“Life is like photography. You need the negatives to develop.” - Unknown

Thursday, 12 November 2015

Tak Kuberi Judul

Hembusan angin di perbatasan biru
Melahirkan wajah pucat dan bibir yang biru
Nyatanya kristal embun berbulir penuh haru
Menggantikan rinai berliannya di ujung bingkai yang mengharu

Pelan pelan ia melepas dan ganti menarik
Bertempo, berima bak puisi berlarik
Bahu terangkat kemudian kembali turun
Menghirup aroma rindu yang kian menisik

Bergetar jiwanya ketika hitam mengungu
Kerlip di atas diganti nur kuning
Semua di sana saat itu jadi saksi bisu
Atas pecahnya yang utuh menjadi kepingan lesu

Sepatah demi sepatah rangkainya jadi puisi
Untuk mengganti lara yang kini sudah membentuk rasi
Agar makin pudar makin cepat terobati
Karena sungguh sakit ini makin hari makin sakti

Sunday, 1 November 2015

"Mutiara? Apakah itu kau?"

Hari ini ia turun dari pulau kapasnya yang hitam setelah sekian lama dinanti. Perlahan-lahan melompat pasrah. Tak berparasut, tak berpengaman, hanya hanyut mengikuti irama detik. Mutiara namanya, wujudnya sama, namun beribu jumlahnya.
Ia selalu berbicara dengan Takdir, kapan dan di mana ia hendak ditempatkan nantinya. Mutiara akan selalu bereinkarnasi, Kawan. Bergulir mengikuti pola, berputar dalam siklusnya. Bergumul dengan udara, mendekap sinar Sang Surya, kemudian ditidurkan di atas kapas yang putih warnanya, yang lembut sifatnya, tinggal menunggu waktu yang tepat yaitu ketika nyawanya pecah di hadapan semesta.
Mutiara itu suci, Kawan. Adalah berkah sejuta umat. Apa lagi, akhir-akhir ini ia jarang ditemui.
Menghilang.
Raib.

Ada seorang gadis berambut panjang, bermata sipit, berkulit kuning langsat. Pada hari itu ia bergaun anggun, dihiasi manik-manik kecil. Ia seusia remaja pada umumnya.
"Mutiara? Apakah itu kau?" Gadis yang sedari tadi hilang dalam lamunan terpenjat setelah setetes air jatuh dari langit. Beranjak dari tempatnya, berlari memandang Sang Lazuardi.
"Mutiara? Kau datang!" Gembira. Bungah.
"Aku rindu, sungguh, aku merindumu! Ke mana saja kau ini, Mutiara? Berjuta orang mengharapkanmu untuk tumpah ke bumi, namun kau tak kunjung datang, kau tak kunjung mengguyur habis seperti waktu dulu ketika secara berkala kau membasahi kami," ia berujar penuh haru.
"Banyak sekali yang hendak kuceritakan padamu, Wahai. Banyak hal yang perlu kuberi tahu." Suaranya muali tak bernada. Sedikit pecah dan bervibra. Seperti hendak memuntahkan serangkaian kata, namun... agak tertahan di ujung kerongkongannya.
Ia mencoba mengatur nafas.
"Kau tahu? Di Pulau Suwarnadwipa sana beribu orang tengah berkabung. Tanaman-tanaman habis tak bersisa dilalap jago merah, mereka musnah, lenyap diterkam api. Kau tahu siapa yang membuat ulah? Adalah mereka yang bertampang manusia tak berdosa, tapi berperilaku bengis, berhati jalang. Beribu hektar ruang terbakar. Kini yang semula hijau berubah menjadi pemandangan abu. Kelabu."
"Makhluk keji itu tak hanya berulah di satu tempat, Sayang, tidak. Di Nusa Kencana pun ia juga bertindak serupa. Sungguh, Mutiara, malang nasib kami. Korban mulai berjatuhan. Oksigen yang biasanya tersedia gratis, kini sudah mulai menipis. Kami mengharapkan kau datang, agar, paling tidak, menenangkan jiwa kami yang gelisah dengan membantu sedikit para mulia yang tengah bekerja menjinakkan api. Memadamkannya."
"Kami membutuhkanmu Mutiara, kami.. sungguh membutuhkanmu."
Air matanya menitih beriringan dengan kristal langit yang pecah ketika bersentuhan dengan tanah. Tersedu.
"Jangan tinggalkan kami lama-lama, Wahai. Kumohon."
"Berikan kami aroma khasmu itu. Kami rindu. Aku rindu."
"Seringlah berkunjung. Akan kuceritakan kau dongeng-dongeng yang dilontarkan orang berdasi, dan cerita non-fiksi yang terjadi."
"Mutiara, sungguh, kau teramat berharga."

Kemudian Mutiara berpamitan. Berjanji akan menengoknya kembali... secara berkala. Untuk meredam kegelisahan jiwa yang merintih.

Thursday, 24 September 2015

Luna... Oh, Luna.



“Namun Luna, Tuan menjahatiku. Aku tak tahan. Sakit sekali.” - 12 Desember 1987 pukul 22:05

“Ia berlari menujuku sore itu, Luna. Tetapi aku tak kuasa membendung kristalku. Mereka menetes deras sehingga aku harus bersembunyi. Di bawah Angkasa, tentunya. Tuan gagal menemukanku.” – 13 Desember 1987 pukul 21:57

“Semuanya palsu, Luna. Semuanya bohong.” – 14 Desember 1987 pukul 21:23

“Awal yang baru, Luna. Aku berharap banyak.” – 23 Desember 1987 pukul 23:00

Ia memelukku tadi pagi, Luna. Berkata sayang, berucap cinta. Ia mengecup keningku lama sekali. Menghangatkan.” – 26 Desember 1987 pukul 20:13

“Jantungku berdebar amat kencang, Luna! Ia baru saja mengatakan sesuatu yang mebuat otakku lepas kendali dalam meredam gema yang kini kian keras!” –  27 Januari 1988 23:48

“Luna! Tolong aku cegah rasa euforia ini!” – 30 Januari 1988 pukul 22:54

"Aku bahagia, Luna. Aku ceritakan rentetan ceritanya nanti, ya?" - 13 Februari 1988 21:34

“Luna, bisakah kita bertemu lebih sering? Aku kerap merasa kehilangan akhir-akhir ini.” –  24 Februari 1988 pukul 21:32

“Aku meringkuk di sudut kamar sedari tadi. Menanti Surya pulang setelah selama 13 jam bermain riang, sehingga pada jam ke 20-nya, aku bisa kembali bersamamu.” – 26 Februari 1988 pukul 20:01

Ia melambaikan tangan ketika ia hendak pulang. Ia berucap rindu.” – 1 Maret 1988 pukul 21:51

“Kepalan kedua tanganku sedikit memudar, Luna. Mereka juga perlahan terkikis. Aku khawatir.” – 7 Maret 1988 pukul 23:45

“Aku nyaris terjatuh, Luna.” – 10 Maret 1988 22:53

“Aku merampungkan goresan tangan yang ke 60, Luna! Tanpa cacat! Kuhubungkan ceritaku. Mereka menjelma menjadi kata yang berantai. Kau suka bukan?” – 11 Maret 1988 pukul 22:05

“Pisaunya nyaris mengenai kuku jari telunjuk kananku, Luna. Aku berhasil lolos!” – 15 Maret 1988 pukul 23:32

“Semuanya penuh fluktuasi. Kepalan kedua tanganku tertekan. Mereka makin terkikis. Hampir habis.” – 19 Maret 1988 pukul 17:31

Ia datang kepadaku lagi setelah satu purnama lamanya. Menyapa. Berbasa-basi.” – 16 April 1988 pukul 21:51

“Pukul 13.07 tadi Merah terjatuh. Dan, oh, mirisnya, Kepalan  kurang beruntung. Pecah. Mati.” – 21 April 1988 pukul 23:17

“Terapung, Luna. Ia tak lagi kuasa, katanya. Kapalnya terombang-ambing. Begitu juga kapalku. Kukira sang Nahkoda mampu menyetir. Namun aku salah, Luna. Kami berjauhan, menuju dermaga yang berbeda.” – 28 April 1988 pukul 22:22

“Luna, andai kau tahu apa yang terjadi pada tanggal 23 Desember tahun lalu.” – 30 April 1988 pukul 23:59

Saturday, 19 September 2015

Meraih Impian (Resti Hartika)



Langkah demi langkah kuambil, menyusuri jalan setapak yang terletak di tengah keramaian. Taman kotalah tujuanku. Aku hobi membaca buku, konsenterasiku pun tak mudah terganggu sekalipun itu di tengah kerumunan orang. Aku selalu larut dalam cerita, selalu termakan bulat-bulat oleh lika-liku alur. Namun kali ini berbeda. Fokusku tak lagi tertuju pada bagaimana sang penulis menggambarkan kemegahan istana, atau terjun bersama kisah romansa putri dan pangeran. Pikiranku melanglang ke suatu tempat, dan menemukan dengung yang selalu membuat rongga dadaku bergetar, menghantamku dengan gemanya. Ialah gema suara ayah yang selalu berkata, “Nanda, kamu pasti bisa nak!”
Aku Resti Hartika, seorang sulung dari lima bersaudara.
***
Ayahku adalah seorang Pegawai Negeri Sipil, dia juga aktif beorganisasi dan menekuni dunia jurnalistik. Aku berasal dari keluarga sederhana, sehingga tak mengherankan apabila bunda juga ikut membantu ayah menopang finansial keluarga dengan membuka warung kecil-kecilan.
Dari analisis dan pengamatanku setiap harinya, aku mendapatkan kesimpulan sederhana, yaitu, ayah dan bundaku adalah seorang pekerja keras. Gambaran dari kegiatan yang mereka lakukan telah membuahkan suatu pandangan dalam diriku, bahwa untuk bisa bertahan hidup, bekerja keras, tak pantang menyerah, dan selalu menyertakan Tuhan dalam setiap hal yang dilakukan adalah kunci utamanya.
Pernah suatu hari, ketika langit malam begitu cerah, dan hembusan angin terasa begitu syahdu. Aku bertanya kepada ayah mengenai bagaimana kehidupan ayah sewaktu kecil. Sambil bersender pada kursi di halaman depan rumah, dan menyeruput teh yang kubawakan, ayah menjawab sembari menatap bulan, “dulu untuk makan saja susah, nak,” sejenak ayah berbalik arah, menatap mataku lekat, dan kembali menyusuri langit,”kamu tahu, kan, ayah adalah seorang sulung, dan ayah adalah seorang lelaki. Ayah selalu bekerja keras membantu kakek dan nenek. Ayah juga menanamkan jiwa juang pada adik-adik ayah. Paling tidak agar mereka tidak mati kelaparan karena kehilangan harapan, juga agar mereka mengerti bahwa untuk hidup itu tidak hanya sekedar menghirup oksigen dan berkedip. Bahwa hidup itu adalah suatu kompetisi. Ayah selalu memotivasi mereka untuk jangan merasa kecil karena status mereka sebagai anak seorang petani. Ayah juga kerap berpesan untuk menggapai angan sampai dapat dan tergenggam, karena masa depan adalah tanggung jawab masing-masing dari kita.
“Mungkin sekarang ini kamu tengah bertanya, mengapa kini ayah hanya menjadi seorang PNS. Kau akan mengetahuinya segera nak, namun tidak sekarang. Yang terpenting adalah, kamu harus yakinkan pada dirimu bahwa kamu dilahirkan untuk sukses. Kau tahu nak? Ayahmu ini yakin sekali bahwa kamu pasti bisa menerjang segala rintangan dan badai esok hari,” lalu ayah perlahan beranjak dari kursinya,berjalan menujuku yang berada di sisi sebelah, memegang kedua bahuku dengan sedikit mengguncangkannya, “Nanda, kamu pasti bisa nak!” senyum ayah mengembang perlahan. Aku melihat binar matanya yang seakan menaruh penuh harap kepadaku. Aku menatap kosong ke depan ketika ayah memelukku. Sejak saat itu, setiap kali pikiranku memutar ulang gema suara ayah, rongga dadaku meletup-letup, berdetak kencang, seakan akan beban yang kurasakan semakin berat. Pikiranku hanya mampu berkata, “Hendak jadi apa aku nantinya untuk bisa, paling tidak, membanggakan kedua orang tuaku?”
***
            “Maafkan kami, Nanda, kami harap kamu mengerti. Ayah dan bunda masih harus membiayai sekolah adik-adikmu, dan memenuhi kebutuhan lainnya. Kami harap kamu maklum, nak. Kami tau kamu sangat tersayat akan pernyataan kami barusan, bahwa kendala finansial keluarga kita saat ini mengancammu untuk tidak bisa melanjutkan ke fakultas kedokteran. Sabar ya nak, maafkan kami,” Begitu ucap ayah ketika aku meminta persetujuan ingin masuk fakultas kedokteran. Aku hanya bisa terguguk dan tersedu di kamar. Beruntungnya aku tidak sampai menyalahkan kedua orang tuaku atau bahkan takdir.
            Hari-hari selanjutnya aku mencoba untuk melangkah maju, berfikir positif bahwa Tuhan memiliki rencana yang jauh lebih baik dari ini. Hingga suatu ketika, aku memutuskan untuk mendaftar Sekolah Tinggi Pemerintah Dalam Negeri. Namun untuk kedua kalinya aku gagal, dan yang lebih menyakitkan adalah aku gagal karena tinggi badanku tidak memenuhi persyaratan.
            “Tidak mengapa nak, mungkin ini bukan jalan yang terbaik untukmu. Bunda yakin masih ada banyak hal di depan yang lebih baik,  jangan patah harapan. Berdoalah kepada Tuhan, dekatkanlah jiwamu kepadaNya.”
***
            Aku masih terluka pada minggu-minggu setelah itu, bahkan berbulan-bulan. Aku sempat tumbang, karena dua cita-citaku gagal kuraih. Maka aku siasati waktu senggangku dengan membantu bunda di warung.
            Tak jarang saat aku terbangun di tengah malam, aku mendengar deru mesin jahit yang digunakan bunda untuk menggabungkan kain perca untuk menjadi bed cover. Bed cover tersebut nantinya dititipkan di toko swalayan.
            Pernah suatu malam, setelah kudengar ibu menyelesaikan jahitan terakhirnya, air mataku mengucur deras. Sampai pagi aku mempersilahkan emosiku meluap setelah kupendam sorang diri. Aku berjalan keluar kamar untuk mengambil air suci, kemudian aku berlutut mencurahkan segalanya kepada Yang Mahaesa.
Aku selalu meminta Tuhan untuk menguatkanku. Aku senantiasa mendoakan kedua orang tuaku.
***
            Suatu hari, ayah mengumpulkan aku dan adik-adik di ruang keluarga. “Ayah mau menyampaikan keputusan yang sangat penting dan ayah ingin kalian untuk menanggapi,” sesaat ruangan begitu sunyi. Aku menatap ayah, menunggu apa yang hendak disampaikan selanjutnya, “ayah memutuskan untuk berhenti menjadi PNS dan keluar dari organisasi yang ayah ikuti. Ayah akan mulai menggeluti dunia usaha,” ayah menatap satu-persatu dari kami, “apakah di antara kalian ada yang ingin berkomentar?”Adik-adikku hanya menunduk. Mungkin bingung dengan pernyataan ayah barusan. Entah harus merasa senang atau malah sebaliknya. Namun saat itu juga aku memeluk ayah dengan erat. Aku merasakan kehangatan air yang tumpah dari kelopak mata dan menyusuri pipi hingga jatuh ditarik gravitasi. Doaku terkabul! Doaku terkabul!
            Sebagai langkah awal dalam membuka usaha, ayah selalu membaca buku-buku sederet profil pengusaha sukses, seperti Bob Sadino, Bill Gates, Steve Jobs, dan Elang Gumilang. Aku pun ikut tertarik untuk membaca. Setelah kuanalisis, kunci kesuksesan mereka adalah bekerja keras, tak pantang menyerah, dan selalu menyertakan Tuhan dalam setiap hal yang dilakukan. Sejak saat itu, kuniatkan pada diriku bahwa kegagalan kemarin bukan menjadi suatu penghalang bagiku untuk bisa terus maju dan sukses. Bukankah mereka yang bisa menggapai impian yang begitu tinggi sudah berkali-kali terjungkir, terbalik, terjatuh, terseok-seok, atau bahkan hampir tenggelam? Namun mereka tak pantang menyerah! Tak patah semangat! Aku bermimpi menjadi seorang pengusaha, dan aku yakin, aku pasti bisa.
***
            Berfikir positif teramat penting dalam menjalani kehidupan. Perlahan-lahan aku tidak menghiraukan pikiranku yang terus menggemakan mengenai dua kegagalanku. Akhirnya, aku diterima di jurusan bahasa Inggris! Aku sangat bersyukur. Kegagalan mengajariku betapa berharganya sesuatu yang telah kudapatkan saat itu. Tak kusia-siakan kesempatan tersebut, walau pun ada sedikit kendala finansial, tidak berarti aku bisa mengeluhkan apa yang terjadi padaku. Justru hal tersebut membuat semangatku berkobar. Aku merambah dunia kerja di samping kuliah, aku belajar dan mendapat pengalaman.
            Suatu ketika, Kak Ica, saudara sepupuku datang kepadaku dan mengajak untuk berpatungan membeli kios yang ada di sebelah toko Bunda, “Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu, lalu kita jual pakaian di sana?” Setelah kupertimbangkan, aku mengiyakan ajakan Kak Ica. Kami mulai berbisnis pakaian. Hasil yang kami dapatkan di luar ekspektasi. Usaha itu memuai hasil yang gemilang!
            Aku semakin giat menekuni usahaku dan Kak ica. Namun hal tersebut tidak menurunkan prestasiku di ranah akademis.  Aku berhasil mempertahankan semuanya dengan hasil yang memukau.
***
            Kini ayah tengah berkutat dengan profesi barunya, yaitu menjadi seorang motivator. Ayah selalu sibuk karena banyak panggilan yang menginginkan ayah untuk hadir dalam acara yang mereka adakan. Hal ini menginspirasiku untuk menjajal dunia event organizer. Dari kedua pengalamanku tersebut, aku makin tertarik dengan dunia usaha. Aku mulai menekuni bidang-bidang yang lain. Aku mulai mencicipi hal-hal yang bisa mendatangkan aku pengalaman. Usaha penjualan tiket pesawat pun kulakoni hingga membuahkan beberapa kantor cabang di berbagai kota di negeri ini. Aku mencintai apa yang kulakukan sekarang, dan aku sangat bersyukur kepada Tuhan, karena tanpa kegagalan yang Ia beri, aku takkan mampu menjadi diriku yang sekarang.
***
            Kehidupan memang selalu menguji diri kita terlebih dahulu sebelum kita mendapatkan hikmah atau pun pelajaran. Hidup mengajariku bahwa usaha dan doa yang dilakukan akan sebanding dengan hasil yang akan diterima. Hidup mengajariku bahwa tidak ada hal yang dengan mudah akan diterima, tidak akan ada hal berharga yang cepat digapai. Semua butuh diperjuangkan. Sekali pun kita dihadang oleh terjangan hujan dan badai, atau bahkan terseret ombak, jangan menyerah. Semua yang kuraih saat ini bukan lain karena kerja kerasku, doa orang tuaku, dan Tuhan yang selalu menguatkan dan membimbingku.
            Aku Resti Hartika seorang sulung dari lima bersaudara, yang kini sukses meraih impian.

Tuesday, 17 March 2015

Kakanda...

Jam dinding berdetik
tik..tok..tik..tok
Di sini sunyi, tak ada bunyi
Di sini senyap, suara tengah terlelap.
Aku...
Aku resah, Kakanda
aku diselimuti gundah.
Jantungku bertempo tak teratur
detaknya permenit tak terukur
wajahnyanya menggarang- sangar
suaranya terdengar parau, dan bergetar
iramanya mengeras. Namun,
hanya aku yang mampu mendengar
Karena aku terperangkap dalam penjara, Kakanda
Penjara Kegelisahan Jiwa.

tik..tok..tik..tok
Waktu terus berjalan
Masih antagonis, tak mau beralih peran
Setiap tik-nya menyayatku,
tok-nya mencambukku sukmaku!
Apa salahku, Kakanda?
Mengapa sikapnya begitu jalang terhadapku?
Mengapa tatkala aku berlutut, memintanya berhenti
ia justru mengujatku lebih hebat lagi?
Aku...
Aku sendiri, Kakanda
Tolong bawa aku kabur
Tolong culik aku dan kepinganku yang hancur
Tolong tempatkan aku di suatu tempat
di mana kebahagian ditabur, dan
keceriaan tak akan pernah bisa luntur.

teng...
Pukul 01:00 tengah malam
Di ujung barat sana,
sekelompok serigala tengah mengaung
bersahut-sahutan, memperingatkan
bunyi akan segera kembali
Aku masih di sini. Terkurung.
Aku mohon jawabanmu, Kakanda
apa yang harus kulakukan
ketika tik dan tok memanggil mereka
dan akhirnya gelombang bunyi menemukanku?
lantas mereka akan melucuti kulitku,
menyiksaku jiwaku,
membunuh sanubariku,
sementara yang bisa kulakukan hanyalah terguguk!
dan... bagai mana nasib jantungku
yang sedari tadi merajuk- meliuk-liuk
menyembunyikan ketakutan atas hal yang kutunjuk?
Beri aku uluran tanganmu, Kakanda
Waktuku tinggal beberapa detik
hanya dalam hitungan 126 tok dan 127 tik
sukmaku akan dihabisi
Kumohon kali ini, Kakanda
Kumohon kau untuk gemakan sepatah kata
Agar aku tahu, bahwasanya aku tak sepenuhnya sendiri
masih ada belahan sukma lain
yang akan membantuku untuk bangkit
dan menghadapi pahitnya kesengsaraan batin.

***

Apakah kau masih ada di sana, Kakanda?
Kini aku sudah buta akan kekejaman, dan tuli akan kesakitan,
Belahan sukmaku akhirnya merontokkan gelombang bunyi itu
Ia sudah mati, ditelan jalangnya sendiri.
Kini kau tak perlu khawatir lagi, Kakanda
Karena sekarang yang kau ketahui adalah yang kuketahui

Semuanya ada pada diriku, dan aku yang memusnahkan

Sunday, 22 February 2015

Tuan

Summer after high school when we first met
We made out in your Mustang to Radiohead

...


Masih kuingat kala senja mempertemukan kita di tengah keramaian Ibu kota 
membungkus hangat hati di bawah sinarnya yang terik
membuat tatapan matamu yang sedikit menyipit tambah menarik
Kamu memulainya terlebih dahulu dengan sapaan Hai
mereka bernada, bermelodi, hmmmm syahdu sekali
Kutatap balik matamu, bisa kulihat refleksiku di situ
Awal yang menyenangkan, bukan? 


...
Talk about our future like we had a clue
Never planned that one day I'd be losing you



Waktu seakan terbang begitu cepat ketika aku dan kamu tengah memandang awan
bersandar pada kursi di gazebo sembari menyeruput kopi hitam
berangan-angan menuju ke tempat antah-berantah
berspekulasi mengenai kejadian yang mungkin akan kita alami
tanpa terbesit sedikit pun hal buruk yang mungkin akan terbit
yang akan menjauhkan jemari kita yang bertautan
atau yang akan menyisakan luka di hati yang terdalam.


...
Never one without the other, we made a pact
Sometimes when I miss you, I put those records on

Aaaah, masih kuingat betul saat kau berjanji
bertutur lembut- merajut kata sembari berlutut
Takkan kuperbolehkan siapa pun melukai hatimu, Sayang
Begitu, kan?
Langit menjadi saksi, Tuan, mereka merekam tiap tindakanmu kala itu, dan
aku hanya tersenyum polos

luluh terlalu dalam terhadap kata-kata yang kamu ucapkan


...
Someone said you had your tattoo removed
Saw you downtown singing the blues

It's time to face the music, I'm no longer your muse
...

Namun, akhir akhir ini yang kulihat hanya bekas tapak kakimu, Tuan
Tak ada lagi pembicaraan hangat, atau jemari yang saling bertautan
Tak lagi ada ucapan romantis, atau tatapan lembut
Lantas, apa maksudmu tak memperbolehkan siapa pun untuk melukaiku

sementara kau sendiri menyiksa batinku?
Kepastian pun tak kau berikan, Tuan!
Kini aku menunggu bayang-bayang! Aku menunggu yang semu!
Dimana engkau berada, Tuan?
Jawablah aku... segera.


...
In another life I would be your girl
We keep all our promises, be us against the world

...

Telah berkali-kali kuimpikan menjalani hari bersamamu, Tuan
Asal kau tahu, bunga di hatiku selalu mengembang indah 
kala kau menatapku
Kini ia melayu- membungkuk sayu- terguguk


...
I should have told you what you meant to me
...

Ataukah aku yang menjadi tersangka?
Salahku tak bertanya mengenai kepastian
yang tak menyatakan apa yang kurasa terhadapmu?


...
You were the one that got away

Aaaah, sudahlah, Tuan
Biar bayang-bayangmu perlahan musnah ditelan waktu
Biarkan kenangan kita hilang dibawa samudera
Biar kuperbaiki kepingan hatiku
Namun kumohon, Tuan, tolong jangan lagi hampiri aku
you choose to leave, please stay gone.



NB: terinspirasi dari lagu The One That Got Away yang dipopulerkan oleh Katy Perry.

Monday, 2 February 2015

...dari adikmu

Kakak, sudah kesekian kalinya aku terbelalak dibuatmu- dikejutkan kembali dengan seluruh suguhan kalimat magismu. Mereka hidup ketika aku membawa menuju perasaan terdalam, mereka semua melayani hatiku dengan teramat indah, mereka bertingkah seperti yang kau pinta, mereka menaburkan kerlip makna yang dimilikinya.

Tulisanmu tak pernah sekali pun membuatku bosan, kak, semuanya selalu menggugah hasratku untuk kembali mengetik berbagai peristiwa, menyemangati tiap sel di otakku untuk membongkar kembali hal-hal menakjubkan dan menumpahkannya dalam bentuk huruf- menyampaikan pada siapa pun yang ingin membaca dan merasuki kala itu. Ajaib ya, kak, bagaimana hanya dengan sejumlah kata kita mampu menggambarkan yang terjadi, menyalurkan energi, menyeret mereka untuk mencicipi keindahan peristiwa itu? Mengagumkannya lagi, kakak memiliki satu paket itu semua. Pembaca tak akan mungkin dikecewakan dengan curahan hatimu, kak, aku yakin itu!

Aku harap suatu hari nanti kita bisa bertatap muka sembari bercerita mengenai berbagai hal ya, kak. Beruntunglah orang-orang yang kau temui dan kau beri salam motivasi, berbahagialah mereka yang kau jadikan sumber inspirasi.


 Kudoakan segala yang terbaik untuk kakak. Semoga Allah mempertemukan kita kelak. Aamiin.




dari adikmu.

Friday, 23 January 2015

Abad ke-19

setiap kata terketik begitu indah, begitu mengagumkan!

Kata tak berpemilik, kata tak bertuan, yang sedari awal ditaksir hendak terlunta, justeru meroket menampakkan indahnya.

Damai bukan buatan!

Semua tulisannya tersaji penuh rasa.
Inspirasi tak terkira- tak terduga, yang dirangkul hanya dengan mengamati yang ada datang begitu saja membangun pondasi kokoh bin kuat! Ajaib penuh magis! Hebat bukan kepalang! Jarang jarang kubaca tulisan yang terkecap madu, yang dibubuhi kecup penuh syahdu.

Wahai penulis- pemeluk kata- pemilik rima- penyaji rasa tak beraroma- pengijabah permintaan frasa-frasa, sungguh--jujur dan teramat jujur--tulisanmu tak ada dua, tak ada pula tandingannya. Ciut sudah mental pesaingmu, tak tahan untuk tak melontarkan kalimat pujian terhadap buah-manis karyamu.

Harga dirimu tampak teramat tinggi hanya dengan kelaziman dan kemahiranmu merangkai kata- merantainya sehingga memiliki makna- menjadikannya nyata.

Subhannallah! 

Wahai Raja,
Tulisanmu suci tak sedikit pun ternodai dosa, bermakna seribu-kali-indah. Tubuhnya tak bergelimang megah, namun tabiatnya bukan main mulia, dipenuhi pula dengan diksi yang terperah!
Dirimu telah memikat hati sejuta manusia yang kini tengah memelototi sembari merasakan deguban jatung yang kian terasa menyalip detik, merasakan hati terus memuji Gusti. Mereka jatuh hati. Memuja yang dibaca- berandai andai siapa yang menciptakan- ada pula yang tengah terpercik kelicikan, bermisal-misal jika saja mereka yang menciptakan karya sastra yang mulia tempo itu.

Kata-katamu indah- seindah jiwamu, sesuci rohanimu, sedahsyat gudang diksimu, sekuat tekadmu, sesempurna perangaimu.

Kata tak berpemilik, kata tak bertuan, yang sedari awal ditaksir hendak terlunta, justeru meroket menampakkan indahnya.

NB: terinspirasi dari Serat Wedhatama pupuh Sinom.

Monday, 19 January 2015

Kami

Adalah binar matanya yang selalu membuatku diselimuti kenyamanan. Seakan waktu pun ikut terhenti, mempersilakan aku dan dia bertatapan untuk beberapa detik- saling jatuh cinta dengan kesempurnaan ciptaanNya- saling berkomunikasi tanpa suara, kami terhipnotis hanya dengan sorot mata.

Kurasakan panah amor yang terluncur dari busur Cupid mulai menghunjam. Membuat suasana sunyi yang menentramkan dipenuhi bulir-bulir roman. Teramat indah... indah bukan buatan!

Senyumnya perlahan mengembang- terlukis manis di wajahnya. Melelehkan segenap jiwa, memberikan sentuhan kebahagiaan. Tanpa ada mantra yang terucap, setruman aura magisnya menyengat sukma. Jantungku berdegub tak karuan! Wajahku merah padam!

Kami terbangun dari lamunan-enam-detik. Mencoba tetap tenang sembari menata irama jantung. Ia berpamitan hendak pulang, berjalan sambil berucap salam.

Ternyata Cupid tengah tersenyum di ujung koridor. Terbang berlalu, mencari pasangan yang tengah kasmaran.



[#FiksiLaguku - @KampusFiksi - 123 words - Temanggung, 19 Januari 2015] 
Ditemani iringan lagu Love Me Like You Do - Ellie Goulding

Saturday, 17 January 2015

Malam.

Dalam keheningan malam aku bersenandung
Memejamkan mata sembari menata nada
Membiarkan udara menjalar- menyetrum tubuh,
mempersilakan mereka mengambil dengunganku
Aku yang menyuruh.

Hening...
Hanya aku, rembulan yang bisu, dan angin yang tergugu-gugu
Malam ini bak malam sakral
Malam yang teramat mahal
Tak dihiasi sepatah kata pun
Hanya hmmm berirama santun
Semua bungkam
Terpejam dalam tenteram
Hanya aku, rembulan yang bisu, dan angin yang tergugu-gugu.

Dengunganku masih berlangsung
Separuh darinya dibawa angin
Dikirm ke negeri antah-berantah
Yang penting ikut sajalah
Dewi malam masih bersinar terang
Menemani penyendiri yang terduduk di atas karang,
atau mungkin menyelimuti malam sang bujang?

Dengan bermandi cahaya
Aku mengiyakan air mataku terjatuh
Sekira-kiranya hanya terleleh 3 kali
Kanan- kiri- kanan
Bibirku bergetar
Aku mengamini kemauan hatiku untuk terisak
Tanpa membiarkan kristal bening mengalir lebih deras
Sendu sedan- menangis tertahan
Merintih dalam diam
Hanya aku, rembulan yang bisu, dan angin yang tergugu-gugu,
yang tahu.

Sudahlah.

Aku ingin sudahi pendewaan pada luka.

Malam ini sakral
Malam ini teramat mahal
Tak patut kuhabiskan dengan tersedu
Biar kusuruh desir angin mengembalikan dengungku
Biar kutemani rembulan berjaga
Agar setidaknya bisa kukembalikan seperti semula-
seperti sedia kala.
Hanya aku, rembulan yang bisu, dan angin yang tergugu-gugu.

Friday, 9 January 2015

Jiwa, di Mana Gerangan?

Jiwa...
Di mana kini kau berada? Ke mana pula ragamu yang dulu setia berdiam di dalam relung sukmaku? Akankah kau pergi dan meninggalkanku seorang diri? Tegakah kau, wahai Jiwa?

Jiwa...
Akhir akhir ini kulihat tawamu palsu, wajahmu ceria namun aku tahu perasaanmu kelabu, senyummu tak lagi hangat- mereka membeku, pancaran matamu tampak tengah menangis tersedu, kau terlihat tengah menanggung segudang pilu. Sebenarnya apakah yang sedang terjadi padamu?

Ada apa gerangan? Adakah sesuatu yang mengusikmu?

Jangan hanya terdiam di ujung sana, coba sekali saja jawab pertanyaan saya, wahai sang mulia Jiwa.

Andai saja kau tahu,
Tanpamu, darah yang mengalir ini  hanya cairan berwarna merah yang sigap menjalankan tugasnya setelah didorong oleh jantung; dan tulang ini hanya akan berperan sebagai penopang tubuh seseorang yang mati rasa- tak berjiwa- sudah menjadi bangkai jauh di lubuk hati yang sebenarnya.

Tengah dirundung masalah macam apa kau ini, wahai Jiwa? Tidakkah kau teringat perbincangan yang selalu kita lakukan saat tengah berdiam- hanya saya dan kamu, menutup telinga dari hiruk pikuk perbincangan orang yang tengah berlalu lalang- menjauh dari berbagai macam bising, untuk berdiskusi tentang suatu misi- misi teramat penting.

Jiwa... yang suci... yang agung...
Cepat cepatlah kembali sebelum saya lenyap di antara mereka, segeralah masuk ke dalam raga ini agar saya bisa kembali kentara. Asalkan kau tahu, saya termangu, bergeming, mematung menunggumu untuk kembali menggetarkan sanubari.

Saya tidak tahu harus lari ke mana lagi. Bukankah sudah paten, sedari saya dilahirkan di dunia- di-adzankan dan di-ikomahkan di kedua telingaku kaulah yang akan setia menemani keseharianku? Sungguh, Jiwa... Kau adalah ciptaanNya yang paling mulia!

Saya mohon, Jiwa... Di sini saya kesakitan, namun sakit itu tidak saya perlihatkan, di sini saya linglung, namun tidak satu pun dari mereka yang mampu sadar. Jiwa dalam tubuh ini tengah merantau ke kota antah-berantah- entah tengah mencari suatu apa, namun kumohon... kembalilah.

Sunday, 4 January 2015

#KabarDariJauh


                                                      Ibu Pertiwi Menangis Lagi

Aku bergeming.. terpaku.. mematung.

Aku diam.. bungkam.. tak berucap sepatah kata.. aku diam seribu bahasa.

Terlampau sakit, teramat pedih, teramat sangat menyiksa cobaan ini. Aku tak tahan mendengar jeritan hasil kesakitan Ibu, tak tahan menangkap rengekan yang meminta agar semua malapetaka yang menimpanya segera berakhir, tak kuasa pula ku mencium aroma pilu yang terus menderu terengah engah keluar dari hidungnya. Kesedihan telah mengambil alih semua kebahagiaan, hidupnya redup, tak bercahaya. Mengenaskan.

"Seharusnya mereka menjaga, tak merusak! Seharusnya mereka melindungi, tak mengoyak! Seharusnya mereka mengerti dan menyadari, betapa alam ini butuh dipelihara. Sungguh keji perbuatannya, jahat hatinya, rendah harga dirinya!", tutur Ibu setengah berteriak ditengah serak suaranya- parau.

"Kau lihat, nak? Seakan alam menghunjamku dengan tombak, membunuhku bergantian- berarak-arak, aku mati nak, aku mati! Bagian-bagianku telah diserang! Sudah menjadi hal yang biasa ketika Ibu Kota Jakarta- Ibu Kota negaramu nak, diserang banjir yang tak henti hentinya. Dikala hujan telah perlahan menghilang, luapan sungai lah yang menggantikan. Lalu tanah longsor yang terjadi di Banjarnegara, menewaskan saudara saudara kita, menghempaskan segala yang ada di bawahnya, tak peduli bila mana mereka berteriak meminta tolong, tak peduli bila mereka berteriak memanggil nama Tuhan Yang Maha Esa, tanah itu jatuh! Menimpa yang tak berdosa! Tanah itu merenggut nyawa mereka! Kau kira Ibumu ini tak ikut bersedih? Sudah kubilang, nak, Ibumu mati! Ibumu mati!

Lagi lagi, musibah menggemparkan terjadi, kini kendaraan yang melayang di atas daratan terjatuh, terjebak di tengah awan cumulonimbus, kemudian terbenam dan terjembab ke daratan. Mayatnya terobang ambing di atas lautan luas bersama kepingan bagian pesawat! Itu belum seberapa, nak! Berjuta tikaman yang Ibumu ini rasakan, dan hampir semua sebegitu mengenaskan hingga tak mampu lagi kudeskripsikan, nak! Ibumu mati!

Duh Gusti, begitu banyak cobaan yang Kau beri pada kami, maafkah dosa dosa kami Ya Tuhan..", doanya dilantunkan setelah seisi hatinya dikeluarkan, tangisnya terus menerus mengalir, tak berhenti. Seakan semua sengatan tombak dari alam yang tengah mencabiknya, dirasa kembali. Seakan segala mimpi buruk itu menikamnya habis.

"Ibu sakit, nak! Ibumu ini mati!", ucapannya penuh tekanan, diperjelas lagi dengan perubahan wajah yang kian memerah, kepalan tangannya kian menggumpal, uarat lehernya terlihat jelas. Sakit keluhnya, mati jiwanya.

Perlahan nafasnya mulai diatur, kemudian teratur. Perlahan beliau turunkan emosinya, kemudian menatapku--menatap hatiku lebih tepatnya--dalam sekali, lama sekali.

"Andai kan saja kau dilahirkan di kala itu, nak. Kau pasti bahagia melihat sekelilingmu yang damai tanpa gaduh, yang tenteram tanpa bising. Alam tetap hijau, nak, mereka lestari. Makhluk lain pun tetap terjaga keberadaannya, belum di rusak dan dimusnahkan seperti yang sekarang terjadi. Namun kini semua itu hanya kenangan samar, semuanya telah berlalu.. dan pertumbuhan manusia yang makin tak terkendali ini makin mendesak alam agar tak lagi bisa hidup di bumi. Sayang, seribu kali sayang, nak..", ujarnya seraya menghadap ke atas, menghela napas, membasuk air mata yang tanpa sadar kembali mengalir- memastikan agar kristal bening itu tak terjatuh ditarik gravitasi.

"Sabar, Bu. Semoga Tuhan mengijabahkan doa doa ibu.", ucapku menenangkannya.

"Ibu berharap dengan kejadian ini mereka semua bisa tersadar dari lamunan, dan terbangun dari mimpi indahnya. Semoga alam tak mengamuk lagi, meminta haknya terpenuhi untuk tidak disakiti, dan dimusnahkan dari muka bumi. Semoga kenangan terdahulu yang selalu Ibu inginkan untuk kembali, bisa terwujud kembali. Dan semoga yang keji perbuatannya diampuni Tuhan, yang jahat hatinya disadarkan, dan tak ada lagi manusia yang rendah harga dirinya, karena Tuhan menciptakan mereka sebagai makhluk dengan derajat yang paling tinggi diantara ciptaan-Nya yang lain."

Beliau berlalu, mengambil air suci, kemudian bersujud di hadapan-Nya.

[Tantangan #KabarDariJauh @KampusFiksi - 586 kata (tanpa subjudul) - Temanggung, 04 Januari 2014 - 16:21 WIB]

Friday, 2 January 2015

Bintang [Namaku Bintang]

"Tataaaaaaaaaang! Cepat mandi!"

"Gawat! Jika lantangnya teriakan ibuku sudah terdengar sampai sejauh ini, sudah pasti aku akan dihajarnya habis habisan! mengapa perlu, sih, jarum penunjuk waktu itu rusak? Ah sudahlah, yang penting aku pulang dan segera mandi", ucapku seraya membelokkan kapal ke tepian. 

"Sudah kuperingatkan berapa kali kau? Kalau sudah petang begini langsung mandi dan tunaikan shalat! Bukannya nongkrong saja di kapal. Pemalas! Pelasuh!", teriak ibu. ditekankannya lagi dengan menghentakkan kedua kakinya ke tanah- memukuli bumi searah dengan gravitasi.

Sebenarnya aku sudah biasa mendengar ini, namun kawan ini adalah salah satu yang terburuk! Biar kuceritakan sedikit yang paling buruk, yaitu dulu ketika aku kecil, saat aku mengajak adikku main dengan perahu gagahku--tepatnya almarhum Ayah--dan ketika aku berbaring menghadap langit, adikku hampir saja tercebur ke dalam sungai! Sialnya, ketika itu terjadi ibuku melihat. Tau kah kalian bagaimana reaksinya? Caci dari mulut terlontar- memarahiku habis habisan- memaki kelakuanku yang keterlaluan- mengomeliku tampa henti, dipukulinya pula sekujur tubuhku dengan segala benda yang ada di sebelahnya. Begitu malang naaibku kala itu, kawan. Seminggu aku tak masuk sekolah!

Aaah! Begitu cerobohnya aku! 
Maaf, kawan, jika aku terlalu lancang menceritakan kejadian kejadian dalam hidup, tanpa menyebutkan dan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Energi ini tak mau surut. Namaku Bintang, namun semua orang di kampung memanggilku dengan sebutan Tatang, lebih mudah jelasnya. Aku lahir 12 tahun silam, dan adalah seorang bocah penggila lautan, pemuja bintang, penyuka alam, pecinta malam.

Kau tahu mengapa begitu terobsesinya aku pada hal yang berbau lepas dan bebas? Karena sedari kecil aku sudah diperkenalkan dengan ini semua oleh Ayahku, ketika beliau masih hidup. Rinduku ini tak semata mata menginginkan raganya untuk kembali menemaniku seperti dahulu, namun kenangan itu kawan! Ingin rasanya kembali kecil lagi, agar dehaman nina bobonya bisa kudengar dan kuhayati lagi, agar nasihatnya bisa kulaksanakan kembali, dan yang paling kurindukan darinya adalah tatapan matanya kawan, terlampau menyejukkan! Bisa saja bulu romaku berdiri dibuatnya. Mungkin itu alasan mengapa ibu tertarik dengan Ayah, ya?

Menurut penjelasan ibuku, nama 'Bintang' ini berarti benda di langit yang berkilauan. Sekiranya itu adalah harapan pertama orang tuaku sejak aku dilahirkan di bumi pertiwi. Tau kah kau siapa yang mengusulkan nama ini? Pak San, kawan! Pak San! Nelayan senior yang kupuja sepanjang masa. Walau sudah setengah baya, namun kemampuannya memancing selalu saja bertambah, seakan tua bukanlah halangan untuk tidak melakukan yang dicintainya, bahkan akhir akhir ini beliau sering pergi berlaut denganku. 

Secara postur dan dandanan tubuh, aku tak jauh beda dengan teman temanku lainnya--sama sama beringus, berbadan kurus, berkulit kering- hitam kelam. Namun aku tak pernah sekali pun bergaul dengan mereka, aku tak pernah bermain bola- memegang pun tak pernah! Aku juga tak suka berlari, mengejar satu sama lain- berteriak hingga bisingnya sampai menyetrum telinga tetangga, atau bermain layang layang- mengikuti angin- kesana kemari. Semuanya terlampau membosankan! 

Aku adalah anak yang dilahirkan untuk menikmati buana, kawan. Aku yakin alasan Tuhan memberi nyawa ini adalah agar aku bisa menghirup kebebasan dan belajar dari alam. Sungguh aku mencintai semesta ini!
Tau kah kau kawan, apa yang kulakukan disunyi senyapnya malam? Dikala hanya makhluk nokturnal yang bersenandung bernyanyi- terbelalak ketika hendak memakan mangsa; dikala manusia tak lagi terjaga- terlarut dalam angan malam- tenggelam dalam mimpi yang seakan nyata dan benar terjadi; dikala hanya aku dan perahu saja yang memaksa sungai untuk membawaku ke lautan- menyogoknya agar mau memantulkan cahaya bulan- agar malam itu--malamku--terasa begitu sempurna, begitu lengkap, dan sakral.
Angin laut yang berhembus menyibak rambutku yang telah memanjang ke atas, bak rambut tentara namun tak jauh beda juga dengan rerumputan liar yang tumbuh semaunya di atas bumi;
Binar rembulan yang sempurna menghadap langsung ke arah bola mataku, mengisyaratkan bahwa kini Dewi Malam tengah bertugas menggantikan matahari dan mulai menyinari jagad raya- menerangi bumi- menemani makhkuk yang hidup di malam hari. Pernah sekali ia berbicara denganku, katanya ia amat menyukai situasi damai dan sunyi, namun ia kecewa karena tahun tahun belakangan ini kedamaian yang ia nanti nanti dirusak oleh suara klakson mobil dan deru sepeda motor. Memprihatinkan. Mengenaskan;
Air yang terasa dingin, membekukan, kini mulai kusentuh permukannya. Perlahan lahan searah dengan laju perahu yang tengah terombang ambing dan terseret angi. Hmmmm.. Teramat damai, tenang, syahdu. Laut yang tenang, tak bergelombang, yang telah kujadikan sahabat sejatiku. Setiap kali aku merasa gelisah, hanya laut yang mampu menenangkan gejolak hati, ketidak tentraman batin, dan kepenatan yang kupendam, terlebih pada saat aku merindukan sosok Ayah. Ketika air mata mengalir deras, berharap beliau yang hanya dapat kudoakan dan kukenang mampu kembali lagi, ketenangan yang kurasakan dari hasil sentuhan permukaan air laut lah yang menghentikan semua kesedihan. Ajaib, ya? Ya, ajaib.

Hari ini hari Kamis, tanggal 31 Desember. Aku yakin, teramat yakin, pasti orang orang kota tengah mempersiapkan kembang api yang megah untuk turut memeriahkan pergantian tahun. Aku tak habis pikir, kawan! Mengapa pergantian tahun seakan akan begitu dinanti? Apa yang membuat pukul 00.00 itu teramat berharga? Mengapa detik itu mereka bersuka cita merayakannya? Bukankah untuk memperjuangkan hal berharga, dan melaksanakan resolusi hidup memang sudah sepatutnya dilakukan di tiap waktu selama nafas masih behembus? Heran! Seribu kali terheran dengan pemikiran macam itu! Seharusnya mereka iri denganku, iri karena tidak bisa menatap kelipnya bintang sepanjang malam yang pasti melebihi kemegahan yang dipancarkan kembang api, suaranya tak perlu keras bak petasan namun menyejukkan dan menetramkan hati. Aku berani bertaruh, kawan, dalam hal bertelepati dengan alam aku lah jagonya! Gilanya lagi, pernah sesekali aku berpikir mengapa tak kupilih hidup dengan alam saja? Rasanya aku telah terlena dengan segala keindahannya, tak mampu diungkapkan!

Ah itu dia! Sang kembang berwarna warni, yang konon mampu membuat banyak orang tercengang, yang mitosnya mampu membuat semua orang terheran dan berfikir "perayaan apa ini?". Aku? Aku, sih, tak percaya, tek benar adanya benda yang bernama kembang api itu memang kembang di hati banyak orang dan membuat pikiran seakan berapi untuk merayakan peristiwa berharga. Bintang gemintang dan sang rembulan lah kembang langit sebenarnya.

Ah sudahlah. Biarlah kini Dewa Hermes melindungi malamku ketika aku mulai memejamkan mata. Terdampar pun tak masalah. Biar kini kumenyendiri sedikit lebih lama, menghiraukan hiruk pikuk keramaian kota, dan menutup telinga dari bisingnya petasan hasil dari mekarnya kembang api di langit. Biar kini damai yang menyelimutiku bertahan lebih lama, biar pula ku persilahkan ketentraman menyelubungi di tiap detik jantung berdegub. Sayhdu, kawan. Syahdu.