“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Saturday, 20 April 2019

Pukul Tengah Malam



aku melihat gerimis sepanjang getir bibirmu yang getar,
muara dari genangan payau yang kini perlahan memudar.
tampaknya hatimu sedang ingin membisu, terpahat dalam
wajahmu di bawah  remang rembulan sendu. tetaplah tegar,
Tuan, sebentar lagi fajar akan kembali bangkit, maka kuha-
rap isakmu yang kau endap dalam dalam segera berakhir baik.

selang sebentar, tolehmu padaku berperan sebagai refleksi,
aku diberimu tatap lekat yang jatuh tepat pada nurani. iba. te-
ngadah tanganmu tak kurasa lagi ada doa, kukira yang tersisa
kini hanya kumpulan nestapa. ingin kutanya mengapa namun
sungkan, ingin kutanya alasan namun segan.

kembali kau telusuri sanubari, dalam netramu kutemukan ba-
yang sungkawa berlutut memohon lapang sembari teriakmu
hening dan gamang. terukir di wajahmu kepalan rahang, se-
kiranya murka dan dukamu  tidaklah lekang. aku bersedih,
bahkan tanpa tutur, kau dapat gambarkan bahwa kau berang.

persilakanlah aku untuk berterus terang, Tuan, gundahku satu:
ada apa gerangan? jangan jadikan pundakmu tumpu ribuan be-
ban! maukah kau bersedu-sedan di dalam dekap tatkala kuulur-
kan tangan?

kepala kau gelengkan lunglai.

bibirmu berucap: enggan.

pukul dini hari, lirih bisikmu berkata kau jera dalam perangkap,
berlari ke utara jeritnya: tangkap! berlari ke timur pekiknya: ser-
gap! tanpa tahu tak lagi ada pintu untuk bisa kau buka, tanpa 
peduli tak lagi ada mandala yang dapat kau tegakkan kuasa.
deru tambur hanya sejengkal dari massa, tak hanya bersuara
bising, dari berbagai penjuru mata angin kau disuguhinya dering.

adalah gema dalam otakmu berkata: acak! susah - payah - lengah;
acak! sakit - terbirit -  sengit; acak! hilang - malang - buang; acak!
amuk - cambuk - carut marut;

kau mengerang lara,

acak! acak! rancak! gercak! acak!;

acak! cakak! acak! acak! rancak!;

meraung merana.

tidak! acak! rancak! acak! rancak!;

tidak acak! rancak! tidak acak!

ditutupmu kupingmu ketika pekikmu berdenging nyaring, di te-
ngah sunyi kau melolong muring, menjerit kering, kalang - kabut, 
kocar - kacir, 
pontang - panting.

di hadapanku adalah peristiwa duka.

lututku tak mampu menyangga sedih dan sesakku. aku dilumat
emosi kecewa, dilahap raksasa gagap, gelisah. runtuh kesang-
gupanku menyaksikan pilu begitu nyata, begitu dekat, begitu....

fajar telah tiba, Tuan, pendar baskara mulai merekah, kokok ayam 
bersahutan membangunkan jiwa yang resah.

aku paham, bangkitmu pagi ini dari dekap lututmu memberiku tanda 
agar kembali menemuimu. sampai jumpa di pukul yang sama, aku
harap akan ada lain cerita, terlepas teriakmu yang tak dapat diredam,
dan lamunanmu yang sama saban malam.

Saturday, 9 February 2019

Pulang

Aku mengetahui kabarmu dari setiap jejak yang kau tinggalkan di atas kertas, bertinta hitam; sebagian berbait, sebagian lainnya beralinea. Selalu kubaca kisahmu dalam tikaman sunyi, Tuan, cukup detak dan detik saja yang menemani, lebih sering kuremangkan lampu dan kubiarkan udara menyusup relung; bisikanmu kala membacakannya selalu menjadi penawar kesendirian, dan hangatnya genggammu selalu berhasil menyisik nestapa. Sayang, kau hanya sebatas fana, sedang khitahku adalah baka.

Sekali waktu pernah kau kirimkan partitur. Tulismu dengan indah: mainkan jemarimu, rinduku kububuh di setiap nada. Di atas tuts jemariku menari, mereka menyuguhkan ketenangan dan merebak keharmonisan. Makin lama gelombang senandungku bersimpai dengan milikmu, perlahan kurasakan selaras. Andai kubisa menebus dan membunuh jantung penyesalan, tidak mungkin kurasakan perih dan duka mengingatmu begini dalam.

Suratmu kunanti saban bulan, di beranda ia akan datang, pak pos akan mengetuk jendela sebelum memberiku salam dan sapa; lalu kutunggu agar malam menjemput, menemaniku yang sedang memangku duga. Lima tahun sudah berjalan, akan kah kau terus bertahan?

Di akhir suratmu selalu kau goreskan kecup kasihmu yang berupa kalimat, berbunyi: sehari-hari aku menjadi tawanan rindu, tampaknya keadaan selalu berseberangan dengan keinginan, keberpihakan rasa dan waktu tidak pernah sejalan; tidak tahan lagi aku dicekik ribang, biarkanlah aku pulang.

Saturday, 29 December 2018

Lima Tahun yang Lalu

"Sudahi sajalah, biar kukembalikan lagi yang menjadi seharusnya milikmu. Aku tidak perlu mendengar sanggahanmu untuk tidak menerima yang selalu kau minta," tuntasku dalam suatu waktu padanya.

"Taruhlah di atas koperku, bertolak saja segera jika itu yang kau mau," pandangannya hampa, yang tersisa hanya hening, sudah kubuat mati kuasanya untuk bertanya. Kita sepakat untuk hengkang dan memilih menyerah. Sekali pun aku yakin teriak dalam pikirnya terus membangkang, sudah tidak lagi ada jalan. Buntu.

Tidak kurasakan ada tangan yang selalu mencegahku kali ini, "mengapa kau baru memberi tahu kali ini?" aku tetap bungkam, "aku bertanya," ucapnya.

"Sudah ketiga kalinya kau bertanya, kau butuh jawaban yang seperti apa lagi?" aku tidak pernah menjawab sedari pertanyaannya yang pertama, aku belum siap untuk bisa mengungkapkan yang sejujurnya. Ketulusannya membuatku sengap, "tidak ada lagi yang perlu diperinci, kau juga sudah menerima untuk tidak bertahan kan? Pilihanmu tepat."

"Aku bertanya sungguh sungguh. Tidak satu pun kata darimu menekankan di mana letak kesalahan episode ini," ia melik jawaban, memaksaku berterus terang. Aku enggan, khawatir akan membuncah dalam isak, aku belum siap.

"Karena pikirku, bagian ini masih dapat dipertahankan dalam kondisi tawar, tapi sudah tidak lagi ada daya dalam rasaku untuk terus mengiyakan. Aku lelah bersikukuh melawan ego," sekuat tenaga aku meredam tangis, "yang seharusnya aku lakukan adalah meminta maaf pada diriku sendiri lebih dulu."

Aku bergegas melangkahkan kaki ke luar, tanpa berpamitan terakhir kalinya. Ekor mataku menangkap pandangnya menjauhi kepergianku. Perannya berujung lara.

Sunday, 11 November 2018

jeda.

buatlah Nona lelap sejenak
dari tanya yang tak kunjung reda
dari bimbang yang kian membuncah
menghunjam relung dari segala arah
Nona lelah

selimutilah Nona dalam dekapmu
karena deru bising buatnya makin renta dan kaku
ia terpaku malu dan terkurung dalam ragu

sejenak Nona larut dalam gamang
kembalikanlah ia pada terang
buatnya merasa kembali disayang

sembunyinya tak mempan
memertahankan kesemuanya adalah siksa



Monday, 24 September 2018

malam.


kau memangku hening, melanting
gulita beradu maya
menerkam singgasana lentera
derit pintu diembus
sila pawana menusuk atma

mematung beralas geta
tenggelam di dalam
hujan, sepintas deras
gemercik tidak mampu membangunkan
sunyi yang masih abadi

teriakmu pada rindu
bisu terdengar lantang
di dalam bola matamu
tenggelammu mutlak bersama haru

malam menua
memalu duga pada kias
mengemas cemas, menyeka gulana

Sunday, 26 August 2018

Ratu #1

Kepada Barat kepulanganmu kunantikan
setelah lembayung merekah bersemayam
dalam Suci kukembalikan empunya atma
yang cabul dan lata dalam rangkai perkara

Sudah sepanjang batas hingga buntu
coba kucekal derumu, kukejar larimu
kini kikis asaku, tak berujung bertemu
kembalilah pada peraduan, wahai Ratu
Batara menunggu merengkuh jabangmu

Tenggelammu sekali waktu menyulut gempar
desus mengabarkan di seberang kau terlantar
untai jiwa mana yang tak akan meranggas?
mendapati nurani kini binasa tak pantas?

Maka pulanglah, menepilah kemari
kuberi penawar sesal, duhai Bestari
letih piraumu, payah kalapmu terobati
di dalam Jubah kau akan bersembunyi
dari bujuk rayu derita dan susah hati


hint: Ratu raib membawa jabang, 
         mundur selangkah lari kepalang

bersambung...

Sunday, 12 August 2018

Dansa

Dua tahun yang lalu, aku memberitahumu bahwa aku mengagumi langit dan laut. Bukan karena warnanya yang biru, namun karena aku selalu menemukan cinta dan bahagia tatkala aku berada di antaranya.  

Pernah suatu waktu, dalam kalapnya pikiran dan keadaan, aku pergi jauh untuk menemui keduanya. Masih ingat kah kau, aku pernah bercerita bahwa ibuku adalah penari yang hebat? Sepertinya keindahan itu mengalir pada darahku. Aku datang untuk berdansa. 

Jangan tertawa! Aku tahu ini terdengar konyol, namun melakukannya membuatku kembali hidup.

Pantainya begitu indah. Ia menjadikan aku pemilik satu satunya dengan tiada seorang pengunjung lain menapakkan kaki sebagai tanda kedatangan. Sempat aku melukis wajahmu di atas kanvas pasir putih, jariku sebagai kuas membentuk dagu dan bibir, mata dan hidungmu. Aku mengingat cahaya matamu begitu jelas kala itu, sama seperti yang kulihat saat ini.

Tidak, aku tidak menggodamu, aku benar benar menyukai sinar matamu.

Mau kau mendengarkan ceritaku? Hmmm baiklah. Berkenan untuk menutup mata sembari kubisikkan kata? 

Jangan lupa untuk membayangkan keindahan pantainya terlebih dahulu. 

Tidak, aku tidak memiliki fotonya, aku tidak memotret apa pun saat aku di sana. Kan kau tahu, aku selalu menikmati yang aku cintai dengan membiar keabadian itu kupupuk sendiri saja dalam hati. 

Aku ingat bagaimana aroma pantai yang telah menyelumuti tiap inci tubuhku, mungkin mereka hendak memelukku. Aku menjadikan pasir sebagai panggung, dan matahari terbenam sebagai lampu spot temaram yang sinarnya hanya tertuju padaku. Aku menjadikan angin sebagai teman dansa, dan laut sebagai pengiring disertai dengan suara gemerisik samudera menjangkau darat. Kau tau yang kumaksud kan? Ketika air saling melapisi satu dengan yang lainnya saat mencium pasir? Suaranya sangat lembut dan... tenang.

Aku mulai merentangkan tanganku dan melompat kecil ke selatan, berputar. Angin menyambutku dan menopang tubuhku. Aku menguasai panggung dengan meregangkan tangan dan kakiku, merajai arena dengan membawa tubuhku dalam jarak yang tak terhitung.

Aku merasakan jiwaku yang menari. Dalam pejaman mataku aku terus merasakan dadaku membucah bahagia.

Aku menjulurkan telunjukku menghadap langit ke arah barat daya, aku menatap tajam, rasa rasanya aku melepaskan sebagian energiku untuk alam. Aku kembali berputar beberapa kali, menyerap harmoni dan kebebasan, menghirup damai dan ketenangan. Aku sangat menikmati setiap detikku menumpu pada ibu jari kakiku, seakan akan melepas sakit dan derita tepat ke dasar bumi.

Kini mulai kumendekat dengan lautan, membiarkan percik air yang dibuat entak kakiku tercipta. Aku melompat di atas sisa debur ombak yang kecil, ia menciumku kemudian malu malu kembali ke peraduannya. Aku melanjutkan dansaku.

Sampai pada ketika matahari telah padam, aku mengakhirinya. Sekiranya pertunjukkanku sudah selesai. Untuk bagian ini, aku tak mampu memilah kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan yang tumbuh dalam dadaku. Aku sangat senang. 

Aku meninggalkan keduanya dengan janji untuk suatu saat bisa kembali bertamu untuk bertemu

Aku rindu.