Thursday, 12 November 2015
Tak Kuberi Judul
Melahirkan wajah pucat dan bibir yang biru
Nyatanya kristal embun berbulir penuh haru
Menggantikan rinai berliannya di ujung bingkai yang mengharu
Pelan pelan ia melepas dan ganti menarik
Bertempo, berima bak puisi berlarik
Bahu terangkat kemudian kembali turun
Menghirup aroma rindu yang kian menisik
Bergetar jiwanya ketika hitam mengungu
Kerlip di atas diganti nur kuning
Semua di sana saat itu jadi saksi bisu
Atas pecahnya yang utuh menjadi kepingan lesu
Sepatah demi sepatah rangkainya jadi puisi
Untuk mengganti lara yang kini sudah membentuk rasi
Agar makin pudar makin cepat terobati
Karena sungguh sakit ini makin hari makin sakti
Sunday, 1 November 2015
"Mutiara? Apakah itu kau?"
Ia selalu berbicara dengan Takdir, kapan dan di mana ia hendak ditempatkan nantinya. Mutiara akan selalu bereinkarnasi, Kawan. Bergulir mengikuti pola, berputar dalam siklusnya. Bergumul dengan udara, mendekap sinar Sang Surya, kemudian ditidurkan di atas kapas yang putih warnanya, yang lembut sifatnya, tinggal menunggu waktu yang tepat yaitu ketika nyawanya pecah di hadapan semesta.
Mutiara itu suci, Kawan. Adalah berkah sejuta umat. Apa lagi, akhir-akhir ini ia jarang ditemui.
Menghilang.
Raib.
Ada seorang gadis berambut panjang, bermata sipit, berkulit kuning langsat. Pada hari itu ia bergaun anggun, dihiasi manik-manik kecil. Ia seusia remaja pada umumnya.
"Mutiara? Apakah itu kau?" Gadis yang sedari tadi hilang dalam lamunan terpenjat setelah setetes air jatuh dari langit. Beranjak dari tempatnya, berlari memandang Sang Lazuardi.
"Mutiara? Kau datang!" Gembira. Bungah.
"Aku rindu, sungguh, aku merindumu! Ke mana saja kau ini, Mutiara? Berjuta orang mengharapkanmu untuk tumpah ke bumi, namun kau tak kunjung datang, kau tak kunjung mengguyur habis seperti waktu dulu ketika secara berkala kau membasahi kami," ia berujar penuh haru.
"Banyak sekali yang hendak kuceritakan padamu, Wahai. Banyak hal yang perlu kuberi tahu." Suaranya muali tak bernada. Sedikit pecah dan bervibra. Seperti hendak memuntahkan serangkaian kata, namun... agak tertahan di ujung kerongkongannya.
Ia mencoba mengatur nafas.
"Kau tahu? Di Pulau Suwarnadwipa sana beribu orang tengah berkabung. Tanaman-tanaman habis tak bersisa dilalap jago merah, mereka musnah, lenyap diterkam api. Kau tahu siapa yang membuat ulah? Adalah mereka yang bertampang manusia tak berdosa, tapi berperilaku bengis, berhati jalang. Beribu hektar ruang terbakar. Kini yang semula hijau berubah menjadi pemandangan abu. Kelabu."
"Makhluk keji itu tak hanya berulah di satu tempat, Sayang, tidak. Di Nusa Kencana pun ia juga bertindak serupa. Sungguh, Mutiara, malang nasib kami. Korban mulai berjatuhan. Oksigen yang biasanya tersedia gratis, kini sudah mulai menipis. Kami mengharapkan kau datang, agar, paling tidak, menenangkan jiwa kami yang gelisah dengan membantu sedikit para mulia yang tengah bekerja menjinakkan api. Memadamkannya."
"Kami membutuhkanmu Mutiara, kami.. sungguh membutuhkanmu."
Air matanya menitih beriringan dengan kristal langit yang pecah ketika bersentuhan dengan tanah. Tersedu.
"Jangan tinggalkan kami lama-lama, Wahai. Kumohon."
"Berikan kami aroma khasmu itu. Kami rindu. Aku rindu."
"Seringlah berkunjung. Akan kuceritakan kau dongeng-dongeng yang dilontarkan orang berdasi, dan cerita non-fiksi yang terjadi."
"Mutiara, sungguh, kau teramat berharga."
Kemudian Mutiara berpamitan. Berjanji akan menengoknya kembali... secara berkala. Untuk meredam kegelisahan jiwa yang merintih.
Thursday, 24 September 2015
Luna... Oh, Luna.
"Aku bahagia, Luna. Aku ceritakan rentetan ceritanya nanti, ya?" - 13 Februari 1988 21:34
Saturday, 19 September 2015
Meraih Impian (Resti Hartika)
Tuesday, 17 March 2015
Kakanda...
tik..tok..tik..tok
Di sini sunyi, tak ada bunyi
Di sini senyap, suara tengah terlelap.
Aku...
Aku resah, Kakanda
aku diselimuti gundah.
Jantungku bertempo tak teratur
detaknya permenit tak terukur
wajahnyanya menggarang- sangar
suaranya terdengar parau, dan bergetar
iramanya mengeras. Namun,
hanya aku yang mampu mendengar
Karena aku terperangkap dalam penjara, Kakanda
Penjara Kegelisahan Jiwa.
tik..tok..tik..tok
Waktu terus berjalan
Masih antagonis, tak mau beralih peran
Setiap tik-nya menyayatku,
tok-nya mencambukku sukmaku!
Apa salahku, Kakanda?
Mengapa sikapnya begitu jalang terhadapku?
Mengapa tatkala aku berlutut, memintanya berhenti
ia justru mengujatku lebih hebat lagi?
Aku...
Aku sendiri, Kakanda
Tolong bawa aku kabur
Tolong culik aku dan kepinganku yang hancur
Tolong tempatkan aku di suatu tempat
di mana kebahagian ditabur, dan
keceriaan tak akan pernah bisa luntur.
teng...
Pukul 01:00 tengah malam
Di ujung barat sana,
sekelompok serigala tengah mengaung
bersahut-sahutan, memperingatkan
bunyi akan segera kembali
Aku masih di sini. Terkurung.
Aku mohon jawabanmu, Kakanda
apa yang harus kulakukan
ketika tik dan tok memanggil mereka
dan akhirnya gelombang bunyi menemukanku?
lantas mereka akan melucuti kulitku,
menyiksaku jiwaku,
membunuh sanubariku,
sementara yang bisa kulakukan hanyalah terguguk!
dan... bagai mana nasib jantungku
yang sedari tadi merajuk- meliuk-liuk
menyembunyikan ketakutan atas hal yang kutunjuk?
Beri aku uluran tanganmu, Kakanda
Waktuku tinggal beberapa detik
hanya dalam hitungan 126 tok dan 127 tik
sukmaku akan dihabisi
Kumohon kali ini, Kakanda
Kumohon kau untuk gemakan sepatah kata
Agar aku tahu, bahwasanya aku tak sepenuhnya sendiri
masih ada belahan sukma lain
yang akan membantuku untuk bangkit
dan menghadapi pahitnya kesengsaraan batin.
***
Apakah kau masih ada di sana, Kakanda?
Kini aku sudah buta akan kekejaman, dan tuli akan kesakitan,
Belahan sukmaku akhirnya merontokkan gelombang bunyi itu
Ia sudah mati, ditelan jalangnya sendiri.
Kini kau tak perlu khawatir lagi, Kakanda
Karena sekarang yang kau ketahui adalah yang kuketahui
Sunday, 22 February 2015
Tuan
We made out in your Mustang to Radiohead
...
mereka bernada, bermelodi, hmmmm syahdu sekali
Never planned that one day I'd be losing you
Waktu seakan terbang begitu cepat ketika aku dan kamu tengah memandang awan
Sometimes when I miss you, I put those records on
bertutur lembut- merajut kata sembari berlutut
Takkan kuperbolehkan siapa pun melukai hatimu, Sayang
Begitu, kan?
Langit menjadi saksi, Tuan, mereka merekam tiap tindakanmu kala itu, dan
aku hanya tersenyum polos
luluh terlalu dalam terhadap kata-kata yang kamu ucapkan
...
Someone said you had your tattoo removed
Saw you downtown singing the blues
It's time to face the music, I'm no longer your muse
...
Namun, akhir akhir ini yang kulihat hanya bekas tapak kakimu, Tuan
Tak ada lagi pembicaraan hangat, atau jemari yang saling bertautan
Tak lagi ada ucapan romantis, atau tatapan lembut
Lantas, apa maksudmu tak memperbolehkan siapa pun untuk melukaiku
sementara kau sendiri menyiksa batinku?
Kepastian pun tak kau berikan, Tuan!
Kini aku menunggu bayang-bayang! Aku menunggu yang semu!
Dimana engkau berada, Tuan?
Jawablah aku... segera.
...
In another life I would be your girl
We keep all our promises, be us against the world
...
Telah berkali-kali kuimpikan menjalani hari bersamamu, Tuan
Asal kau tahu, bunga di hatiku selalu mengembang indah
kala kau menatapku
Kini ia melayu- membungkuk sayu- terguguk
...
I should have told you what you meant to me
...
Ataukah aku yang menjadi tersangka?
Salahku tak bertanya mengenai kepastian
yang tak menyatakan apa yang kurasa terhadapmu?
...
You were the one that got away
Aaaah, sudahlah, Tuan
Monday, 2 February 2015
...dari adikmu
Tulisanmu tak pernah sekali pun membuatku bosan, kak, semuanya selalu menggugah hasratku untuk kembali mengetik berbagai peristiwa, menyemangati tiap sel di otakku untuk membongkar kembali hal-hal menakjubkan dan menumpahkannya dalam bentuk huruf- menyampaikan pada siapa pun yang ingin membaca dan merasuki kala itu. Ajaib ya, kak, bagaimana hanya dengan sejumlah kata kita mampu menggambarkan yang terjadi, menyalurkan energi, menyeret mereka untuk mencicipi keindahan peristiwa itu? Mengagumkannya lagi, kakak memiliki satu paket itu semua. Pembaca tak akan mungkin dikecewakan dengan curahan hatimu, kak, aku yakin itu!
Aku harap suatu hari nanti kita bisa bertatap muka sembari bercerita mengenai berbagai hal ya, kak. Beruntunglah orang-orang yang kau temui dan kau beri salam motivasi, berbahagialah mereka yang kau jadikan sumber inspirasi.
Kudoakan segala yang terbaik untuk kakak. Semoga Allah mempertemukan kita kelak. Aamiin.
dari adikmu.
Friday, 23 January 2015
Abad ke-19
setiap kata terketik begitu indah, begitu mengagumkan!
Kata tak berpemilik, kata tak bertuan, yang sedari awal ditaksir hendak terlunta, justeru meroket menampakkan indahnya.
Damai bukan buatan!
Semua tulisannya tersaji penuh rasa.
Inspirasi tak terkira- tak terduga, yang dirangkul hanya dengan mengamati yang ada datang begitu saja membangun pondasi kokoh bin kuat! Ajaib penuh magis! Hebat bukan kepalang! Jarang jarang kubaca tulisan yang terkecap madu, yang dibubuhi kecup penuh syahdu.
Wahai penulis- pemeluk kata- pemilik rima- penyaji rasa tak beraroma- pengijabah permintaan frasa-frasa, sungguh--jujur dan teramat jujur--tulisanmu tak ada dua, tak ada pula tandingannya. Ciut sudah mental pesaingmu, tak tahan untuk tak melontarkan kalimat pujian terhadap buah-manis karyamu.
Harga dirimu tampak teramat tinggi hanya dengan kelaziman dan kemahiranmu merangkai kata- merantainya sehingga memiliki makna- menjadikannya nyata.
Subhannallah!
Wahai Raja,
Tulisanmu suci tak sedikit pun ternodai dosa, bermakna seribu-kali-indah. Tubuhnya tak bergelimang megah, namun tabiatnya bukan main mulia, dipenuhi pula dengan diksi yang terperah!
Dirimu telah memikat hati sejuta manusia yang kini tengah memelototi sembari merasakan deguban jatung yang kian terasa menyalip detik, merasakan hati terus memuji Gusti. Mereka jatuh hati. Memuja yang dibaca- berandai andai siapa yang menciptakan- ada pula yang tengah terpercik kelicikan, bermisal-misal jika saja mereka yang menciptakan karya sastra yang mulia tempo itu.
Kata-katamu indah- seindah jiwamu, sesuci rohanimu, sedahsyat gudang diksimu, sekuat tekadmu, sesempurna perangaimu.
Kata tak berpemilik, kata tak bertuan, yang sedari awal ditaksir hendak terlunta, justeru meroket menampakkan indahnya.
NB: terinspirasi dari Serat Wedhatama pupuh Sinom.
Monday, 19 January 2015
Kami
[#FiksiLaguku - @KampusFiksi - 123 words - Temanggung, 19 Januari 2015]
Ditemani iringan lagu Love Me Like You Do - Ellie Goulding
Saturday, 17 January 2015
Malam.
Memejamkan mata sembari menata nada
Membiarkan udara menjalar- menyetrum tubuh,
mempersilakan mereka mengambil dengunganku
Aku yang menyuruh.
Hening...
Hanya aku, rembulan yang bisu, dan angin yang tergugu-gugu
Malam ini bak malam sakral
Malam yang teramat mahal
Tak dihiasi sepatah kata pun
Hanya hmmm berirama santun
Semua bungkam
Terpejam dalam tenteram
Hanya aku, rembulan yang bisu, dan angin yang tergugu-gugu.
Dengunganku masih berlangsung
Separuh darinya dibawa angin
Dikirm ke negeri antah-berantah
Yang penting ikut sajalah
Dewi malam masih bersinar terang
Menemani penyendiri yang terduduk di atas karang,
atau mungkin menyelimuti malam sang bujang?
Dengan bermandi cahaya
Aku mengiyakan air mataku terjatuh
Sekira-kiranya hanya terleleh 3 kali
Kanan- kiri- kanan
Bibirku bergetar
Aku mengamini kemauan hatiku untuk terisak
Tanpa membiarkan kristal bening mengalir lebih deras
Sendu sedan- menangis tertahan
Merintih dalam diam
Hanya aku, rembulan yang bisu, dan angin yang tergugu-gugu,
yang tahu.
Sudahlah.
Aku ingin sudahi pendewaan pada luka.
Malam ini sakral
Malam ini teramat mahal
Tak patut kuhabiskan dengan tersedu
Biar kusuruh desir angin mengembalikan dengungku
Biar kutemani rembulan berjaga
Agar setidaknya bisa kukembalikan seperti semula-
seperti sedia kala.
Hanya aku, rembulan yang bisu, dan angin yang tergugu-gugu.
Friday, 9 January 2015
Jiwa, di Mana Gerangan?
Di mana kini kau berada? Ke mana pula ragamu yang dulu setia berdiam di dalam relung sukmaku? Akankah kau pergi dan meninggalkanku seorang diri? Tegakah kau, wahai Jiwa?
Jiwa...
Akhir akhir ini kulihat tawamu palsu, wajahmu ceria namun aku tahu perasaanmu kelabu, senyummu tak lagi hangat- mereka membeku, pancaran matamu tampak tengah menangis tersedu, kau terlihat tengah menanggung segudang pilu. Sebenarnya apakah yang sedang terjadi padamu?
Ada apa gerangan? Adakah sesuatu yang mengusikmu?
Jangan hanya terdiam di ujung sana, coba sekali saja jawab pertanyaan saya, wahai sang mulia Jiwa.
Andai saja kau tahu,
Tanpamu, darah yang mengalir ini hanya cairan berwarna merah yang sigap menjalankan tugasnya setelah didorong oleh jantung; dan tulang ini hanya akan berperan sebagai penopang tubuh seseorang yang mati rasa- tak berjiwa- sudah menjadi bangkai jauh di lubuk hati yang sebenarnya.
Tengah dirundung masalah macam apa kau ini, wahai Jiwa? Tidakkah kau teringat perbincangan yang selalu kita lakukan saat tengah berdiam- hanya saya dan kamu, menutup telinga dari hiruk pikuk perbincangan orang yang tengah berlalu lalang- menjauh dari berbagai macam bising, untuk berdiskusi tentang suatu misi- misi teramat penting.
Jiwa... yang suci... yang agung...
Cepat cepatlah kembali sebelum saya lenyap di antara mereka, segeralah masuk ke dalam raga ini agar saya bisa kembali kentara. Asalkan kau tahu, saya termangu, bergeming, mematung menunggumu untuk kembali menggetarkan sanubari.
Saya tidak tahu harus lari ke mana lagi. Bukankah sudah paten, sedari saya dilahirkan di dunia- di-adzankan dan di-ikomahkan di kedua telingaku kaulah yang akan setia menemani keseharianku? Sungguh, Jiwa... Kau adalah ciptaanNya yang paling mulia!
Saya mohon, Jiwa... Di sini saya kesakitan, namun sakit itu tidak saya perlihatkan, di sini saya linglung, namun tidak satu pun dari mereka yang mampu sadar. Jiwa dalam tubuh ini tengah merantau ke kota antah-berantah- entah tengah mencari suatu apa, namun kumohon... kembalilah.
Sunday, 4 January 2015
#KabarDariJauh
Ibu Pertiwi Menangis Lagi
Aku bergeming.. terpaku.. mematung.
Aku diam.. bungkam.. tak berucap sepatah kata.. aku diam seribu bahasa.
Terlampau sakit, teramat pedih, teramat sangat menyiksa cobaan ini. Aku tak tahan mendengar jeritan hasil kesakitan Ibu, tak tahan menangkap rengekan yang meminta agar semua malapetaka yang menimpanya segera berakhir, tak kuasa pula ku mencium aroma pilu yang terus menderu terengah engah keluar dari hidungnya. Kesedihan telah mengambil alih semua kebahagiaan, hidupnya redup, tak bercahaya. Mengenaskan.
"Seharusnya mereka menjaga, tak merusak! Seharusnya mereka melindungi, tak mengoyak! Seharusnya mereka mengerti dan menyadari, betapa alam ini butuh dipelihara. Sungguh keji perbuatannya, jahat hatinya, rendah harga dirinya!", tutur Ibu setengah berteriak ditengah serak suaranya- parau.
"Kau lihat, nak? Seakan alam menghunjamku dengan tombak, membunuhku bergantian- berarak-arak, aku mati nak, aku mati! Bagian-bagianku telah diserang! Sudah menjadi hal yang biasa ketika Ibu Kota Jakarta- Ibu Kota negaramu nak, diserang banjir yang tak henti hentinya. Dikala hujan telah perlahan menghilang, luapan sungai lah yang menggantikan. Lalu tanah longsor yang terjadi di Banjarnegara, menewaskan saudara saudara kita, menghempaskan segala yang ada di bawahnya, tak peduli bila mana mereka berteriak meminta tolong, tak peduli bila mereka berteriak memanggil nama Tuhan Yang Maha Esa, tanah itu jatuh! Menimpa yang tak berdosa! Tanah itu merenggut nyawa mereka! Kau kira Ibumu ini tak ikut bersedih? Sudah kubilang, nak, Ibumu mati! Ibumu mati!
Lagi lagi, musibah menggemparkan terjadi, kini kendaraan yang melayang di atas daratan terjatuh, terjebak di tengah awan cumulonimbus, kemudian terbenam dan terjembab ke daratan. Mayatnya terobang ambing di atas lautan luas bersama kepingan bagian pesawat! Itu belum seberapa, nak! Berjuta tikaman yang Ibumu ini rasakan, dan hampir semua sebegitu mengenaskan hingga tak mampu lagi kudeskripsikan, nak! Ibumu mati!
Duh Gusti, begitu banyak cobaan yang Kau beri pada kami, maafkah dosa dosa kami Ya Tuhan..", doanya dilantunkan setelah seisi hatinya dikeluarkan, tangisnya terus menerus mengalir, tak berhenti. Seakan semua sengatan tombak dari alam yang tengah mencabiknya, dirasa kembali. Seakan segala mimpi buruk itu menikamnya habis.
"Ibu sakit, nak! Ibumu ini mati!", ucapannya penuh tekanan, diperjelas lagi dengan perubahan wajah yang kian memerah, kepalan tangannya kian menggumpal, uarat lehernya terlihat jelas. Sakit keluhnya, mati jiwanya.
Perlahan nafasnya mulai diatur, kemudian teratur. Perlahan beliau turunkan emosinya, kemudian menatapku--menatap hatiku lebih tepatnya--dalam sekali, lama sekali.
"Andai kan saja kau dilahirkan di kala itu, nak. Kau pasti bahagia melihat sekelilingmu yang damai tanpa gaduh, yang tenteram tanpa bising. Alam tetap hijau, nak, mereka lestari. Makhluk lain pun tetap terjaga keberadaannya, belum di rusak dan dimusnahkan seperti yang sekarang terjadi. Namun kini semua itu hanya kenangan samar, semuanya telah berlalu.. dan pertumbuhan manusia yang makin tak terkendali ini makin mendesak alam agar tak lagi bisa hidup di bumi. Sayang, seribu kali sayang, nak..", ujarnya seraya menghadap ke atas, menghela napas, membasuk air mata yang tanpa sadar kembali mengalir- memastikan agar kristal bening itu tak terjatuh ditarik gravitasi.
"Sabar, Bu. Semoga Tuhan mengijabahkan doa doa ibu.", ucapku menenangkannya.
"Ibu berharap dengan kejadian ini mereka semua bisa tersadar dari lamunan, dan terbangun dari mimpi indahnya. Semoga alam tak mengamuk lagi, meminta haknya terpenuhi untuk tidak disakiti, dan dimusnahkan dari muka bumi. Semoga kenangan terdahulu yang selalu Ibu inginkan untuk kembali, bisa terwujud kembali. Dan semoga yang keji perbuatannya diampuni Tuhan, yang jahat hatinya disadarkan, dan tak ada lagi manusia yang rendah harga dirinya, karena Tuhan menciptakan mereka sebagai makhluk dengan derajat yang paling tinggi diantara ciptaan-Nya yang lain."
Beliau berlalu, mengambil air suci, kemudian bersujud di hadapan-Nya.
[Tantangan #KabarDariJauh @KampusFiksi - 586 kata (tanpa subjudul) - Temanggung, 04 Januari 2014 - 16:21 WIB]
Friday, 2 January 2015
Bintang [Namaku Bintang]
Tau kah kau kawan, apa yang kulakukan disunyi senyapnya malam? Dikala hanya makhluk nokturnal yang bersenandung bernyanyi- terbelalak ketika hendak memakan mangsa; dikala manusia tak lagi terjaga- terlarut dalam angan malam- tenggelam dalam mimpi yang seakan nyata dan benar terjadi; dikala hanya aku dan perahu saja yang memaksa sungai untuk membawaku ke lautan- menyogoknya agar mau memantulkan cahaya bulan- agar malam itu--malamku--terasa begitu sempurna, begitu lengkap, dan sakral.
Binar rembulan yang sempurna menghadap langsung ke arah bola mataku, mengisyaratkan bahwa kini Dewi Malam tengah bertugas menggantikan matahari dan mulai menyinari jagad raya- menerangi bumi- menemani makhkuk yang hidup di malam hari. Pernah sekali ia berbicara denganku, katanya ia amat menyukai situasi damai dan sunyi, namun ia kecewa karena tahun tahun belakangan ini kedamaian yang ia nanti nanti dirusak oleh suara klakson mobil dan deru sepeda motor. Memprihatinkan. Mengenaskan;
Air yang terasa dingin, membekukan, kini mulai kusentuh permukannya. Perlahan lahan searah dengan laju perahu yang tengah terombang ambing dan terseret angi. Hmmmm.. Teramat damai, tenang, syahdu. Laut yang tenang, tak bergelombang, yang telah kujadikan sahabat sejatiku. Setiap kali aku merasa gelisah, hanya laut yang mampu menenangkan gejolak hati, ketidak tentraman batin, dan kepenatan yang kupendam, terlebih pada saat aku merindukan sosok Ayah. Ketika air mata mengalir deras, berharap beliau yang hanya dapat kudoakan dan kukenang mampu kembali lagi, ketenangan yang kurasakan dari hasil sentuhan permukaan air laut lah yang menghentikan semua kesedihan. Ajaib, ya? Ya, ajaib.