“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown
Sunday, 4 January 2015
#KabarDariJauh
Ibu Pertiwi Menangis Lagi
Aku bergeming.. terpaku.. mematung.
Aku diam.. bungkam.. tak berucap sepatah kata.. aku diam seribu bahasa.
Terlampau sakit, teramat pedih, teramat sangat menyiksa cobaan ini. Aku tak tahan mendengar jeritan hasil kesakitan Ibu, tak tahan menangkap rengekan yang meminta agar semua malapetaka yang menimpanya segera berakhir, tak kuasa pula ku mencium aroma pilu yang terus menderu terengah engah keluar dari hidungnya. Kesedihan telah mengambil alih semua kebahagiaan, hidupnya redup, tak bercahaya. Mengenaskan.
"Seharusnya mereka menjaga, tak merusak! Seharusnya mereka melindungi, tak mengoyak! Seharusnya mereka mengerti dan menyadari, betapa alam ini butuh dipelihara. Sungguh keji perbuatannya, jahat hatinya, rendah harga dirinya!", tutur Ibu setengah berteriak ditengah serak suaranya- parau.
"Kau lihat, nak? Seakan alam menghunjamku dengan tombak, membunuhku bergantian- berarak-arak, aku mati nak, aku mati! Bagian-bagianku telah diserang! Sudah menjadi hal yang biasa ketika Ibu Kota Jakarta- Ibu Kota negaramu nak, diserang banjir yang tak henti hentinya. Dikala hujan telah perlahan menghilang, luapan sungai lah yang menggantikan. Lalu tanah longsor yang terjadi di Banjarnegara, menewaskan saudara saudara kita, menghempaskan segala yang ada di bawahnya, tak peduli bila mana mereka berteriak meminta tolong, tak peduli bila mereka berteriak memanggil nama Tuhan Yang Maha Esa, tanah itu jatuh! Menimpa yang tak berdosa! Tanah itu merenggut nyawa mereka! Kau kira Ibumu ini tak ikut bersedih? Sudah kubilang, nak, Ibumu mati! Ibumu mati!
Lagi lagi, musibah menggemparkan terjadi, kini kendaraan yang melayang di atas daratan terjatuh, terjebak di tengah awan cumulonimbus, kemudian terbenam dan terjembab ke daratan. Mayatnya terobang ambing di atas lautan luas bersama kepingan bagian pesawat! Itu belum seberapa, nak! Berjuta tikaman yang Ibumu ini rasakan, dan hampir semua sebegitu mengenaskan hingga tak mampu lagi kudeskripsikan, nak! Ibumu mati!
Duh Gusti, begitu banyak cobaan yang Kau beri pada kami, maafkah dosa dosa kami Ya Tuhan..", doanya dilantunkan setelah seisi hatinya dikeluarkan, tangisnya terus menerus mengalir, tak berhenti. Seakan semua sengatan tombak dari alam yang tengah mencabiknya, dirasa kembali. Seakan segala mimpi buruk itu menikamnya habis.
"Ibu sakit, nak! Ibumu ini mati!", ucapannya penuh tekanan, diperjelas lagi dengan perubahan wajah yang kian memerah, kepalan tangannya kian menggumpal, uarat lehernya terlihat jelas. Sakit keluhnya, mati jiwanya.
Perlahan nafasnya mulai diatur, kemudian teratur. Perlahan beliau turunkan emosinya, kemudian menatapku--menatap hatiku lebih tepatnya--dalam sekali, lama sekali.
"Andai kan saja kau dilahirkan di kala itu, nak. Kau pasti bahagia melihat sekelilingmu yang damai tanpa gaduh, yang tenteram tanpa bising. Alam tetap hijau, nak, mereka lestari. Makhluk lain pun tetap terjaga keberadaannya, belum di rusak dan dimusnahkan seperti yang sekarang terjadi. Namun kini semua itu hanya kenangan samar, semuanya telah berlalu.. dan pertumbuhan manusia yang makin tak terkendali ini makin mendesak alam agar tak lagi bisa hidup di bumi. Sayang, seribu kali sayang, nak..", ujarnya seraya menghadap ke atas, menghela napas, membasuk air mata yang tanpa sadar kembali mengalir- memastikan agar kristal bening itu tak terjatuh ditarik gravitasi.
"Sabar, Bu. Semoga Tuhan mengijabahkan doa doa ibu.", ucapku menenangkannya.
"Ibu berharap dengan kejadian ini mereka semua bisa tersadar dari lamunan, dan terbangun dari mimpi indahnya. Semoga alam tak mengamuk lagi, meminta haknya terpenuhi untuk tidak disakiti, dan dimusnahkan dari muka bumi. Semoga kenangan terdahulu yang selalu Ibu inginkan untuk kembali, bisa terwujud kembali. Dan semoga yang keji perbuatannya diampuni Tuhan, yang jahat hatinya disadarkan, dan tak ada lagi manusia yang rendah harga dirinya, karena Tuhan menciptakan mereka sebagai makhluk dengan derajat yang paling tinggi diantara ciptaan-Nya yang lain."
Beliau berlalu, mengambil air suci, kemudian bersujud di hadapan-Nya.
[Tantangan #KabarDariJauh @KampusFiksi - 586 kata (tanpa subjudul) - Temanggung, 04 Januari 2014 - 16:21 WIB]
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment