“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Saturday, 27 December 2014

Cinta

"Cinta itu ibarat angin. Tak bisa dilihat, namun bisa dirasakan", ucapnya seraya menatap gemerlapnya bintang- memecah kesunyian.
"Pernah kah kau sesekali jatuh cinta?", tanyaku menanggapinya.
"Selain dengan Tuhan dan keluargaku, maksudmu? Tentu."
"Bagaimana rasanya?"
"Rasanya seperti 'jatuh' dari ketinggian namun kau akan tetap tenang, dan percaya nyawa dan ragamu masih akan tetap bersatu karena 'parasut' itu yang akan menolong dan membantumu terus melayang- menelusuri keindahan yang terdapat di bawah." jelasnya.
Aku sejenak terdiam, mulai menghayati dari perkataannya. Dia yang sekarang ini tengah memejamkan mata, seakan keindahan jatuh cinta memang wajib dipercaya walau hanya dengan membayangkannya.
"Lalu kapan kau mendarat?", tanyaku polos.
"Ketika tak lagi ada angin yang menopang, dan kepercayaan terhadap 'parasut' itu telah perlahan hilang. Mungkin yang kau pikirkan hanyalah kejatuhan, sehingga mendarat pun memang sudah selayaknya dilaksanakan."
Ekspresi wajahnya berubah, yang semula menikmati semilirnya angin malam,  menatap kelip bintang, memuji dan memuja terang bulan, sesekali memejamkan mata dan menikmati indahnya alam, kini terbelalak seakan mencari kata yang tepat untuk menjelaskan sesuatu sehingga aku--yang buta akan rasa--tak menangkap 'cinta' dalam arti yang melenceng dari yang ia maksud.
"Itu kah alasannya mengapa hal yang banyak orang rasakan manis dan pahitnya selama ini disebut 'jatuh cinta'? Karena kita terjatuh pada awal dan akhirnya, bukan?", tanyaku lagi, memaksanya untuk sedikit berfikir lebih lama.
"Mungkin", jawabnya. Memilih satu kata saja untuk menjawab pertanyaanku setelah waktu yang kuberikan untuknya untuk berfikir.
Kini pandangannya menatap mataku lebih dalam. Sejuk sekali rasanya. Seakan tatapan itu, jatuh di lubuk hati, di dalam sanubari, mengisi batin.
"Tapi... Kita jatuh, kan? Akan kah hati itu tersakiti? Lalu, kepada siapa kita harus menyalahkan, ketika hati kita merintih meminta pertolongan, padahal raganya telah tercabik dan tersayat?", tantangku.
"Ya, kita jatuh. Namun terkadang kita membiarkan diri kita tersakiti, karena kita pula yang membiarkan rasa itu tumbuh. Kita terjatuh dalam perangkap yang dahulu dianggap tempat perlindungan, dan yang membuat kita sakit adalah apabila kita jatuh terlalu dalam dan ketika kita hendak keluar dari tempat itu, kita terikat dengan diri sendiri- sekali pun kita mencoba memanjat dan merangkak naik.
"Berdoa saja lah apabila hati sudah memucat dan terasa kebas- terjembab terlalu dalam. Bukan kah pemilik cinta yang sesungguhnya adalah Tuhan? Dan bukan kah Tuhan pula yang memberi kesakitan?", jelasnya.
Pandangannya kembali tertuju padaku, sekarang dengan senyuman yang tersungging indah.
"Lalu, kepada siapa kah kini kau pasrahkan hatimu?"
"Kepada seseorang yang kuyakini mati rasa dan belum pernah merasakan cinta- yang kini kutatap dalam hatinya, dan bertanya masihkah ada ruang untukku untuk bersinggah. Dia yang agaknya kucari selama ini, yang ternyata sudah menemani tahun tahunku dengan keceriaan. Dia yang sekiranya bertanya akan apa sebenarnya cinta, dan tengah mencari siapa cintanya. Dia yang kini berada di dekatku, yang takkan kubiarkan hatinya tersakiti."
Aku diam.
Lama sekali terdiam. Suara yang kudengar hanyalah hembusan angin, dan suara jangkrik. Kami diam seribu bahasa, tak berucap sepatah kata.
"Maksudmu?", tanyaku meminta kejelasan.
"Aku menyayangimu. Aku menyayangimu", ucapnya.

Thursday, 25 December 2014

Sungguh...!

Sungguh kawan! Tulisannya sangat berbekas, ya di hati, ya juga di otak! Terus saja rangkaiannya tak pernah berhenti berbisik dan berdengung. Aaaah, sungguh makhluk ciptaan Tuhan yang indah! Diberinya gudang diksi yang sempurna! Hingga dengan kata pun ia bisa mengungkapkan semua yang notabene hanya ilusi dan khayalan semata! Indah bukan main, kawan! Menakjubkan bukan buatan!

Subhanallah

"Makasih, ya, udah mau dateng", sapanya tepat ketika mataku melihat kejernihan di dalam matanya. Entah hanya aku, ataukah serombongan manusia di sini juga melihat apa yang tengah kupandangi, namun pancaran kesucian dari bola matanya terlampau indah. Betah sekali aku menatapnya, sejuk dan kedamaianlah yang kurasa.
"Oh, iya, sama sama. Tetap tabah, ya, percayakan semua kepada Yang Di Atas", jawabku singkat mengakhiri pertemuan yang singkat pula di hari itu. Seakan kata 'tabah' yang kuucapkan tadi tidak sepatutnya kuungkapkan sebagai bentuk harapanku, karena kenyataannya ketabahan dan keikhlasan batinnya tak lagi diragukan, walau sebentar, namun aku yakin apabila kalian melihat langsung pada kejernihan matanya dan kecerian yang selalu dipancarkan, kalian akan melihat begitu suci hatinya, begitu bersih tak ternoda.
Memang benar sang Ayah telah meninggalkan raganya dari dunia, namun sepertinya hati terdalam itu tak pernah diisi oleh seorang makhluk ciptaan Tuhan yang lain selain ayah dan ibunya. Sekiranya ia tak masalah apabila ia tak lagi bisa melihat pahlawannya itu, dan justru menganggap bahwa Kuasa Sang Pencipta memang benar tiada duanya.
Jika kau, melihat tulisanku yang tak jelas kutujukan pada siapa--karena tak kutulis--ingatlah, bahwa detik itu juga--yang semoga tak hanya aku--terinspirasi karena senyumu yang sama sekali tak terasa hambar, yang terasa hangat, dan sungguh, senyumu menyejukkan bagi siapa pun yang melihat! Subhanallah.
Tenang ya, kawan, aku percaya Allah punya rencana lain dibalik duka-tak-kentaramu itu.

Friday, 12 December 2014

Sunyi kah?

Kawan...
Ada kalanya ketika titik hitam di kertas putih membesar, melebar, dan menodai kesucian putihnya kertas secara keseluruhan, hingga mungkin tak dapat lagi terbendung dan tertampung, kemudian meluap dan tercecer di mana mana. Ada kalanya ketika tekanan di hati sudah tak bisa lagi dipenat untuk memberi ruangan bagi tekanan selanjutnya, sewaktu waktu pun bisa saja lepas kendali, dan apa yang terjadi? Air mata tiba tiba meleleh tanpa kendali, mencair menjalar turun dipaksa gravitasi dan mencium segala hal yang berada tepat di bawahnya. Ada kalanya pula, ketika tangisan itu tak bersuara, teredam oleh kain yang menyekap wajah, memaksa agar tenggorok tak mengeluarkan segala macam petunjuk, yang bisa memungkinkan beberapa orang mengetahui dan membuat mereka mulai memperhatikan.
Ada kalanya ketika hati ini terasa penuh sekaligus kosong, ada kalanya ketika hati memaksa untuk tetap menyendiri di tengah keramaian, ada kalanya pula hati harus menyembuhkan sayatannya sendiri, tanpa bantuan apa pun, sekalipun itu obat penawar yang manjur.
Ketika mulut tak mampu berucap sepatah kata lagi untuk segala hal yang tengah terjadi dalam pikiran dan tercampur dengan perasaan, ketika dada mulai sesak dan memaksa jantung untuk berdegup lebih cepat untuk memberi peringatan agar tak ada air mata yang tertetes, ketika keramaian yang semula mengacuhkan keberadaan mulai melihat kejanggalan dalam tingkah laku, itu adalah saatnya agar mulut dikunci, menutup mata, dan biarkan yang tak terkendali mengalir jatuh, menghiraukan yang tengah mengetuk dengan tujuan mengetahui alasan mengapa mengurung diri, sehingga tak ada suara kepedihan, kesakitan, teriakan dari sayatan yang bisa terdengar.
Kawan...
Terkadang ada beberapa alasan yang terlalu rumit untuk bisa diulas dan diselesaikan satu persatu, dan tak selamanya pula manusia bisa dipercaya, tak selamanya mereka bisa menjaga janji dan omongannya. Ada seseorang yang hanya butuh dimengerti, tanpa harus berucap sekata pun, karena kau tahu kawan? Matanya telah menggambarkan semua hal yang terjadi di dalam pikirannya. Tak mudah bagi seorang tersebut untuk membagi masalahnya kepada yang lain, tak semudah orang lain yang menganggap masalahnya adalah musibah juga untuk semuanya. Seorang itu lebih menyukai untuk mengamati yang terjadi dalam hidup, tak seperti yang lain yang selalu mengomentari dan mengeluhkan segala yang telah ada, menyalahkan mengapa takdir memilih untuk menyakitinya dan bukan menjadikannya yang teratas. Seorang itu lebih memilih bungkam, agar sesaat membiar keramaian dalam pikirannya saja yang mengisi kesunyian.
Kawan...
Biarkan yang tak mampu dijelaskan, dibuktikan dengan yang tak mampu terkendali. Biarkan mengalir dan jatuh terjembab di atas bumi, agar segala perasaan yang tersakiti setidaknya mampu ditarik kembali oleh gravitasi.

Wednesday, 15 October 2014

Pejuang

Terkadang dalam hidup ada saat dimana kita berjalan tertatih. Mencoba memenuhi target, berusaha agar tidak dilewati yang lain, tetap mempertahankan posisi bahkan menuntut diri untuk terus menuju yang teratas. Terkadang memang hidup memberi tekanan tak kentara namun terasa, memberi goresan dikit demi sedikit yang mengikis hati, memberikan efek haru dalam beberapa situasi tak terduga, dan efek duka yang datang semena mena. Seperti yang sering kita dengar, bahwa hidup adalah perjalanan yang penuh dengan perjuangan dan pengorbanan, diwarnai penantian, kesakitan, keceriaan, dan hal hal yang sebenarnya apabila disyukuri akan melimpahkan banyak kebahagiaan batin. Setiap orang adalah seorang pejuang. Berjuang demi tercapai cita cita yang sedari kecil diimpikan, berjuang agar tetap hidup selagi badai menerpa dan memporak porandakan segala suasana hati bahkan berpengaruh pada keadaan yang nyata, dan berjuang agar tidak mati karena kelaparan, karena terseret zaman, karena tuntutan. Situasi buruk mengajarkan aku bagaimana mengatasi setiap detik, aku belajar banyak dari kesalahan yang aku lakukan, yang kuperbuat, dan pelajaran yang aku terima dalam mengendalikan hidup lebih luas dan lebih banyak. Banyak proses yang aku lewati, semuanya begitu berwarna dan berharga apabila satu detik saja kulewatkan. Hidupku indah, dan keindahan itu membuatku makin hidup.

Sunday, 28 September 2014

Sang Perangkai Kata

Selamat datang, kawan.
Sungguh aku merindukan kertas elektronikku ini yang berperan ganda sebagai sahabat yang selalu mewadahi setiap kegelisahan hati, hasrat menulis, dan segala yang tengah berkecimpung di dalam otakku. Maaf aku lancang. Mungkin sebagian dari kalian hanya melihat bagian yang akan kutulis di bawah ini saja. Tapi, jujur, aku tak mampu membendung rasa rinduku ini!
Jadi, begini.. Kali ini aku akan menuliskan mengenai kekagumanku pada kakak nan cantik, dan pandai mengolah kata menjadi hal yang mampu mengubah mood, pola pikir, bahkan hidup seseorang. Kakak yang takkan kusebutkan namanya merupakan seorang motivator untukku secara pribadi, dan mungkin pelanggan pembaca postingannya yang tak pernah lepas memberi jempol sebagai bentuk penghargaan. Kakak sang pemilik segudang diksi ini tak pernah lepas dari pemantauanku disetiap kubuka akun sosial media. Aku tak peduli kalian penasaran atau tidak dengan apa yang akan kutulis, tapi, apabila ada satu harapan ditiap post-ku, aku akan berharap agar Kakak membaca serangkaian kalimat yang kuketikkan hanya untuknya.

Teruntuk Kakak,

Dengan penuh kagum,
Halo Kak, bagaimana kabarmu sekarang? Aku harap Kakak baik baik saja, ya, seperti penjelasan status facebook-mu yang kau tulis secara rutin. Aku percaya kini Kakak tengah disibukkan dengan tugas kuliah yang menumpuk dan merengek meminta secepatnya dikerjakan. Tapi seburuk apa pun itu, sepertinya Kakak tak pernah lalai mengundang penghuni gudang diksi untuk keluar, menyerbu dinding facebook, dan mendorong ibu jari untuk menjadi penghubung antara pikiran dan kenyataan yang tertumpahkan. Aku harap, suatu saat nanti Kakak membaca post ku ini, yang sengaja kutulis hanya untukmu.
Aku adalah seorang pelajar yang sangat ketagihan dengan berbagai ragam dan macam diksi Bahasa Indonesia, aku tahu aku belum sepenuhnya menguasai setiap tulisanku, Kak. Yang aku tahu kata kata memiliki kekuatan dan terlebih apa bila menulis dengan kata yang jarang didengar, diraba, dan dirasa. Seakan semua tampak berbeda dalam hal penyampaian dan perasaan. Aku menyukai rangkaian kata karena banyak hal, dan yang membuatku kagum terhadap Kakak adalah caramu menuliskan suatu keadaan sederhana menjadi hal yang begitu pantas untuk dikagumi, begitu unik walau hanya dengan membaca, begitu terasa seretan ceritanya yang terkadang menusuk. Aku tak peduli Kakak mengenalku atau tidak, tapi sungguh, setiap tulisanmu menginspirasiku, Kak. Aku pengagummu, termasuk pengagum kata kata magismu.
Aku tak bisa untuk tidak memuja dan kemudian memuji tujuan tulisan tulisan Kakak. Aku tahu aku terlalu berlebihan, tapi ini sebuah kenyataan. Aku sampai tak habis pikir apa yang membuatmu memiliki banyak diksi yang seakan tergabung dalam otak dan tak sabar untuk menjadi nyata, diketik, dan dipamerkan pada para pembaca. Dengan mantra apa, sih, Kakak melakukannya? Jika ada resep, boleh kah aku mengintip sedikit? Mencicip keindahan segudang diksi, berkhayal mengenai mimpi mimpi, tenggelam dalam retorika mengenai kehidupan, dan pencapaian dalam meraih kesuksesan. Ahh.. Begitu indah.
Jika boleh kutekankan lagi, Kak. Aku mengagumimu walau sebatas membaca hasil mantra keajaibanmu, aku mengagumimu dalam hal penyampaian perasaan melalui tulisan, aku pengagummu.
Sekiranya cukup sekian yang bisa kuketikkan untuk Kakak. Sukses selalu.

                                                                                                                                      Tertanda,
                                                                                                                                         Saya.

Wednesday, 27 August 2014

Ibu Pertiwi

Ibu Pertiwi, begitu biasanya beliau disapa. Banyak buku sastra dan penjelasan puitis tentang seluk beluk kelahir dan perjalanan hidupnya hingga kini mengenai dirinya, memanggil dengan sebutan Ibu Pertiwi. Semua orang pasti tahu siapa itu beliau, seperti apa sejarahnya dan bagaimana kondisinya saat ini. Mungkin kali ini aku akan mengulas dan memaparkan pendapatku mengenai Sang Ibu.

Ibu Pertiwi, sang induk dari anak anaknya kini. Bertubuh tegak, masih bernapas walau kadang tersengal sengal mencoba mengejar kawan kawannya yang terlihat maju mendahului, dan masih hidup. Beliau merdeka dalam ucapan. Jajahan, tumpah darah, dan gencatan senjata, memang sudah tak lagi berada dalam ruang geraknya, namun kelihatannya beliau terkadang masih terisak perlahan dalam keheningan. Berusaha tetap tegar, dan mencoba membangun pertahanan dalam yang lebih kuat agar tak semaunya kawan lain menyakiti dan mencuri yang dimiliki. Namun tegar pun ada batasannya. Banyak alasan yang membuat Sang Ibu menitihkan air mata, menjatuhkan yang ia pendam, dan membuka perasaan. Menyebarluaskannya. Malu, dan prihatin, mungkin itu yang tengah bergejolak dalam hati dan pikirannya tiap kali memandang sekeliling. Berita di televisi seakan tak pernah sedetik pun lalai untuk melaporkan peristiwa yang sedang, akan, atau sudah terjadi. Dan yang lebih mengenaskan adalah hampir semua berita memaparkan tentang permasalahan politik, ekonomi, dan segala mengenai kedua hal itu.

Masalah...masalah. Mengapa tak kau kunjung selesai dan sudahi tikaman yang terus kau tusukkan pada Ibu Pertiwi? Lihat.. anak cucunya mengemis, memulung, merampok, memakan sampah, berkeliaran tak tentu arah, mengucapkan kata pahit yang ditujukan padanya, mencaci keadannya, mengkritik setiap yang ada, menghujat kegiatannya, menghakimi segala tentangnya. Beliau sedih, beliau menangis, beliau sakit hati. Ibu.. Bertahanlah.

Lalu siapa kini beliau bergantung? Siapa kini yang beliau percayai untuk dapat membantu menyudahi masalah? Seakan semua orang mengkhianatinya. Banyak anaknya yang berkata bahwa mereka mencintai Ibu mereka. Munafik. Mungkin pengkhianatan yang selalu dirasa Sang Ibu, atau pilihan kesendirian dan keterpurukan juga ada dalam paketnya? Ibu.. Tetaplah berdoa.

Ibu, jika ragamu berupa manusia, mungkin kau lah yang selalu kami puja tanpa kami berani menginjak area kekuasaanmu, mungkin kau lah satu satunya manusia yang akan kami penuhi segala perintah dan kemauan, karena atas jasamu yang selalu setia berada di mana pun kami berada, menjaga kami. Kami akan sungkan membicarakan segala hal mengenai Ibu, terlebih menghujat dan menghakimi.

Teruslah berjuang, Ibu. Anak anakmu akan mencoba memperbaiki keadaan, agar kau tersenyum melihat kami, menitihkan air mata kebahagiaan, dan akan selalu merdeka dalam hal segala, tak hanya ucapan tanpa bukti nyata. Terimakasih, Ibu.

Tuesday, 12 August 2014

Derita.

Aku melihat derita di matanya. Seakan tatapan yang ia tujukan padaku adalah tanda kesdihan, kepedihan, dan duka. Tusukan pancaran matanya menyentakku untuk ikut merasakan kesakitan yang dirasa. Sentuhan tajam pupilnya menyeretku pada kehancuran, dan emosi yang tak karuan. Hantaman tatapannya merasuki jiwa, refleksi pikirannya terpancar. Pisaunya menyentuh lubuk hati, menusuk dan menyilet, mencabik, dan mengoyak. Perih.
Ia menatap hanya dalam hitungan detik, lirikan terakhirnya menyadarkanku, seakan hipnotis yang ia lakukan padaku sudah tak berlaku. Detik itu aku terhenyak, menata pikiran, dan mengatur napas. Ia, yang merupakan anak kecil, berkulit hitam, kelihatan tak berisi, berbaju ala kadarnya, dan pemilik tatapan tajam berjalan berlalu... menjauh... acuh.
Langkah demi langkahnya kuamati, kuteliti. Kuawali dari kakinya yang tak beralas, kotor, ditempeli semua macam debu termasuk benda-benda yang diinjak. Menjijikan! Celananya pendek- di bawah lutut, kulitnya yang legam membalut tulang kering, dan betisnya... gosong terpanggang matahari. Kaosnya berwarna merah, terlihat luntur, dan sobek di pundaknya, sepertinya ia tak pernah mengganti pakaian, tapi ia tak peduli, jalannya santai dengan hiasan kibasan tangannya yang berkipas kecil dan pelan mengikuti irama kaki. Rambutnya merah karena paparan matahari, teracak, dan panjang. Kuamati orang orang yang berjalan di sampingnya, melirik dengan penuh arti. Muak.

Bak sampah? Itu kah tujuannya?
Ia mengambil karung, kemudian mengais sampah, mengambil plastik dan bekas wadah makanan lainnya. Ia berjalan menunduk, berharap menemukan yang ia cari, agar usaha menahan panas, haus, lapar, dan juga malu bisa terbayarkan dengan uang yang digunakannya untuk mengisi perut. Mungkin sesekali ia menangisi keadaan yang begitu kejam berbuat hal ini padanya; mungkin sesekali ia terisak karena lelah menahan kepedihan, kekejaman, dan penuh dengan ketidakadilan hidup yang ia jalani; mungkin sesekali ia hanya membisu... diam seribu bahasa, membiarkan semua permasalahan ada pada pikirannya, membiarkan emosi bercampur aduk, membiarkan harapannya tak terucap, membiarkan matanya yang menggambarkan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Tak heran ia bertatapan tajam, yang ia harapkan hanyalah waktu untuk membinasakan derita hidupnya, tapi ia tak tahu kapan harapannya akan terwujud, ia tak tahu kapan harapannya akan terwujud. Ia tidak tahu.
Kini pekerjaannya telah usai, saatnya untuk mengambil upah. Raut wajahnya datar, tak ada kesan senang setelah berhasil bekerja di bawah panasnya sinar matahari. Raut wajahnya datar, tak ada syukur yang setidaknya terlihat dari binar mata setelah pekerjaannya sudah selesai. Raut wajahnya datar.
Ia kemudian berjalan sama seperti sebelum ia masuk dalam kandang lalat, perlahan dan mengibaskan tangannya yang mengikuti irama kaki. Rupanya ia tak melihatku yang tengah mengamati sedari tadi. Kuteliti kembali disela lengkah yang diambil. Kakinya masih sama: tak beralas; celananya masih sama: pendek di bawah lutut, menutupi tulang paha, kering, dan betis yang dibatul kulit hitam yang semakin mengkitam; kaosnya masih sama: berwarna merah, dan sobek dipundaknya; rambutnya pun masih sama: merah, teracak, panjang. Namun seiring dengan tatapanku yang tengah menghakimi penampilannya, tangannya mengepal, menggenggam uang hasil jerih payah, mengepal lebih kuat hingga otot dan pembuluhnya terlihat, mengepal hingga kelihatannya kuku tajamnya melukai telapak tangan, mengepal seakan ia akan menghantam sesuatu yang ia benci, dan ia terus memperkuat kepalannya detik demi detik. Ia berlari, sangat cepat, menjauh, melawan setiap orang yang menghalangi hentakan kaki tak beralasnya, menabrak siapa pun yang menghambatnya untuk berlari.
Mungkin ia sudah sadar apa yang perlu dilakukan agar waktu mampu membunuh derita, dan kepedihan yang dialaminya. Agar ia tak lagi segan untuk bermimpi tinggi, dan melulu dikecewakan oleh keadaan. Mungkin ia sudah tak sabar mengubah nasib dan berusaha memperbaikinya. Langkahnya cepat, lebar, dan hentakannya tegas. Ia berlari mengejar apa yang ia impikan. menjemput waktu yang akan datang, yang ia harap akan berperilaku baik terhadapnya. Ia berlari mengejar masa depan.

Tuesday, 8 July 2014

Kara.

Aku mencoba menghibur diri, berjalan menjauh dari masalah yang tengah menimpaku akhir akhir ini, melangkah dan meninggalkan sementara segala rasa gundah gelisahku yang tengah ku rasa, karena kini yang ingin ku rasa hanyalah ketenangan dan kedamaian dalam diri. Aku bukanlah manusia dewasa yang merasa terbebani dengan pekerjaan dan segala tekanan dari pimpinan, aku bukan pula seorang remaja yang sedang galau akibat kisah asmara yang kandas di tengah jalan, aku hanyalah seorang remaja yang sedang merasakan kepedihan dari permasalahan hidup dan mencoba untuk memperbaikinya.

Pernahkah kamu merasakan sesak saat semua yang berkecimpung di dalam pikiranmu bersatu padu membentuk bola besar, seakan terdapat magnet dalam pusatnya yang menarik segala bentuk pemikiran dan permasalahan menjadi satu? Pernahkah kamu merasakan seakan badai besar tengah terjadi dalam otakmu, yang menarik segala di sekitarnya dan dengan sengaja melemparkan ke berbagai tempat dan ujung di ruang otakmu? Pernahkah kamu merasa bahwa tsunami tidak melulu terjadi di dunia, bahkan di pikiranmu pun itu terjadi dan seakan-akan dengan gelombang mahadahsyatnya meluluhkan segala daya pikirmu dalam waktu sekejab? Apa bila masalah adalah secarik kertas, yang akan kulakukan adalah meremasnya menjadi bola kecil lalu kuinjak sampai tapak sepatuku membekas pada tiap bagian bola kertas, lalu kulemparkan pada lubang yang mengarah pada pusat bumi dengan sepenuh tenagaku, ya, akan kulakukan itu semua.
Aku tahu ini terlalu panjang, dan tentu membosankan, aku minta maaf, kawan, aku hanya ingin mendiskripsikan apa yang terjadi pada diriku dan tak ingin melibatkan perasaanmu, aku tak ingin dikasihani, aku tak menginginkan itu.

Tapi kali ini, seperti yang kukatakan tadi, aku ingin melepas bebanku, akan ku ajak kamu untuk menjelajahi belakang rumahku yang lapang, aku tak tahu pasti di sana terdapat apa dan berujung ke mana, aku inginkan kamu untuk menemaniku.

Oh iya kawan, aku lupa untuk memperkenalkan diri. Namaku Kara, orang tuaku memanggilku Ara. Namaku berartikan sinar cahaya, sesuai kamus Sansekerta, dan aku bersyukur kedua orang tuaku memberi nama indah dan bermakna.
Aku tahu betul, penjelasan mengenai bencana alam di otakku tidaklah begitu penting, tapi setidaknya kamu mengetahui mengapa perlu kuajak kamu untuk melihat belakang rumahku. Ya, aku hanya ingin melepas masalah walau berdurasi sementara.

Sore ini aku berjalan manjauhi rumah, berpetualang dan membuka  mata akan indahnya keajaiban dunia, mengambil langkah langkah kecil seraya menghirup udara segar, ini sungguh tiada duanya! Beruntung rumahku jauh dari hiruk pikuk kota, beruntung aku kini berada di sisi alam. Ilalang yang berbadan tegak dan berkepala merunduk menyambut kedatanganku dengan berayun kecil seiring irama angin, bernyiur bergesekan satu dengan yang lain. Jalan kecil yang kulewati menandakan bahwa daerah ini adalah daerah kekuasaan alam, mereka yang mempimpin dan mengatur setiap ujung tanpa saling berkomunikasi, semua berpikiran seragam, sedangkan dalam ragam, warna, dan keluarga, mereka berbeda. Aku tak mengerti tujuan langkahku, aku hanya yakin bahwa makhluk hijau disekelilingku akan menuntunku menuju tempat yang sebenarnya ingin kutuju. Sekelompok burung terbang mengudara, mengepakkan sayapnya sesekali, kemudian merentangkannya sehingga angin menyangga kedua sayap agar tetap stabil, mereka bergerombol berkeliling seakan menari dihamparan lautan langit, berformasi, teratur, berirama, mereka berlenggak lenggok di udara dengan bebas, tanpa paksaan untuk bergerak sesuai aturan, mereka menikmati tiap detik yang diisinya dengan tarian, indah bukan main! Aku terus berjalan menjauhi pertunjukkan tarian sekelompok burung, dan tetap memandang dengan takjub sekitarku, betapa berkali kali kuucapkan kata syukur pada Sang Kuasa, aku benar benar bersyukur merasakan kehangatan pelukan alam. Selanjutnya aku melewati dan melompati beberapa retakan tanah, dan hal itu tentu bukan suatu masalah, serangga serangga kecil lewat tanpa permisi di depanku, beberapa dari mereka terus melangkah maju, dan beberapa lainnya terbang, mereka kecil dan mereka hidup, mereka indah. Alam ini tidak pernah habis habisnya menunjukan dan memamerkan apa yang ia punya, seakan segala isinya akan bermetamorfosis menjadi hal yang mampu membuat mulut tak hentinya berterimakasih pada Tuhan, dan mata yang tak hentinya memandangi keindahan tanpa berkedip. Kini langkahku dihadang beberapa tumpukan batu, tak segan aku naik walau kadang lumut menyeretku turun dan aku terpeleset, aku penasaran, kejutan apa yang akan kulihat lagi? Aku menjejaki berbatuan, perlahan tapi pasti aku sampai di puncaknya. Coba tebak apa yang kulihat? Hamparan alang-alang? Bukan. Hutan? Bukan. Aku di atas bukit, kawan, dan kini adalah detik detik di mana bulan akan menggantikan tugas matahari untuk menerangi sekaligus mengawasi bumi, dimana langit biru akan digantikan dengan gelapnya malam yang bertabur bintang, peralihan ini sungguh menakjubkan! Coba lihat langitnya, kawan, berwarna jingga tanpa ada awan yang melayang. aku tercengang. Lihatlah saat matahari menenggelamkan dirinya, mempersilahkan bulan menempati tahtanya, bintang bak berlian yang menolong para pelayar yang tersesat untuk dapat kembali pulang, atau menemani anak kecil yang belum bisa tertidur, bermimpi mengambil satu dari berribu. Rasakan udaranya kawan, seakan mengikuti sang tuan, kini suhu mulai turun, bertugas menyelimuti hati yang sakit, menjelajahi sebagian bumi, setia mengisi paru paru. Kini lihat raja langit, ia bersinggasana pada posisi yang tepat, seakan mengumumkan bahwa malam telah datang. Cahaya putihnya bersinar cerah, Raja Langit terlihat sempurna. Tuhan, Mahakuasa Engkau.
Aku beranjak pulang, setelah bertepuk tangan dan melelehkan air mata atas pertunjukan alam yang mahaindah, jalanku diterangi oleh banyak kunang kunang, mereka seakan tengah memamerkan cahayanya untuk memanggil lawan jenis, dan tentu memamerkannya padaku dan kamu, kawan.
Aku tiba di rumah dan mulai mengambil air wudhu. Aku bersyukur aku berada dalam pelukan alam.

Friday, 27 June 2014

Ayah...

Ketika perlahan ia membuka buku itu, memejamkan matanya sesaat seraya membacakan surah Al-Fatihah, tak bersuara, cukup bibir saja yang memperjelas tiap ayat dan tajwid ia baca. Raut wajahnya menggambarkan kerinduan mendalam yang sepertinya telah lama ia simpan, dan enggan untuk diperlihatkan.

Bola matanya mengikuti alur jari yang tengah menunjuk pada bacaan berhuruf Arab, Firman Tuhan. Ayat demi ayat ia baca. khidmat, khusyuk. Di depan makam ayahnya ia melepas rindu, dan kembali mengingat waktu bersama ayahnya dulu, semua seakan tergambar di sela doa yang ia panjatkan, pasti banyak hal yang sedang bergejolak di hatinya, banyak hal yang sedang mengerumuni pikirannya.

Air matanya.. ya.. Aku melihat setetes air matanya mengalir perlahan dari pelupuk mata hingga pipi kemudian jatuh meninggalkan tapak pada buku yang ia baca. Ia usap bekas lajur air mata dengan jemari, kemudian ia konsentrasikan kembali untuk membaca ayat suci. Sungguh, seakan setruman itu menyengatku, membuatku berfikir bahwa ia adalah wanita yang tegar, yang tabah, dan kuat.

Ia menutup buku itu, menghela napas, memejamkan mata, dan menunduk. "Ayah.." Begitu rintihnya.Ternyata ia sedang menceritakan perjalanan hidupnya, ia bersuara sangat kecil, bahkan terkadang berbisik. Ia terisak perlahan, meneteskan air mata, semakin deras, hingga ada saat dimana ia terlihat ingin menjerit namun ia tahan dan tetap menangis, menangis dalam diam.

Namun waktu telah memberinya kesempatan untuk menyembuhkan duka, dan juga membagi bahagianya. ia tak lagi tertunduk, ia kembali tegak dan memandang nisan sang ayah. Mungkin ia telah puas menceritakan semuanya. Ia menyunggingkan senyum, senyum yang menggambarkan ketabahan, dan kesiapan untuk menatap semua yang ada di depan. "Terimakasih, Ayah. Assalamu'alaikum." Begitu kata yang terucap sebelum ia berdiri dan meninggalkan makam ayahnya. Ia berjalan berlalu, dan hanya meninggalkan bekas tapak sepatu pada tanah, seakan mengisyaratkan bahwa ia akan kembali datang. Ia pergi.. menjauh.

Wednesday, 25 June 2014

Perpisahan

Mungkin perpisahan merupakan tema yang sedang hangat yang tengah berkecimpung di pikiranku. Aku tak bisa dengan mudahnya melepas kenangan dan melupakan kebersamaan kita. Entah energi apa yang selalu mengajakku berfikir untuk bisa kembali memutar waktu agar tetap dapat merasakan hal hal absurd bersama kalian, kawan. Ya sejujurnya aku rindu, rindu akan semua, tetapi kenyataannya sekarang kita harus memilih jalan kita masing masing untuk menggapai apa yang telah kita impikan.

Mimpi yang telah kita rangkai bak puzzel sedari dulu itu kini mulai menampakan gambar, dan setiap kepingan penyusunnya (aku yakin) akan terasa begitu berharga. Kita mulai mengenal jerih payah, yang di dalamnya terdapat usaha dan doa; pengorbanan, yang tak lain pengorbanan waktu; dan penghargaan, yang kita dapat setelah keduanya berhasil kita lalui. Hmmm... Apa bila saat ini aku diberi satu harapan, harapan itu pasti keinginanku untuk kita agar dapat merasakan kesuksesan bersama, merasakan kebahagian hasil jerih payah.

Aku terbayang jika kelak dewasa nanti setelah belasan tahun tak lagi bertatap muka secara langsung, kita berjumpa, dan satu persatu dari kita menceritakan hasil kerja keras yang akhirnya bisa kita nikmati. Satu persatu dari kita menceritakan kembali masa masa di mana kita dulu bersama, masa masa lugu, dan masa polos kita. Aku percaya, bahwa Tuhan sudah tepat menempatkan masa remajaku untuk kulewati bersama kalian, menjalani hari hari dengan berbagai rasa, dan kali ini aku mengerti arti sebuah persahabatan, karena hadirmu kawan.

Teruntuk: keluarga Bryffindor.
NB: ciyus aku kangen.

Monday, 16 June 2014

GRADUATEEEEED!!!

Terimakasih kepada Tuhan Yang Mahasegala; terimakasih kepada orang tua dan saudara yang tak putus putusnya mendukung dan mendoakan; terimakasih kepada Bapak-Ibu guru yang telah membimbing; terimakasih kepada sahabat setia, Bryffindor. I FINALLY GRADUATE!!!

Setelah 3 tahun berbalut baju berwarna putih biru, akhirnya dengan hasil memuaskan yang tak luput dari perjuangan dan doa yang tiada putus putusnya, aku lulus. Ya, lulus dan berhasil melukiskan senyum bangga orang tua, dan menjadikan tangis mereka pertanda bahagia. Sungguh tak ada kebahagiaan berarti selain mendengar kata bangga yang terucapkan dari orang tua. Aku menyangi mereka. Sangat menyayangi.

Namun tak berarti juga apabila perjuangan hanya dilakukan seorang diri. Aku sangat beruntung bisa diberi kesempatan untuk dipertemukan dengan sahabat sahabatku, ya, Bryffindor. Entah kata apa yang sanggup mendiskripsikan setiap kenangan yang kami lalui, yang kami hadapi, yang kami jalani. Hari hari bersama mereka adalah waktu berharga, karena setiap memori yang akan kami gali nantinya ada di setiap detik yang telah kami lampaui. Untuk jujur, dari hati, aku tak ingin berpisah dengan mereka, melepaskan tangan tangan mereka, dan berucap sayonara diujung pertemuan terakhir. Aku masih ingin mengisi waktu luang dengan bercanda gurau, mencurahkan kisah dan keluh kesah, dan mendengar teriakan semangat dari tenggorok mereka yang menandakan kekompakan. Sungguh, aku menyayangi mereka. Sangat menyayangi.

Aku tahu seharusnya kutulis bagian ini di bagian paling awal, tapi menurutku ini adalah tulisan yang paling berarti diantara yang lain.
Tuhan. Tuhan telah memberiku berbagai macam hadiah. Aku telah diberikan-Nya orang tua yang begitu mengerti aku, dan teman teman yang selalu ada di setiap suka dukaku. Begitu banyak yang perlu aku syukuri. Aku masih diberikan napas dan kesempatan untuk membanggakan kedua orang tuaku, dan melihat canda tawa dan tangis sahabat sahabatku. Setiap detik aku hidup adalah detik yang begitu berharga. Sungguh tak luput dari kuasa-Nya hasil yang kemarin aku terima, Tuhan mengiyakan keinginanku, mengabulkan doa malamku, mendengar rintihanku, memeluk mimpi besarku, dan menjadikannya nyata. Untuk kesekian kali aku berkata jujur, jujur, aku merasakan kasih sayang-Nya di tiap takbiratul ihramku, merasakan sengatan kekuasaan-Nya di setiap ayat surah suci-Nya, merasakan keagungan-Nya di setiap sujudku, merasakan rahmatnya di sela ucapan doa tasyahud akhirku, dan kurasakan begitu Maha Segala Tuhan di setiap tengokan salamku. Entah kata apa yang mampu memperinci kecintaanku pada-Nya. Sungguh aku menyayangi-Nya. Sangat menyayangi.

Kawan, memang benar hidup itu bak buku yang terdiri dari beberapa bab dan diisi berratus halaman yang di dalamnya dituliskan peristiwa dan hal menakjubkan. Semuanya juga sementara, tidak mungkin juga kita terus menerus membaca pada satu halaman yang terdapat cerita suka ataupun duka. Semuanya akan berlalu, menuju pada akhir bahagia. Semua sudah diatur oleh Sang Sutradara. Bermimpi, usaha, berdoa, dan jalani. Semua akan indah pada waktunya.

Friday, 6 June 2014

the power of 'words'.

Jika kelak aku dewasa, aku ingin menjadi sepertinya..
Memaparkan kata demi kata yang dirangkai menjadi paduan utuh yang dapat memberikan gambaran brilian melalui tegangan imaji bervoltase tinggi.
Aku ingin menjadi sepertinya..
Yang memberikan kekuatan magis pada tiap gambaran yang beliau salurkan hanya dengan serangkaian kalimat, dan membuat seluruh bulu kuduk terpenjat, terkejut.
Ya, aku ingin sepertinya..
Yang menyatukan gandengan kalimat menjadi suatu paragraf yang tidak kalah mencengangkan, menyetrum jantung dan ulu hati, yang awal dirasa madu, hingga merangkap dan meringkas kejadian dan hal hal pilu. Kelu.
Ah, ya.. Lembaran demi lembaran beliau isi dengan beratus huruf, beribu imaji, dan beratus ribu pemikiran yang berkecimpung di dalam otaknya. Beliau bumbui hal menakjubkan yang selalu terasa pekat dalam tiap kata yang beliau ketik dengan jemari seninya. Lembaran lembaran itu dijadikannya mozaik. Cerita, pengalaman, peristiwa hidup. Warna, dan rasa ada di setiap penggalan pengalaman yang beliau lewati, tempuh, lampaui, dan beliau alami. Dengan seluruh hati beliau tuliskan rangkaian kata indah yang aku yakini tiap detiknya selalu ada saja kata ajaib yang mengantre untuk dipampang di atas benda tipis melalui perantara tinta hitam. Begitu ajaibnya beliau menyalurkan gambarannya melalui kata pada setiap orang yang memandang, membaca hingga mengubah raut wajah ditiap babaknya, dan ikut menjelajahi imaji yang tak terhitung berapa luas, tak terkira berapa besar, tak terbayangkan pula di mana ujung dari ujung yang mana.
Ya.. Mulia kata katanya, mampu menggenggam tiap peristiwa, menggambarkan tiap kejadian, memperkuat situasi, kondisi, dan gambaran isi hati.
Kata kata adalah hal yang menakjubkan. Sungguh menakjubkan!
Jika kelak aku dewasa, aku ingin menjadi sepertinya..
"Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang." - Seno Gumira Ajidarma



Wednesday, 28 May 2014

Kenapa?

"Kenapa ya, rambut mereka lebih indah? Bisa terurai begitu saja hanya dengan sisiran jemari panjangnya. Kenapa ya, badan mereka bisa ideal walau mereka memakan apa saja yang mereka mau? Badan bisa terjaga walau ia tidak terlalu tertarik dalam hal olah raga? Dan tetap tetap walau sepertinya ia tak mempedulikan berapa berat badannya? Kenapa ya mata mereka bisa sempurna? Bisa memancarkan sesuatu yang kuat, dan mampu menyorot tajam seakan apa yang ia gambarkan dalam pikirannya mampu menghasut banyak orang. Kenapa seakan akan tubuhku adalah tubuh yang paling tidak ideal? Seakan mataku tak bisa memancarkan hal menakjubkan? Seakan rambutku adalah rambut yang tidak terrawat tak seperti kawan kawanku lainnya? Kenapa aku?", aku mengeluhkan seraya aku memandangi diriku di depan cermin, aku mengomentari setiap inci tubuhku. "Kenapa mereka bisa cantik? Kenapa mereka begitu sempurna secara fisik?", aku masih terus mencela tubuhku. "Kenapa aku?", keluhku untuk yang kesekian kalinya.


"Ayah, kenapa teman temanku terlihat cantik, sedangkan aku biasa biasa saja?"
"Cantikmu dan cantiknya mereka berbeda, nak"
"Bagaimana bisa?"
"Kamu tahu sendiri, kan, mereka merawat dirinya dengan mendatangi salon dan memoles wajah mereka dengan make-up?"
"Iya sih, Yah."
"Coba, mulai sekarang jangan bandingkan kamu dengan teman temanmu. Banyak orang di dunia ini yang tak seberuntung kamu. Yang terserang kanker, rambutnya rontok karena panasnya saat dikemoterapi, tapi kamu masih punya rambut yang merupakan mahkota indahmu. Di bagian dunia lain, masih banyak anak anak tak beruntung karena tak bisa makan. Jangankan bagian dunia lain, di Indonesia pun masih banyak sekali, tapi kamu masih bisa makan tiga kali sehari, bahkan lebih. Dan banyak orang di dunia ini yang menderita penyakit mata, seperti katarak, kebutaan, atau buta warna dan banyak lagi, tetapi kamu masih bisa melihat dengan jelas, bahkan tanpa bantuan kaca mata atau soft lens sekalipun. Bersyukur karena kamu masih diberi nafas. Bersyukur lah nak, jangan selalu melihat apa yang tak kamu miliki, coba hitung apa yang sudah kamu miliki yang telah Tuhan berikan padamu? Ayah yakin, pasti tak terhitung jumlahnya. Tuhan telah memberimu apa yang kamu butuhkan. Terapkan padamu, bahwa Tuhan sangat menyayangimu, dan apa yang Dia beri adalah yang terbaik."

Gambar gambar orang tak seberuntung diriku terlukiskan dalam imajiku. Ya, aku sungguh beruntung. Mereka tak memperdulikan bagaimana fisik dan seberapa cantik mereka, yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana mereka tetap hidup di hari esok.

"Iya, Yah, aku mengerti sekarang. Mungkin saja teman temanku yang cantik secara fisik itu tidak memiliki ayah yang seperti Ayah. Perhatian, sabar, dan merupakan pahlawan yang tangguh dan kuat, selain itu Ayah juga ayah yang tabah dan sangat bijaksana."

Ayah langsung memelukku. Kurasakan kehangatan yang seketika menyelimuti, kurasakan bibirnya menyentuh pipiku, kurasakan sayangnya menjulur dan merekat pada pembuluh darahku. Ya, aku sangat beruntung.

"Be thankful for what you have, you'll end up having more. If you concentrate on what you don't have, you will never, ever have enough." -Oprah Winfrey




Monday, 26 May 2014

Mimpi

Aku ingin menjadi dokter! aaaah, tidak, terlalu banyak yang menginginkan untuk menjadi dokter. Hmmm, aku ingin menjadi seorang astronaut saja, sepertinya menantang! aaah, tapi apa bisa aku keluar angkasa dan melihat betapa besar dan indahnya ciptaan Tuhan? Kurasa, aku masih harus mengendalikan ketakutanku. Aku ingin menjadi photographer! Sepertinya itu merupakan profesi yang bisa mendapatkan gambaran jiwa yang murni dari setiap pancaran mata. Aaah tidak, aku tidak berbakat dalam hal itu. Atau, menjadi penulis? Penulis profesional yang dihargai karena kalimat yang terdiri atas kata kata penggetar jiwa, gambaran imaji yang indah dan menakjubkan, dan bisa menyampaikan pesan tersirat maupun tersurat. Hanya bermodalkan kertas, tinta, dan pikiran, kemudian semua bisa berkembang begitu saja menjadikan kertas kertas tipis bergabung menjadi satu: buku. Penulis menjadikan mozaik mozaik kecil bersatu, dari tiap bab dalam buku yang terdiri atas bermacam peristiwa, dari tiap paragraf yang menggambarkan pikiran dan segala tindakan tokoh. Penulis... tidak buruk, siapapun juga bisa menjadi penulis, hanya dengan kata kata saja ia bisa melukiskan gambaran magis.

" Yah, ayah dulu mau jadi apa pas sebesar aku?"
"Dari kecil, ayah tetep maunya jadi dokter, gak ada yang lain."
"Kok bisa sekarang ayah jadi geologist?"
"Semuanya sudah diatur, tapi dulu, ayah sudah berjuang keras untuk menggapai cita cita ayah itu. Tapi kamu tau? Yang terpenting dalam prosesmu untuk emnggapai cita cita adalah tetap menjadi pribadimu sendiri, dan tetap memegang teguh kejujuran, bertanggungjawab, pantang menyerah, berfikir positif, dan yang terpenting adalah selalu bersyukur kepada Tuhan, Yang Maha Esa."

Ayahku selalu mengingatkanku dan berpesan, bahwa semua di dunia ini tidaklah mudah, semua pasti melewati hari hari yang buruk untuk menuju hari hari yang indah, sama seperti perumpamaan seekor burung kecil yang masih rentan. Ia terlebih dahulu melihat contoh induknya cara terbang, kemudian belajar mengembangkan sayapnya seraya belajar mengepakkannya, kemudian ia kumpulkan keberanian untuk terbang, ia terjatuh, ia ketakutan, tapi ia tepiskan semua hal negatif di pikirannya untuk bisa terbang, hingga akhirnya, ia bisa menjelajahi langit, tapi terbang bukanlah tujuan akhir hidupnya, ia masih harus melewati badai yang sewaktu waktu bisa menerjang, ia berimigrasi bila  harus, ia masih harus mencari makan untuk mempertahankan hidup, tapi burung akan selalu mengikuti naluri alamiahnya untuk sekedar mempertahankan hidupnya, dan akallah yang membedakan burung dengan manusia. Semua manusia pasti mempunyai ambisi untuk sukses dikemudian hari, maka itu semua orang pasti punya mimpi, dan mimpi tidak pernah pandang bulu. But what make a person a winner is his action. Tidak hanya berangan angan. Resep sukses ayahku sederhana, walau butuh waktu untuk membangun: jujur, bertanggungjawab, pantang menyerah, stay positive, terus bersyukur.

(just like a bird) In order to succeed, your desire for success should be greater then you fear of failure -Bill Cosby

Kenangan Kita, Kawan.

Kawan, tiga tahun ternya terasa begitu cepat, dengan segala suka duka yang telah kita lewati, dan sekarang kita yang tengah mengenang segala kenangan. Mungkin memang kata kataku terlalu monoton, tapi itulah adanya, kita solid dengan dukungan berbagai peristiwa. Kawan, jika saja tiap tingkah kita terrekam, dan terrangkum menjadi sebuah video, akan kuputar dan ingat kembali tiap detail dari putaran yang terus bergulir tiap detiknya. Kalian memberi warna dalam hidup, memberikan memori indah, memberi makna perteman dan pelajaran hidup. Aura kebahagiaan itu selalu terpancarkan dengan seulas senyummu kawan, dengan pancaran mata yang berbinar binar, dan teriakkan.

Kita yang semula ber-30 hingga akhirnya menjadi ber-29 melewati tiap harinya dalam satu ruangan, yang tanpa kita sadari pula, kita menghirup dan menghembuskan udara bersama. Ingat saat lomba yang mengharuskan anggota kelas mengikuti tanpa ada yang terlewatkan? Ingat saat kita berdiskusi, hingga petang datang dan kebingungan mencari transportasi untuk pulang? Ingat saat berdebatan berlangsung, dan beberapa dari kita mencoba menetralkan suasana? Ingat saat kita saling berbagi keluh kesah hati tentang asmara, dan bagaimana kita saling menguatkan dan membuat kepingan hati yang pecah menjadi satu kembali? Ingat tetesan air mata kita saat kita saling meminta maaf dan saling mendoakan? Ingat saat kita mengucap ikrar untuk saling melindungi, dan tak menyakiti? Ingat saat minggu demi minggu kita isi dengan perjuangan, dengan keringat? ingat saat waktu ujian telah usai dan kita berbahagia bersama? Ingatkah kalian? Semua begitu berharga, begitu sayang bila dibuang, walau sebutannya hanya kenangan.

Kita, yang bermula malu malu dan berhujung memalukan (terkadang), akan tetap menjadi saudara Bryffindor, yang nano nano yang penuh dengan bermacam rasa, menjadi rexona yang selalu setia setiap saat pada sesama anggotanya. Kini, masih masing dari kita akan melanjutkan sekolah yang tingkatnya lebih tinggi, dan mulai menambah angan dan gambaran akan kesuksesan yang akan kita capai dewasa nanti, kita akan menempuh perjalanan yang semakin berat. Karena apa gunanya hidup jika kita tak bisa bermimpi? Aku bersyukur bertemu dengan kalian, sahabatku, aku bersyukur dengan kejadian kejadian yang telah kita lewati, aku bersyukur Tuhan telah mempersatukan kita. Sobat, teruslah rangkai mimpimu, tapi jangan sekedar bermimpi, berusahalah menggapainya dengan semangatmu. Sobat, kenanglah tiap hari hari kita, karena semua yang telah berlalu tak bisa kita putar kembali. Sungguh, aku akan merindukan kalian. Bryffindor.

God's dream is that you and I and all of us will realize that we are family, that we are made for togetherness, for goodness, and for compassion. -Desmond Tutu