“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Friday, 2 January 2015

Bintang [Namaku Bintang]

"Tataaaaaaaaaang! Cepat mandi!"

"Gawat! Jika lantangnya teriakan ibuku sudah terdengar sampai sejauh ini, sudah pasti aku akan dihajarnya habis habisan! mengapa perlu, sih, jarum penunjuk waktu itu rusak? Ah sudahlah, yang penting aku pulang dan segera mandi", ucapku seraya membelokkan kapal ke tepian. 

"Sudah kuperingatkan berapa kali kau? Kalau sudah petang begini langsung mandi dan tunaikan shalat! Bukannya nongkrong saja di kapal. Pemalas! Pelasuh!", teriak ibu. ditekankannya lagi dengan menghentakkan kedua kakinya ke tanah- memukuli bumi searah dengan gravitasi.

Sebenarnya aku sudah biasa mendengar ini, namun kawan ini adalah salah satu yang terburuk! Biar kuceritakan sedikit yang paling buruk, yaitu dulu ketika aku kecil, saat aku mengajak adikku main dengan perahu gagahku--tepatnya almarhum Ayah--dan ketika aku berbaring menghadap langit, adikku hampir saja tercebur ke dalam sungai! Sialnya, ketika itu terjadi ibuku melihat. Tau kah kalian bagaimana reaksinya? Caci dari mulut terlontar- memarahiku habis habisan- memaki kelakuanku yang keterlaluan- mengomeliku tampa henti, dipukulinya pula sekujur tubuhku dengan segala benda yang ada di sebelahnya. Begitu malang naaibku kala itu, kawan. Seminggu aku tak masuk sekolah!

Aaah! Begitu cerobohnya aku! 
Maaf, kawan, jika aku terlalu lancang menceritakan kejadian kejadian dalam hidup, tanpa menyebutkan dan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Energi ini tak mau surut. Namaku Bintang, namun semua orang di kampung memanggilku dengan sebutan Tatang, lebih mudah jelasnya. Aku lahir 12 tahun silam, dan adalah seorang bocah penggila lautan, pemuja bintang, penyuka alam, pecinta malam.

Kau tahu mengapa begitu terobsesinya aku pada hal yang berbau lepas dan bebas? Karena sedari kecil aku sudah diperkenalkan dengan ini semua oleh Ayahku, ketika beliau masih hidup. Rinduku ini tak semata mata menginginkan raganya untuk kembali menemaniku seperti dahulu, namun kenangan itu kawan! Ingin rasanya kembali kecil lagi, agar dehaman nina bobonya bisa kudengar dan kuhayati lagi, agar nasihatnya bisa kulaksanakan kembali, dan yang paling kurindukan darinya adalah tatapan matanya kawan, terlampau menyejukkan! Bisa saja bulu romaku berdiri dibuatnya. Mungkin itu alasan mengapa ibu tertarik dengan Ayah, ya?

Menurut penjelasan ibuku, nama 'Bintang' ini berarti benda di langit yang berkilauan. Sekiranya itu adalah harapan pertama orang tuaku sejak aku dilahirkan di bumi pertiwi. Tau kah kau siapa yang mengusulkan nama ini? Pak San, kawan! Pak San! Nelayan senior yang kupuja sepanjang masa. Walau sudah setengah baya, namun kemampuannya memancing selalu saja bertambah, seakan tua bukanlah halangan untuk tidak melakukan yang dicintainya, bahkan akhir akhir ini beliau sering pergi berlaut denganku. 

Secara postur dan dandanan tubuh, aku tak jauh beda dengan teman temanku lainnya--sama sama beringus, berbadan kurus, berkulit kering- hitam kelam. Namun aku tak pernah sekali pun bergaul dengan mereka, aku tak pernah bermain bola- memegang pun tak pernah! Aku juga tak suka berlari, mengejar satu sama lain- berteriak hingga bisingnya sampai menyetrum telinga tetangga, atau bermain layang layang- mengikuti angin- kesana kemari. Semuanya terlampau membosankan! 

Aku adalah anak yang dilahirkan untuk menikmati buana, kawan. Aku yakin alasan Tuhan memberi nyawa ini adalah agar aku bisa menghirup kebebasan dan belajar dari alam. Sungguh aku mencintai semesta ini!
Tau kah kau kawan, apa yang kulakukan disunyi senyapnya malam? Dikala hanya makhluk nokturnal yang bersenandung bernyanyi- terbelalak ketika hendak memakan mangsa; dikala manusia tak lagi terjaga- terlarut dalam angan malam- tenggelam dalam mimpi yang seakan nyata dan benar terjadi; dikala hanya aku dan perahu saja yang memaksa sungai untuk membawaku ke lautan- menyogoknya agar mau memantulkan cahaya bulan- agar malam itu--malamku--terasa begitu sempurna, begitu lengkap, dan sakral.
Angin laut yang berhembus menyibak rambutku yang telah memanjang ke atas, bak rambut tentara namun tak jauh beda juga dengan rerumputan liar yang tumbuh semaunya di atas bumi;
Binar rembulan yang sempurna menghadap langsung ke arah bola mataku, mengisyaratkan bahwa kini Dewi Malam tengah bertugas menggantikan matahari dan mulai menyinari jagad raya- menerangi bumi- menemani makhkuk yang hidup di malam hari. Pernah sekali ia berbicara denganku, katanya ia amat menyukai situasi damai dan sunyi, namun ia kecewa karena tahun tahun belakangan ini kedamaian yang ia nanti nanti dirusak oleh suara klakson mobil dan deru sepeda motor. Memprihatinkan. Mengenaskan;
Air yang terasa dingin, membekukan, kini mulai kusentuh permukannya. Perlahan lahan searah dengan laju perahu yang tengah terombang ambing dan terseret angi. Hmmmm.. Teramat damai, tenang, syahdu. Laut yang tenang, tak bergelombang, yang telah kujadikan sahabat sejatiku. Setiap kali aku merasa gelisah, hanya laut yang mampu menenangkan gejolak hati, ketidak tentraman batin, dan kepenatan yang kupendam, terlebih pada saat aku merindukan sosok Ayah. Ketika air mata mengalir deras, berharap beliau yang hanya dapat kudoakan dan kukenang mampu kembali lagi, ketenangan yang kurasakan dari hasil sentuhan permukaan air laut lah yang menghentikan semua kesedihan. Ajaib, ya? Ya, ajaib.

Hari ini hari Kamis, tanggal 31 Desember. Aku yakin, teramat yakin, pasti orang orang kota tengah mempersiapkan kembang api yang megah untuk turut memeriahkan pergantian tahun. Aku tak habis pikir, kawan! Mengapa pergantian tahun seakan akan begitu dinanti? Apa yang membuat pukul 00.00 itu teramat berharga? Mengapa detik itu mereka bersuka cita merayakannya? Bukankah untuk memperjuangkan hal berharga, dan melaksanakan resolusi hidup memang sudah sepatutnya dilakukan di tiap waktu selama nafas masih behembus? Heran! Seribu kali terheran dengan pemikiran macam itu! Seharusnya mereka iri denganku, iri karena tidak bisa menatap kelipnya bintang sepanjang malam yang pasti melebihi kemegahan yang dipancarkan kembang api, suaranya tak perlu keras bak petasan namun menyejukkan dan menetramkan hati. Aku berani bertaruh, kawan, dalam hal bertelepati dengan alam aku lah jagonya! Gilanya lagi, pernah sesekali aku berpikir mengapa tak kupilih hidup dengan alam saja? Rasanya aku telah terlena dengan segala keindahannya, tak mampu diungkapkan!

Ah itu dia! Sang kembang berwarna warni, yang konon mampu membuat banyak orang tercengang, yang mitosnya mampu membuat semua orang terheran dan berfikir "perayaan apa ini?". Aku? Aku, sih, tak percaya, tek benar adanya benda yang bernama kembang api itu memang kembang di hati banyak orang dan membuat pikiran seakan berapi untuk merayakan peristiwa berharga. Bintang gemintang dan sang rembulan lah kembang langit sebenarnya.

Ah sudahlah. Biarlah kini Dewa Hermes melindungi malamku ketika aku mulai memejamkan mata. Terdampar pun tak masalah. Biar kini kumenyendiri sedikit lebih lama, menghiraukan hiruk pikuk keramaian kota, dan menutup telinga dari bisingnya petasan hasil dari mekarnya kembang api di langit. Biar kini damai yang menyelimutiku bertahan lebih lama, biar pula ku persilahkan ketentraman menyelubungi di tiap detik jantung berdegub. Sayhdu, kawan. Syahdu.

No comments:

Post a Comment