“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Friday, 27 June 2014

Ayah...

Ketika perlahan ia membuka buku itu, memejamkan matanya sesaat seraya membacakan surah Al-Fatihah, tak bersuara, cukup bibir saja yang memperjelas tiap ayat dan tajwid ia baca. Raut wajahnya menggambarkan kerinduan mendalam yang sepertinya telah lama ia simpan, dan enggan untuk diperlihatkan.

Bola matanya mengikuti alur jari yang tengah menunjuk pada bacaan berhuruf Arab, Firman Tuhan. Ayat demi ayat ia baca. khidmat, khusyuk. Di depan makam ayahnya ia melepas rindu, dan kembali mengingat waktu bersama ayahnya dulu, semua seakan tergambar di sela doa yang ia panjatkan, pasti banyak hal yang sedang bergejolak di hatinya, banyak hal yang sedang mengerumuni pikirannya.

Air matanya.. ya.. Aku melihat setetes air matanya mengalir perlahan dari pelupuk mata hingga pipi kemudian jatuh meninggalkan tapak pada buku yang ia baca. Ia usap bekas lajur air mata dengan jemari, kemudian ia konsentrasikan kembali untuk membaca ayat suci. Sungguh, seakan setruman itu menyengatku, membuatku berfikir bahwa ia adalah wanita yang tegar, yang tabah, dan kuat.

Ia menutup buku itu, menghela napas, memejamkan mata, dan menunduk. "Ayah.." Begitu rintihnya.Ternyata ia sedang menceritakan perjalanan hidupnya, ia bersuara sangat kecil, bahkan terkadang berbisik. Ia terisak perlahan, meneteskan air mata, semakin deras, hingga ada saat dimana ia terlihat ingin menjerit namun ia tahan dan tetap menangis, menangis dalam diam.

Namun waktu telah memberinya kesempatan untuk menyembuhkan duka, dan juga membagi bahagianya. ia tak lagi tertunduk, ia kembali tegak dan memandang nisan sang ayah. Mungkin ia telah puas menceritakan semuanya. Ia menyunggingkan senyum, senyum yang menggambarkan ketabahan, dan kesiapan untuk menatap semua yang ada di depan. "Terimakasih, Ayah. Assalamu'alaikum." Begitu kata yang terucap sebelum ia berdiri dan meninggalkan makam ayahnya. Ia berjalan berlalu, dan hanya meninggalkan bekas tapak sepatu pada tanah, seakan mengisyaratkan bahwa ia akan kembali datang. Ia pergi.. menjauh.

Wednesday, 25 June 2014

Perpisahan

Mungkin perpisahan merupakan tema yang sedang hangat yang tengah berkecimpung di pikiranku. Aku tak bisa dengan mudahnya melepas kenangan dan melupakan kebersamaan kita. Entah energi apa yang selalu mengajakku berfikir untuk bisa kembali memutar waktu agar tetap dapat merasakan hal hal absurd bersama kalian, kawan. Ya sejujurnya aku rindu, rindu akan semua, tetapi kenyataannya sekarang kita harus memilih jalan kita masing masing untuk menggapai apa yang telah kita impikan.

Mimpi yang telah kita rangkai bak puzzel sedari dulu itu kini mulai menampakan gambar, dan setiap kepingan penyusunnya (aku yakin) akan terasa begitu berharga. Kita mulai mengenal jerih payah, yang di dalamnya terdapat usaha dan doa; pengorbanan, yang tak lain pengorbanan waktu; dan penghargaan, yang kita dapat setelah keduanya berhasil kita lalui. Hmmm... Apa bila saat ini aku diberi satu harapan, harapan itu pasti keinginanku untuk kita agar dapat merasakan kesuksesan bersama, merasakan kebahagian hasil jerih payah.

Aku terbayang jika kelak dewasa nanti setelah belasan tahun tak lagi bertatap muka secara langsung, kita berjumpa, dan satu persatu dari kita menceritakan hasil kerja keras yang akhirnya bisa kita nikmati. Satu persatu dari kita menceritakan kembali masa masa di mana kita dulu bersama, masa masa lugu, dan masa polos kita. Aku percaya, bahwa Tuhan sudah tepat menempatkan masa remajaku untuk kulewati bersama kalian, menjalani hari hari dengan berbagai rasa, dan kali ini aku mengerti arti sebuah persahabatan, karena hadirmu kawan.

Teruntuk: keluarga Bryffindor.
NB: ciyus aku kangen.

Monday, 16 June 2014

GRADUATEEEEED!!!

Terimakasih kepada Tuhan Yang Mahasegala; terimakasih kepada orang tua dan saudara yang tak putus putusnya mendukung dan mendoakan; terimakasih kepada Bapak-Ibu guru yang telah membimbing; terimakasih kepada sahabat setia, Bryffindor. I FINALLY GRADUATE!!!

Setelah 3 tahun berbalut baju berwarna putih biru, akhirnya dengan hasil memuaskan yang tak luput dari perjuangan dan doa yang tiada putus putusnya, aku lulus. Ya, lulus dan berhasil melukiskan senyum bangga orang tua, dan menjadikan tangis mereka pertanda bahagia. Sungguh tak ada kebahagiaan berarti selain mendengar kata bangga yang terucapkan dari orang tua. Aku menyangi mereka. Sangat menyayangi.

Namun tak berarti juga apabila perjuangan hanya dilakukan seorang diri. Aku sangat beruntung bisa diberi kesempatan untuk dipertemukan dengan sahabat sahabatku, ya, Bryffindor. Entah kata apa yang sanggup mendiskripsikan setiap kenangan yang kami lalui, yang kami hadapi, yang kami jalani. Hari hari bersama mereka adalah waktu berharga, karena setiap memori yang akan kami gali nantinya ada di setiap detik yang telah kami lampaui. Untuk jujur, dari hati, aku tak ingin berpisah dengan mereka, melepaskan tangan tangan mereka, dan berucap sayonara diujung pertemuan terakhir. Aku masih ingin mengisi waktu luang dengan bercanda gurau, mencurahkan kisah dan keluh kesah, dan mendengar teriakan semangat dari tenggorok mereka yang menandakan kekompakan. Sungguh, aku menyayangi mereka. Sangat menyayangi.

Aku tahu seharusnya kutulis bagian ini di bagian paling awal, tapi menurutku ini adalah tulisan yang paling berarti diantara yang lain.
Tuhan. Tuhan telah memberiku berbagai macam hadiah. Aku telah diberikan-Nya orang tua yang begitu mengerti aku, dan teman teman yang selalu ada di setiap suka dukaku. Begitu banyak yang perlu aku syukuri. Aku masih diberikan napas dan kesempatan untuk membanggakan kedua orang tuaku, dan melihat canda tawa dan tangis sahabat sahabatku. Setiap detik aku hidup adalah detik yang begitu berharga. Sungguh tak luput dari kuasa-Nya hasil yang kemarin aku terima, Tuhan mengiyakan keinginanku, mengabulkan doa malamku, mendengar rintihanku, memeluk mimpi besarku, dan menjadikannya nyata. Untuk kesekian kali aku berkata jujur, jujur, aku merasakan kasih sayang-Nya di tiap takbiratul ihramku, merasakan sengatan kekuasaan-Nya di setiap ayat surah suci-Nya, merasakan keagungan-Nya di setiap sujudku, merasakan rahmatnya di sela ucapan doa tasyahud akhirku, dan kurasakan begitu Maha Segala Tuhan di setiap tengokan salamku. Entah kata apa yang mampu memperinci kecintaanku pada-Nya. Sungguh aku menyayangi-Nya. Sangat menyayangi.

Kawan, memang benar hidup itu bak buku yang terdiri dari beberapa bab dan diisi berratus halaman yang di dalamnya dituliskan peristiwa dan hal menakjubkan. Semuanya juga sementara, tidak mungkin juga kita terus menerus membaca pada satu halaman yang terdapat cerita suka ataupun duka. Semuanya akan berlalu, menuju pada akhir bahagia. Semua sudah diatur oleh Sang Sutradara. Bermimpi, usaha, berdoa, dan jalani. Semua akan indah pada waktunya.

Friday, 6 June 2014

the power of 'words'.

Jika kelak aku dewasa, aku ingin menjadi sepertinya..
Memaparkan kata demi kata yang dirangkai menjadi paduan utuh yang dapat memberikan gambaran brilian melalui tegangan imaji bervoltase tinggi.
Aku ingin menjadi sepertinya..
Yang memberikan kekuatan magis pada tiap gambaran yang beliau salurkan hanya dengan serangkaian kalimat, dan membuat seluruh bulu kuduk terpenjat, terkejut.
Ya, aku ingin sepertinya..
Yang menyatukan gandengan kalimat menjadi suatu paragraf yang tidak kalah mencengangkan, menyetrum jantung dan ulu hati, yang awal dirasa madu, hingga merangkap dan meringkas kejadian dan hal hal pilu. Kelu.
Ah, ya.. Lembaran demi lembaran beliau isi dengan beratus huruf, beribu imaji, dan beratus ribu pemikiran yang berkecimpung di dalam otaknya. Beliau bumbui hal menakjubkan yang selalu terasa pekat dalam tiap kata yang beliau ketik dengan jemari seninya. Lembaran lembaran itu dijadikannya mozaik. Cerita, pengalaman, peristiwa hidup. Warna, dan rasa ada di setiap penggalan pengalaman yang beliau lewati, tempuh, lampaui, dan beliau alami. Dengan seluruh hati beliau tuliskan rangkaian kata indah yang aku yakini tiap detiknya selalu ada saja kata ajaib yang mengantre untuk dipampang di atas benda tipis melalui perantara tinta hitam. Begitu ajaibnya beliau menyalurkan gambarannya melalui kata pada setiap orang yang memandang, membaca hingga mengubah raut wajah ditiap babaknya, dan ikut menjelajahi imaji yang tak terhitung berapa luas, tak terkira berapa besar, tak terbayangkan pula di mana ujung dari ujung yang mana.
Ya.. Mulia kata katanya, mampu menggenggam tiap peristiwa, menggambarkan tiap kejadian, memperkuat situasi, kondisi, dan gambaran isi hati.
Kata kata adalah hal yang menakjubkan. Sungguh menakjubkan!
Jika kelak aku dewasa, aku ingin menjadi sepertinya..
"Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang." - Seno Gumira Ajidarma



Wednesday, 28 May 2014

Kenapa?

"Kenapa ya, rambut mereka lebih indah? Bisa terurai begitu saja hanya dengan sisiran jemari panjangnya. Kenapa ya, badan mereka bisa ideal walau mereka memakan apa saja yang mereka mau? Badan bisa terjaga walau ia tidak terlalu tertarik dalam hal olah raga? Dan tetap tetap walau sepertinya ia tak mempedulikan berapa berat badannya? Kenapa ya mata mereka bisa sempurna? Bisa memancarkan sesuatu yang kuat, dan mampu menyorot tajam seakan apa yang ia gambarkan dalam pikirannya mampu menghasut banyak orang. Kenapa seakan akan tubuhku adalah tubuh yang paling tidak ideal? Seakan mataku tak bisa memancarkan hal menakjubkan? Seakan rambutku adalah rambut yang tidak terrawat tak seperti kawan kawanku lainnya? Kenapa aku?", aku mengeluhkan seraya aku memandangi diriku di depan cermin, aku mengomentari setiap inci tubuhku. "Kenapa mereka bisa cantik? Kenapa mereka begitu sempurna secara fisik?", aku masih terus mencela tubuhku. "Kenapa aku?", keluhku untuk yang kesekian kalinya.


"Ayah, kenapa teman temanku terlihat cantik, sedangkan aku biasa biasa saja?"
"Cantikmu dan cantiknya mereka berbeda, nak"
"Bagaimana bisa?"
"Kamu tahu sendiri, kan, mereka merawat dirinya dengan mendatangi salon dan memoles wajah mereka dengan make-up?"
"Iya sih, Yah."
"Coba, mulai sekarang jangan bandingkan kamu dengan teman temanmu. Banyak orang di dunia ini yang tak seberuntung kamu. Yang terserang kanker, rambutnya rontok karena panasnya saat dikemoterapi, tapi kamu masih punya rambut yang merupakan mahkota indahmu. Di bagian dunia lain, masih banyak anak anak tak beruntung karena tak bisa makan. Jangankan bagian dunia lain, di Indonesia pun masih banyak sekali, tapi kamu masih bisa makan tiga kali sehari, bahkan lebih. Dan banyak orang di dunia ini yang menderita penyakit mata, seperti katarak, kebutaan, atau buta warna dan banyak lagi, tetapi kamu masih bisa melihat dengan jelas, bahkan tanpa bantuan kaca mata atau soft lens sekalipun. Bersyukur karena kamu masih diberi nafas. Bersyukur lah nak, jangan selalu melihat apa yang tak kamu miliki, coba hitung apa yang sudah kamu miliki yang telah Tuhan berikan padamu? Ayah yakin, pasti tak terhitung jumlahnya. Tuhan telah memberimu apa yang kamu butuhkan. Terapkan padamu, bahwa Tuhan sangat menyayangimu, dan apa yang Dia beri adalah yang terbaik."

Gambar gambar orang tak seberuntung diriku terlukiskan dalam imajiku. Ya, aku sungguh beruntung. Mereka tak memperdulikan bagaimana fisik dan seberapa cantik mereka, yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana mereka tetap hidup di hari esok.

"Iya, Yah, aku mengerti sekarang. Mungkin saja teman temanku yang cantik secara fisik itu tidak memiliki ayah yang seperti Ayah. Perhatian, sabar, dan merupakan pahlawan yang tangguh dan kuat, selain itu Ayah juga ayah yang tabah dan sangat bijaksana."

Ayah langsung memelukku. Kurasakan kehangatan yang seketika menyelimuti, kurasakan bibirnya menyentuh pipiku, kurasakan sayangnya menjulur dan merekat pada pembuluh darahku. Ya, aku sangat beruntung.

"Be thankful for what you have, you'll end up having more. If you concentrate on what you don't have, you will never, ever have enough." -Oprah Winfrey




Monday, 26 May 2014

Mimpi

Aku ingin menjadi dokter! aaaah, tidak, terlalu banyak yang menginginkan untuk menjadi dokter. Hmmm, aku ingin menjadi seorang astronaut saja, sepertinya menantang! aaah, tapi apa bisa aku keluar angkasa dan melihat betapa besar dan indahnya ciptaan Tuhan? Kurasa, aku masih harus mengendalikan ketakutanku. Aku ingin menjadi photographer! Sepertinya itu merupakan profesi yang bisa mendapatkan gambaran jiwa yang murni dari setiap pancaran mata. Aaah tidak, aku tidak berbakat dalam hal itu. Atau, menjadi penulis? Penulis profesional yang dihargai karena kalimat yang terdiri atas kata kata penggetar jiwa, gambaran imaji yang indah dan menakjubkan, dan bisa menyampaikan pesan tersirat maupun tersurat. Hanya bermodalkan kertas, tinta, dan pikiran, kemudian semua bisa berkembang begitu saja menjadikan kertas kertas tipis bergabung menjadi satu: buku. Penulis menjadikan mozaik mozaik kecil bersatu, dari tiap bab dalam buku yang terdiri atas bermacam peristiwa, dari tiap paragraf yang menggambarkan pikiran dan segala tindakan tokoh. Penulis... tidak buruk, siapapun juga bisa menjadi penulis, hanya dengan kata kata saja ia bisa melukiskan gambaran magis.

" Yah, ayah dulu mau jadi apa pas sebesar aku?"
"Dari kecil, ayah tetep maunya jadi dokter, gak ada yang lain."
"Kok bisa sekarang ayah jadi geologist?"
"Semuanya sudah diatur, tapi dulu, ayah sudah berjuang keras untuk menggapai cita cita ayah itu. Tapi kamu tau? Yang terpenting dalam prosesmu untuk emnggapai cita cita adalah tetap menjadi pribadimu sendiri, dan tetap memegang teguh kejujuran, bertanggungjawab, pantang menyerah, berfikir positif, dan yang terpenting adalah selalu bersyukur kepada Tuhan, Yang Maha Esa."

Ayahku selalu mengingatkanku dan berpesan, bahwa semua di dunia ini tidaklah mudah, semua pasti melewati hari hari yang buruk untuk menuju hari hari yang indah, sama seperti perumpamaan seekor burung kecil yang masih rentan. Ia terlebih dahulu melihat contoh induknya cara terbang, kemudian belajar mengembangkan sayapnya seraya belajar mengepakkannya, kemudian ia kumpulkan keberanian untuk terbang, ia terjatuh, ia ketakutan, tapi ia tepiskan semua hal negatif di pikirannya untuk bisa terbang, hingga akhirnya, ia bisa menjelajahi langit, tapi terbang bukanlah tujuan akhir hidupnya, ia masih harus melewati badai yang sewaktu waktu bisa menerjang, ia berimigrasi bila  harus, ia masih harus mencari makan untuk mempertahankan hidup, tapi burung akan selalu mengikuti naluri alamiahnya untuk sekedar mempertahankan hidupnya, dan akallah yang membedakan burung dengan manusia. Semua manusia pasti mempunyai ambisi untuk sukses dikemudian hari, maka itu semua orang pasti punya mimpi, dan mimpi tidak pernah pandang bulu. But what make a person a winner is his action. Tidak hanya berangan angan. Resep sukses ayahku sederhana, walau butuh waktu untuk membangun: jujur, bertanggungjawab, pantang menyerah, stay positive, terus bersyukur.

(just like a bird) In order to succeed, your desire for success should be greater then you fear of failure -Bill Cosby

Kenangan Kita, Kawan.

Kawan, tiga tahun ternya terasa begitu cepat, dengan segala suka duka yang telah kita lewati, dan sekarang kita yang tengah mengenang segala kenangan. Mungkin memang kata kataku terlalu monoton, tapi itulah adanya, kita solid dengan dukungan berbagai peristiwa. Kawan, jika saja tiap tingkah kita terrekam, dan terrangkum menjadi sebuah video, akan kuputar dan ingat kembali tiap detail dari putaran yang terus bergulir tiap detiknya. Kalian memberi warna dalam hidup, memberikan memori indah, memberi makna perteman dan pelajaran hidup. Aura kebahagiaan itu selalu terpancarkan dengan seulas senyummu kawan, dengan pancaran mata yang berbinar binar, dan teriakkan.

Kita yang semula ber-30 hingga akhirnya menjadi ber-29 melewati tiap harinya dalam satu ruangan, yang tanpa kita sadari pula, kita menghirup dan menghembuskan udara bersama. Ingat saat lomba yang mengharuskan anggota kelas mengikuti tanpa ada yang terlewatkan? Ingat saat kita berdiskusi, hingga petang datang dan kebingungan mencari transportasi untuk pulang? Ingat saat berdebatan berlangsung, dan beberapa dari kita mencoba menetralkan suasana? Ingat saat kita saling berbagi keluh kesah hati tentang asmara, dan bagaimana kita saling menguatkan dan membuat kepingan hati yang pecah menjadi satu kembali? Ingat tetesan air mata kita saat kita saling meminta maaf dan saling mendoakan? Ingat saat kita mengucap ikrar untuk saling melindungi, dan tak menyakiti? Ingat saat minggu demi minggu kita isi dengan perjuangan, dengan keringat? ingat saat waktu ujian telah usai dan kita berbahagia bersama? Ingatkah kalian? Semua begitu berharga, begitu sayang bila dibuang, walau sebutannya hanya kenangan.

Kita, yang bermula malu malu dan berhujung memalukan (terkadang), akan tetap menjadi saudara Bryffindor, yang nano nano yang penuh dengan bermacam rasa, menjadi rexona yang selalu setia setiap saat pada sesama anggotanya. Kini, masih masing dari kita akan melanjutkan sekolah yang tingkatnya lebih tinggi, dan mulai menambah angan dan gambaran akan kesuksesan yang akan kita capai dewasa nanti, kita akan menempuh perjalanan yang semakin berat. Karena apa gunanya hidup jika kita tak bisa bermimpi? Aku bersyukur bertemu dengan kalian, sahabatku, aku bersyukur dengan kejadian kejadian yang telah kita lewati, aku bersyukur Tuhan telah mempersatukan kita. Sobat, teruslah rangkai mimpimu, tapi jangan sekedar bermimpi, berusahalah menggapainya dengan semangatmu. Sobat, kenanglah tiap hari hari kita, karena semua yang telah berlalu tak bisa kita putar kembali. Sungguh, aku akan merindukan kalian. Bryffindor.

God's dream is that you and I and all of us will realize that we are family, that we are made for togetherness, for goodness, and for compassion. -Desmond Tutu