Wednesday, 27 August 2014
Ibu Pertiwi
Ibu Pertiwi, sang induk dari anak anaknya kini. Bertubuh tegak, masih bernapas walau kadang tersengal sengal mencoba mengejar kawan kawannya yang terlihat maju mendahului, dan masih hidup. Beliau merdeka dalam ucapan. Jajahan, tumpah darah, dan gencatan senjata, memang sudah tak lagi berada dalam ruang geraknya, namun kelihatannya beliau terkadang masih terisak perlahan dalam keheningan. Berusaha tetap tegar, dan mencoba membangun pertahanan dalam yang lebih kuat agar tak semaunya kawan lain menyakiti dan mencuri yang dimiliki. Namun tegar pun ada batasannya. Banyak alasan yang membuat Sang Ibu menitihkan air mata, menjatuhkan yang ia pendam, dan membuka perasaan. Menyebarluaskannya. Malu, dan prihatin, mungkin itu yang tengah bergejolak dalam hati dan pikirannya tiap kali memandang sekeliling. Berita di televisi seakan tak pernah sedetik pun lalai untuk melaporkan peristiwa yang sedang, akan, atau sudah terjadi. Dan yang lebih mengenaskan adalah hampir semua berita memaparkan tentang permasalahan politik, ekonomi, dan segala mengenai kedua hal itu.
Masalah...masalah. Mengapa tak kau kunjung selesai dan sudahi tikaman yang terus kau tusukkan pada Ibu Pertiwi? Lihat.. anak cucunya mengemis, memulung, merampok, memakan sampah, berkeliaran tak tentu arah, mengucapkan kata pahit yang ditujukan padanya, mencaci keadannya, mengkritik setiap yang ada, menghujat kegiatannya, menghakimi segala tentangnya. Beliau sedih, beliau menangis, beliau sakit hati. Ibu.. Bertahanlah.
Lalu siapa kini beliau bergantung? Siapa kini yang beliau percayai untuk dapat membantu menyudahi masalah? Seakan semua orang mengkhianatinya. Banyak anaknya yang berkata bahwa mereka mencintai Ibu mereka. Munafik. Mungkin pengkhianatan yang selalu dirasa Sang Ibu, atau pilihan kesendirian dan keterpurukan juga ada dalam paketnya? Ibu.. Tetaplah berdoa.
Ibu, jika ragamu berupa manusia, mungkin kau lah yang selalu kami puja tanpa kami berani menginjak area kekuasaanmu, mungkin kau lah satu satunya manusia yang akan kami penuhi segala perintah dan kemauan, karena atas jasamu yang selalu setia berada di mana pun kami berada, menjaga kami. Kami akan sungkan membicarakan segala hal mengenai Ibu, terlebih menghujat dan menghakimi.
Teruslah berjuang, Ibu. Anak anakmu akan mencoba memperbaiki keadaan, agar kau tersenyum melihat kami, menitihkan air mata kebahagiaan, dan akan selalu merdeka dalam hal segala, tak hanya ucapan tanpa bukti nyata. Terimakasih, Ibu.
Tuesday, 12 August 2014
Derita.
Aku melihat derita di matanya. Seakan tatapan yang ia tujukan padaku adalah tanda kesdihan, kepedihan, dan duka. Tusukan pancaran matanya menyentakku untuk ikut merasakan kesakitan yang dirasa. Sentuhan tajam pupilnya menyeretku pada kehancuran, dan emosi yang tak karuan. Hantaman tatapannya merasuki jiwa, refleksi pikirannya terpancar. Pisaunya menyentuh lubuk hati, menusuk dan menyilet, mencabik, dan mengoyak. Perih.
Ia menatap hanya dalam hitungan detik, lirikan terakhirnya menyadarkanku, seakan hipnotis yang ia lakukan padaku sudah tak berlaku. Detik itu aku terhenyak, menata pikiran, dan mengatur napas. Ia, yang merupakan anak kecil, berkulit hitam, kelihatan tak berisi, berbaju ala kadarnya, dan pemilik tatapan tajam berjalan berlalu... menjauh... acuh.
Langkah demi langkahnya kuamati, kuteliti. Kuawali dari kakinya yang tak beralas, kotor, ditempeli semua macam debu termasuk benda-benda yang diinjak. Menjijikan! Celananya pendek- di bawah lutut, kulitnya yang legam membalut tulang kering, dan betisnya... gosong terpanggang matahari. Kaosnya berwarna merah, terlihat luntur, dan sobek di pundaknya, sepertinya ia tak pernah mengganti pakaian, tapi ia tak peduli, jalannya santai dengan hiasan kibasan tangannya yang berkipas kecil dan pelan mengikuti irama kaki. Rambutnya merah karena paparan matahari, teracak, dan panjang. Kuamati orang orang yang berjalan di sampingnya, melirik dengan penuh arti. Muak.
Bak sampah? Itu kah tujuannya?
Ia mengambil karung, kemudian mengais sampah, mengambil plastik dan bekas wadah makanan lainnya. Ia berjalan menunduk, berharap menemukan yang ia cari, agar usaha menahan panas, haus, lapar, dan juga malu bisa terbayarkan dengan uang yang digunakannya untuk mengisi perut. Mungkin sesekali ia menangisi keadaan yang begitu kejam berbuat hal ini padanya; mungkin sesekali ia terisak karena lelah menahan kepedihan, kekejaman, dan penuh dengan ketidakadilan hidup yang ia jalani; mungkin sesekali ia hanya membisu... diam seribu bahasa, membiarkan semua permasalahan ada pada pikirannya, membiarkan emosi bercampur aduk, membiarkan harapannya tak terucap, membiarkan matanya yang menggambarkan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Tak heran ia bertatapan tajam, yang ia harapkan hanyalah waktu untuk membinasakan derita hidupnya, tapi ia tak tahu kapan harapannya akan terwujud, ia tak tahu kapan harapannya akan terwujud. Ia tidak tahu.
Kini pekerjaannya telah usai, saatnya untuk mengambil upah. Raut wajahnya datar, tak ada kesan senang setelah berhasil bekerja di bawah panasnya sinar matahari. Raut wajahnya datar, tak ada syukur yang setidaknya terlihat dari binar mata setelah pekerjaannya sudah selesai. Raut wajahnya datar.
Ia kemudian berjalan sama seperti sebelum ia masuk dalam kandang lalat, perlahan dan mengibaskan tangannya yang mengikuti irama kaki. Rupanya ia tak melihatku yang tengah mengamati sedari tadi. Kuteliti kembali disela lengkah yang diambil. Kakinya masih sama: tak beralas; celananya masih sama: pendek di bawah lutut, menutupi tulang paha, kering, dan betis yang dibatul kulit hitam yang semakin mengkitam; kaosnya masih sama: berwarna merah, dan sobek dipundaknya; rambutnya pun masih sama: merah, teracak, panjang. Namun seiring dengan tatapanku yang tengah menghakimi penampilannya, tangannya mengepal, menggenggam uang hasil jerih payah, mengepal lebih kuat hingga otot dan pembuluhnya terlihat, mengepal hingga kelihatannya kuku tajamnya melukai telapak tangan, mengepal seakan ia akan menghantam sesuatu yang ia benci, dan ia terus memperkuat kepalannya detik demi detik. Ia berlari, sangat cepat, menjauh, melawan setiap orang yang menghalangi hentakan kaki tak beralasnya, menabrak siapa pun yang menghambatnya untuk berlari.
Mungkin ia sudah sadar apa yang perlu dilakukan agar waktu mampu membunuh derita, dan kepedihan yang dialaminya. Agar ia tak lagi segan untuk bermimpi tinggi, dan melulu dikecewakan oleh keadaan. Mungkin ia sudah tak sabar mengubah nasib dan berusaha memperbaikinya. Langkahnya cepat, lebar, dan hentakannya tegas. Ia berlari mengejar apa yang ia impikan. menjemput waktu yang akan datang, yang ia harap akan berperilaku baik terhadapnya. Ia berlari mengejar masa depan.
Tuesday, 8 July 2014
Kara.
Aku mencoba menghibur diri, berjalan menjauh dari masalah yang tengah menimpaku akhir akhir ini, melangkah dan meninggalkan sementara segala rasa gundah gelisahku yang tengah ku rasa, karena kini yang ingin ku rasa hanyalah ketenangan dan kedamaian dalam diri. Aku bukanlah manusia dewasa yang merasa terbebani dengan pekerjaan dan segala tekanan dari pimpinan, aku bukan pula seorang remaja yang sedang galau akibat kisah asmara yang kandas di tengah jalan, aku hanyalah seorang remaja yang sedang merasakan kepedihan dari permasalahan hidup dan mencoba untuk memperbaikinya.
Pernahkah kamu merasakan sesak saat semua yang berkecimpung di dalam pikiranmu bersatu padu membentuk bola besar, seakan terdapat magnet dalam pusatnya yang menarik segala bentuk pemikiran dan permasalahan menjadi satu? Pernahkah kamu merasakan seakan badai besar tengah terjadi dalam otakmu, yang menarik segala di sekitarnya dan dengan sengaja melemparkan ke berbagai tempat dan ujung di ruang otakmu? Pernahkah kamu merasa bahwa tsunami tidak melulu terjadi di dunia, bahkan di pikiranmu pun itu terjadi dan seakan-akan dengan gelombang mahadahsyatnya meluluhkan segala daya pikirmu dalam waktu sekejab? Apa bila masalah adalah secarik kertas, yang akan kulakukan adalah meremasnya menjadi bola kecil lalu kuinjak sampai tapak sepatuku membekas pada tiap bagian bola kertas, lalu kulemparkan pada lubang yang mengarah pada pusat bumi dengan sepenuh tenagaku, ya, akan kulakukan itu semua.
Aku tahu ini terlalu panjang, dan tentu membosankan, aku minta maaf, kawan, aku hanya ingin mendiskripsikan apa yang terjadi pada diriku dan tak ingin melibatkan perasaanmu, aku tak ingin dikasihani, aku tak menginginkan itu.
Tapi kali ini, seperti yang kukatakan tadi, aku ingin melepas bebanku, akan ku ajak kamu untuk menjelajahi belakang rumahku yang lapang, aku tak tahu pasti di sana terdapat apa dan berujung ke mana, aku inginkan kamu untuk menemaniku.
Oh iya kawan, aku lupa untuk memperkenalkan diri. Namaku Kara, orang tuaku memanggilku Ara. Namaku berartikan sinar cahaya, sesuai kamus Sansekerta, dan aku bersyukur kedua orang tuaku memberi nama indah dan bermakna.
Aku tahu betul, penjelasan mengenai bencana alam di otakku tidaklah begitu penting, tapi setidaknya kamu mengetahui mengapa perlu kuajak kamu untuk melihat belakang rumahku. Ya, aku hanya ingin melepas masalah walau berdurasi sementara.
Sore ini aku berjalan manjauhi rumah, berpetualang dan membuka mata akan indahnya keajaiban dunia, mengambil langkah langkah kecil seraya menghirup udara segar, ini sungguh tiada duanya! Beruntung rumahku jauh dari hiruk pikuk kota, beruntung aku kini berada di sisi alam. Ilalang yang berbadan tegak dan berkepala merunduk menyambut kedatanganku dengan berayun kecil seiring irama angin, bernyiur bergesekan satu dengan yang lain. Jalan kecil yang kulewati menandakan bahwa daerah ini adalah daerah kekuasaan alam, mereka yang mempimpin dan mengatur setiap ujung tanpa saling berkomunikasi, semua berpikiran seragam, sedangkan dalam ragam, warna, dan keluarga, mereka berbeda. Aku tak mengerti tujuan langkahku, aku hanya yakin bahwa makhluk hijau disekelilingku akan menuntunku menuju tempat yang sebenarnya ingin kutuju. Sekelompok burung terbang mengudara, mengepakkan sayapnya sesekali, kemudian merentangkannya sehingga angin menyangga kedua sayap agar tetap stabil, mereka bergerombol berkeliling seakan menari dihamparan lautan langit, berformasi, teratur, berirama, mereka berlenggak lenggok di udara dengan bebas, tanpa paksaan untuk bergerak sesuai aturan, mereka menikmati tiap detik yang diisinya dengan tarian, indah bukan main! Aku terus berjalan menjauhi pertunjukkan tarian sekelompok burung, dan tetap memandang dengan takjub sekitarku, betapa berkali kali kuucapkan kata syukur pada Sang Kuasa, aku benar benar bersyukur merasakan kehangatan pelukan alam. Selanjutnya aku melewati dan melompati beberapa retakan tanah, dan hal itu tentu bukan suatu masalah, serangga serangga kecil lewat tanpa permisi di depanku, beberapa dari mereka terus melangkah maju, dan beberapa lainnya terbang, mereka kecil dan mereka hidup, mereka indah. Alam ini tidak pernah habis habisnya menunjukan dan memamerkan apa yang ia punya, seakan segala isinya akan bermetamorfosis menjadi hal yang mampu membuat mulut tak hentinya berterimakasih pada Tuhan, dan mata yang tak hentinya memandangi keindahan tanpa berkedip. Kini langkahku dihadang beberapa tumpukan batu, tak segan aku naik walau kadang lumut menyeretku turun dan aku terpeleset, aku penasaran, kejutan apa yang akan kulihat lagi? Aku menjejaki berbatuan, perlahan tapi pasti aku sampai di puncaknya. Coba tebak apa yang kulihat? Hamparan alang-alang? Bukan. Hutan? Bukan. Aku di atas bukit, kawan, dan kini adalah detik detik di mana bulan akan menggantikan tugas matahari untuk menerangi sekaligus mengawasi bumi, dimana langit biru akan digantikan dengan gelapnya malam yang bertabur bintang, peralihan ini sungguh menakjubkan! Coba lihat langitnya, kawan, berwarna jingga tanpa ada awan yang melayang. aku tercengang. Lihatlah saat matahari menenggelamkan dirinya, mempersilahkan bulan menempati tahtanya, bintang bak berlian yang menolong para pelayar yang tersesat untuk dapat kembali pulang, atau menemani anak kecil yang belum bisa tertidur, bermimpi mengambil satu dari berribu. Rasakan udaranya kawan, seakan mengikuti sang tuan, kini suhu mulai turun, bertugas menyelimuti hati yang sakit, menjelajahi sebagian bumi, setia mengisi paru paru. Kini lihat raja langit, ia bersinggasana pada posisi yang tepat, seakan mengumumkan bahwa malam telah datang. Cahaya putihnya bersinar cerah, Raja Langit terlihat sempurna. Tuhan, Mahakuasa Engkau.
Aku beranjak pulang, setelah bertepuk tangan dan melelehkan air mata atas pertunjukan alam yang mahaindah, jalanku diterangi oleh banyak kunang kunang, mereka seakan tengah memamerkan cahayanya untuk memanggil lawan jenis, dan tentu memamerkannya padaku dan kamu, kawan.
Aku tiba di rumah dan mulai mengambil air wudhu. Aku bersyukur aku berada dalam pelukan alam.
Friday, 27 June 2014
Ayah...
Ketika perlahan ia membuka buku itu, memejamkan matanya sesaat seraya membacakan surah Al-Fatihah, tak bersuara, cukup bibir saja yang memperjelas tiap ayat dan tajwid ia baca. Raut wajahnya menggambarkan kerinduan mendalam yang sepertinya telah lama ia simpan, dan enggan untuk diperlihatkan.
Bola matanya mengikuti alur jari yang tengah menunjuk pada bacaan berhuruf Arab, Firman Tuhan. Ayat demi ayat ia baca. khidmat, khusyuk. Di depan makam ayahnya ia melepas rindu, dan kembali mengingat waktu bersama ayahnya dulu, semua seakan tergambar di sela doa yang ia panjatkan, pasti banyak hal yang sedang bergejolak di hatinya, banyak hal yang sedang mengerumuni pikirannya.
Air matanya.. ya.. Aku melihat setetes air matanya mengalir perlahan dari pelupuk mata hingga pipi kemudian jatuh meninggalkan tapak pada buku yang ia baca. Ia usap bekas lajur air mata dengan jemari, kemudian ia konsentrasikan kembali untuk membaca ayat suci. Sungguh, seakan setruman itu menyengatku, membuatku berfikir bahwa ia adalah wanita yang tegar, yang tabah, dan kuat.
Ia menutup buku itu, menghela napas, memejamkan mata, dan menunduk. "Ayah.." Begitu rintihnya.Ternyata ia sedang menceritakan perjalanan hidupnya, ia bersuara sangat kecil, bahkan terkadang berbisik. Ia terisak perlahan, meneteskan air mata, semakin deras, hingga ada saat dimana ia terlihat ingin menjerit namun ia tahan dan tetap menangis, menangis dalam diam.
Namun waktu telah memberinya kesempatan untuk menyembuhkan duka, dan juga membagi bahagianya. ia tak lagi tertunduk, ia kembali tegak dan memandang nisan sang ayah. Mungkin ia telah puas menceritakan semuanya. Ia menyunggingkan senyum, senyum yang menggambarkan ketabahan, dan kesiapan untuk menatap semua yang ada di depan. "Terimakasih, Ayah. Assalamu'alaikum." Begitu kata yang terucap sebelum ia berdiri dan meninggalkan makam ayahnya. Ia berjalan berlalu, dan hanya meninggalkan bekas tapak sepatu pada tanah, seakan mengisyaratkan bahwa ia akan kembali datang. Ia pergi.. menjauh.
Wednesday, 25 June 2014
Perpisahan
Mungkin perpisahan merupakan tema yang sedang hangat yang tengah berkecimpung di pikiranku. Aku tak bisa dengan mudahnya melepas kenangan dan melupakan kebersamaan kita. Entah energi apa yang selalu mengajakku berfikir untuk bisa kembali memutar waktu agar tetap dapat merasakan hal hal absurd bersama kalian, kawan. Ya sejujurnya aku rindu, rindu akan semua, tetapi kenyataannya sekarang kita harus memilih jalan kita masing masing untuk menggapai apa yang telah kita impikan.
Mimpi yang telah kita rangkai bak puzzel sedari dulu itu kini mulai menampakan gambar, dan setiap kepingan penyusunnya (aku yakin) akan terasa begitu berharga. Kita mulai mengenal jerih payah, yang di dalamnya terdapat usaha dan doa; pengorbanan, yang tak lain pengorbanan waktu; dan penghargaan, yang kita dapat setelah keduanya berhasil kita lalui. Hmmm... Apa bila saat ini aku diberi satu harapan, harapan itu pasti keinginanku untuk kita agar dapat merasakan kesuksesan bersama, merasakan kebahagian hasil jerih payah.
Aku terbayang jika kelak dewasa nanti setelah belasan tahun tak lagi bertatap muka secara langsung, kita berjumpa, dan satu persatu dari kita menceritakan hasil kerja keras yang akhirnya bisa kita nikmati. Satu persatu dari kita menceritakan kembali masa masa di mana kita dulu bersama, masa masa lugu, dan masa polos kita. Aku percaya, bahwa Tuhan sudah tepat menempatkan masa remajaku untuk kulewati bersama kalian, menjalani hari hari dengan berbagai rasa, dan kali ini aku mengerti arti sebuah persahabatan, karena hadirmu kawan.
Teruntuk: keluarga Bryffindor.
NB: ciyus aku kangen.
Monday, 16 June 2014
GRADUATEEEEED!!!
Terimakasih kepada Tuhan Yang Mahasegala; terimakasih kepada orang tua dan saudara yang tak putus putusnya mendukung dan mendoakan; terimakasih kepada Bapak-Ibu guru yang telah membimbing; terimakasih kepada sahabat setia, Bryffindor. I FINALLY GRADUATE!!!
Setelah 3 tahun berbalut baju berwarna putih biru, akhirnya dengan hasil memuaskan yang tak luput dari perjuangan dan doa yang tiada putus putusnya, aku lulus. Ya, lulus dan berhasil melukiskan senyum bangga orang tua, dan menjadikan tangis mereka pertanda bahagia. Sungguh tak ada kebahagiaan berarti selain mendengar kata bangga yang terucapkan dari orang tua. Aku menyangi mereka. Sangat menyayangi.
Namun tak berarti juga apabila perjuangan hanya dilakukan seorang diri. Aku sangat beruntung bisa diberi kesempatan untuk dipertemukan dengan sahabat sahabatku, ya, Bryffindor. Entah kata apa yang sanggup mendiskripsikan setiap kenangan yang kami lalui, yang kami hadapi, yang kami jalani. Hari hari bersama mereka adalah waktu berharga, karena setiap memori yang akan kami gali nantinya ada di setiap detik yang telah kami lampaui. Untuk jujur, dari hati, aku tak ingin berpisah dengan mereka, melepaskan tangan tangan mereka, dan berucap sayonara diujung pertemuan terakhir. Aku masih ingin mengisi waktu luang dengan bercanda gurau, mencurahkan kisah dan keluh kesah, dan mendengar teriakan semangat dari tenggorok mereka yang menandakan kekompakan. Sungguh, aku menyayangi mereka. Sangat menyayangi.
Aku tahu seharusnya kutulis bagian ini di bagian paling awal, tapi menurutku ini adalah tulisan yang paling berarti diantara yang lain.
Tuhan. Tuhan telah memberiku berbagai macam hadiah. Aku telah diberikan-Nya orang tua yang begitu mengerti aku, dan teman teman yang selalu ada di setiap suka dukaku. Begitu banyak yang perlu aku syukuri. Aku masih diberikan napas dan kesempatan untuk membanggakan kedua orang tuaku, dan melihat canda tawa dan tangis sahabat sahabatku. Setiap detik aku hidup adalah detik yang begitu berharga. Sungguh tak luput dari kuasa-Nya hasil yang kemarin aku terima, Tuhan mengiyakan keinginanku, mengabulkan doa malamku, mendengar rintihanku, memeluk mimpi besarku, dan menjadikannya nyata. Untuk kesekian kali aku berkata jujur, jujur, aku merasakan kasih sayang-Nya di tiap takbiratul ihramku, merasakan sengatan kekuasaan-Nya di setiap ayat surah suci-Nya, merasakan keagungan-Nya di setiap sujudku, merasakan rahmatnya di sela ucapan doa tasyahud akhirku, dan kurasakan begitu Maha Segala Tuhan di setiap tengokan salamku. Entah kata apa yang mampu memperinci kecintaanku pada-Nya. Sungguh aku menyayangi-Nya. Sangat menyayangi.
Kawan, memang benar hidup itu bak buku yang terdiri dari beberapa bab dan diisi berratus halaman yang di dalamnya dituliskan peristiwa dan hal menakjubkan. Semuanya juga sementara, tidak mungkin juga kita terus menerus membaca pada satu halaman yang terdapat cerita suka ataupun duka. Semuanya akan berlalu, menuju pada akhir bahagia. Semua sudah diatur oleh Sang Sutradara. Bermimpi, usaha, berdoa, dan jalani. Semua akan indah pada waktunya.
Friday, 6 June 2014
the power of 'words'.
Memaparkan kata demi kata yang dirangkai menjadi paduan utuh yang dapat memberikan gambaran brilian melalui tegangan imaji bervoltase tinggi.
Aku ingin menjadi sepertinya..
Yang memberikan kekuatan magis pada tiap gambaran yang beliau salurkan hanya dengan serangkaian kalimat, dan membuat seluruh bulu kuduk terpenjat, terkejut.
Ya, aku ingin sepertinya..
Yang menyatukan gandengan kalimat menjadi suatu paragraf yang tidak kalah mencengangkan, menyetrum jantung dan ulu hati, yang awal dirasa madu, hingga merangkap dan meringkas kejadian dan hal hal pilu. Kelu.
Ah, ya.. Lembaran demi lembaran beliau isi dengan beratus huruf, beribu imaji, dan beratus ribu pemikiran yang berkecimpung di dalam otaknya. Beliau bumbui hal menakjubkan yang selalu terasa pekat dalam tiap kata yang beliau ketik dengan jemari seninya. Lembaran lembaran itu dijadikannya mozaik. Cerita, pengalaman, peristiwa hidup. Warna, dan rasa ada di setiap penggalan pengalaman yang beliau lewati, tempuh, lampaui, dan beliau alami. Dengan seluruh hati beliau tuliskan rangkaian kata indah yang aku yakini tiap detiknya selalu ada saja kata ajaib yang mengantre untuk dipampang di atas benda tipis melalui perantara tinta hitam. Begitu ajaibnya beliau menyalurkan gambarannya melalui kata pada setiap orang yang memandang, membaca hingga mengubah raut wajah ditiap babaknya, dan ikut menjelajahi imaji yang tak terhitung berapa luas, tak terkira berapa besar, tak terbayangkan pula di mana ujung dari ujung yang mana.
Ya.. Mulia kata katanya, mampu menggenggam tiap peristiwa, menggambarkan tiap kejadian, memperkuat situasi, kondisi, dan gambaran isi hati.
Kata kata adalah hal yang menakjubkan. Sungguh menakjubkan!
Jika kelak aku dewasa, aku ingin menjadi sepertinya..
"Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang." - Seno Gumira Ajidarma
