahaya bulan- agar malam itu--malamku--terasa begitu sempurna, begitu lengkap, dan sakral.
Angin laut yang berhembus menyibak rambutku yang telah memanjang ke atas, bak rambut tentara namun tak jauh beda juga dengan rerumputan liar yang tumbuh semaunya di atas bumi;
Binar rembulan yang sempurna menghadap langsung ke arah bola mataku, mengisyaratkan bahwa kini Dewi Malam tengah bertugas menggantikan matahari dan mulai menyinari jagad raya- menerangi bumi- menemani makhkuk yang hidup di malam hari. Pernah sekali ia berbicara denganku, katanya ia amat menyukai situasi damai dan sunyi, namun ia kecewa karena tahun tahun belakangan ini kedamaian yang ia nanti nanti dirusak oleh suara klakson mobil dan deru sepeda motor. Memprihatinkan. Mengenaskan;
Air yang terasa dingin, membekukan, kini mulai kusentuh permukannya. Perlahan lahan searah dengan laju perahu yang tengah terombang ambing dan terseret angi. Hmmmm.. Teramat damai, tenang, syahdu. Laut yang tenang, tak bergelombang, yang telah kujadikan sahabat sejatiku. Setiap kali aku merasa gelisah, hanya laut yang mampu menenangkan gejolak hati, ketidak tentraman batin, dan kepenatan yang kupendam, terlebih pada saat aku merindukan sosok Ayah. Ketika air mata mengalir deras, berharap beliau yang hanya dapat kudoakan dan kukenang mampu kembali lagi, ketenangan yang kurasakan dari hasil sentuhan permukaan air laut lah yang menghentikan semua kesedihan. Ajaib, ya? Ya, ajaib.

Hari ini hari Kamis, tanggal 31 Desember. Aku yakin, teramat yakin, pasti orang orang kota tengah mempersiapkan kembang api yang megah untuk turut memeriahkan pergantian tahun. Aku tak habis pikir, kawan! Mengapa pergantian tahun seakan akan begitu dinanti? Apa yang membuat pukul 00.00 itu teramat berharga? Mengapa detik itu mereka bersuka cita merayakannya? Bukankah untuk memperjuangkan hal berharga, dan melaksanakan resolusi hidup memang sudah sepatutnya dilakukan di tiap waktu selama nafas masih behembus? Heran! Seribu kali terheran dengan pemikiran macam itu! Seharusnya mereka iri denganku, iri karena tidak bisa menatap kelipnya bintang sepanjang malam yang pasti melebihi kemegahan yang dipancarkan kembang api, suaranya tak perlu keras bak petasan namun menyejukkan dan menetramkan hati. Aku berani bertaruh, kawan, dalam hal bertelepati dengan alam aku lah jagonya! Gilanya lagi, pernah sesekali aku berpikir mengapa tak kupilih hidup dengan alam saja? Rasanya aku telah terlena dengan segala keindahannya, tak mampu diungkapkan!

Ah itu dia! Sang kembang berwarna warni, yang konon mampu membuat banyak orang tercengang, yang mitosnya mampu membuat semua orang terheran dan berfikir "perayaan apa ini?". Aku? Aku, sih, tak percaya, tek benar adanya benda yang bernama kembang api itu memang kembang di hati banyak orang dan membuat pikiran seakan berapi untuk merayakan peristiwa berharga. Bintang gemintang dan sang rembulan lah kembang langit sebenarnya.

Ah sudahlah. Biarlah kini Dewa Hermes melindungi malamku ketika aku mulai memejamkan mata. Terdampar pun tak masalah. Biar kini kumenyendiri sedikit lebih lama, menghiraukan hiruk pikuk keramaian kota, dan menutup telinga dari bisingnya petasan hasil dari mekarnya kembang api di langit. Biar kini damai yang menyelimutiku bertahan lebih lama, biar pula ku persilahkan ketentraman menyelubungi di tiap detik jantung berdegub. Sayhdu, kawan. Syahdu.