“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Thursday, 24 March 2016

Rindu

Salahkah jikalau aku merindu
tiap jengkal tepimu?
karena malam ini, aku
tak mampu menahan
detak dan dentum
jantung.
Kristalku pecah
terluluh...lantahkan
oleh kehadiranmu
yang menampar
hati.
Dahulu kau diujung
yang tak terjangkau
kini kau sejauh jengkal
makin mendekat
sedekat kelingking,
sayang,
kau tetap sejauh mata memandang.
Datangmu mengisi
datangmu...kutangisi
datangmu,
kubuat rangkaian puisi,yang
sebagian kuisolasi.
Tidak lagi kubisa
muntahkan kata
tidak lagi terbuka
kecuali nanar mata
yang bisa kau tatap
sejauh dua hidung.
Rinduku bisu
rinduku biru
rinduku satu, kamu
rinduku berlagu
rinduku malu
rinduku....
tidak tertangkap
tidak tenggelam,
melayang,
melanglang,
tapi tak menghilang.
Coba kau lihat teropong
siapa tahu,
aku tengah menatap
bengong,
coba kau berjalan di lorong
siapa tahu,
aku tengah menatap
kosong.
Detak ini
terasa lengang
partikel tubuhku
terasa merenggang,
aku berkata "Ya."
aku berkata "Na."
aku berkata "Na."
aku berkata "Ya."
Di sini,
kau?
maukah?
aku lelah
menantimu
di bayang
yang tak nyata
di ujung
yang tak ada
di depan
yang maya.
Tak kuharap kau merasa
baik-baik saja di sana
tak kuminta kau menjangkau
kelingking
yang menjadi jengkal
dua hidung
yang menjadi kilometer
rinduku masih hidup
jangan kau pupuki
pula kau sirami
sudah....
cukup.

Thursday, 12 November 2015

Tak Kuberi Judul

Hembusan angin di perbatasan biru
Melahirkan wajah pucat dan bibir yang biru
Nyatanya kristal embun berbulir penuh haru
Menggantikan rinai berliannya di ujung bingkai yang mengharu

Pelan pelan ia melepas dan ganti menarik
Bertempo, berima bak puisi berlarik
Bahu terangkat kemudian kembali turun
Menghirup aroma rindu yang kian menisik

Bergetar jiwanya ketika hitam mengungu
Kerlip di atas diganti nur kuning
Semua di sana saat itu jadi saksi bisu
Atas pecahnya yang utuh menjadi kepingan lesu

Sepatah demi sepatah rangkainya jadi puisi
Untuk mengganti lara yang kini sudah membentuk rasi
Agar makin pudar makin cepat terobati
Karena sungguh sakit ini makin hari makin sakti

Sunday, 1 November 2015

"Mutiara? Apakah itu kau?"

Hari ini ia turun dari pulau kapasnya yang hitam setelah sekian lama dinanti. Perlahan-lahan melompat pasrah. Tak berparasut, tak berpengaman, hanya hanyut mengikuti irama detik. Mutiara namanya, wujudnya sama, namun beribu jumlahnya.
Ia selalu berbicara dengan Takdir, kapan dan di mana ia hendak ditempatkan nantinya. Mutiara akan selalu bereinkarnasi, Kawan. Bergulir mengikuti pola, berputar dalam siklusnya. Bergumul dengan udara, mendekap sinar Sang Surya, kemudian ditidurkan di atas kapas yang putih warnanya, yang lembut sifatnya, tinggal menunggu waktu yang tepat yaitu ketika nyawanya pecah di hadapan semesta.
Mutiara itu suci, Kawan. Adalah berkah sejuta umat. Apa lagi, akhir-akhir ini ia jarang ditemui.
Menghilang.
Raib.

Ada seorang gadis berambut panjang, bermata sipit, berkulit kuning langsat. Pada hari itu ia bergaun anggun, dihiasi manik-manik kecil. Ia seusia remaja pada umumnya.
"Mutiara? Apakah itu kau?" Gadis yang sedari tadi hilang dalam lamunan terpenjat setelah setetes air jatuh dari langit. Beranjak dari tempatnya, berlari memandang Sang Lazuardi.
"Mutiara? Kau datang!" Gembira. Bungah.
"Aku rindu, sungguh, aku merindumu! Ke mana saja kau ini, Mutiara? Berjuta orang mengharapkanmu untuk tumpah ke bumi, namun kau tak kunjung datang, kau tak kunjung mengguyur habis seperti waktu dulu ketika secara berkala kau membasahi kami," ia berujar penuh haru.
"Banyak sekali yang hendak kuceritakan padamu, Wahai. Banyak hal yang perlu kuberi tahu." Suaranya muali tak bernada. Sedikit pecah dan bervibra. Seperti hendak memuntahkan serangkaian kata, namun... agak tertahan di ujung kerongkongannya.
Ia mencoba mengatur nafas.
"Kau tahu? Di Pulau Suwarnadwipa sana beribu orang tengah berkabung. Tanaman-tanaman habis tak bersisa dilalap jago merah, mereka musnah, lenyap diterkam api. Kau tahu siapa yang membuat ulah? Adalah mereka yang bertampang manusia tak berdosa, tapi berperilaku bengis, berhati jalang. Beribu hektar ruang terbakar. Kini yang semula hijau berubah menjadi pemandangan abu. Kelabu."
"Makhluk keji itu tak hanya berulah di satu tempat, Sayang, tidak. Di Nusa Kencana pun ia juga bertindak serupa. Sungguh, Mutiara, malang nasib kami. Korban mulai berjatuhan. Oksigen yang biasanya tersedia gratis, kini sudah mulai menipis. Kami mengharapkan kau datang, agar, paling tidak, menenangkan jiwa kami yang gelisah dengan membantu sedikit para mulia yang tengah bekerja menjinakkan api. Memadamkannya."
"Kami membutuhkanmu Mutiara, kami.. sungguh membutuhkanmu."
Air matanya menitih beriringan dengan kristal langit yang pecah ketika bersentuhan dengan tanah. Tersedu.
"Jangan tinggalkan kami lama-lama, Wahai. Kumohon."
"Berikan kami aroma khasmu itu. Kami rindu. Aku rindu."
"Seringlah berkunjung. Akan kuceritakan kau dongeng-dongeng yang dilontarkan orang berdasi, dan cerita non-fiksi yang terjadi."
"Mutiara, sungguh, kau teramat berharga."

Kemudian Mutiara berpamitan. Berjanji akan menengoknya kembali... secara berkala. Untuk meredam kegelisahan jiwa yang merintih.

Thursday, 24 September 2015

Luna... Oh, Luna.



“Namun Luna, Tuan menjahatiku. Aku tak tahan. Sakit sekali.” - 12 Desember 1987 pukul 22:05

“Ia berlari menujuku sore itu, Luna. Tetapi aku tak kuasa membendung kristalku. Mereka menetes deras sehingga aku harus bersembunyi. Di bawah Angkasa, tentunya. Tuan gagal menemukanku.” – 13 Desember 1987 pukul 21:57

“Semuanya palsu, Luna. Semuanya bohong.” – 14 Desember 1987 pukul 21:23

“Awal yang baru, Luna. Aku berharap banyak.” – 23 Desember 1987 pukul 23:00

Ia memelukku tadi pagi, Luna. Berkata sayang, berucap cinta. Ia mengecup keningku lama sekali. Menghangatkan.” – 26 Desember 1987 pukul 20:13

“Jantungku berdebar amat kencang, Luna! Ia baru saja mengatakan sesuatu yang mebuat otakku lepas kendali dalam meredam gema yang kini kian keras!” –  27 Januari 1988 23:48

“Luna! Tolong aku cegah rasa euforia ini!” – 30 Januari 1988 pukul 22:54

"Aku bahagia, Luna. Aku ceritakan rentetan ceritanya nanti, ya?" - 13 Februari 1988 21:34

“Luna, bisakah kita bertemu lebih sering? Aku kerap merasa kehilangan akhir-akhir ini.” –  24 Februari 1988 pukul 21:32

“Aku meringkuk di sudut kamar sedari tadi. Menanti Surya pulang setelah selama 13 jam bermain riang, sehingga pada jam ke 20-nya, aku bisa kembali bersamamu.” – 26 Februari 1988 pukul 20:01

Ia melambaikan tangan ketika ia hendak pulang. Ia berucap rindu.” – 1 Maret 1988 pukul 21:51

“Kepalan kedua tanganku sedikit memudar, Luna. Mereka juga perlahan terkikis. Aku khawatir.” – 7 Maret 1988 pukul 23:45

“Aku nyaris terjatuh, Luna.” – 10 Maret 1988 22:53

“Aku merampungkan goresan tangan yang ke 60, Luna! Tanpa cacat! Kuhubungkan ceritaku. Mereka menjelma menjadi kata yang berantai. Kau suka bukan?” – 11 Maret 1988 pukul 22:05

“Pisaunya nyaris mengenai kuku jari telunjuk kananku, Luna. Aku berhasil lolos!” – 15 Maret 1988 pukul 23:32

“Semuanya penuh fluktuasi. Kepalan kedua tanganku tertekan. Mereka makin terkikis. Hampir habis.” – 19 Maret 1988 pukul 17:31

Ia datang kepadaku lagi setelah satu purnama lamanya. Menyapa. Berbasa-basi.” – 16 April 1988 pukul 21:51

“Pukul 13.07 tadi Merah terjatuh. Dan, oh, mirisnya, Kepalan  kurang beruntung. Pecah. Mati.” – 21 April 1988 pukul 23:17

“Terapung, Luna. Ia tak lagi kuasa, katanya. Kapalnya terombang-ambing. Begitu juga kapalku. Kukira sang Nahkoda mampu menyetir. Namun aku salah, Luna. Kami berjauhan, menuju dermaga yang berbeda.” – 28 April 1988 pukul 22:22

“Luna, andai kau tahu apa yang terjadi pada tanggal 23 Desember tahun lalu.” – 30 April 1988 pukul 23:59

Saturday, 19 September 2015

Meraih Impian (Resti Hartika)



Langkah demi langkah kuambil, menyusuri jalan setapak yang terletak di tengah keramaian. Taman kotalah tujuanku. Aku hobi membaca buku, konsenterasiku pun tak mudah terganggu sekalipun itu di tengah kerumunan orang. Aku selalu larut dalam cerita, selalu termakan bulat-bulat oleh lika-liku alur. Namun kali ini berbeda. Fokusku tak lagi tertuju pada bagaimana sang penulis menggambarkan kemegahan istana, atau terjun bersama kisah romansa putri dan pangeran. Pikiranku melanglang ke suatu tempat, dan menemukan dengung yang selalu membuat rongga dadaku bergetar, menghantamku dengan gemanya. Ialah gema suara ayah yang selalu berkata, “Nanda, kamu pasti bisa nak!”
Aku Resti Hartika, seorang sulung dari lima bersaudara.
***
Ayahku adalah seorang Pegawai Negeri Sipil, dia juga aktif beorganisasi dan menekuni dunia jurnalistik. Aku berasal dari keluarga sederhana, sehingga tak mengherankan apabila bunda juga ikut membantu ayah menopang finansial keluarga dengan membuka warung kecil-kecilan.
Dari analisis dan pengamatanku setiap harinya, aku mendapatkan kesimpulan sederhana, yaitu, ayah dan bundaku adalah seorang pekerja keras. Gambaran dari kegiatan yang mereka lakukan telah membuahkan suatu pandangan dalam diriku, bahwa untuk bisa bertahan hidup, bekerja keras, tak pantang menyerah, dan selalu menyertakan Tuhan dalam setiap hal yang dilakukan adalah kunci utamanya.
Pernah suatu hari, ketika langit malam begitu cerah, dan hembusan angin terasa begitu syahdu. Aku bertanya kepada ayah mengenai bagaimana kehidupan ayah sewaktu kecil. Sambil bersender pada kursi di halaman depan rumah, dan menyeruput teh yang kubawakan, ayah menjawab sembari menatap bulan, “dulu untuk makan saja susah, nak,” sejenak ayah berbalik arah, menatap mataku lekat, dan kembali menyusuri langit,”kamu tahu, kan, ayah adalah seorang sulung, dan ayah adalah seorang lelaki. Ayah selalu bekerja keras membantu kakek dan nenek. Ayah juga menanamkan jiwa juang pada adik-adik ayah. Paling tidak agar mereka tidak mati kelaparan karena kehilangan harapan, juga agar mereka mengerti bahwa untuk hidup itu tidak hanya sekedar menghirup oksigen dan berkedip. Bahwa hidup itu adalah suatu kompetisi. Ayah selalu memotivasi mereka untuk jangan merasa kecil karena status mereka sebagai anak seorang petani. Ayah juga kerap berpesan untuk menggapai angan sampai dapat dan tergenggam, karena masa depan adalah tanggung jawab masing-masing dari kita.
“Mungkin sekarang ini kamu tengah bertanya, mengapa kini ayah hanya menjadi seorang PNS. Kau akan mengetahuinya segera nak, namun tidak sekarang. Yang terpenting adalah, kamu harus yakinkan pada dirimu bahwa kamu dilahirkan untuk sukses. Kau tahu nak? Ayahmu ini yakin sekali bahwa kamu pasti bisa menerjang segala rintangan dan badai esok hari,” lalu ayah perlahan beranjak dari kursinya,berjalan menujuku yang berada di sisi sebelah, memegang kedua bahuku dengan sedikit mengguncangkannya, “Nanda, kamu pasti bisa nak!” senyum ayah mengembang perlahan. Aku melihat binar matanya yang seakan menaruh penuh harap kepadaku. Aku menatap kosong ke depan ketika ayah memelukku. Sejak saat itu, setiap kali pikiranku memutar ulang gema suara ayah, rongga dadaku meletup-letup, berdetak kencang, seakan akan beban yang kurasakan semakin berat. Pikiranku hanya mampu berkata, “Hendak jadi apa aku nantinya untuk bisa, paling tidak, membanggakan kedua orang tuaku?”
***
            “Maafkan kami, Nanda, kami harap kamu mengerti. Ayah dan bunda masih harus membiayai sekolah adik-adikmu, dan memenuhi kebutuhan lainnya. Kami harap kamu maklum, nak. Kami tau kamu sangat tersayat akan pernyataan kami barusan, bahwa kendala finansial keluarga kita saat ini mengancammu untuk tidak bisa melanjutkan ke fakultas kedokteran. Sabar ya nak, maafkan kami,” Begitu ucap ayah ketika aku meminta persetujuan ingin masuk fakultas kedokteran. Aku hanya bisa terguguk dan tersedu di kamar. Beruntungnya aku tidak sampai menyalahkan kedua orang tuaku atau bahkan takdir.
            Hari-hari selanjutnya aku mencoba untuk melangkah maju, berfikir positif bahwa Tuhan memiliki rencana yang jauh lebih baik dari ini. Hingga suatu ketika, aku memutuskan untuk mendaftar Sekolah Tinggi Pemerintah Dalam Negeri. Namun untuk kedua kalinya aku gagal, dan yang lebih menyakitkan adalah aku gagal karena tinggi badanku tidak memenuhi persyaratan.
            “Tidak mengapa nak, mungkin ini bukan jalan yang terbaik untukmu. Bunda yakin masih ada banyak hal di depan yang lebih baik,  jangan patah harapan. Berdoalah kepada Tuhan, dekatkanlah jiwamu kepadaNya.”
***
            Aku masih terluka pada minggu-minggu setelah itu, bahkan berbulan-bulan. Aku sempat tumbang, karena dua cita-citaku gagal kuraih. Maka aku siasati waktu senggangku dengan membantu bunda di warung.
            Tak jarang saat aku terbangun di tengah malam, aku mendengar deru mesin jahit yang digunakan bunda untuk menggabungkan kain perca untuk menjadi bed cover. Bed cover tersebut nantinya dititipkan di toko swalayan.
            Pernah suatu malam, setelah kudengar ibu menyelesaikan jahitan terakhirnya, air mataku mengucur deras. Sampai pagi aku mempersilahkan emosiku meluap setelah kupendam sorang diri. Aku berjalan keluar kamar untuk mengambil air suci, kemudian aku berlutut mencurahkan segalanya kepada Yang Mahaesa.
Aku selalu meminta Tuhan untuk menguatkanku. Aku senantiasa mendoakan kedua orang tuaku.
***
            Suatu hari, ayah mengumpulkan aku dan adik-adik di ruang keluarga. “Ayah mau menyampaikan keputusan yang sangat penting dan ayah ingin kalian untuk menanggapi,” sesaat ruangan begitu sunyi. Aku menatap ayah, menunggu apa yang hendak disampaikan selanjutnya, “ayah memutuskan untuk berhenti menjadi PNS dan keluar dari organisasi yang ayah ikuti. Ayah akan mulai menggeluti dunia usaha,” ayah menatap satu-persatu dari kami, “apakah di antara kalian ada yang ingin berkomentar?”Adik-adikku hanya menunduk. Mungkin bingung dengan pernyataan ayah barusan. Entah harus merasa senang atau malah sebaliknya. Namun saat itu juga aku memeluk ayah dengan erat. Aku merasakan kehangatan air yang tumpah dari kelopak mata dan menyusuri pipi hingga jatuh ditarik gravitasi. Doaku terkabul! Doaku terkabul!
            Sebagai langkah awal dalam membuka usaha, ayah selalu membaca buku-buku sederet profil pengusaha sukses, seperti Bob Sadino, Bill Gates, Steve Jobs, dan Elang Gumilang. Aku pun ikut tertarik untuk membaca. Setelah kuanalisis, kunci kesuksesan mereka adalah bekerja keras, tak pantang menyerah, dan selalu menyertakan Tuhan dalam setiap hal yang dilakukan. Sejak saat itu, kuniatkan pada diriku bahwa kegagalan kemarin bukan menjadi suatu penghalang bagiku untuk bisa terus maju dan sukses. Bukankah mereka yang bisa menggapai impian yang begitu tinggi sudah berkali-kali terjungkir, terbalik, terjatuh, terseok-seok, atau bahkan hampir tenggelam? Namun mereka tak pantang menyerah! Tak patah semangat! Aku bermimpi menjadi seorang pengusaha, dan aku yakin, aku pasti bisa.
***
            Berfikir positif teramat penting dalam menjalani kehidupan. Perlahan-lahan aku tidak menghiraukan pikiranku yang terus menggemakan mengenai dua kegagalanku. Akhirnya, aku diterima di jurusan bahasa Inggris! Aku sangat bersyukur. Kegagalan mengajariku betapa berharganya sesuatu yang telah kudapatkan saat itu. Tak kusia-siakan kesempatan tersebut, walau pun ada sedikit kendala finansial, tidak berarti aku bisa mengeluhkan apa yang terjadi padaku. Justru hal tersebut membuat semangatku berkobar. Aku merambah dunia kerja di samping kuliah, aku belajar dan mendapat pengalaman.
            Suatu ketika, Kak Ica, saudara sepupuku datang kepadaku dan mengajak untuk berpatungan membeli kios yang ada di sebelah toko Bunda, “Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu, lalu kita jual pakaian di sana?” Setelah kupertimbangkan, aku mengiyakan ajakan Kak Ica. Kami mulai berbisnis pakaian. Hasil yang kami dapatkan di luar ekspektasi. Usaha itu memuai hasil yang gemilang!
            Aku semakin giat menekuni usahaku dan Kak ica. Namun hal tersebut tidak menurunkan prestasiku di ranah akademis.  Aku berhasil mempertahankan semuanya dengan hasil yang memukau.
***
            Kini ayah tengah berkutat dengan profesi barunya, yaitu menjadi seorang motivator. Ayah selalu sibuk karena banyak panggilan yang menginginkan ayah untuk hadir dalam acara yang mereka adakan. Hal ini menginspirasiku untuk menjajal dunia event organizer. Dari kedua pengalamanku tersebut, aku makin tertarik dengan dunia usaha. Aku mulai menekuni bidang-bidang yang lain. Aku mulai mencicipi hal-hal yang bisa mendatangkan aku pengalaman. Usaha penjualan tiket pesawat pun kulakoni hingga membuahkan beberapa kantor cabang di berbagai kota di negeri ini. Aku mencintai apa yang kulakukan sekarang, dan aku sangat bersyukur kepada Tuhan, karena tanpa kegagalan yang Ia beri, aku takkan mampu menjadi diriku yang sekarang.
***
            Kehidupan memang selalu menguji diri kita terlebih dahulu sebelum kita mendapatkan hikmah atau pun pelajaran. Hidup mengajariku bahwa usaha dan doa yang dilakukan akan sebanding dengan hasil yang akan diterima. Hidup mengajariku bahwa tidak ada hal yang dengan mudah akan diterima, tidak akan ada hal berharga yang cepat digapai. Semua butuh diperjuangkan. Sekali pun kita dihadang oleh terjangan hujan dan badai, atau bahkan terseret ombak, jangan menyerah. Semua yang kuraih saat ini bukan lain karena kerja kerasku, doa orang tuaku, dan Tuhan yang selalu menguatkan dan membimbingku.
            Aku Resti Hartika seorang sulung dari lima bersaudara, yang kini sukses meraih impian.

Tuesday, 17 March 2015

Kakanda...

Jam dinding berdetik
tik..tok..tik..tok
Di sini sunyi, tak ada bunyi
Di sini senyap, suara tengah terlelap.
Aku...
Aku resah, Kakanda
aku diselimuti gundah.
Jantungku bertempo tak teratur
detaknya permenit tak terukur
wajahnyanya menggarang- sangar
suaranya terdengar parau, dan bergetar
iramanya mengeras. Namun,
hanya aku yang mampu mendengar
Karena aku terperangkap dalam penjara, Kakanda
Penjara Kegelisahan Jiwa.

tik..tok..tik..tok
Waktu terus berjalan
Masih antagonis, tak mau beralih peran
Setiap tik-nya menyayatku,
tok-nya mencambukku sukmaku!
Apa salahku, Kakanda?
Mengapa sikapnya begitu jalang terhadapku?
Mengapa tatkala aku berlutut, memintanya berhenti
ia justru mengujatku lebih hebat lagi?
Aku...
Aku sendiri, Kakanda
Tolong bawa aku kabur
Tolong culik aku dan kepinganku yang hancur
Tolong tempatkan aku di suatu tempat
di mana kebahagian ditabur, dan
keceriaan tak akan pernah bisa luntur.

teng...
Pukul 01:00 tengah malam
Di ujung barat sana,
sekelompok serigala tengah mengaung
bersahut-sahutan, memperingatkan
bunyi akan segera kembali
Aku masih di sini. Terkurung.
Aku mohon jawabanmu, Kakanda
apa yang harus kulakukan
ketika tik dan tok memanggil mereka
dan akhirnya gelombang bunyi menemukanku?
lantas mereka akan melucuti kulitku,
menyiksaku jiwaku,
membunuh sanubariku,
sementara yang bisa kulakukan hanyalah terguguk!
dan... bagai mana nasib jantungku
yang sedari tadi merajuk- meliuk-liuk
menyembunyikan ketakutan atas hal yang kutunjuk?
Beri aku uluran tanganmu, Kakanda
Waktuku tinggal beberapa detik
hanya dalam hitungan 126 tok dan 127 tik
sukmaku akan dihabisi
Kumohon kali ini, Kakanda
Kumohon kau untuk gemakan sepatah kata
Agar aku tahu, bahwasanya aku tak sepenuhnya sendiri
masih ada belahan sukma lain
yang akan membantuku untuk bangkit
dan menghadapi pahitnya kesengsaraan batin.

***

Apakah kau masih ada di sana, Kakanda?
Kini aku sudah buta akan kekejaman, dan tuli akan kesakitan,
Belahan sukmaku akhirnya merontokkan gelombang bunyi itu
Ia sudah mati, ditelan jalangnya sendiri.
Kini kau tak perlu khawatir lagi, Kakanda
Karena sekarang yang kau ketahui adalah yang kuketahui

Semuanya ada pada diriku, dan aku yang memusnahkan

Sunday, 22 February 2015

Tuan

Summer after high school when we first met
We made out in your Mustang to Radiohead

...


Masih kuingat kala senja mempertemukan kita di tengah keramaian Ibu kota 
membungkus hangat hati di bawah sinarnya yang terik
membuat tatapan matamu yang sedikit menyipit tambah menarik
Kamu memulainya terlebih dahulu dengan sapaan Hai
mereka bernada, bermelodi, hmmmm syahdu sekali
Kutatap balik matamu, bisa kulihat refleksiku di situ
Awal yang menyenangkan, bukan? 


...
Talk about our future like we had a clue
Never planned that one day I'd be losing you



Waktu seakan terbang begitu cepat ketika aku dan kamu tengah memandang awan
bersandar pada kursi di gazebo sembari menyeruput kopi hitam
berangan-angan menuju ke tempat antah-berantah
berspekulasi mengenai kejadian yang mungkin akan kita alami
tanpa terbesit sedikit pun hal buruk yang mungkin akan terbit
yang akan menjauhkan jemari kita yang bertautan
atau yang akan menyisakan luka di hati yang terdalam.


...
Never one without the other, we made a pact
Sometimes when I miss you, I put those records on

Aaaah, masih kuingat betul saat kau berjanji
bertutur lembut- merajut kata sembari berlutut
Takkan kuperbolehkan siapa pun melukai hatimu, Sayang
Begitu, kan?
Langit menjadi saksi, Tuan, mereka merekam tiap tindakanmu kala itu, dan
aku hanya tersenyum polos

luluh terlalu dalam terhadap kata-kata yang kamu ucapkan


...
Someone said you had your tattoo removed
Saw you downtown singing the blues

It's time to face the music, I'm no longer your muse
...

Namun, akhir akhir ini yang kulihat hanya bekas tapak kakimu, Tuan
Tak ada lagi pembicaraan hangat, atau jemari yang saling bertautan
Tak lagi ada ucapan romantis, atau tatapan lembut
Lantas, apa maksudmu tak memperbolehkan siapa pun untuk melukaiku

sementara kau sendiri menyiksa batinku?
Kepastian pun tak kau berikan, Tuan!
Kini aku menunggu bayang-bayang! Aku menunggu yang semu!
Dimana engkau berada, Tuan?
Jawablah aku... segera.


...
In another life I would be your girl
We keep all our promises, be us against the world

...

Telah berkali-kali kuimpikan menjalani hari bersamamu, Tuan
Asal kau tahu, bunga di hatiku selalu mengembang indah 
kala kau menatapku
Kini ia melayu- membungkuk sayu- terguguk


...
I should have told you what you meant to me
...

Ataukah aku yang menjadi tersangka?
Salahku tak bertanya mengenai kepastian
yang tak menyatakan apa yang kurasa terhadapmu?


...
You were the one that got away

Aaaah, sudahlah, Tuan
Biar bayang-bayangmu perlahan musnah ditelan waktu
Biarkan kenangan kita hilang dibawa samudera
Biar kuperbaiki kepingan hatiku
Namun kumohon, Tuan, tolong jangan lagi hampiri aku
you choose to leave, please stay gone.



NB: terinspirasi dari lagu The One That Got Away yang dipopulerkan oleh Katy Perry.