“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Saturday, 17 January 2015

Malam.

Dalam keheningan malam aku bersenandung
Memejamkan mata sembari menata nada
Membiarkan udara menjalar- menyetrum tubuh,
mempersilakan mereka mengambil dengunganku
Aku yang menyuruh.

Hening...
Hanya aku, rembulan yang bisu, dan angin yang tergugu-gugu
Malam ini bak malam sakral
Malam yang teramat mahal
Tak dihiasi sepatah kata pun
Hanya hmmm berirama santun
Semua bungkam
Terpejam dalam tenteram
Hanya aku, rembulan yang bisu, dan angin yang tergugu-gugu.

Dengunganku masih berlangsung
Separuh darinya dibawa angin
Dikirm ke negeri antah-berantah
Yang penting ikut sajalah
Dewi malam masih bersinar terang
Menemani penyendiri yang terduduk di atas karang,
atau mungkin menyelimuti malam sang bujang?

Dengan bermandi cahaya
Aku mengiyakan air mataku terjatuh
Sekira-kiranya hanya terleleh 3 kali
Kanan- kiri- kanan
Bibirku bergetar
Aku mengamini kemauan hatiku untuk terisak
Tanpa membiarkan kristal bening mengalir lebih deras
Sendu sedan- menangis tertahan
Merintih dalam diam
Hanya aku, rembulan yang bisu, dan angin yang tergugu-gugu,
yang tahu.

Sudahlah.

Aku ingin sudahi pendewaan pada luka.

Malam ini sakral
Malam ini teramat mahal
Tak patut kuhabiskan dengan tersedu
Biar kusuruh desir angin mengembalikan dengungku
Biar kutemani rembulan berjaga
Agar setidaknya bisa kukembalikan seperti semula-
seperti sedia kala.
Hanya aku, rembulan yang bisu, dan angin yang tergugu-gugu.

No comments:

Post a Comment