Aku rindu, namun aku bisa apa?
Aku menemukanmu sekilas, berjarak 10 sentimeter saja. Kau virtual, dan tetap anggun. Masih seperti beberapa tahun silam, kau jauh dari jangkauan. Aku ingin mengutarakan ini, namun kepada siapa lantas aku bisa mengadu? Aku merindumu, aku jujur.
Kau ingat, saat aku pertama kali menyentuhmu? Ah iya, manis sekali. Aku kira kau akan meleleh tatkala kita bersentuhan, ternyata kau berbeda dari anggapanku, namun kau tetap jelita.
Kau ingat, saat kau mengenalkanku mengenai sudut sudutmu yang sebagian tampak rapuh, dan sebagian lagi teramat memesona? Kau iring aku untuk bersama terjun dalam suasana itu. Semua.... semua aku rasakan. Kau selimuti aku dengan suara, atmosfer itu masih segar terasa. Sayang, kau memang memesona.
Kau ingat, saat aku mengenalkanmu pada aksara? Sayu matamu melihat bibirku yang bergerak mengeja saban kata. Kau berkata, aku pintar merangkai kata. Sejak saat itu, sajak hanyalah kamu... dan kamu, inti dari setiap prosaku.
Kau ingat, saat kau ajak aku melancong ke sebelah barat? Kau perlihatkan bahwa dengan bising kita tetap bisa merasa damai; bahwa walau di tengah berjuta kerlip kita tetap bisa melihat bintang. Kau bilang, senyum sepertiku hanya ada satu, milikku. Sejak saat itu, walau tak lagi kita bertemu, aku tersenyum hanya dengan mengingat bagaimana intonasimu kala memuji. Merdu, Sayang.
Kau ingat, saat kau membawaku mengelilingi ketinggian? Aku diselimuti pelukanmu. Kau samar, namun elokmu tetap tampak. Kau perlihatkan aku bahwa dengan ketinggian aku bisa merasa tenang. Kau berpesan, agar aku tetap menenangkan jiwaku saat di luar begitu riuh, gaduh. Kau ajarkan aku untuk berteman dengan angin yang saat itu menekik paru-paruku, kau bilang mereka memiliki hal yang bisa aku pelajari.
Kau ingat, saat kau memegang tanganku di pantai kala senja? Aku jatuh cinta, aku jatuh cinta dengan matahari di barat yang tenggelam di bawah garis cakrawala. Aku jatuh cinta dengan ombak kecil yang mecium kaki mungilku, aku jatuh cinta dengan ketenteraman saat jemariku menyentuh pasir. Kau bilang, kau tak bisa mengalihkan pandangan dariku kala aku memejamkan mata. Kini, dengan memejamkan mata, aku bisa melihatmu.
Aku rindu. Aku rindu sekali.
Teruntuk tiga wilayah di Bumi yang aku rindukan. Rumah adalah kalian. Aku akan kembali menjengukmu esok hari. Esok hari, aku akan menyentuhmu kembali, mengenang lagi, dan mengukir--tentu saja.
“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown
Thursday, 29 December 2016
Thursday, 14 July 2016
Daksina
Ekor mataku menyapu keliling. Sejajar saja. Sampai pada dia.
"Hei!"
"Ah! Ternyata kau! Mengagetkan saja." tanganku mengelus dada. Meredam.
"Sedang apa kau? Matamu sepertinya tertuju pada satu titik?"
"Tidak, hanya kebetulan saja pandangku berhenti pada dia."
"Kau tahu namanya?"
Aku menggeleng pelan. Tidak.. aku tidak tahu namanya, namun yang aku tahu aku adalah utara dan ia selatan.
Kami kembali berjalan menyusuri lorong menuju kantin. Istirahat kali ini tidak begitu ramai. Mi instan tadi cukuplah untuk mengisi perut, membantu berfikir sampai sore nanti.
"Dia adalah wanita..."
"Ya semua orang juga tahu dia adalah wanita, To." jawabku bercanda.
"Hen, aku ini hendak menjelaskan lho, kamu ini malah memotong."
"Memangnya kamu tahu dia siapa?"
"Mana ada cewek yang tidak aku ketahui pribadinya? Jangan kau kira aku ini playboy cap pasar yang biasa dikelilingi lalat Hen." percaya diri, sok membenarkan kerah seragamnya. Aku tertawa mencibir.
"Yasudah.. jelaskanlah." tantangku.
"Dia adalah satu dari sekian banyak wanita yang aku dekati yang paling tidak aku pahami," lima detik keheningan, "Eh, tapi jangan kau pikir aku tidak jago Hen, dia hanyalah satu... maksudnya, aku berhasil memahami wanita lainnya." gigi kuningnya tampak mencolok saat Tito menyeringai. Aku? Aku tertawa kecil saja menunggu ia lanjut bercerita.
"Dia itu.... magis, aneh, elok, tetapi.. tidak terlalu elok, dahsyat, ummm... tapi biasa saja. Ia itu turun, namun naik. Lurus, namun berkelok. Dia... gelombang yang pecah di karang, seperti ini," tangannya mulai menggambarkan bagaimana ledakan yang diciptakan ombak kala menghantam, "ia adalah simpang lima, ia adalah teka teki yang berbunyi--"
"Sebentar To, bagaimana bisa kau tahu sejauh itu, padahal katamu kau gagal memahaminya?"
"Hehe, aku hanya melebih-lebihkan saja sih Hen. Hehehe."
Langsung kutonjok dibagian bahunya. Kami berlalu sambil tertawa terbahak, melupakan gadis di kantin yang kini tengah menoleh ke arahku. Benar, ia adalah selatan.
***
"To, kau belum menyebutkan nama gadis itu." ujarku setengah berbisik.
"Lho, gadis yang mana?"
"Yang 2 hari kemarin kau jelaskan itu, saat kita kembali ke kelas sehabis makan dari kantin."
"Ohhh, Da(^&%&)na?"
"Uhhhhh! Kalau ngomong jangan sambil kentut, dong, To! Siapa nama gadis itu? Dana?"
"Hehehe. Daksina, Hen, Daksina."
"Ohhh..."
Hening.
"Mengapa kau baru bertanya saat kita ada di WC Hen? Tidakkah ada tempat lain yang lebih sopan dalam menanyakan nama Daksina? Uhhhhh (^%&&%)"
"To! Sudah bel masuk! Buang airmu lama sekali sih!"
"Berkacalah dulu Hen! Kamu juga sewindu! Uhhhh (*&^%^&)"
***
Sejak kutahu namanya, aku mulai lebih sering mencuri pandang. Jika kalian sering melihat cerita cinta klasik anak SMA di film Indonesia era 2000an, hal itu tetap terjadi di tahun 2016. Aku pemeran utamanya. Tapi... tidak tidak, sutradara yang memilihku sebagai pemeran utama justru seakan-akan bunuh diri. Satu orang (dan hanya satu) yang akan menonton film yang aku bintangi, tidak lain, tidak bukan, hanyalah Tito.
Kami jadi sering bertemu, di kantin, di koridor, di depan kelas. Sebenarnya sudah sejak dulu aku mengetahui keberadaan gadis itu, namun baru akhir akhir ini agaknya aku tertarik. Pernah sekali aku hendak menyelipkan puisi ke tasnya, namun nyaliku terlalu kecil. Begini puisinya:
Daksina,
wajahmu elok mempesona
harum tubuhmu tercium dari jarak kilometer nol koma lima
halo, perkenalkan namaku Hendra
Daksina,
aku hanya ingin menyapa
walau dengan serangkaian kata saja
aku harap kau memakluminya
aku Hendra, teman kelas IPA dua
Cerita dramatis saat aku hendak ke kelasnya khatam saat Tito merebut suratnya. Jadilah aku bahan bualan satu kelas selama sebulan. Beruntung Daksina tidak tahu Hendra anak IPA 2 yang saat itu ingin berkenalan. Dasar Tito!!!
"Hei!"
"Ah! Ternyata kau! Mengagetkan saja." tanganku mengelus dada. Meredam.
"Sedang apa kau? Matamu sepertinya tertuju pada satu titik?"
"Tidak, hanya kebetulan saja pandangku berhenti pada dia."
"Kau tahu namanya?"
Aku menggeleng pelan. Tidak.. aku tidak tahu namanya, namun yang aku tahu aku adalah utara dan ia selatan.
Kami kembali berjalan menyusuri lorong menuju kantin. Istirahat kali ini tidak begitu ramai. Mi instan tadi cukuplah untuk mengisi perut, membantu berfikir sampai sore nanti.
"Dia adalah wanita..."
"Ya semua orang juga tahu dia adalah wanita, To." jawabku bercanda.
"Hen, aku ini hendak menjelaskan lho, kamu ini malah memotong."
"Memangnya kamu tahu dia siapa?"
"Mana ada cewek yang tidak aku ketahui pribadinya? Jangan kau kira aku ini playboy cap pasar yang biasa dikelilingi lalat Hen." percaya diri, sok membenarkan kerah seragamnya. Aku tertawa mencibir.
"Yasudah.. jelaskanlah." tantangku.
"Dia adalah satu dari sekian banyak wanita yang aku dekati yang paling tidak aku pahami," lima detik keheningan, "Eh, tapi jangan kau pikir aku tidak jago Hen, dia hanyalah satu... maksudnya, aku berhasil memahami wanita lainnya." gigi kuningnya tampak mencolok saat Tito menyeringai. Aku? Aku tertawa kecil saja menunggu ia lanjut bercerita.
"Dia itu.... magis, aneh, elok, tetapi.. tidak terlalu elok, dahsyat, ummm... tapi biasa saja. Ia itu turun, namun naik. Lurus, namun berkelok. Dia... gelombang yang pecah di karang, seperti ini," tangannya mulai menggambarkan bagaimana ledakan yang diciptakan ombak kala menghantam, "ia adalah simpang lima, ia adalah teka teki yang berbunyi--"
"Sebentar To, bagaimana bisa kau tahu sejauh itu, padahal katamu kau gagal memahaminya?"
"Hehe, aku hanya melebih-lebihkan saja sih Hen. Hehehe."
Langsung kutonjok dibagian bahunya. Kami berlalu sambil tertawa terbahak, melupakan gadis di kantin yang kini tengah menoleh ke arahku. Benar, ia adalah selatan.
***
"To, kau belum menyebutkan nama gadis itu." ujarku setengah berbisik.
"Lho, gadis yang mana?"
"Yang 2 hari kemarin kau jelaskan itu, saat kita kembali ke kelas sehabis makan dari kantin."
"Ohhh, Da(^&%&)na?"
"Uhhhhh! Kalau ngomong jangan sambil kentut, dong, To! Siapa nama gadis itu? Dana?"
"Hehehe. Daksina, Hen, Daksina."
"Ohhh..."
Hening.
"Mengapa kau baru bertanya saat kita ada di WC Hen? Tidakkah ada tempat lain yang lebih sopan dalam menanyakan nama Daksina? Uhhhhh (^%&&%)"
"To! Sudah bel masuk! Buang airmu lama sekali sih!"
"Berkacalah dulu Hen! Kamu juga sewindu! Uhhhh (*&^%^&)"
***
Sejak kutahu namanya, aku mulai lebih sering mencuri pandang. Jika kalian sering melihat cerita cinta klasik anak SMA di film Indonesia era 2000an, hal itu tetap terjadi di tahun 2016. Aku pemeran utamanya. Tapi... tidak tidak, sutradara yang memilihku sebagai pemeran utama justru seakan-akan bunuh diri. Satu orang (dan hanya satu) yang akan menonton film yang aku bintangi, tidak lain, tidak bukan, hanyalah Tito.
Kami jadi sering bertemu, di kantin, di koridor, di depan kelas. Sebenarnya sudah sejak dulu aku mengetahui keberadaan gadis itu, namun baru akhir akhir ini agaknya aku tertarik. Pernah sekali aku hendak menyelipkan puisi ke tasnya, namun nyaliku terlalu kecil. Begini puisinya:
Daksina,
wajahmu elok mempesona
harum tubuhmu tercium dari jarak kilometer nol koma lima
halo, perkenalkan namaku Hendra
Daksina,
aku hanya ingin menyapa
walau dengan serangkaian kata saja
aku harap kau memakluminya
aku Hendra, teman kelas IPA dua
Cerita dramatis saat aku hendak ke kelasnya khatam saat Tito merebut suratnya. Jadilah aku bahan bualan satu kelas selama sebulan. Beruntung Daksina tidak tahu Hendra anak IPA 2 yang saat itu ingin berkenalan. Dasar Tito!!!
Thursday, 24 March 2016
Rindu
Salahkah jikalau aku merindu
tiap jengkal tepimu?
karena malam ini, aku
tak mampu menahan
detak dan dentum
jantung.
tiap jengkal tepimu?
karena malam ini, aku
tak mampu menahan
detak dan dentum
jantung.
Kristalku pecah
terluluh...lantahkan
oleh kehadiranmu
yang menampar
hati.
terluluh...lantahkan
oleh kehadiranmu
yang menampar
hati.
Dahulu kau diujung
yang tak terjangkau
kini kau sejauh jengkal
makin mendekat
sedekat kelingking,
sayang,
kau tetap sejauh mata memandang.
yang tak terjangkau
kini kau sejauh jengkal
makin mendekat
sedekat kelingking,
sayang,
kau tetap sejauh mata memandang.
Datangmu mengisi
datangmu...kutangisi
datangmu,
kubuat rangkaian puisi,yang
sebagian kuisolasi.
datangmu...kutangisi
datangmu,
kubuat rangkaian puisi,yang
sebagian kuisolasi.
Tidak lagi kubisa
muntahkan kata
tidak lagi terbuka
kecuali nanar mata
yang bisa kau tatap
sejauh dua hidung.
muntahkan kata
tidak lagi terbuka
kecuali nanar mata
yang bisa kau tatap
sejauh dua hidung.
Rinduku bisu
rinduku biru
rinduku satu, kamu
rinduku berlagu
rinduku malu
rinduku....
tidak tertangkap
tidak tenggelam,
melayang,
melanglang,
tapi tak menghilang.
rinduku biru
rinduku satu, kamu
rinduku berlagu
rinduku malu
rinduku....
tidak tertangkap
tidak tenggelam,
melayang,
melanglang,
tapi tak menghilang.
Coba kau lihat teropong
siapa tahu,
aku tengah menatap
bengong,
siapa tahu,
aku tengah menatap
bengong,
coba kau berjalan di lorong
siapa tahu,
aku tengah menatap
kosong.
siapa tahu,
aku tengah menatap
kosong.
Detak ini
terasa lengang
partikel tubuhku
terasa merenggang,
terasa lengang
partikel tubuhku
terasa merenggang,
aku berkata "Ya."
aku berkata "Na."
aku berkata "Na."
aku berkata "Na."
aku berkata "Ya."
aku berkata "Ya."
Di sini,
kau?
maukah?
kau?
maukah?
aku lelah
menantimu
di bayang
yang tak nyata
di ujung
yang tak ada
di depan
yang maya.
menantimu
di bayang
yang tak nyata
di ujung
yang tak ada
di depan
yang maya.
Tak kuharap kau merasa
baik-baik saja di sana
tak kuminta kau menjangkau
kelingking
yang menjadi jengkal
dua hidung
yang menjadi kilometer
baik-baik saja di sana
tak kuminta kau menjangkau
kelingking
yang menjadi jengkal
dua hidung
yang menjadi kilometer
rinduku masih hidup
jangan kau pupuki
pula kau sirami
sudah....
cukup.
jangan kau pupuki
pula kau sirami
sudah....
cukup.
Thursday, 12 November 2015
Tak Kuberi Judul
Hembusan angin di perbatasan biru
Melahirkan wajah pucat dan bibir yang biru
Nyatanya kristal embun berbulir penuh haru
Menggantikan rinai berliannya di ujung bingkai yang mengharu
Pelan pelan ia melepas dan ganti menarik
Bertempo, berima bak puisi berlarik
Bahu terangkat kemudian kembali turun
Menghirup aroma rindu yang kian menisik
Bergetar jiwanya ketika hitam mengungu
Kerlip di atas diganti nur kuning
Semua di sana saat itu jadi saksi bisu
Atas pecahnya yang utuh menjadi kepingan lesu
Sepatah demi sepatah rangkainya jadi puisi
Untuk mengganti lara yang kini sudah membentuk rasi
Agar makin pudar makin cepat terobati
Karena sungguh sakit ini makin hari makin sakti
Melahirkan wajah pucat dan bibir yang biru
Nyatanya kristal embun berbulir penuh haru
Menggantikan rinai berliannya di ujung bingkai yang mengharu
Pelan pelan ia melepas dan ganti menarik
Bertempo, berima bak puisi berlarik
Bahu terangkat kemudian kembali turun
Menghirup aroma rindu yang kian menisik
Bergetar jiwanya ketika hitam mengungu
Kerlip di atas diganti nur kuning
Semua di sana saat itu jadi saksi bisu
Atas pecahnya yang utuh menjadi kepingan lesu
Sepatah demi sepatah rangkainya jadi puisi
Untuk mengganti lara yang kini sudah membentuk rasi
Agar makin pudar makin cepat terobati
Karena sungguh sakit ini makin hari makin sakti
Sunday, 1 November 2015
"Mutiara? Apakah itu kau?"
Hari ini ia turun dari pulau kapasnya yang hitam setelah sekian lama dinanti. Perlahan-lahan melompat pasrah. Tak berparasut, tak berpengaman, hanya hanyut mengikuti irama detik. Mutiara namanya, wujudnya sama, namun beribu jumlahnya.
Ia selalu berbicara dengan Takdir, kapan dan di mana ia hendak ditempatkan nantinya. Mutiara akan selalu bereinkarnasi, Kawan. Bergulir mengikuti pola, berputar dalam siklusnya. Bergumul dengan udara, mendekap sinar Sang Surya, kemudian ditidurkan di atas kapas yang putih warnanya, yang lembut sifatnya, tinggal menunggu waktu yang tepat yaitu ketika nyawanya pecah di hadapan semesta.
Mutiara itu suci, Kawan. Adalah berkah sejuta umat. Apa lagi, akhir-akhir ini ia jarang ditemui.
Menghilang.
Raib.
Ada seorang gadis berambut panjang, bermata sipit, berkulit kuning langsat. Pada hari itu ia bergaun anggun, dihiasi manik-manik kecil. Ia seusia remaja pada umumnya.
"Mutiara? Apakah itu kau?" Gadis yang sedari tadi hilang dalam lamunan terpenjat setelah setetes air jatuh dari langit. Beranjak dari tempatnya, berlari memandang Sang Lazuardi.
"Mutiara? Kau datang!" Gembira. Bungah.
"Aku rindu, sungguh, aku merindumu! Ke mana saja kau ini, Mutiara? Berjuta orang mengharapkanmu untuk tumpah ke bumi, namun kau tak kunjung datang, kau tak kunjung mengguyur habis seperti waktu dulu ketika secara berkala kau membasahi kami," ia berujar penuh haru.
"Banyak sekali yang hendak kuceritakan padamu, Wahai. Banyak hal yang perlu kuberi tahu." Suaranya muali tak bernada. Sedikit pecah dan bervibra. Seperti hendak memuntahkan serangkaian kata, namun... agak tertahan di ujung kerongkongannya.
Ia mencoba mengatur nafas.
"Kau tahu? Di Pulau Suwarnadwipa sana beribu orang tengah berkabung. Tanaman-tanaman habis tak bersisa dilalap jago merah, mereka musnah, lenyap diterkam api. Kau tahu siapa yang membuat ulah? Adalah mereka yang bertampang manusia tak berdosa, tapi berperilaku bengis, berhati jalang. Beribu hektar ruang terbakar. Kini yang semula hijau berubah menjadi pemandangan abu. Kelabu."
"Makhluk keji itu tak hanya berulah di satu tempat, Sayang, tidak. Di Nusa Kencana pun ia juga bertindak serupa. Sungguh, Mutiara, malang nasib kami. Korban mulai berjatuhan. Oksigen yang biasanya tersedia gratis, kini sudah mulai menipis. Kami mengharapkan kau datang, agar, paling tidak, menenangkan jiwa kami yang gelisah dengan membantu sedikit para mulia yang tengah bekerja menjinakkan api. Memadamkannya."
"Kami membutuhkanmu Mutiara, kami.. sungguh membutuhkanmu."
Air matanya menitih beriringan dengan kristal langit yang pecah ketika bersentuhan dengan tanah. Tersedu.
"Jangan tinggalkan kami lama-lama, Wahai. Kumohon."
"Berikan kami aroma khasmu itu. Kami rindu. Aku rindu."
"Seringlah berkunjung. Akan kuceritakan kau dongeng-dongeng yang dilontarkan orang berdasi, dan cerita non-fiksi yang terjadi."
"Mutiara, sungguh, kau teramat berharga."
Kemudian Mutiara berpamitan. Berjanji akan menengoknya kembali... secara berkala. Untuk meredam kegelisahan jiwa yang merintih.
Ia selalu berbicara dengan Takdir, kapan dan di mana ia hendak ditempatkan nantinya. Mutiara akan selalu bereinkarnasi, Kawan. Bergulir mengikuti pola, berputar dalam siklusnya. Bergumul dengan udara, mendekap sinar Sang Surya, kemudian ditidurkan di atas kapas yang putih warnanya, yang lembut sifatnya, tinggal menunggu waktu yang tepat yaitu ketika nyawanya pecah di hadapan semesta.
Mutiara itu suci, Kawan. Adalah berkah sejuta umat. Apa lagi, akhir-akhir ini ia jarang ditemui.
Menghilang.
Raib.
Ada seorang gadis berambut panjang, bermata sipit, berkulit kuning langsat. Pada hari itu ia bergaun anggun, dihiasi manik-manik kecil. Ia seusia remaja pada umumnya.
"Mutiara? Apakah itu kau?" Gadis yang sedari tadi hilang dalam lamunan terpenjat setelah setetes air jatuh dari langit. Beranjak dari tempatnya, berlari memandang Sang Lazuardi.
"Mutiara? Kau datang!" Gembira. Bungah.
"Aku rindu, sungguh, aku merindumu! Ke mana saja kau ini, Mutiara? Berjuta orang mengharapkanmu untuk tumpah ke bumi, namun kau tak kunjung datang, kau tak kunjung mengguyur habis seperti waktu dulu ketika secara berkala kau membasahi kami," ia berujar penuh haru.
"Banyak sekali yang hendak kuceritakan padamu, Wahai. Banyak hal yang perlu kuberi tahu." Suaranya muali tak bernada. Sedikit pecah dan bervibra. Seperti hendak memuntahkan serangkaian kata, namun... agak tertahan di ujung kerongkongannya.
Ia mencoba mengatur nafas.
"Kau tahu? Di Pulau Suwarnadwipa sana beribu orang tengah berkabung. Tanaman-tanaman habis tak bersisa dilalap jago merah, mereka musnah, lenyap diterkam api. Kau tahu siapa yang membuat ulah? Adalah mereka yang bertampang manusia tak berdosa, tapi berperilaku bengis, berhati jalang. Beribu hektar ruang terbakar. Kini yang semula hijau berubah menjadi pemandangan abu. Kelabu."
"Makhluk keji itu tak hanya berulah di satu tempat, Sayang, tidak. Di Nusa Kencana pun ia juga bertindak serupa. Sungguh, Mutiara, malang nasib kami. Korban mulai berjatuhan. Oksigen yang biasanya tersedia gratis, kini sudah mulai menipis. Kami mengharapkan kau datang, agar, paling tidak, menenangkan jiwa kami yang gelisah dengan membantu sedikit para mulia yang tengah bekerja menjinakkan api. Memadamkannya."
"Kami membutuhkanmu Mutiara, kami.. sungguh membutuhkanmu."
Air matanya menitih beriringan dengan kristal langit yang pecah ketika bersentuhan dengan tanah. Tersedu.
"Jangan tinggalkan kami lama-lama, Wahai. Kumohon."
"Berikan kami aroma khasmu itu. Kami rindu. Aku rindu."
"Seringlah berkunjung. Akan kuceritakan kau dongeng-dongeng yang dilontarkan orang berdasi, dan cerita non-fiksi yang terjadi."
"Mutiara, sungguh, kau teramat berharga."
Kemudian Mutiara berpamitan. Berjanji akan menengoknya kembali... secara berkala. Untuk meredam kegelisahan jiwa yang merintih.
Thursday, 24 September 2015
Luna... Oh, Luna.
“Namun Luna, Tuan menjahatiku. Aku tak tahan. Sakit sekali.”
- 12 Desember 1987 pukul 22:05
“Ia berlari menujuku sore itu, Luna. Tetapi aku tak kuasa
membendung kristalku. Mereka menetes deras sehingga aku harus bersembunyi. Di
bawah Angkasa, tentunya. Tuan gagal menemukanku.” – 13 Desember 1987 pukul 21:57
“Semuanya palsu, Luna. Semuanya bohong.” – 14 Desember 1987
pukul 21:23
“Awal yang baru, Luna. Aku berharap banyak.” – 23 Desember
1987 pukul 23:00
“Ia memelukku tadi
pagi, Luna. Berkata sayang, berucap cinta.
Ia mengecup keningku lama sekali. Menghangatkan.” – 26 Desember 1987 pukul
20:13
“Jantungku berdebar amat kencang, Luna! Ia baru saja mengatakan sesuatu yang mebuat otakku lepas kendali
dalam meredam gema yang kini kian keras!” – 27 Januari 1988 23:48
“Luna! Tolong aku cegah rasa euforia ini!” – 30 Januari 1988 pukul 22:54
"Aku bahagia, Luna. Aku ceritakan rentetan ceritanya nanti, ya?" - 13 Februari 1988 21:34
"Aku bahagia, Luna. Aku ceritakan rentetan ceritanya nanti, ya?" - 13 Februari 1988 21:34
“Luna, bisakah kita bertemu lebih sering? Aku kerap merasa
kehilangan akhir-akhir ini.” – 24 Februari 1988 pukul 21:32
“Aku meringkuk di sudut kamar sedari tadi. Menanti Surya
pulang setelah selama 13 jam bermain riang, sehingga pada jam ke 20-nya, aku
bisa kembali bersamamu.” – 26 Februari 1988 pukul 20:01
“Ia melambaikan
tangan ketika ia hendak pulang. Ia
berucap rindu.” – 1 Maret 1988 pukul 21:51
“Kepalan
kedua tanganku sedikit memudar, Luna. Mereka juga perlahan terkikis. Aku
khawatir.” – 7 Maret 1988 pukul 23:45
“Aku nyaris terjatuh, Luna.” – 10 Maret 1988 22:53
“Aku merampungkan goresan tangan yang ke 60, Luna! Tanpa
cacat! Kuhubungkan ceritaku. Mereka menjelma menjadi kata yang berantai. Kau
suka bukan?” – 11 Maret 1988 pukul 22:05
“Pisaunya nyaris
mengenai kuku jari telunjuk kananku, Luna. Aku berhasil lolos!” – 15 Maret 1988 pukul 23:32
“Semuanya penuh fluktuasi. Kepalan kedua tanganku tertekan. Mereka makin terkikis. Hampir habis.”
– 19 Maret 1988 pukul 17:31
“Ia datang
kepadaku lagi setelah satu purnama lamanya. Menyapa. Berbasa-basi.” – 16 April 1988 pukul 21:51
“Pukul 13.07 tadi Merah terjatuh. Dan, oh,
mirisnya, Kepalan kurang beruntung. Pecah. Mati.” – 21 April 1988 pukul 23:17
“Terapung, Luna. Ia tak
lagi kuasa, katanya. Kapalnya
terombang-ambing. Begitu juga kapalku. Kukira sang Nahkoda mampu
menyetir. Namun aku salah, Luna. Kami berjauhan, menuju dermaga yang berbeda.” – 28 April 1988 pukul 22:22
“Luna, andai kau tahu apa yang terjadi pada tanggal 23
Desember tahun lalu.” – 30 April 1988 pukul 23:59
Saturday, 19 September 2015
Meraih Impian (Resti Hartika)
Langkah demi
langkah kuambil, menyusuri jalan setapak yang terletak di tengah keramaian.
Taman kotalah tujuanku. Aku hobi membaca buku, konsenterasiku pun tak mudah
terganggu sekalipun itu di tengah kerumunan orang. Aku selalu larut dalam
cerita, selalu termakan bulat-bulat oleh lika-liku alur. Namun kali ini
berbeda. Fokusku tak lagi tertuju pada bagaimana sang penulis menggambarkan
kemegahan istana, atau terjun bersama kisah romansa putri dan pangeran.
Pikiranku melanglang ke suatu tempat, dan menemukan dengung yang selalu membuat
rongga dadaku bergetar, menghantamku dengan gemanya. Ialah gema suara ayah yang
selalu berkata, “Nanda, kamu pasti bisa nak!”
Aku Resti
Hartika, seorang sulung dari lima bersaudara.
***
Ayahku adalah
seorang Pegawai Negeri Sipil, dia juga aktif beorganisasi dan menekuni dunia
jurnalistik. Aku berasal dari keluarga sederhana, sehingga tak mengherankan
apabila bunda juga ikut membantu ayah menopang finansial keluarga dengan
membuka warung kecil-kecilan.
Dari analisis
dan pengamatanku setiap harinya, aku mendapatkan kesimpulan sederhana, yaitu,
ayah dan bundaku adalah seorang pekerja keras. Gambaran dari kegiatan yang
mereka lakukan telah membuahkan suatu pandangan dalam diriku, bahwa untuk bisa
bertahan hidup, bekerja keras, tak pantang menyerah, dan selalu menyertakan Tuhan
dalam setiap hal yang dilakukan adalah kunci utamanya.
Pernah suatu
hari, ketika langit malam begitu cerah, dan hembusan angin terasa begitu
syahdu. Aku bertanya kepada ayah mengenai bagaimana kehidupan ayah sewaktu
kecil. Sambil bersender pada kursi di halaman depan rumah, dan menyeruput teh
yang kubawakan, ayah menjawab sembari menatap bulan, “dulu untuk makan saja
susah, nak,” sejenak ayah berbalik arah, menatap mataku lekat, dan kembali menyusuri
langit,”kamu tahu, kan, ayah adalah seorang sulung, dan ayah adalah seorang
lelaki. Ayah selalu bekerja keras membantu kakek dan nenek. Ayah juga
menanamkan jiwa juang pada adik-adik ayah. Paling tidak agar mereka tidak mati
kelaparan karena kehilangan harapan, juga agar mereka mengerti bahwa untuk
hidup itu tidak hanya sekedar menghirup oksigen dan berkedip. Bahwa hidup itu
adalah suatu kompetisi. Ayah selalu memotivasi mereka untuk jangan merasa kecil
karena status mereka sebagai anak seorang petani. Ayah juga kerap berpesan untuk
menggapai angan sampai dapat dan tergenggam, karena masa depan adalah tanggung
jawab masing-masing dari kita.
“Mungkin
sekarang ini kamu tengah bertanya, mengapa kini ayah hanya menjadi seorang PNS.
Kau akan mengetahuinya segera nak, namun tidak sekarang. Yang terpenting
adalah, kamu harus yakinkan pada dirimu bahwa kamu dilahirkan untuk sukses. Kau
tahu nak? Ayahmu ini yakin sekali bahwa kamu pasti bisa menerjang segala
rintangan dan badai esok hari,” lalu ayah perlahan beranjak dari kursinya,berjalan
menujuku yang berada di sisi sebelah, memegang kedua bahuku dengan sedikit
mengguncangkannya, “Nanda, kamu pasti bisa nak!” senyum ayah mengembang
perlahan. Aku melihat binar matanya yang seakan menaruh penuh harap kepadaku.
Aku menatap kosong ke depan ketika ayah memelukku. Sejak saat itu, setiap kali
pikiranku memutar ulang gema suara ayah, rongga dadaku meletup-letup, berdetak
kencang, seakan akan beban yang kurasakan semakin berat. Pikiranku hanya mampu
berkata, “Hendak jadi apa aku nantinya untuk bisa, paling tidak, membanggakan
kedua orang tuaku?”
***
“Maafkan
kami, Nanda, kami harap kamu mengerti. Ayah dan bunda masih harus membiayai
sekolah adik-adikmu, dan memenuhi kebutuhan lainnya. Kami harap kamu maklum,
nak. Kami tau kamu sangat tersayat akan pernyataan kami barusan, bahwa kendala
finansial keluarga kita saat ini mengancammu untuk tidak bisa melanjutkan ke
fakultas kedokteran. Sabar ya nak, maafkan kami,” Begitu ucap ayah ketika aku
meminta persetujuan ingin masuk fakultas kedokteran. Aku hanya bisa terguguk
dan tersedu di kamar. Beruntungnya aku tidak sampai menyalahkan kedua orang
tuaku atau bahkan takdir.
Hari-hari
selanjutnya aku mencoba untuk melangkah maju, berfikir positif bahwa Tuhan
memiliki rencana yang jauh lebih baik dari ini. Hingga suatu ketika, aku
memutuskan untuk mendaftar Sekolah Tinggi Pemerintah Dalam Negeri. Namun untuk
kedua kalinya aku gagal, dan yang lebih menyakitkan adalah aku gagal karena
tinggi badanku tidak memenuhi persyaratan.
“Tidak
mengapa nak, mungkin ini bukan jalan yang terbaik untukmu. Bunda yakin masih
ada banyak hal di depan yang lebih baik,
jangan patah harapan. Berdoalah kepada Tuhan, dekatkanlah jiwamu
kepadaNya.”
***
Aku
masih terluka pada minggu-minggu setelah itu, bahkan berbulan-bulan. Aku sempat
tumbang, karena dua cita-citaku gagal kuraih. Maka aku siasati waktu senggangku
dengan membantu bunda di warung.
Tak
jarang saat aku terbangun di tengah malam, aku mendengar deru mesin jahit yang
digunakan bunda untuk menggabungkan kain perca untuk menjadi bed cover. Bed cover
tersebut nantinya dititipkan di toko swalayan.
Pernah
suatu malam, setelah kudengar ibu menyelesaikan jahitan terakhirnya, air mataku
mengucur deras. Sampai pagi aku mempersilahkan emosiku meluap setelah kupendam
sorang diri. Aku berjalan keluar kamar untuk mengambil air suci, kemudian aku
berlutut mencurahkan segalanya kepada Yang Mahaesa.
Aku selalu meminta
Tuhan untuk menguatkanku. Aku senantiasa mendoakan kedua orang tuaku.
***
Suatu
hari, ayah mengumpulkan aku dan adik-adik di ruang keluarga. “Ayah mau
menyampaikan keputusan yang sangat penting dan ayah ingin kalian untuk
menanggapi,” sesaat ruangan begitu sunyi. Aku menatap ayah, menunggu apa yang
hendak disampaikan selanjutnya, “ayah memutuskan untuk berhenti menjadi PNS dan
keluar dari organisasi yang ayah ikuti. Ayah akan mulai menggeluti dunia
usaha,” ayah menatap satu-persatu dari kami, “apakah di antara kalian ada yang
ingin berkomentar?”Adik-adikku hanya menunduk. Mungkin bingung dengan
pernyataan ayah barusan. Entah harus merasa senang atau malah sebaliknya. Namun
saat itu juga aku memeluk ayah dengan erat. Aku merasakan kehangatan air yang
tumpah dari kelopak mata dan menyusuri pipi hingga jatuh ditarik gravitasi.
Doaku terkabul! Doaku terkabul!
Sebagai
langkah awal dalam membuka usaha, ayah selalu membaca buku-buku sederet profil
pengusaha sukses, seperti Bob Sadino, Bill Gates, Steve Jobs, dan Elang
Gumilang. Aku pun ikut tertarik untuk membaca. Setelah kuanalisis, kunci kesuksesan mereka adalah bekerja keras, tak pantang menyerah, dan selalu
menyertakan Tuhan dalam setiap hal yang dilakukan. Sejak saat itu, kuniatkan
pada diriku bahwa kegagalan kemarin bukan menjadi suatu penghalang bagiku untuk
bisa terus maju dan sukses. Bukankah mereka yang bisa menggapai impian yang
begitu tinggi sudah berkali-kali terjungkir, terbalik, terjatuh, terseok-seok,
atau bahkan hampir tenggelam? Namun mereka tak pantang menyerah! Tak patah semangat! Aku bermimpi menjadi seorang pengusaha, dan aku yakin, aku
pasti bisa.
***
Berfikir
positif teramat penting dalam menjalani kehidupan. Perlahan-lahan aku tidak
menghiraukan pikiranku yang terus menggemakan mengenai dua kegagalanku.
Akhirnya, aku diterima di jurusan bahasa Inggris! Aku sangat bersyukur.
Kegagalan mengajariku betapa berharganya sesuatu yang telah kudapatkan saat
itu. Tak kusia-siakan kesempatan tersebut, walau pun ada sedikit kendala
finansial, tidak berarti aku bisa mengeluhkan apa yang terjadi padaku. Justru
hal tersebut membuat semangatku berkobar. Aku merambah dunia kerja di samping
kuliah, aku belajar dan mendapat pengalaman.
Suatu
ketika, Kak Ica, saudara sepupuku datang kepadaku dan mengajak untuk
berpatungan membeli kios yang ada di sebelah toko Bunda, “Nanda, di sebelah
toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli
kios itu, lalu kita jual pakaian di sana?” Setelah kupertimbangkan, aku
mengiyakan ajakan Kak Ica. Kami mulai berbisnis pakaian. Hasil yang kami
dapatkan di luar ekspektasi. Usaha itu memuai hasil yang gemilang!
Aku
semakin giat menekuni usahaku dan Kak ica. Namun hal tersebut tidak menurunkan
prestasiku di ranah akademis. Aku
berhasil mempertahankan semuanya dengan hasil yang memukau.
***
Kini
ayah tengah berkutat dengan profesi barunya, yaitu menjadi seorang motivator.
Ayah selalu sibuk karena banyak panggilan yang menginginkan ayah untuk hadir
dalam acara yang mereka adakan. Hal ini menginspirasiku untuk menjajal dunia event organizer. Dari kedua pengalamanku
tersebut, aku makin tertarik dengan dunia usaha. Aku mulai menekuni
bidang-bidang yang lain. Aku mulai mencicipi hal-hal yang bisa mendatangkan aku
pengalaman. Usaha penjualan tiket pesawat pun kulakoni hingga membuahkan
beberapa kantor cabang di berbagai kota di negeri ini. Aku mencintai apa yang
kulakukan sekarang, dan aku sangat bersyukur kepada Tuhan, karena tanpa
kegagalan yang Ia beri, aku takkan mampu menjadi diriku yang sekarang.
***
Kehidupan
memang selalu menguji diri kita terlebih dahulu sebelum kita mendapatkan hikmah
atau pun pelajaran. Hidup mengajariku bahwa usaha dan doa yang dilakukan akan
sebanding dengan hasil yang akan diterima. Hidup mengajariku bahwa tidak ada
hal yang dengan mudah akan diterima, tidak akan ada hal berharga yang cepat
digapai. Semua butuh diperjuangkan. Sekali pun kita dihadang oleh terjangan
hujan dan badai, atau bahkan terseret ombak, jangan menyerah. Semua yang kuraih
saat ini bukan lain karena kerja kerasku, doa orang tuaku, dan Tuhan yang
selalu menguatkan dan membimbingku.
Aku
Resti Hartika seorang sulung dari lima bersaudara, yang kini sukses meraih
impian.
Subscribe to:
Posts (Atom)