“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Saturday, 29 December 2018

Lima Tahun yang Lalu

"Sudahi sajalah, biar kukembalikan lagi yang menjadi seharusnya milikmu. Aku tidak perlu mendengar sanggahanmu untuk tidak menerima yang selalu kau minta," tuntasku dalam suatu waktu padanya.

"Taruhlah di atas koperku, bertolak saja segera jika itu yang kau mau," pandangannya hampa, yang tersisa hanya hening, sudah kubuat mati kuasanya untuk bertanya. Kita sepakat untuk hengkang dan memilih menyerah. Sekali pun aku yakin teriak dalam pikirnya terus membangkang, sudah tidak lagi ada jalan. Buntu.

Tidak kurasakan ada tangan yang selalu mencegahku kali ini, "mengapa kau baru memberi tahu kali ini?" aku tetap bungkam, "aku bertanya," ucapnya.

"Sudah ketiga kalinya kau bertanya, kau butuh jawaban yang seperti apa lagi?" aku tidak pernah menjawab sedari pertanyaannya yang pertama, aku belum siap untuk bisa mengungkapkan yang sejujurnya. Ketulusannya membuatku sengap, "tidak ada lagi yang perlu diperinci, kau juga sudah menerima untuk tidak bertahan kan? Pilihanmu tepat."

"Aku bertanya sungguh sungguh. Tidak satu pun kata darimu menekankan di mana letak kesalahan episode ini," ia melik jawaban, memaksaku berterus terang. Aku enggan, khawatir akan membuncah dalam isak, aku belum siap.

"Karena pikirku, bagian ini masih dapat dipertahankan dalam kondisi tawar, tapi sudah tidak lagi ada daya dalam rasaku untuk terus mengiyakan. Aku lelah bersikukuh melawan ego," sekuat tenaga aku meredam tangis, "yang seharusnya aku lakukan adalah meminta maaf pada diriku sendiri lebih dulu."

Aku bergegas melangkahkan kaki ke luar, tanpa berpamitan terakhir kalinya. Ekor mataku menangkap pandangnya menjauhi kepergianku. Perannya berujung lara.

Sunday, 11 November 2018

jeda.

buatlah Nona lelap sejenak
dari tanya yang tak kunjung reda
dari bimbang yang kian membuncah
menghunjam relung dari segala arah
Nona lelah

selimutilah Nona dalam dekapmu
karena deru bising buatnya makin renta dan kaku
ia terpaku malu dan terkurung dalam ragu

sejenak Nona larut dalam gamang
kembalikanlah ia pada terang
buatnya merasa kembali disayang

sembunyinya tak mempan
memertahankan kesemuanya adalah siksa



Monday, 24 September 2018

malam.


kau memangku hening, melanting
gulita beradu maya
menerkam singgasana lentera
derit pintu diembus
sila pawana menusuk atma

mematung beralas geta
tenggelam di dalam
hujan, sepintas deras
gemercik tidak mampu membangunkan
sunyi yang masih abadi

teriakmu pada rindu
bisu terdengar lantang
di dalam bola matamu
tenggelammu mutlak bersama haru

malam menua
memalu duga pada kias
mengemas cemas, menyeka gulana

Sunday, 26 August 2018

Ratu #1

Kepada Barat kepulanganmu kunantikan
setelah lembayung merekah bersemayam
dalam Suci kukembalikan empunya atma
yang cabul dan lata dalam rangkai perkara

Sudah sepanjang batas hingga buntu
coba kucekal derumu, kukejar larimu
kini kikis asaku, tak berujung bertemu
kembalilah pada peraduan, wahai Ratu
Batara menunggu merengkuh jabangmu

Tenggelammu sekali waktu menyulut gempar
desus mengabarkan di seberang kau terlantar
untai jiwa mana yang tak akan meranggas?
mendapati nurani kini binasa tak pantas?

Maka pulanglah, menepilah kemari
kuberi penawar sesal, duhai Bestari
letih piraumu, payah kalapmu terobati
di dalam Jubah kau akan bersembunyi
dari bujuk rayu derita dan susah hati


hint: Ratu raib membawa jabang, 
         mundur selangkah lari kepalang

bersambung...

Sunday, 12 August 2018

Dansa

Dua tahun yang lalu, aku memberitahumu bahwa aku mengagumi langit dan laut. Bukan karena warnanya yang biru, namun karena aku selalu menemukan cinta dan bahagia tatkala aku berada di antaranya.  

Pernah suatu waktu, dalam kalapnya pikiran dan keadaan, aku pergi jauh untuk menemui keduanya. Masih ingat kah kau, aku pernah bercerita bahwa ibuku adalah penari yang hebat? Sepertinya keindahan itu mengalir pada darahku. Aku datang untuk berdansa. 

Jangan tertawa! Aku tahu ini terdengar konyol, namun melakukannya membuatku kembali hidup.

Pantainya begitu indah. Ia menjadikan aku pemilik satu satunya dengan tiada seorang pengunjung lain menapakkan kaki sebagai tanda kedatangan. Sempat aku melukis wajahmu di atas kanvas pasir putih, jariku sebagai kuas membentuk dagu dan bibir, mata dan hidungmu. Aku mengingat cahaya matamu begitu jelas kala itu, sama seperti yang kulihat saat ini.

Tidak, aku tidak menggodamu, aku benar benar menyukai sinar matamu.

Mau kau mendengarkan ceritaku? Hmmm baiklah. Berkenan untuk menutup mata sembari kubisikkan kata? 

Jangan lupa untuk membayangkan keindahan pantainya terlebih dahulu. 

Tidak, aku tidak memiliki fotonya, aku tidak memotret apa pun saat aku di sana. Kan kau tahu, aku selalu menikmati yang aku cintai dengan membiar keabadian itu kupupuk sendiri saja dalam hati. 

Aku ingat bagaimana aroma pantai yang telah menyelumuti tiap inci tubuhku, mungkin mereka hendak memelukku. Aku menjadikan pasir sebagai panggung, dan matahari terbenam sebagai lampu spot temaram yang sinarnya hanya tertuju padaku. Aku menjadikan angin sebagai teman dansa, dan laut sebagai pengiring disertai dengan suara gemerisik samudera menjangkau darat. Kau tau yang kumaksud kan? Ketika air saling melapisi satu dengan yang lainnya saat mencium pasir? Suaranya sangat lembut dan... tenang.

Aku mulai merentangkan tanganku dan melompat kecil ke selatan, berputar. Angin menyambutku dan menopang tubuhku. Aku menguasai panggung dengan meregangkan tangan dan kakiku, merajai arena dengan membawa tubuhku dalam jarak yang tak terhitung.

Aku merasakan jiwaku yang menari. Dalam pejaman mataku aku terus merasakan dadaku membucah bahagia.

Aku menjulurkan telunjukku menghadap langit ke arah barat daya, aku menatap tajam, rasa rasanya aku melepaskan sebagian energiku untuk alam. Aku kembali berputar beberapa kali, menyerap harmoni dan kebebasan, menghirup damai dan ketenangan. Aku sangat menikmati setiap detikku menumpu pada ibu jari kakiku, seakan akan melepas sakit dan derita tepat ke dasar bumi.

Kini mulai kumendekat dengan lautan, membiarkan percik air yang dibuat entak kakiku tercipta. Aku melompat di atas sisa debur ombak yang kecil, ia menciumku kemudian malu malu kembali ke peraduannya. Aku melanjutkan dansaku.

Sampai pada ketika matahari telah padam, aku mengakhirinya. Sekiranya pertunjukkanku sudah selesai. Untuk bagian ini, aku tak mampu memilah kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan yang tumbuh dalam dadaku. Aku sangat senang. 

Aku meninggalkan keduanya dengan janji untuk suatu saat bisa kembali bertamu untuk bertemu

Aku rindu.

Saturday, 30 June 2018

Ketidakberdayaan

"Aku hendak meminta satu hal, Tuhan. Satu saja," terduduk dan berlutut. Air matanya sudah hendak menetes, sekuat tenaga ia tahan.

"Tuhan, pagi ini aku melihat adikku menangis, sesenggukan dengan tangan menutupi mulutnya. Mencegah raungan kesakitannya terdengar. Aku hanya melihatnya dalam bingkai pintu. Tidak kuasa aku mendengar lara dalam tiap teriakannya. Begitu mengiris hati, begitu menikam. Ia berucap rindu pada Ibu," ia beranjak sebentar, memastikan pintu tertutup dan terkunci rapat. Diambilnya bingkai foto, tatapannya semakin menyakitkan.

Pecah.

"Tidak kuat, Tuhan."

Air matanya berlinang deras. Memejamkan mata, berbisik sendu.

"Berat sekali."

Terbatuk kecil, tersedu-sedan.

"Kiranya Kau tahu, aku berjalan dalam ambang ketidaktahuan dan ketidaktentuan. Telah Kau rangkul kedua orang tuaku bersamaMu. Kau beri aku waktu satu tahun untuk merenungi hidup, kemudian Kau dekap Nenek dalam ribaanMu. Sekali waktu, hambaMu ini memertanyakan yang sedang terjadi," kedua tangannya kembali menutupi wajah, erangan tangisnya tiada mereda. Bahkan bisa kau rasakan pisau tajam menusuk kalbu dalam jeritan kecilnya di sela isak.

"Cepat sekali waktu berlalu bersama mereka."

Ia usap rembah-rembih di pipi dan di dagu. Hening. Jika kau berada dalam satu ruangan dengannya, dadamu akan sesak karena menghirup duka dan menyesap nestapa; akan kau dengar pekik sungkawa dan laung pilu yang sebabkan jiwamu meranggas.

"Tidaklah mungkin tampak lemah di hadapan adik adikku selelah apa pun, tidaklah mungkin berkesah gundah pada jiwa jiwa berempati," terdengar embusan napas, "sekali waktu ingin rasanya berganti badan, mencicip manja dan gurau gembira dalam balutan kasih ayah bunda," air mata kembali merembah, "yang tersisa pada diriku kini nyawa, karsa, dan sayangku pada adikku. Aku akan membangun bahagiaku sendiri dengan ini, Tuhan."

Diam. Hanya embus napas saja yang terdengar tipis. Matanya tetap terpejam.

"Pun sekali waktu hamba menjadi ringkih dan rendah dalam ketidakberdayaan, pun terkadang hamba tertangkap termangu dalam lamun. Sudah hamba kerahkan sesanggup mungkin untuk tetap tegap dan tegar."

Ia hapus derai sedihnya yang sedari tadi tidak hanya membasahi tangan, namun juga sanubari.

"Tuhan, hamba ikhlas. Tolong...

beri hamba

kekuatan."

Senja sudah menjadi malam. Ia tidak beranjak dari tempatnya. Semakin malam tiup angin makin merasuk pada relung hati, mendekap seorang wanita dalam kesendiriannya. Semakin malam ia baringkan tubuhnya dan ia selimuti dirinya seorang, dengan ucapan hangat.

"Suatu hari nanti..."

Terlelap.

Pagi akan segera menjemput.

Saturday, 27 January 2018

Untuk yang tak Kutahu Namanya

Untuk yang tak kutahu namanya,

Langkahmu menggiringmu mencari tempat nyaman dan berakhir bersandar pada sofa. Hari itu adalah kesekian kali kita dipertemukan oleh semesta, seperti pertemuan kita sebelumnya, bertatap dan tersenyum. Nikmat bukan?

Kukira tanpa ada kesepakatan tertulis, kita sama-sama memilih untuk merahasiakan nama, juga enggan bertanya. Biar saja bertemu dalam kejutan dalam beberapa kesempatan, menunggu tersebut terulang.

Bahkan pernah saat kita bersebelahan, mengantre sebaris, aku menangkap ekor matamu melirik manis, kita hanya berakhir dengan saling melempar senyum hangat. Oh hei, aku ingat setiap tatap itu! Pesanmu selalu tersampaikan, Tuan, jangan khawatir. Aku selalu menyukai sinar mata, yang kusuka adalah yang jujur, yang dimilikimu.

Sekadar kau tahu saja, selama enam bulan ini rinduku berseri, dan yang ke tujuh dari tak terbatas aku tujukan padamu. Aku menyukai angka ganjil, tapi tidak ada yang ganjil dari pertemuan kita, semua natural dan aku suka. 

Sampai jumpa pada pertemuan selanjutnya, Tuan. Semoga semesta terus berpihak pada kita.

ps: aku sedang mendengarkan lagu Honey dari Kehlani, sedang mendengar senandung apakah dirimu di seberang meja sana yang sembari menyeruput kopi dan memandang ke arahku beberapa kali?

Salam manis,
Saya

Monday, 8 January 2018

Selaras

Tuan, di batas fana bayangmu mengabur; melebur partikelmu bersama haru yang dicipta supernova dalam pecahan debur; mereka membaur dalam hancur.

Nyatanya kau tak berbatas waktu, Tuan, entah itu pukul bahagia, pukul sendu; tatapmu tetap menyeru kelu; lantangmu yang bisu masih menyuarakan pilu; gemulai senjamu menyerap partikel biru, kau bilang sama seperti rasa rindumu, yang melulu menancap dan hinggap, melekat, tanpa pernah mau berlalu.

Sayangnya mereka bahagia dalam kebinasaanmu,  gemar sekali memujamu megah dan rupawan; melaju dalam ribaan kesan, dalam tepuk kasih kenangan, dalam timang ingatan. Di penjuru langit utara pada purnama ke delapan saat pertama kali kau ungkapkan; tidak sekali pun mereka berkedip walau dalam temaram terasa mencekam. Sedari petang itu, wajahmu yang tampak pendak bulan, dinantikan, diharapkan.

Tidak, tidak, aku tidak memberi tahu mereka kepinganmu merupakan mozaik sedan dan isak, namun bukankah itu yang kau hendak?

Tuan, sudah kusampaikan duka cita mendalam atas ajalmu. Pun begitu, aku harap kau tetap tegar dan mampu kembali melaju, mederu.

Ketahuilah, sedari cahayamu utuh hingga kau pecah mengotori langit, adalah aku yang menyediakan tempat dalam tundukmu, pundak dalam kelammu; adalah aku yang membantu tegap ragamu, dukung detak degubmu.

Bertahanlah, aku mohon.

—#selaras.